My Little Woman

My Little Woman
Shooping


__ADS_3

Rahma memilih wana maroon dan  menunjukkan pada mamanya, "Mama gimana kalau gamis yang ini bagus gak buat aku sama mama lengkap sama hijab nya, ada baju cowoknya juga buat papa dan kakak," ujar Rahma sambil menunjukkan baju pilihannya.


"Bagus mama suka, gimana menurut papa?" tanya Dania.


"Papa juga suka, kamu emang cocok kalau di suruh milih," puji Darma.


"Tapi bentar, harganya berapa dulu, kalau mahal jangan beli," ujar Rahma sambil melihat harganya dan benar saja, matanya langsung melotot saat melihat harga yang tertera di baju itu.


"Astaga harganya 8 juta lebih," tutur Rahma kaget.


"Ini mah murah sayang, apalagi yang kita beli kan untuk 4 orang, wajar lah dengan harga segitu, mama aja sekali belanja kadang bisa menghabiskan 50 juta lebih hanya sekali belanja. Kamu jangan khawatir masalah harga, biar papa yang bayar," ucap Dania tersenyum.


"Astaga, dulu aja aku pengen dapat uang 8 juta harus kerja keras dan ini hanya beli baju harga bisa habis segitu, memang kalau orang kaya mah beda," ujar Rahma geleng geleng kapala.


Namun karena Rahma menyukai baju tersebut, Darma pun langsung membelinya karena Rahma masih menimbang nimbang, beli apa gak. Ah, Rahma memanag belum tau berapa banyak harta yang di miliki oleh keluarganya itu, jika dia tau, pasti ia akan sangat kaget sekali.


Setelah beli baju, mereka pun keliling hingga akhirnya Devano datang di tengah tengah mereka.


"Aku nyari kalian dari tadi gak ketemu ketemu, aku nelfon juga gak di angkat," cakap Devano kesal, ia sampai ngos ngosan karena ia lari ke sana kemarin mencari keluarganya. Ia nelfon kedua orang tuanya dan juga Rahma tapi gak ada satupun yang di angkat, bukankah itu megelli. Ngapain bawa Hp kalau ada von masuk aja, males ngangkat.

__ADS_1


"Mama gak denger ada yang nelfon karena Hp nya ada di dalam tas, dan cuma di kasih getar doang," ujar Dania.


"Punya papa malah di silent, jadi gak tau kalau ada von masuk," ucap Darma.


"Punyaku sama kayak papa, di silent hehe. Sudahlah jangan cemberut, yang penting kan dah ketemu, oh ya aku udah beli baju nih buat kakak juga, bukan aku sih yang beli tapi papa hehe. Aku cuma milih aja, kakak pasti suka, nanti kalau keluar lagi kita pakai ini ya," tutur Rahma semangat.


"Oke, kapan tapi mau di pakai?" tanya Devano


"Gimana kalau besok malam, kebetulan papa di undang sama rekan kerja papa untuk hadir di pesta, bukan pesta apa sih, cuma santai santai aja, memang setahun sekali selalu ngadain pertemuan, kumpul kumpul bareng, dan memang harus di wajibkan bawa istri sama anaknya juga, kalau punya. Jadi kita bisa pakai itu ke sana," ujar Darma yang ingat dengan undangan rekan bisnisnya, Pak Reyno.


"Emang gak malu pakek baju ini, gimana kalau mereka pakai baju formal?" tanya Rahma.


"Enggaklah nak, ngapain juga pakai baju formal, lagian juga buat nyantai doang biar makin akrab sesama pengusaha," jawab Darma.


"Cih, sejak kapan kamu mau hadir di acara seperti itu?" sindir Dania.


"Sejak ada Rahma di samping aku dong, biar nanti kamu pura pura jadi pacar aku ya dek, kan belum ada yang tau tuh kalau Rahma adik kandungku, pasti jika ada kenalanku juga di sana,  mereka pasti kaget," ujar Devano semangat.


"Terus gimana dengan cewek yang tadi kak? Gak cemburu? Aku, mama dan papa sudah tau loh kalau kakak tadi nyamperin cewek cantik," goda Rahma.

__ADS_1


"Kalian mata matain aku ya?" tanya Devano kesal.


"Enggaklah ngapain mata matain kamu, lagian kamu juga berada di Mall yang sama, wajarlah kalau kami bisa lihat kamu secara leluasa. Oh ya itu calon mantu mama kah?" tanya Dania.


"Doain aja deh, moga aja dianya mau," ujar Devano seperti putus asa.


"Kenapa ngomong nya gitu?" tanya Darma.


"Dia sudah punya pacar pa, aku telat. Terlebih yang jadi pacarnya adalah sainganku di dunia bisnis, aku mah gak mau bertengkar ma orang cuma gara gara cewek, aku tadi nyamperin juga, pengen nyapa doang," jawab Devano.


"Oh jadi ceritanya kalah start nih," goda Dania.


"Tau ah," ucap Devano kesal.


"Sabar kak, kalau memang itu jodoh kakak, pasti akan kembali sama kakak, jodoh sudah ada yang ngatur," ucap Rahma bijak.


"Nah ini baru adek aku. Memang mah adekku kayak ustadzah aja hehe," goda Devano yang membuat Rahma cemberut.


"'Apaan sih, iya udah ayo pulang, aku mulai capek nih, berdiri terus," ajak Rahma males meladeni ucapan kakaknya itu.

__ADS_1


"Ayo sayang, apa perlu papa gendong kamu?" tanya Darma kahwatir takut Rahma kecapean.


"Gak usah pa, lagian aku bukan anak kecil, malu lah di gendong apalagi di tempat umum gini, aku masih kuat kalau cuma jalan sampai mobil," ujar Rahma, mereka pun menngangguk mengerti. Lalu mereka pun pulang setelah berkeliling Mall.


__ADS_2