
Sesampai di Singapura, Amira langsung di ajak ke kamar Devano. Walaupun Devano tak mengatakan apa-apa, tapi ia tau jika Amira lelah dan butuh istirahat.
"Kamu mandilah dulu, setelah itu istirahat," tutur Devano.
"Tapi Pak ....."
"Sayang, panggil aku Sayang," ucap Devano memotong ucapan sang istri.
"Ah ya Sa ... Sayang, aku gak bawa baju," ujarnya gugup.
"Iya sudah, kamu mandi aja sana, aku akan ambilkan baju Rahma buat kamu. Pasti banyak baju yang masih baru dan belum dipakai,"
"Tapi apa gak papa, pakai baju dia,"
"Ya gak papa lah, dia bajunya banyak kok. Bahkan hampir setengahnya belum ada yang di pakek. Jadi aku rasa tak masalah jika aku ambil satu buat kamu,"
"Emm gimana kalau aku mandi di kamar Rahma aja?" tanya Amira, yang kurang nyaman mandi di kamar cowok, walaupun cowok itu telah jadi suaminya.
"Loh kamu itu gimana, kok kamu malah mau mandi di kamar cowok lain dari pada di kamar suamimu sendiri. Kamu ingat kan adek aku itu udah nikah, yang artinya kamar dia bukan cuma milik dia tapi milik suaminya. Aku tau kamu risih tapi apa gak tambah risih lagi jika kamu numpang mandi di kamar orang lain?" tanya Devano.
"Sudahlah mandi aja sana, aku gak ngintip kok," ucap Devano sambil pergi ke luar kamar.
Amira yang melihat suaminya langsung pergi pun merasa tak enak hati, ia ingin mengejarnya tapi ia takut jika suaminya akan semakin marah padanya
Ia pun akhirnya pergi ke kamar mandi, untuk segera membersihkan diri. Sungguh sejak ia masuk ke istana rumah ini, Amira sangat kagum sekali, entah berapa hektar rumah ini sangking luasnya. Terlebih kamar Devano, dan kamar mandinya. Kamar mandinya aja bahkan jauh lebih besar ketimbang kamar kosannya.
Sedangkan Devano , ia menelfon Rahma. Ia tak mungkin masuk kamar Rahma jika tak izin lebih dulu. Karena bagaimanapun ia harus menghormati privasi adiknya itu, apalagi adiknya sudah berkeluarga.
"Assalamualaikum, Ra,"
"Waalaikumsalam, Kak. Gimana acaranya? Sukses?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sukses, malah aku sudah bisa bawa Amira ke rumah ini,"
"Maksudnya gimana nih?"
"Aku ke sana awalnya kan ingin melamar saja, tapi malah langsung nikah Sirri,"
"Loh kok bisa?"
Akhirnya Devano pun menceritakan semuanya.
"Wah Alhamdulillah ya Allah mempermudah jalan Kak Dev untuk bersatu dengan Kak Amira. Memang kalau dah jodoh, pasti akan bersatu. Sayangnya aku gak bisa hadir di acara kalian, maaf ya,"
"Gak papa, aku sudah merekam saat aku ijab-kabul, nanti aku kirim vidionya,"
"Wahhh, iya deh. Cepetan kirim ya, aku pengen lihat nih,"
"Iya sabar. Oh ya Ra, aku boleh ambil satu baju kamu buat Amira, dia gak bawa baju ke sini. Rencananya besok pagi aku mau bawa dia ke Mall, sekalian jalan-jalan dan beli keperluan dia,"
"Oke deh Ra, makasih ya. Oh ya kamu kapan pulang?"
"Aku gak tau, tapi aku kayaknya seminggu di sini, kenapa kak?"
"Gini rencananya aku mau pindah rumah. Nah kamu kan pernah bilang, mau pindah rumah juga bareng aku. Aku nunggu kamu pulang dulu dari sana, atau gimanapun?"
"Tunggu aku dulu ya Kak. Biar aku diizinin sama Mama dan Papa,"
"Oh gitu, iya sudah gak papa. Aku akan tunggu kamu. Kamu hati-hati ya di sana, kalau ada apa-apa hubungi aku dan Papa,"
"Siap, Kak."
"Jaga kesehatan juga, jangan sampai terlalu lelah,"
__ADS_1
"Iya, Kak."
"Iya sudah aku tutup dulu ya,"
"Aku titip salam buat Mama, Papa dan juga Kak Amira,"
"Oke, ada lagi?"
"Enggak ada,"
"Iya sudah, aku tutup. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dan setelah itu, Devano pun berjalan nenuju kamar adiknya. Untuk mengambil dua baju gamis dan jilbab dengan warna senada.
Setelah selesai, ia pun membawanya ke kamar Amira. Sungguh sebagai orang bangsawan, sebenarnya ia tinggal menyuruh seseorang buat membeli baju Amira di toko kepercayaannya atau meminta seseorang untuk ambil baju di lemari Rahma
Tapi ia yang sedari kecil, diajari mandiri, lebih suka melakukan apapun sendiri selagi ia bisa, ia tak suka jika terlalu banyak ketergantungan dengan orang lain. Yang dikit-dikit main asal perintah saja.
Sesampai di kamarnya, ia mengetuk kamar mandi.
"Amira, ini bajunya aku taruh mana?"
"Taruh di kasur aja, Pak. Eh, Sayang maksudnya. Nanti aku ambil sendiri. Sayang keluar aja ya, biar nanti aku ganti baju di kamar,"
"Oke."
Dan setelah itu Devano pun menaruh bajunya di atas kasur dan ia pun pergi dari kamar itu lagi. Ia bukan cowok brengsek, jadi selama Amira melarangnya, ia akan menurutinya walaupun sebenarnya tak masalah bagi Devano melihat apa yang ada di tubuh istrinya mengingat mereka sudah halal.
Tapi Devano akan tetap menghargai keputusan sang istri dari pada melakukan sesuatu sesuai kehendaknya sendiri.
__ADS_1