My Little Woman

My Little Woman
Perpisahan Sementara


__ADS_3

Perpisahan Sementara


Keesokan harinya, setelah selesai sarapan pagi. Mereka semua berkumpul berbincang bersama di ruang keluarga.


Hingga akhirnya jam 8 pagi, Pagho dan Magho pun bersiap untuk pulang ke Indonesia. Sebelum pulang, ia memberikan nasihat yang panjang untuk anak dan menantunya itu.


"Ghofur, Rahma. Sebelum papa pulang, papa ingin menitipkan pesan buat kalian berdua. Terutama buat kamu Gof, Papa harap kamu belajar dari masa lalu. Jangan pernah terbedaya oleh orang di luar sana. Kamu sebagai seorang suami dan sebagai seorang imam di keluargamu, kamu harus mempercayai apa yang di ucapkan oleh istrimu. Jangan gampang mudah percaya dengan omongan orang-orang di luar sana, kadang apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar, belum tentu sesuai kenyataan.


Kalian harus saling mempercayai satu sama lain, jangan sampai kejadian seperti dulu terulang kembali. Ingat setiap rumah tangga itu pasti akan ada ujiannya sendiri.


Dan kamu juga, semarah apapun sama istrimu, jangan sampai mengucapkan kata-kata yang membuat hati istrimu terluka. Ingat, hati seorang wanita itu begitu rapuh. Jadi kamu harus menjaganya sebaik mungkin.


Jika kamu ingin melukainya, ingatlah saat Rahma pergi, kamu hidup dalam keterpurukan. Kamu tak bisa hidup tampannya. Jadi jaga dia sebaik mungkin. Jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya


Dan untukmu, menantu kesayangan papa. Papa titip anak papa ini ya, jika dia salah, tolong di ingetin," pesan Pagho.


"Aku janji, Pa. Aku gak akan melakukan hal seceroboh itu lagi. Aku gak mau kehilangan Rahma untuk kedua kalinya. Aku sangat mencintainya, papa tenang aja. Aku janji aku akan membahagiakan dan tak lagi melukai hatinya. Sudah cukup bagiku pengalaman pahit yang pernah aku rasakan," jawab Gofur tersenyum.


"Aku juga janji akan menjaga keutuhan rumah tanggaku, Pa. Jika memang Mas Go salah, aku akan menasehatinya dengan caraku. Terimakasih atas nasihat papa, itu sangat berarti buat kami berdua," sahut Rahma yang sangat menyayangi papa mertuanya itu.


"Mama juga berharap kalian selalu bahagia, mama ikut sedih kalau kalian sedih," ujar Magho.


"Maafin aku ya, Ma. Maaf karena sudah membuat mama sedih karena masalahku. Maaf,"

__ADS_1


"Sudahlah, Nak. Yang penting ke depannya, kamu harus bahagia. Mama hanya bisa mendoakan dan menasehati kalian, selebihnya kalian lah yang menjalaninya. Tapi mama yakin, kalian sudah dewasa, kalian pasti sudah tau apa yang terbaik buat kalian berdua, buat masa depan kalian," kata Magho membuat Rahma terharu. Lalu ia pun memeluk mama mertuanya.


"Besan, kami titip anak dan menantu kami disini," ujar Pagho kepada kedua besannya.


"Pasti, kami pasti akan menjaga mereka berdua. Jika kalian kangen, kalian bisa berkunjung ke sini Atau nanti Gofur dan Rahma bisa menjenguk kelian disana dan menginap disana untuk beberapa hari," jawab Pak Darma.


Pagho mengangguk, sejujurnya berat membiarkan anaknya tinggal di Singapura. Tapi ia sadar, anaknya kini sudah berumahtangga, dan ia bebas memilih untuk tinggal dimana.


