
Saat mereka tiba di Danendra House, tiba tiba seorang perempuan datang dengan senyum cerianya.
"Dev, kog lama, aku di sini sudah sejam lagi kamu baru datang," ucap Dita membuat Devano kesal. Namun ia berusaha diam, sedangkan Rahma, ia seperti melihat wanita yang kini sedang bicara dengan kakaknya itu, tiba tiba ia ingat dengan wanita yang di ajak ngobrol sama Devano saat di Mall tempo hari.
"Apakah ini yang namanya Dita?" tanya Rahma dalam hati.
"Aku gak suka liat nya, aku ingin Kak Dev nikah sama yang lain aja," ucap Rahma dalam hati.
"Kak Dev, ayo masuk, nanti malah kemaleman, aku jadi gak puas naik kudanya," ujar Rahma sambil bergelayut manja di tangan Devano. Gofur pun membiarkan saja, karena ia tau kalau istrinya itu tidak suka dengan perempuan yang kini tengah mencari perhatian kakaknya itu.
"Iya, ayo. Dita, kalau kamu mau ikut, lebih baik kamu ikuti kami," ujar Devano, Dita yang melihat ke arah Rahma pun merasa penasaran, karena Devano membiarkan wanita itu bergelayut manja di tangannya karena yang ia tau Devano tak suka di sentuh oleh wanita lain.
"Iya," jawab Dita yang masih menatap Rahma tak suka. Begitupun Rahma, ia juga tak menyukai perempuan yang lagi caper sama kakaknya.
Rahma lalu menggandeng tangan Devano dan tangan Gofur, karena Rahma sendiri berada di tengah tengah mereka, sedangkan Dita ia berjalan di samping Devano namun ia tak berani untuk memegang tangan Devano, ia gak mau membuat Devano marah padanya.
Setelah sampai di kandang kuda, Devano meminta penjaga kuda untuk membawakan tiga kuda, "Bawakan kuda A, C dan E," ucap Devano.
"Siap, Tuan." Jawab orang itu, lalu ia dengan di bantu temannya pun mengeluarkan kuda dan menaruhnya di depan Devano.
"Kamu pakai yang A ya, ini yang punya papa. Ra kamu ikut siapa?" tanya Devano lembut.
"Aku ikut Mas Go aja," jawab Rahma sambil melihar ke arah Gofur,. Gofur pun hanya menatap nya dengan senyuman manisnya, dan Dita yang tak sengaja melihatnya pun merasa terpanah. Namun ia buru buru memalingkan wajahnya karena ia gak mau siapapun memergoki dirinya yang terpanah dengan senyuman Gofur.
"Iya udah, aku pakai yang C dan kamu, Dit, kamu pakai yang E, karena di sini ada 5 kuda, yang A punya papa, yang B punya mama, yang C punya aku, yang D punya rara dan E, itu gak ada yang milikin, jadi kamu bisa minjem itu," ujar Devano.
"Iya gak papa," jawab Dita tersenyum, sebenarnya ia ingin nanya, siapa dua orang yang ada di dekat Devano, namun ia urungkan karena gak mau membuat Devano gak nyaman dengan pertanyaan yang ia ajukan.
Setelah itu, Devano naik kuda duluan dan dia jalan duluan, sdangkan di belakang Devano ada Gofur bersama Rahma, Rahma duduk di depan Gofur sedangkan Dita, ia yang paling belakang.
"Siap ya," ucap Devano.
"Okey," jawab Rahma semangat.
Lalu mereka pun mulai berjalan secara beriringan. Sedangkan Rahma ia terus bercanda dengan Gofur bahkan sesekali Gofur memberikan kecupan mesra di bibir Rahma, Dita yang tak melihatnya sampai membelalakan kedua matanya melihat adegan itu.
Padahal itu hanya kecupan biasa, kadang Rahma menyenderkan tubuhnya ke tubuh Gofur sambil cerita panjang lebar. Ia seakan menikmati naik kuda hari ini.
