
"Mas?" panggil Rahma.
"Sayang, kenapa lama? Aku nunggu kamu lho dari tadi," ujar Gofur.
"Aku sebenarnya sudah dari tadi Mas. Cuman pas mau ke sini, aku liat Kak Giselle ada di depan pintu ruangan kamu sambil membawa bunga dan coklat berbentuk cinta. Jadi aku gak berani masuk.
Baru setelah Kak Giselle keluar dari ruangan ini. Aku langsung masuk. Maaf ya, tadi aku gak ngetik pintunya dulu,"
"Iya gak papa. Kamu gak cemburu, suamimu di samperin sama cewek lain?"
"Enggaklah mas," ujar Rahma ia duduk di kursi samping suaminya.
"Kog gak cemburu? Kamu gak cinta sama aku?"
"Cinta dong. Masa iya aku gak cinta sama suamiku sendiri,"
"Terus kenapa tadi kamu bilang, kalau gak cemburu suami kamu di dekati wanita lain? Bukankah cemburu itu tanda cinta?" tanya Gofur.
"Karena aku percaya sama kamu mas. Aku percaya jika kamu cinta sama aku, kamu akan menolak ribuan wanita yang mencoba untuk dekatin kamu. Aku yakin jika Mas bisa menjaga keluarga kita baik-baik dan aku juga yakin Mas bisa jaga hati dan perasaan ku agar tidak terluka.
Aku selalu memberikan kepercayaan penuh buat kamu. Dan aku cuma berharap kamu jaga kepercayaan itu dan jangan sampai ternodai.
Karena jika itu terjadi, maka sulit buat aku untuk percaya lagi," ujar Rahma menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Makasih ya, kamu sudah memberikan kepercayaan buat aku. Aku janji akan menjaga kepercayaan itu dan aku juga janji gak akan menyakiti hati dan perasaan kamu. Aku juga berharap kamu juga bisa jaga hati dan perasaan aku,"
"Tentu. Kita harus saling menjaga satu sama lain agar pernikahan kita tidak seumur jagung. Aku ingin sama kamu Mas sampai kita punya anak cucu, sampai Allah memanggil kita kembali,"
"Iya. Aku juga sama sayang, aku ingin selalu sama kamu sampai tua, sampai ajal menjemput," ujar Gofur yang langsung memeluk sang istri.
"Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu,"
"Apa?" tanya Rahma lembut.
"Kamu tutup mata kamu dong,"
"Kenapa harus di tutup segala?"
"Baiklah,"
Rahma pun segera menutup kedua matanya dan tiba-tiba Gofur mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Sekarang buka mata kamu," ujar Gofur.
"I ... ini. Mas gak bercanda kan?" tanya Rahma gelagapan.
"Ini kalung mahal banget kak. Harganya hampir Satu Miliar," ujar Rahma tak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya
__ADS_1
"Iya. Aku ingin memberikan kalung berlian ini buat kamu, istri tercinta. Kamu simpan baik-baik ya atau mau kamu pakai?" tanya Gofur.
"Enggak. Aku gak mau pakai kalung semahal itu. Nanti hidupku jadi gak tenang," jawab Rahma jujur.
"Iya udah ini aku pegang aja. Di sana lengkap dengan suratnya,"
"Mas aja yang nyimpen ya. Aku kan masih di lingkungan sekolah. Aku takut hilang. Nanti sampai rumah baru aku ambil," ujar Rahma.
"Kamu nanti pulang ke kosan atau pulang ke rumah kita?" tanya Gofur.
"Ke kosan dulu, nemenin Della. Setelah itu sorenya aku akan kerja di tempat resto seperti biasa. Pulang kerja, baru aku ikut mas pulang ke rumah," jawab Rahma
"Kenapa harus kerja? Kamu sudah jadi istri aku. Yang artinya resto itu punya kamu juga,"
"Aku tau. Tapi aku ingin kehidupan seperti saat aku belum nikah. Gak papakan?"
"Iya gak papa. Jika memang itu mau kamu. Aku akan dukung yang penting kamu tetap jaga kesehatan dan jangan sampai kecapean,"
"Siap bos," ujar Rahma tersenyum.
"Oh ya aku sudah mengontrak rumah dekat rumah kita. Jadi nanti Della suruh pindah ke rumah itu aja. Biar kamu gak kesepian. Jadi kamu bisa main ke rumah Della saat aku sibuk mengurus kerajaanku,"
"Baiklah nanti aku akan bilang ke Della," ucap Rahma tersenyum.
__ADS_1
Saat mereka asyik ngobrol, tiba-tiba bell sekolah berbunyi yang artinya jam istirahat sudah habis. Rahma pun kembali ke kelasnya karena Gofur juga harus mengajar di kelas lain.