My Little Woman

My Little Woman
Curahan Hati Rahma


__ADS_3

Devano melihat Rahma yang sibuk dengan Hp nya sampai ia gak sadar, kalau ia sudah ada di ruangan itu.


"Sibuk amat," sindir Devano.


"Eh Kak Dev, sudah selesai, gimana?" tanya Rahma yang mulai kepo. Ia langsung menaruh Hpnya. Sedari ia sibuk chatan dengan sang suami sambil menunggu kakaknya datang.


"Sudah, Hasilnya mengecewakan," jawab Devano lesu.


"Kok bisa?" tanya Rahma. Lalu Devano pun menceritakan semuanya.


"Iya sudah, beri Kak Amira waktu sampai besok. Bagaimanapun ini berat buatnya, apalagi kan Kak Dev melamarnya juga dadakan. Mungkin ia takut jika Kak Dev hanya ingin mempermainkan perasaan dia. Berdoa aja, semoga Kak Amira mau menerima lamaran Kak Dev,"


"Iya, aku hanya bisa berdoa aja, semuanya aku serahkan sama yang di atas," sahut Devano. Ia duduk di sofa karena tempatnya masih di duduki oleh Rahma, tak mungkin ia tega mengusir Rahma yang terlihat betah duduk di kursi kebesarannya.


"Oh ya tadi Kak Dita ke sini," ucap Rahma memberitahu.


"Benarkah? Hah Untung saja aku tadi keluar, setidaknya aku tak bertemu dengannya," ujar Devano merasa lega.


"Tapi dia kelihatan sedih saat aku bilang kalau Kak Dev mau nikah sama Kak Mira?"


"Mira?"

__ADS_1


"Iya Kak Amira, tapi aku bilangnya di depan Kak Dita itu Kak Mira. Soalnya aku takut jika bilang Kak Amira, nanti Kak Dita diam-diam malah melabrak Kak Amira. Kan kasihan,"


"Iya juga sih, iya sudahlah."


"Rencananya ke depan setelah Kak Amira menerima Kak Dev, Kak Dev maunya gimana?"


"Iya, aku ingin memberikan pesta yang mewah buat Amira,"


"Tapi pasti ditolak,"


"Kenapa?"


"Karena Kak Amira berbeda dengan cewek kebanyakan. Palingan Kak Amira cuma pengen minta nikah sederhana aja,"


"Rumah yang mana?" tanya Rahma.


"Yang gak jauh dari Rumah Mama. Di Gang Xx,"


"Oh yang itu jadi rencananya Kak Dev mau keluar dari rumah nih?"


"Iya, aku ingin belajar mandiri,"

__ADS_1


"Sebenarnya aku juga pengen, tapi aku kasihan sama Mama dan Papa kalau kita sampai keluar bareng dan ninggalin mereka sendiri," ujar Rahma.


"Aku juga merasa was-was jika membiarkan kamu dan suamimu tinggal di rumah yang berbeda tanpa di awasi oleh Mama, Papa dan aku. Aku takut kejadian dulu terulang kembali,"


"Ya gak mungkinlah, Kak. Aku ini kan udah dewasa, sudah tau lah mengatur emosi, terlebih Mas Gofur, aku yakin dia akan menjaga aku," tutur Rahma.


"Lagian juga kan aku pindahnya gak jauh, masih satu kompleks. Jalan kaki juga sampai kalau malas naik mobil, sekalian olah raga dengan lari pagi biar sehat," lanjut Rahma


"Tapi kan rumah Mama sama Papa besar,"


"Bukan masalah besar atau enggaknya. Tapi jujur aku ingin hidup berdua dengan Mas Gofur. Aku tau, Mas Gofur juga sebenarnya pengen pisah rumah cuman dia gak berani ngomong. Sekarang aku tanya, apa alasan Kak Dev pengen pindah rumah setelah menikah?" tanya Rahma serius


"Iya karena ingin belajar mandiri, dan aku harus memikirkan perasaan Amira yang mungkin akan merasa canggung bila hidup satu atap dengan Mama. Walaupun Mama baik tapi ya pasti tetap merasa gak enak. Lagian seorang suami kan emang sudah seharusnya memberikan tempat tinggal buat sang istri, tempat tinggal yang nyaman tentunya. Yang nantinya akan berubah menjadi Rumahku, Surgaku. Dan gak baik juga jika satu rumah ada dua kepala rumah tangga,"


"Nah itu Kak Dev tau. Pernahkah gak, Kak Dev dan Papa sebagai laki-laki memikirkan perasaan Mas Go, yang mungkin pulang kerja pengen berduaan, bisa bercanda di mana aja, tapi harus ia tahan karena takut kepergok Mama sama Papa. Mas Go kalau di rumah kebanyakan diam, dan gak terlalu banyak bercanda. Berbeda jika di luar rumah, Mas Go bisa tertawa lepas. Awalnya aku gak memikirkan ini semua, tapi hari ini aku mulai membuka mata hatiku, aku gak mau menjadi istri yamg egois. Aku juga harus memikirkan perasaan suamiku yang juga ingin membangun istananya sendiri. Mas Go bahkan sudah rela meninggalkan tanah kelahirannya, jauh dari kedua orangtuanya demi aku. Tapi di sini ia harus berkorban lagi, untuk tetap memenuhi keinginanku walaupun aku tau, ia berat dengan pilihanku," ujar Rahma yang merasa kasihan terhadap suaminya, ia juga merasa bersalah karena dari dulu ia hanya fokus sama perasaannya, dan mengabaikan perasaan sang suami.


"Baiklah, nanti aku akan bilang sama Mama dan Papa kalau kamu dan suamimu pengen pindah rumah," ujar Devano yang mulai mengerti bahwa adik serta adik iparnya pengen punya istana sendiri dan tak melulu numpang di istana orang lain, walaupun istana itu milik orang tuanya sendiri.


"Jangan sekarang deh, tapi nanti kalau Kak Dev sama Kak Amira dah nikah. Baru setelah itu aku akan keluar dari rumah itu bersamaan dengan Kak Dev,"


"Baiklah terserah kamu enaknya gimana," ujar Devano mengalah.

__ADS_1


"Oh ya, entar lagi aku akan di jemput oleh Mas Go, nanti jangan lupa makan siangnya ajak Kak Amira buat makan siang bareng, perlakukan dia dengan cara romantis, yang biasanya akan membuat hati wanita meleleh. Tunjukkan keseriusan Kak Dev di depan Kak Amira," ujar Rahma sambil melihat Hpnya yang sedari tadi menampilkan banyak notifikasi dan hampir semuanya berasal dari sang suami yang akan mengajak dirinya ke kantornya.


"Baiklah," tutur Devano pasrah. Ia belum pernah melakukan hal-hal yang di suruh Rahma barusan. Tapi jika memang dengan cara itu bisa membuat ira menerima dirinya, maka ia akan melakukan apapun untuknya.


__ADS_2