My Little Woman

My Little Woman
Berbohong Demi Kebaikan


__ADS_3

Rahma yang sudah tiba di ruangan Devano pun langsung di cecar pertanyaan olehnya.


"Dek, gimana? Dia mau kan di ajak nikah? terus dia minta mahar berapa? oh gimana tanggapannya pas kamu bilang aku mau lamar dia dan ngajak dia nikah? pasti di kesenangan kan, secara dia akan di lamar oleh CEO tampan nan kaya sepertiku? iya kan?" tanya Devano membuat Rahma mencibir karena Devano yang terlalu percaya diri.


"Jawabannya cuma satu, DITOLAK," jawab Rahma menekan kata ditolak membuat Devano melongo.


"Haha gak mungkin, kamu pasti bercanda. Iya kan?" tanya Devano.


"Enggak, aku gak bercanda. Mending kakak ke sana langsung deh, terus ungkapkan perasaan kakak, lamar dia baik-baik,"


"Enggak ah, malu. Kamu aja di tolak, apalagi aku," ujar Devano.


"Aku ditolak karena Kak Amira punya alasan yang jelas, dia hanya ingin bicara dengan Kak Dev, dia ingin mendengar langsung dari Kak Dev kalau Kak Dev beneran mau ngajak dia itu nikah. Lagian jika dipikir-pikir emang bener seharusnya Kak Dev lah yang datangi Kak Amira secara langsung, bukan malah aku. Kan yang mau jalanin rumah tangga nantinya kalian berdua, bukan aku," ucap Rahma.


Devano pun merenungi ucapan adiknya itu.


"Iya juga sih, iya udah apa perlu aku ke sana sekarang juga?" tanya Devano.


"Ya terserah kakak sih, maunya kapan, sekarang bisa, nanti malam bisa, besok bisa, lusa bisa, Minggu depan bisa. Terserah! tapi lebih cepat lebih baik," sahut Rahma.


"Hmm sekarang aja deh," ujar Devano, ia lalu melihat tampilannya hari ini. Setelah merasa rapi dan cool, ia pun melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Dek, doakan ya. Semoga berhasil," ujar Devano sebelum ia membuka pintu.


"Ya, pasti aku doakan. Semangat," ujar Rahma sambil menggenggam tangan kanannya, seakan-akan ia ingin menyalurkan rasa semangatnya kepada kakak laki-lakinya itu.

__ADS_1


Devano pun menganggukkan kepala, lalu setelah baca basmalah ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Amira.


Tapi baru aja sekitar lima menit Devano pergi, tiba-tiba Rahma kedatangan tamu yang tak di undang, siapa lagi kalau bukan Dita. Wanita tak punya rasa malu, yang setiap hari datang walaupun di cueki oleh Devano.


"Hey Ra," Sapa Dita sok akrab. Tanpa di suruh, ia pun langsung duduk kursi di depan meja Devano.


"Waalaikumsalam," sahur Rahma membuat Dita terkekeh.


"Haha aku lupa, aku ulangi lagi ya. Assalamualaikum," ujar Dita mengulangi kata sapaannya.


"Waalaikumsalam," jawab Rahma ramah. Walaupun ia tak suka, namun ia tetap harus menghormati orang yang jauh lebih tua walaupun hanya selisih beberapa tahun saja.


"Kakak kamu mana?" tanya Dita yang memang sudah tau jika Rahma adalah adik kandung Devano yang hilang belasan tahun.


"Enggak ada," jawab Rahma. Ia berdoa semoga kakaknya lama di ruangan Amira agar kakaknya tak bertemu dengan Dita.


"Keluar. Hari ini aku yang menggantikan posisi Kak Dev," ujar Rahma. Untung saat Devano keluar, ia duduk di kursi kebesaran Devano sehingga ia terlihat seperti bos.


"Loh kata resepsionis, Devano hari ini masuk," tutur Dita.


"Iya tapi dia cuma nganterin aku aja ke sini," jawab Rahma berbohong. "Astaga, Kak Dev harus nanggung dosa aku nih yang terpaksa harus berbohong, karena tak mungkin aku bilang Kak Dev ada di ruangan sebelah dan lagi melamar Kak Amira," gumam Rahma dalam hati.


"Emang Kak Dita mau ngapain ke sini?" tanya Rahma mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Enggak ada, cuma pengen main aja," jawab Dita tersenyum ramah.

__ADS_1


"Kamu ada waktu gak? Aku mau ajak kamu jalan-jalan," lanjut Dita yang mencoba untuk mengambil hati adiknya agar bisa mendapatkan hati kakaknya.


"Maaf kak, aku kayaknya enggak ada waktu. Karena setelah dari sini, aku langsung di jemput suamiku. Ya tau sendirilah, wanita kalau sudah bersuami, susah mau jalan-jalan sendiri. Karena kemanapun aku pergi, harus bareng suami aku, atau Kak Dev atau Mama sama Papa," jawab Rahma.


"Iya sudah kamu aja Kak Dev aja gak papa," rayu Dita.


"Enggak deh, Kak Dev sekarang lagi sibuk-sibuknya. Dia kan bentar lagi mau nikah," ujar Rahma sok polos.


"Ni ... nikah?" tanya Dita kaget. Kemarin Devano sudah mengatakannya, tapi ia tak mempercayainya karena ia yakin kalau Devano hanya berbohong agar ia tak lagi menganggu nya. Tapi sekarang .....


"Loh emang Kak Dita gak tau ya? Aku pikir Kak Dev udah bilang sama Kak Dita kalau Dia mau nikah sama Kak Mira," ujar Rahma yang menyebut Amira dengan Mira karena takut jika Dita sampai melabrak Amira saat ini.


"Mi ... Mira siapa?" tanya Dita yang masih sok.


"Calon istri Kak Dev, calon kakak ipar aku. Kenapa Kak Dita kayak sok gitu?" tanya Rahma lagi dengan menampilkan wajah lugunya.


"Enggak papa. Aku pergi dulu ya, aku baru inget. Aku masih ada urusan," ujar Dita yang tak mau menangis di depan Rahma. Jujur saat ini hatinya sangat sakit, ia gak menyangka jika Devano beneran mau nikah, bukan hanya ingin membohonginya saja.


"Oh gitu, iya udah. Kak Dita hati-hati ya."


"Iya Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah itu, Dita pun pergi dengan hati yang terluka. Sedangkan Rahma, ia malah terkekeh setelah kepergian Dita.

__ADS_1


"Aku gak nyangka, aku pinter juga berbohong," ujar Rahma memuji dirinya sendiri.


__ADS_2