
Di saat Devano menikmati liburannya di Indonesia bersama dengan adik dan adik iparnya, berbeda dengan Dita, ia seperti orang kesetanan karena ia tak menemukan keberadaan Devano. Devano seperti hilang di telan bumi, bahkan orang suruhan Dita pun tak mampu untuk mengetahui keberadaan Devano.
Jelas, tak akan ada yang tau, karena Devano sudah meminta orang kepercayaannya untuk menghilangkan jejak dirinya sehingga siapapun yang mencoba untuk mencaritahu dirinya hanya akan mendapatkan jalan buntu.
“Nak, kamu kenapa hm?” tanya George, melihat putrinya yang murung sejak kemarin.
“Gak ada pi, cuma pengen menyendiri aja,” jawab Dita karena tak mungkin ia menjawab dengan jujur.
“Kamu kalau ada masalah cerita sama papi, jangan di pendem, siapa tau kan papi bisa bantu kamu,” ujar George yang tak tega melihat putrinya seperti menyimpan banyak masalah.
“Aku gak papa Pi, aku cuma kecapean aja, Papi ga kerja?” tanya Dita mengalihkan perhatian.
__ADS_1
“Kerja, tapi nanti papi berangkat siangan. Lagian juga papi kan bosnya, walaupun gak kerja juga gak masalah,” sahut George.
“Kamu sendiri mau ngapain hari ini?” tanya George.
“Gak ada, aku di rumah aja,” jawab Dita malas.
“Kamu itu sebenarnya kenapa sih Nak? Hidup kayak gak semangat gitu, bahkan kamu beberapa hari gak ke kantor, hemm? Ada apa?” tanya George lagi.
“Iya sudah, oh ya nanti Papi mau ke kantor Devano, kamu mau ikut?” tanya George sambil bangkit dari tempat dudukya.
“Devano gak ada di kantor,” ucap Dita memberitahu.
__ADS_1
“Loh kamu tau dari mana?” tanya George lagi sambil menoleh ke arah putrinya.
“Kemarin Devano pergi dan sampai sekarang gak di ketahui keberadaannya,” jawab Dita.
“Apa itu yang bikin kamu jadi uring-uringan gini?” tebak George dan Dita tak menjawabnya. George pun yang mengerti langsung pergi dan menelfon seseorang. Ia memakai koneksinya untuk mencari keberadaan Devano.
“Papa sudah meminta seseorang untuk mencarinya dan papa pastikan, sejam dari sekarang kamu sudah tau dimana Devano berada. Iya sudah papa pergi dulu, kamu jangan cemberut terus gitu, gak baik buat mental kamu,” ujar George lalu pergi meninggalkan Dita seorang diri.
Setelah peninggalan papinya, Dita mengambil Hp nya. “Entah kenapa aku gak yakin papi bisa tau dimana Devano berada karena Devano sudah menghilangkan jejak yang tak akan mungkin bisa di ketahui oleh orang lain,” gumam Dita sedih.
“Kenapa sih Dev, kamu berubah gini? Masa hanya karena sikap aku dulu, sampai sekarang kamu memperlakukan aku sedingin ini. Aku seperti virus buat kamu hingga kamu merasa enggan untuk aku dekati,” ujar Dita sedih. Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela, ia menatap pemandangan di luar jendela. Dalam hati ia merasa sedih, ia sebenarnya juga gak mau menjadi seperti wanita murahan di depan Devano, ia sadar jika Devano tak menyukai dirinya, tapi ia menginginkan Devano, ia ingin suami seperti Devano yang baik dan penyayang.
__ADS_1
“Dev, walaupun kamu saat ini begitu dingin sama aku, walaupun kamu saat ini cuek sama aku, walaupun kamu ssaat ini tak menyukaiku bahkan membenciku. Tapi aku yakin kelak kamu akan menganggapku ada, kamu akan membalas perasaanku ini,” ujar Dita dalam hati. Entah dari mana keyakinan itu, tapi ia sangat yakin suatu saat Devano akan datang padanya dan membalas cintanya.