Walaupun berat, ia harus tetap ikhlas membiarkan anaknya untuk tinggal bersama istri dan besannya karena memang disinilah kebahagiaan putranya. Ia tak mau putranya seperti dulu lagi, ia tak mau kehilangan putra satu-satunya itu


Pagho tersenyum ke arah Gofur, walaupun Gofur sudah dewasa, tapi baginya Gofur tetaplah anak kecilnya. Anak kesayangannya.


Gofur yang mengerti perasaan papanya, langsung memeluknya. "Aku akan sering-sering jenguk papa. Aku janji, papa adalah papa terbaik untukku. Terimakasih untuk semuanya, aku sayang papa," bisik Gofur di telinga Pagho.


Gofur pun mengangukkan kepala lalu ia pun melepas pelukannya.


"Nak Devano, papa titip Gofur ya," ujar Magho ke Devano, kakak ipar Gofur.


"Pasti, Ma. Devano pasti akan jaga mereka berdua karena mereka adalah adik kesayangan Vano," ucap Devano tersenyum.


Setelah itu, Pagho dan Magho pun berpamitan lalu mereka pulang. Mereka di antar oleh pengawal Darma.


Dulu saat Gofur nikah Siri dengan Rahma, mereka tak seberat ini melepaskan mereka karena masih tinggal disatu kota. Tapi sekarang, mereka tinggal beda negara. Jika kangen pun harus naik mobil dulu menuju bandara lalu naik pesawat, lalu naik mobil lagi. Beda sama dulu, jika kangen naik mobil sebentar lalu sampai.

__ADS_1


Gofur pun menatap kepergian kedua orangtuanya dengan tercabik-cabik. Sejujurnya mereka gak mau jauh-jauhan sama orangtuanya. Ia takut bagaimana jika orang tuanya kenapa-napa sedangkan dirinya tak ada di sisinya. Mereka hanya berdua di Indonesia karena memang Gofur hanya anak tunggal, andai Gofur punya saudara lagi, pasti ia gak akan kefikiran karena masih ada saudaranya yang bisa menjaga mama dan papanya saat dirinya jauh seperti ini.


Tapi ia juga tak mau meninggalkan Rahma di sini, walaupun tinggal bersama keluarganya. Tetap saja ia tak mau berpisah dengan istrinya, sudah cukup perpisahan kemarin. Ia tak mau berpisah lagi.


"Ayo masuk," ajak Darma. Lalu mereka semua pun masuk ke dalam.


Gofur menggandeng tangan Rahma dengan lembut. Dania dan Darma sedangkan Davano sendiri karena memang hanya dialah yang belum punya pasangan di rumah ini.


Setelah mereka duduk di sofa, lagi-lagi Dania menyindir putranya karena duduk sendirian tak punya pasangan.


"Kasihan ya yang disana, tak punya gandengan," sindir Dania.


"Apaan sih, Ma? Jangan buat ulah deh, baru kemarin insyaf, sekarang kumat lagi," cetus Devano.


"Makanya cepet nikah, ingat umurmu sudah tak lagi muda," ujar sang Mama.


"Iya-iya, aku pasti nikah. Dari pada cuma mikirin aku, mending kita fikirkan bulan madu Rahma sama Gofur," balas Devano mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang mau di fikirkan, mereka tinggal berangkat aja besok, dan masalah hotel tempat mereka menginap, sudah di urus semua Masalah baju dan perlengkapan lainnya, mereka nanti tinggal beli disana. Atau jika mau bawa dari sini juga gak papa, nanti Rahma yang tinggal packing bajunya dan baju suaminya. Terus apalagi?" tanya Dania, Devano yang tak bisa membalas pun merasa diam.


"Sudah-sudah kalian itu, apa gak capek debat terus?" tanya Darma pusing lihat istri dan anak pertamanya yang selalu aja debat.


Dania pun diam begitupun Devano, lalu setelah itu mereka ngobrol santai dan membahas perusahaan Maxim yang akan segera di beli dan akan segera beralih atas nama Gofur.

__ADS_1


__ADS_2