
Keesokan harinya, Devano berangkat bersama Darma dan Dania, mereka pergi mengunjungi jet pribadi. Dan tak lupa mereka membawa 10 pengawal karena ini menyangkut keselamatan mereka bertiga. Dan untuk membantu mereka membawakan berbagai macam hadiah untuk Amira dan keluarganya.
Tadi pagi hampir seharian Darma, Devano, dan Gofur sibuk berbelanja untuk para kaum adam di rumah Amira. Sedangkan Rahma dan Dania juga tak mau kalah mereka memboyongnya banyak belanjaan dengan harga fantastis.
Tak heran jika satu mobil tak cukup dengan belanjaan mereka hingga akhirnya meminta mobil box untuk membawa semua hadiah itu ke rumab.
Rahma dan Gofur tak bisa ikut karena besok mereka akan pergi ke Jerman dan akan berangkat sehabis sholat shubuh.
Devano pun mengerti, bagaimanapun adiknya itu sudah menikah dan sudah seharusnya, dia lebih ikut suaminya ketimbang dirinya. Walaupun dalam hati, ia juga pengen Rahma ikut mengantar dirinya ke Indonesia untuk melamar Amira.
Sesampai di bandara, sudah ada 11 mobil yang menunggu dirinya, dimana mobil paling depan akan di isi sopir, Darma, Dania dan Devano sendiri.
Dan 10 mobil khusus untuk pengawal yang ikut dengannya. Jadi satu pengawal satu mobil dan tiap mobil, ada hadiah yang akan di peruntukkan untuk keluarga Amira.
Mobil mewah dan mengkilap itupun beriringan menuju rumah Amira, Amira dan keluarganya yang sudah menunggunya pun merasa kaget saat melihat banyak mobil yang datang.
Amira bahkan juga tak menyangka, karena ia fikir cukup satu mobil aja. Karena halamannya yang tak cukup, akhirnya mereka pun menumpang di tetangga kanan kiri.
Semua keluarga besar Amira termasuk para tetangganya pun mulai kepo. Karena mereka tak menyangka jika yang melamar Amira adalah seorang bangsawan.
Bahkan saat Devano, Darma dan Dania turun dari mobil, mereka semua tercengang. Bagaimana tidak, penampilan mereka sangat-sangat mewah, dan apa yang ada di tubuh mereka seharga miliaran rupiah.
Setelah mereka turun, mereka pun berjalan ke arah Amira dan keluarganya
"Assalamualaikum," sapa Dania lebih dulu.
"Wa ... Waalaikumsalam," jawab Ibu Amira yang masih setengah shok. Ia antara merasa kaget dan juga malu karena rumahnya yang teramat sederhana.
Dania langsung inisiatif mengulurkan tangannya, Ibu Amira pun langsung membalasnya
"Astaga tangannya lembut seperti sutra," gumamnya dalam hati. Berbeda dengan tangannya yang sangat kasar. Setelah itu Dania pun menyalami mereka semua yang kaum hawa.
Sedangkan Devano dan Darma pun juga menyalami mereka para kaum adam
"Mimpi apa Amira, sampai mendapatkan calon suami bangsawan?" bisik para tetangga.
__ADS_1
"Calon suaminya bak seorang pangeran. Wajahnya seperti di pahat dengan sangat sempurna," bisiknya si A.
"Sudah tampan, mapan, dan kelihatan berwibawa sekali. Ya Tuhan ... mataku rasanya susah berkedip," bisik si B
"Maaf Tuan, barangnya mau taruh dimana?" tanya pengawal A.
"Ah ya tolong turunkan semuanya ya," jawab Dania sebelum sang suami menjawabnya lebih dulu.
"Nak Amira, hadiahnya mau ditaruh di mana ya?" tanya Dania.
"Di dalam aja, Nyonya Besar," sahutnya agak gugup.
"Jangan panggil seperti itu dong, panggil Mama aja ya," tutur Dania sambil menepuk bahu Amira dengan lembut.
Semua pengawal masuk ke mobil dan membawa hadiah ke rumah Amira.
"Jo, hadiahnya taruh di dalam ya," perintah Dania.
Dan mereka pun langsung membawa hadiah itu ke dalam rumah Amira, lebih tepatnya ke ruang tamu.
Para tetangga pun lagi-lagi merasa tercengang dengan hadiah yang di bawa oleh calon mertua Amira.
