My Little Woman

My Little Woman
Kemarahan Devano


__ADS_3

“Assalamualaikum, ma, pa,” ucap Gofur dan Rahma bersamaan.


“Waalaikumsalsam sayang,” jawab pagho dan magho. Gofur dan Rahma pun langsung mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


“Maaf ya ma, pa lama soalnya tadi masih mampir ke pertunangan Della sama Defano,” ucap Rahma.


“Gak papa, yang penting kalian sudah sampai di sini, mama sudah seneng banget,” ujar magho.


“Ayo masuk,” tutur pagho. Lalu Gofur dan Rahma pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


“Kalian nginep kan?” tanya pagho sedangkan magho ia pergi ke dapur membuatkan minuman untuk anak dan menantunya.


“Iya dong pa, sekalian aku juga mau lihat perusahaanku yang di sini,” sahut Gofur.


“Syukurlah papa senang mendengarnya, papa sudah kangen banget sama kalian, sudah lama rasanya gak ketemu,” ujar pagho.


“Hehe papa sih gak ke sana,” canda Gofur.


Tak lama kemudian magho pun datang membawa minuman dan makanan ringan.


“Ayo minum dulu biar gak haus,” ucap magho sambil duduk di samping suaminya setelah ia selesai menaruh minuman dan makanan di atas meja.


“Makasih, Ma.” Rahma dan Gofur pun langsung minum jus buatan sang mama.


“Kalian mau istirahat apa mau ngobrol dulu nih?” tanya magho, bukan apa-apa, ia hanya takut anak dan menantunya kecapean dan ingin istirahat, hanya saja mereka takut dan sungkan yang mau bilang, makanya magho bertanya dulu sebelum mengajak anak dan menantunya ngobrol santai.


“Ngobrol saja, Ma. Lagian juga aku dan Rahma belum ngantuk. Iya kan sayang?” tanya Gofur ke Rahma.


“Iya, Mas,” jawab Rahma ramah.


Akhirnya mereka pun ngobrol ringan hingga sejam lamanya, baru setelah itu. Gofur dan  Rahma pamit pergi ke kamar Gofur yang dulu di pakai oleh Gofur untuk istirahat.


Sedangkan di negara yang berbeda, ada seorang laki-laki yang merasa muak karna dari tadi ada seorang wanita yang terus menempel di dekatnya, siapa lagi kalau bukan Devano dan Dita.


“Dit, kamu gak bosen ikut aku kesana kemari?” tanya Devano geram.


“Enggak, lagian juga aku gak ada kerjaan, jadi ya mending aku bareng kamu saja, iya kan,” ujar Dita yang membuang rasa malunya. Ia sadar apa yang ia lakukan itu salah, dan ia juga ngerti kalau Devano sudah dari tadi menahan rasa kesal terhadapnya. Ia sadar betul akan hal itu. Hanya saja, ia pura-pura tak tahu dan pura-pura tak peduli karena hanya dengan kayak gini, dirinya bisa dekat dengan Devano.


“Hah, apa yang harus aku lakukan sekarang, biar dia pergi,” gumam Devano dalam hati.


“Oh ya Dev, nanti malem papi mengundang kamu makan malam di rumah, kamu mau kan?” tanya Dita yang sudah tebal muka.


“Maaf, aku gak bisa,” jawab Devano sekenanya.


“Kenapa?” tanya Dita.


“Nanti malam aku ada urusan keluarga juga jadi gak bisa kemana-mana,”

__ADS_1


“Oh aku boleh ikut di acara keluarga kamu?” tanya Dita lagi yang membuat Devano lagi-lagi harus membuang nafas kasar.


“Gak bisa,”


“Kenapa lagi?”


“Karena ini hanya untuk keluarga Danendra, jadi orang luar gak boleh ikutan,” jawab Devano.


“Oh begitu ya, iya sudah deh gak papa. Tapi kalau besok malam kamu bisa kan menghadiri undangan papiku untuk makan di rumah?” tanya Dita lagi yang masih berharap kalau Devano mengiyakan ajakannya.


“Aku tetap gak bisa,”


“Kenapa lagi?”


“Aku ada acara dengan teman-temanku,”


“Kalau kali ini aku boleh ikut kan?”


“Gak bisa,”


“Astaga, apalagi alasannya yang sekarang,”


“Karena acaranya khusus cowok bukan cewek, jadi gak boleh ada yang bawa perempuan ke sana,” ucap Devano berbohong.


“Sebenarnya kamu ingin menghindari aku kan Dev, makanya kamu berusaha untuk menolak ajakan papiku bahkan kamu juga gak memperbolehkan aku ikut, sebenanrya kamu berusaha untuk menjaga jarak denganku kan?” tanya Dita yang mulai kesal.


“Bukan begitu, tapi orang yang sedang kamu ajak bicara itu bukan orang pengangguran, wajar jika aku  sibuk dan gak bisa menghadiri ajakan papimu buat makan di rumahmu. Lagian juga mau sampai kapan kamu di sini, kamu gak liat berkas di mejaku numpuk gini?” ujar Devano yang mulai menggunakan nada tinggi.


“Aku bantuin ya,” ucap Dita.