"Mas, aku senang deh bisa naik kuda kayak gini bareng kamu, kita jadinya seperti pasangan yang sanga romantis," ujar Rahma terkekeh.
"Apa perlu aku beliin kuda buat kamu sayang?" tanya Gofur.
__ADS_1
"Gak perlu mas, ngapain beli kuda, aku kan sudah punya satu. Aku emang suka kuda tapi bukan berarti aku tiap hari harus berkuda kan, jika aku pengen berkuda lagi, aku tinggal ajak mas ke sini lalu kita naik kuda bersama kayak gini," jawab Rahma.
"Apapun untukmu sayang, tapi jika kamu ingin, aku pastikan akan belikan saat ini juga,"
"Jangan mas, kalau punya uang jangan di hambur hamburkan, mending di tabugn aja atau mas bisa buka panti asuhan, panti jompo dan buat musholla serta bantu memperbaiki masjid yang butuh di renovasi, atau mas bisa bagi bagikan uangnya ke fakir miskin karena itu akan menjadi amal mas nanti nya kalau mas sudah gak ada dan kembali kepada Nya. Karena sesungguhnya tabungan kita yang sebenarnya bukan yang ada di ATM, bukan yang ada di rumah atau yang ada di bank, melainkan harta yang kita sedekahkan di jalan Allah, itulah uang kita yang sesungguhnya," jawab Rahma.
"Baiklah aku mengerti, aku akan melakukan apa yang kamu inginkan sayang," ucap Gofur sambil mencium Rahma.
"Dan jangan melakukan kebaikan karena aku mas, tapi niatkan karena Allah, okey,"
"Iya sayang, aku ngerti, makasih ya sudah nasihatin aku,"
"Iya mas sama sama," jawab Rahma.
Gofur terus mengikuti langkah kuda yang di naiki oleh Devano, sedangkan Dita yang tadinya pengen deketin Devano malah fokus melihat Rahma dan Gofur yang tengah asyik bermesraan.
Tak lama kemudian, Devano membawa mereka ke pinggiran danau yang sangat indah dan kebetulan di sana juga ada air terjun buatan dengan di kelilingi berbacam bunga di sepanjang danau membuat danau itu semakin terlihat cantik.
Devano turun dari kuda dan mengikat kuda tersebut ke kayu, begitupun dengan Gofur dan Rahma, mereka juga turun dari kuda dengan di ikuti oleh Dita.
"Kak, apakah ini juga milik keluarga kita?" tanya Rahma duduk di samping Devano, begitupun Gofur yang duduk gak jauh dari Rahma. Sedangkan Dita duduk di samping Devano jua sebelah kiri, sedangkan Rahma di sebelah kanan.
"Iya ini juga milik keluarga kita sayang," jawab Devano tanpa sabar menyebut kata sayang. Dita yang melihatnya pun sampai tertegun mendengar ucapan itu.
"Wah enak nih, kalau aku lagi sedih aku bisa ke sini untuk menenangkan hati," tutur Rahma.
"Tapi aku gak akan membiarkan kamu sedih sayang, kamu harus bahagia, hanya boleh bahagia, tak boleh sedih lagi, okey," ucap Gofur.
"Benar apa kata Gofur, kamu gak boleh sedih, apapun yang terjadi kamu harus bahagia, jika pun ada orang yang menyakiti kamu, bilang sama aku, biar aku menasehati orang itu agar tak menyakiti mu lagi," ujar Devano.
"Aish, mending bilang ke aku aja, kalau sampai ada yang menyakitimu, maka aku akan membalasnya berkali kalli lipat," ucap gofur yang membuat Devano, Rahma dan Dita bergidik ngeri.
"Mas, gak boleh gitu ah, biar Allah yang balas mereka, gak seharusnay kejahatan di balas dengan kejahatan," tukas Rahma menasehati.
