
Devano membawa Amira ke barang-barang branded di lantai paling atas, dimana harganya paling murah seharga 550 ribu dan paling mahal bisa sampai ratusan juta rupiah bahkan ada yang sampai seharga miliarah tergantung merek dan apa yang dibeli.
Dan saat Amira memegang salah satu baju yang ia suka dan saat ia melihat harganya, ia langsung kaget dan melepas baju itu seketika. Bahkan ia masih melongo dan tak habis fikir bagaimana baju yang terlihat biasa bahkan di pasar loak yang ada di Indonesia seharga 25 ribu di sini seharga 4.500.000. Sungguh tidak masuk di akal. Itu baru baju kaos gimana dengan baju yang lainnya.
Devano yang melihat Amira sedikit memundur dan melepas baju yang ia pegang pun merasa bingung, "Kenapa?" tanyanya.
Amira pun hanya menjawab dengan gelengan kepala, setelah ia merasa agak santai dan tak terlalu sok lagi, barulah ia berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga sang suami.
"Ayo kita pindah, di sini harganya mahal mahal," bisiknya membuat Devano terkekeh, karena ia fikir ada apa ternyata hanya karena masalah harganya yang membuat Amira sampai sok seperti tadi.
"Gak usah mikirin hal itu, kamu beli sama toko tokonya juga aku mampu membelinya. Lebih baik kamu pilih mana yang kamu suka, jangan mikirin harga lagi, okey,"
__ADS_1
"Tapi ...."
"Hei, ingat! Suamimu ini bukan orang yang pengangguran, dan bukan orang menengah ke bawah. Suamimu ini seorang pengusaha sukses loh bahkan di juluki raja bisnis, bahkan kamu beli sama Mall nya pun aku sangat sanggup dan tak akan bikin aku bangkrut. Malah walaupun keturunan kita gak kerja pun juga tak akan bikin mereka kelaparan," ucapnya agak sombong membuat Amira mencibir ucapan suaminya itu.
"Jangan sombong, Mas. Gak baik, ingat harta itu hanya titipan dari Allah. Bisa jadi Allah mengambil semuanya hanya dalam sekejab. Lagian boros itu juga temannya setan, dari pada beli baju dengan harga yang fantastis mending beli baju yang seharga seratus ribu dapat tiga, uangnya bisa kita sumbangkan ke yayasan atau fakir miskin. Ingat! Apa yang kita pakai, kelak semuanya akan di hisab, di pertanggungjawabkan. Jadi jangan sampai hanaya karena ingin terlihat keren kita sampai menghambur hamburkan uang sedangkan di luar sana, pengen makan sesuap nasi aja susah," ujarnya yang malah ceramah. Membuat Devano pun hanya bisa diam mendengarkan.
"Iya ya, Sayang. Maaf, tapi beneran deh, aku tak mungkin membelikan kamu dengan harga murahan seperti itu, bukan maksudku menghina baju yang harganya lebih murah, bukan. Tapi aku bisa di marahin mama dan papaku jika mereka tau, aku belikan kamu dengan harga yang di bawah standart. Di tambah kamu itu istriku, cepat atau lambat orang orang akan tau, jika kamu itu istri dari seorang Devano Danendra Darma Putra Wijaya, seorang bangsawan dengan harta kekayaan yang tak di hitung. Aku ngerti maksud kamu yang mungkin tak peduli dengan omongan orang lain, tapi kamu harus memikirkan orang tua dan keluarga aku yang mungkin akan jadi omongan orang di luar sana. Dan lagi setiap bulannya, entah itu aku maupun kedua orang tua aku sudah menyisihkan sebagian harta kami untuk panti asuhan, panti jompo, fakir miskin, untuk masjid, untuk yayasan dan hal lainnya serta membangun sekolah sekolah gratis untuk anak anak yang hidupnya kurang mampu. Tapi kan masalah hal seperti itu sebenarnya tidak baik di bicarakan, karena cukup Allah yang tau. Tapi aku ngomong gini biar kamu pun tak memikir yang aneh aneh, dan menganggap bahwa aku dan orang tua aku hanya memikrikan masalah duniawi saja," ucapnya, tak seharusnya ia membicarakan hal ini, terlebih mereka saat ini tengah berada di mall.
"Maaf ya Mas," ucapnya dan Devano pun hanya menganggukkan kepala. Ia tak lagi semangat seperti tadi bahkan wajahnya sedikit menekuk, terlihat jelas jikaia tak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Amira tadi.
Amira pun juga merasa tak nyaman dengan apa yang ia ucapkan tadi, dan ia pun mengambil beberapa baju yang ada di sana, tanpa melihat harganya lagi yang mungkin bisa membuat dirinya semakin sok karena ia tau di sini harganya untuk kalangan menengah ke atas, tentu tak akan bisa menemukan harga yang murah di toko ini.
__ADS_1
Ia mengambil baju kaos pendek untuk di pakai di kamar, ada juga gamis, hijab, iket, kaos kaki, ****** ***** dan juga bh tentunya. Serta ada beberapa baju yang sedikit terbuka untuk ia pakai saat bersama suaminya di dalam kamar. Tapi kebanyakan baju yang ia pilih adalah baju tertutup semua dengan hijab yang panjang sampai menutupi dada. Ia juga mengambil sandal, dan sepatu santai jika suaminya mendadak mengajak dirinya olah raga pagi. Tak lupa ia juga memilih baju couple untuk dirinya dan sang suami dan juga beberapa tas mungil yang senada dengan baju gamis yang ia pilih tadi.
Setelah selesai, ia memberikan semua itu ke karyawan yang sedari tadi mengikutinya. Sedangkan Devano menunggu di kursi ruang tunggu. Dan tak mengikuti Amira yang sibuk memilih kebutuhan dirinya.
Setelah melihat Amira selesai belanja, ia pun memberikan kartu hitam miliknya ke Amira.
"Bayar sana," ucapnya tak ada lagi wajah cerita seperti tadi saat berangkat, yang ada hanya wajah kusut dan dingin.
Amira pun langsung mengambilnya dan membayarnya ke kasir. Dan betapa kagetnya dia saat melihat total yang harus ia bayar sekitar 2 miliar lebih, astaga ia tak menyangka jika menghabiskan uang sebanyak itu. Dan lagi ketika ia melihat belanjaannya pun juga tak kalah kagetnya, karna ia gak sadar jika belanjaannya cukup banyak. Amira pun menoleh ke arah Devano, dan Devnao yang sangat peka pun menganggukkan kepala, seakan akan ia mengatakan tidak apa apa bayar saja.
Melihat tak ada masalah, Amira pun merasa lega dan ia pun memberikan kartu hitam yang di kasih Devano tadi ke kasir. Setelah selesai, Devano meminta karyawan laki laki di sana untuk membawakan semua belanjaan itu ke dalam mobil yang ada di parkiran VVIP.
__ADS_1