“Enggak usah, lebih baik kamu pulang, tolong. Jangan buat aku emosi karna kelakuan kamu kayak gini. Jangan bikin aku infiil dengan tingkah laku kamu, sudah cukup kamu dari tadi menguji kesabaran aku kayak gini,” pinta Devano memohon.


“Apa salahku sih Dev, aku cuma ingin ada di dekat kamu,” tutur Dita yang merasa sakit hati dengan ucapan Devano barusan.


“Emang kamu siapanya aku, sampai kamu harus ada di dekat aku?!” bentak Devano.


“Jangan buat aku emosi Dit,” ujar Devano kesal. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya lalu pergi begitu saja meninggalkan Dita dan pekerjaannya yang sangat banyak di tempat kerjanya. Ia sudah tak minat buat mengerjakan pekerjaannya itu, biarlah nanti asistennya yang mengerjakan semuanya. Ia ingin segera pulang agar bisa lepas dari Dita.


Devano berjalan cepat menuju parkiran VIP, lalu ia menghidupkan mobilnya dan langsung melesat pergi dengan kecepatan tinggi hingga Dita yang ada di belakangnya pun tak bisa mencegahnya.


“Kenapa Dev? Kenapa susah buat aku deketin kamu, bukankah kamu mencintai aku?” tanya Dita dalam hati, tak terasa air mata mengalir di pipinya. Sedangkan Devano sepanjang jalan benar-benar emosi. Ia  membuka kancing bajunya yang ada di atas dan melonggarkan dasinya yang sedikit terasa sesak.


Sesampai di rumah ia langsung memarkirkan mobilnya dengan asal, lalu ia berjalan memasuki rumah utama. Dania yang melihat Devano pergi begitu saja tanpa menyapa dirinya membuatnya heran karena tak biasanya Devano seperti ini.


Dania pun segera bangkit dari tempat duduknya dan mengejar putra sulungnya itu. Sayangnya, ia telat karena Devano terlanjur masuk ke dalam kamarnya dan pintunya pun di kunci dari dalam. Percuma jika ia manggil, bahkan sampai teriak-teriak pun tak akan di dengar karena ruangan Devano kedap suara.


Akhirnya ia pun memilih diam dan membiarkan Devano untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Ia pun segera menelfon sang suami.

__ADS_1


“Assalamualaikum pa,” sapa Dania terlebih dahulu setelah tersambung.


“Waalaikumsalam, ada apa, Ma? Tumben nelfon papa duluan?” tanya Darma.


“Pa, tadi Devano pulang kerja, dan wajahnya kayak lagi kesal, marah gitu. Dan gak biasanya Devano pulang kerja jam segini, apalagikan tadi malam ia bilang kalau pekerjaannya banyak dan kemungkinan besar hari ini ia lembur. Tapi ini malah jam segini sudah pulang, mama takut Devano kenapa-napa. Apalagi tadi, ia bahkan gak menyapa mama, dia langsung masuk gitu ke kamarnya, mama sudah ketok pintu tapi ya dia gak mungkin denger, tahu sendiri kan kalau kamarnya itu kedap suara,” adu Dania ke sang suami.


“Kenapa ya? Gak biasanya Devano bersikap kayak gini, biasanya sebesar apapun masalahnya, ia bisa menghadapinya dengan tenang,” ujar Darma yang juga bingung.


“Iya itu pa, makanya mama khawatir banget,”


“Iya sudah papa pulang sekarang,”


“Iya, hati-hati ya pa,”


“Iya sayang, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Lalu Dania pun mematikan hp nya, ia duduk di ruang tengah sambil melihat pintu kamar Devano berharap pintu itu terbuka.


“Ya Allah ada apa dengan anakku, tak biasanya dia seperti itu,” gumam Dania dalam hati.


Setengah jam kemudian, suaminya datang dengan terburu-buru.


“Asalamualaikum, Ma,”


“Waalaikumsalam.”


“Gimana? Pintunya belum di buka juga?” tanya Darma.


“Belum, Pa,” jawab Dania. Walaupun Devano sudah cukup umur, tapi bagi mereka, Devano tetaplah anak kecil, anak kesayangannya.


“Bentar, coba kita telfon saja,” usul Darma.


“Sudah, tapi gak di angkat, mama bahkan sudah beberapa kali nelfon gak di angkat sama sekali, malah sekarang nomernya gak aktiv,” adu Dania.


“Kita telfon pakek nomor rumah,”


“Oh ya, kenapa mama gak kefikrian ke sana ya,” ucap Dania.


“Hemmm.”


Darma pun langsung menelfon nomor rumah yang terhubung dengan kamar Devano dan benar saja, Devano langsung mengangkatnya.


“Ada apa, Pa?” tanya nya dengan suara kecil.


“Buka pintunya, mama dan papa ada di depan kamar kamu,” ujar Darma tegas.

__ADS_1


“Hm.” Hanya itu jawaban Devano lalu ia langsung mematikan begitu saja, dan tak lama kemudian, pintu kamar Devano pun terbuka. Darma dan Dania langsung masuk ke dalam kamar sebelum Devano berubah fikiran dan memutusksan untuk mengunci pintu dari dalam lagi.


__ADS_2