"Maaf, Nyonya. Tapi tempatnya sudah tak cukup," ucap pengawasan si B memberitahu.
"Amira, apa ada tempat buat naruh barang-barang yang Mama bawa?" tanyanya.
Amira yang masih sok pun gak bisa jawab apa-apa. Begitupun dengan kedua orang tua Amira yang gak kalah sok nya. Ruang tamu yang akan di pakai untuk menyambut kedatangan sang calon menantu dan sang calon besan sudah penuh dengan barang-barang super mahal.
"Di titipkan ke rumah Paman aja gak papa," tawar Pamannya Amira, adik kandung dari Ayahnya Amira. Ia seakan mengerti jika kakaknya bingung menaruh semua barang itu.
"Ah ya, titipkan sana aja gak papa," ujar Dania.
"Tolong bawah semuanya ke rumah Paman ini ya," ujar Dania yang belum tau siapa namanya.
"Baik, Nya." Semua pengawal pun akhirnya bolak-balik lagi dan menaruh semua barang itu ke rumah paman Amira.
__ADS_1
Maklum rumah mereka kecil dan tak terlalu mewah bahkan untuk ruang tamu aja hanya sekitar 4x5. Belum lagi ada lemari dan juga meja tivi sehingga mempersempit ruangannya.
Setelah semua hadiah sudah selesai di taruh, para pengawal pun langsung berdiri tegak tak jauh dari Dania, Darma dan Devano karena mereka tak bisa jauh-jauh dari sang majikan. Bisa aja ada orang jahat yang akan mencelakai mereka.
"Gila ya, pengawalnya aja pada tampan-tampan, tubuhnya juga pada kekar-kekar, kayak terawat," bisik si E.
"Bu, tamunya mau taruh dimana?" bisik Amira di telinga Ibunya.
"Ibu juga gak tau," jawab Ibunya tak kalan pelan di dekat telinga Amira.
"Di musholla depan aja ya, kan lumayan luas itu," ujar Amira.
"Ya di sana aja gak papa numpang sebentar," kata Ibunya Amira lagi dengan suara yang sangat pelan
"Ayo, kita duduk di sana," ucap Ibunya Amira ke Dania, Darma dan Devano.
Dania pun menganggukkan kepala, lalu mereka berjalan mengikuti arahan Amira dan orangtuanya
"Maaf ya kita harus duduk di sini," ujar Ayahnya Amira tak enak hati. karena walaupun musholla ini bersih, tapi mengingat baju yang mereka pakai sangatlah mahal, tentu saja ada perasaan berbeda. Tak perlu bertanya, dari mana mereka tau, karena sekali lihat saja, baju yang mereka kenakan berbeda dengan baku yang di kenakan oleh dirinya dan yang lain.
Sedangkan Amira memilih diam, bingung mau ngomong apa.
"Gak papa, di sini juga enak, udaranya seger," jawab Darma tersenyum ramah. Sedangkan Devano pun hanya diam mendengarkan.
Ibunya Amira seakan memberi kode pada seseorang yang tak lain adik iparnya, ia meminta untuk mengambilkan minuman yang sudah ia buat sejak tadi sebelum kedatangan mereka. Adik iparnya yang mengerti kode itu pun langsung pergi mengambil minuman
Tak lama kemudian, Bibi itu datang dan membawa nampan berisi teh yang sudah dingin dan menaruhnya di depan Darma, Devano dan Dania.
"Maaf adanya cuma teh," ucap Ayah Amira malu. Salah Amira sendiri yang gak bilang jika yang melamar orang bangsawan, mereka mikirnya orang biasa sama seperti mereka.
"Gak papa, ini aja udah enak," jawab Darma.
Setelah itu mereka sama-sama diam sejenak hingga akhirnya, Darma mulai angkat bicara.
"Mungkin Amira sudah memberitahu, bahwa kedatangan kami ke sini untuk melamar putri Bapak dan Ibu untuk menjadi istri dari putra saya, Devano Danendra Darma Putra Wijaya," ucap Darma yang membuat ayah Amira seperti jantungan.
__ADS_1
"Astagfirullah," ucapnya sambil mengelus dada. Sedangkan yang lain langsung hening seketika, bahkan tak ada satupun yang bersuara membuat Darma, Dania dan Devano menatap heran ke arah mereka.
"Ada apa dengan namaku?" tanya Devano dalam hati melihat ekspresi mereka yang hampir sama semua.