"Tapi sayang, aku gak akan membiarkan siapapun menyakitimu, karena sakit kamu juga sakitku, sedihnya kamu adalah sedihku, lukamu adalah lukaku," ujar gofur.
"Lebay," sindir Devano.
"Bukan lebay, tapi kenyaan," ucap Gofur tak terima dirinya di katakan lebay.
Sedangkan Dita memilih diam, ia bingung bagaimana harus membuka suara sedangkan Devano seakan tak perduli dengan dirinya dan malah sibuk dengan wanita yang ada di samping dirinya itu.
__ADS_1
"Oh ya, tadi kan kita beli cake, cake nya ketinggalan di mobil, astaga gimana ini, aku benar bener lupa, dan lagi aku belum beli air," ucap Rahma panik.
"Gak usah panik, santai aja," jawab Devano. Lalu ia mengambil Hp nya dan menelfon seseorang.
"Ntar lagi cake nya mau di antar sekalian sama airnya," ujar Devano setelah ia selesai von vonan.
"Enaknya jadi orang kaya, tinggal nelfon, selesai sudah semuanya," ucap Rahma membuat Dita mengernyit heran, "Kenapa dia seolah olah hidup dalam kekurangan ya kalau di dengar dari kat katanya," gumam Dita dalam hati.
Tak lama kemudian, seseorang datang membawa cake dan juga 4 botol air. Lalu Devano pun mengambilnya dan memberikan cake nya ke Rahma, orang itu pun juga langsung pergi karena gak mau mengganggu Tuannya yang lagi liburan.
"Ini airnya ada 4, jadi satu satu," ucap Devano sambil memberikan ke Gofur satu, Rahma satu, dirinay satu dan Dita satu.
"Makasih ya," ucap Dita.
"Sama sama," jawab Devano santai.
"Kata papa, Devano menyukaiku tapi kenapa aku melihat Devano biasa biasa aja ya, apa rasa cintanya sudah hilang karena sikapku kemarin?" tanya Dita dalam hati.
Rahma yang memegang cake lalu memberikan ke Dita satu, "Ini buat Mbak Dita satu," ujar Rahma mencoba untuk ramah walau dalam hati ia gak mau jika sampai kakaknya itu nikah sama Dita.
"Makasih ya" ucap Dita yang bingung mau manggil apa.
"Namakku Afifatur Rahma, panggil aku Rahma atau Rara," ujar Rahma tersenyum.
"Baiklah, makaasih Rahma," ujar Dita sekali lagi.
"Iya sama sama, dan ini untuk Kak Dev satu, buat Mas Go satu dan buat aku satu, eh kog pas ya," ujar Rahma, padahal kayaknya tadi ia beli banyak.
"Pasti bingung kan?" tanya Devano.
"Iya," jawab Rahma.
"Emaang sengaja cake nya gak di bawa semua, toh juga gak mungkin di makan semua, jadi akunyuruh ambil 4 aja, jadi pas satu satu, makanya aku tadi ngobrol sama orang gak di dengerin sih," sindir Devano sambil menjelaskan.
"Hehe maaf," ucap Rahma sambil cengengesan.
Lalu mereka pun ngobrol bersama, lebih tepatnya Rahma lah di sini yang banyak cerita, sedangkan mereka bertiga, hanya jadi pendengar setia, dan sesekali buka suara jika Rahma bertanya.
Setelah puas menikamti danau itu dan ngobrol panjang lebar, Rahma pun mengajak mereka untuk pulang karena bentar lagi adzan maghrib.
"Kalau ktia pulang sekarang, nanggung. Mending kita sholat dulu baru pulang, kebetulan di sini ada musholla," ujar Devano.
__ADS_1
"Baiklah kita ke Mushllah aja, sholat maghrib jamaah lalu pulang," ujar Rahma. Gofur dan Dita pun setuju.