My Little Woman

My Little Woman
Mengantar Dita Pulang


__ADS_3

Tak lama kemudian, Dita datang dengan wajah yang lebih fres dari tadi, ia juga sudah memakai make up yang selalu ia di bawa ke mana mana sehingga ia bahkan tak terlihat seperti wanita yang habis menangis.


"Maaf ya lama," ucap Dita sambil duduk di depan Devano.


"Gak papa, santai aja, ayo makan," ujar Devano. Dita hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, lalu mereka pun makan bersama, tanpa ada yang berbicara. Habis makan, pelayan datang dengan membawa es krim rasa coklat.  Dita pun kebingungan es krim itu punya siapa, pasalnya ia gak memesan es krim.


"Itu buat kamu,karena  kata orang orang makan es krim pasca putus cinta bisa membuat perasaan lebih baik," ucap Devano. Dita pun mengangguk mengerti, ia mengambil es krim itu dan memakannya. Sedangkan Devano ia hanya diam saja, sambil memainkan Hp nya karena ia bingung gak tau harus berbuat apa setelah selesai makan.


"Makasih ya," ucap Dita setelah ia menghabiskan es krimnya, kini hatinya emang lebih tenang dari pada tadi. Ia bersyukur bisa di pertemukan Devano, entah bagaimana nasibnya jika Devano tak datang menghampiri, mungkin sampai saat ini ia seperti orang bodoh menangis di pinggir jalan dan di lihat oleh banyak orang.


"Iya sama sama, ayo kita pulang," ajak Devano.


"Gak mau," ucap Dita cemberut.


"Loh kenapa?" tanya Devano heran.


"Aku kalau pulang sendirian di apartemen, pasti nanti aku malah ingat lagi sama dia," ujar Dita.

__ADS_1


"Terus kamu maunya gimana?" tanya Devano.


"Aku masih mau jalan jalan, kalau kamu mau pulang, pulang aja gak papa," jawab Dita dengan wajah sedikit menekuk.


Devano hanya bisa menghela nafas, ia bisa aja ninggalin Dita sendiri di sini, tapi hatinya tak tega, terlebih sampai detik ini ia masih mencintai Dita, walaupun Dita gak tau apa yang ia rasakan padanya.


"Iya sudah aku akan nemenin kamu tapi jangan lama lama ya, aku gak enak kalau pulang terlalu sore, tapi sebelum jalan jalan kita cari masjid dulu buat sholat," ujar Devano, Dita pun hanya menganggukkan kepala.


Lalu mereka pun keluar dari resto setelah Devano membayar makanannya. Devano dan Dita pun langsung pergi mencari masjid terdekat untuk sholat. Dita benar benar kagum sama Devano, saat ia pacaran dengan Daren pun, Daren gak pernah sekalipun mengingatkan dirinya sholat, tapi Devano ia masih ingat sholatnya dimanapun ia berada.


"Andai Daren seperti Devano betapa bahagianya aku, tapi sayang, sifat Devano dan Daren seakan bertolak belakang. Devano juga terkenal anti wanita bahkan selama ini ia jarang kelihatan berdekatan dengan seorang wanita tapi kenapa kalau sama aku, Devano begitu ramah dan biasa aja, bahkan ia tak terlihat seperti menjaga jarak denganku?" tanya Dita dalam hati.


Lalu mereka pun sholat sendiri sendiri.


Sehabis sholat, Devano mengajak Dita ke bioskop dan menonton film islami.


"Kamu sering ke bioskop?" tanya Dita.

__ADS_1


"Gak, aku hanya sekali ke sini, di ajak mama," jawab Devano.


"Kamu gak suka bioskop?" tanya Dita lagi.


"Biasa aja,"


"Tapi kelihatannya kamu gak terlalu suka, lalu kenapa kamu mengajak aku ke sini?" tanya Dita.


"Karena aku tau, perempuan paling suka di ajak ke bioskop dan lihat fillm romantis, tapi aku suka yang berbau islami," jawab Devano.


"Jadi aku orang pertama yang kamu ajak ke bioskop?" tanya Dita lagi.


"Ya," jawab Devano biasa aja. Entah kenapa mendengar itu, Dita merasa bahagia. Padahal dirinya baru aja patah hati karena tau pacarnya selingkuh dengan temannya sendiri.


Mereka pun nonton bersama sekitar 90 menit.


Selesai nonton bioskop, barulah Devano mengajak Dita pulang, dan Dita pun di antar sampai depan apartemennya.

__ADS_1


Devano gak tanya kenapa, Dita tinggal di apartemen, karena ia tau, apa alasanya karena dulu pun sebelum ia bertemu dengan adiknya, ia juga suka tinggal di apartemen karena lebih bebas dan lebih leluasa.


__ADS_2