
Saat mereka baru keluar dari kamar, mereka bertemu berpapasan dengan Mama Dania. "Mau kemana Sayang?" tanyanya.
"Mau olah raga, Ma. Di depan rumah," jawab Amira sedangkan Devano memilih diam, karena ia ingin Amira belajar akrab dengan mamanya.
"Oh gitu, semangat ya olah raganya. Dev, menantu mama jangan sampai kecapean ya, kasihan," ucapnya mengarah ke Devano.
"Siap, Ma." balasnya dengan tersenyum ceria. Mamanya yang melihatnya pun hanya geleng geleng kepala melihat tingkah anak sulungnya itu.
Setelah itu, Devano pun membawa Amira keluar rumah, "Mas, apa gak papa aku pagi pagi malah milih olah raga, seharusnya kan pagi pagi gini aku bantu mama di dapur," ucapnya saat mereka sudah ada di depan rumah.
__ADS_1
"Gak papa, Sayang. Lagian juga mama jarang kok ke dapur, toh di dapur kan sudah ada bibi, ada banyak pelayan di rumah ini, jadi kamu jangan berfikir kalau aku menikahi kamu hanya untuk menjadi tukang masak, ataupun tukang bersih bersih rumah. Aku bahkan mampu menggaji ratusan asisten rumah tangga agar kamu tak melakukan hal seperti itu, kecuali kamu ingin ke dapur untuk memasak karena keinginan kamu sendiri, mungkin gak papa. Aku kasih izin tapi tidak tiap hari juga, hanya boleh sesekali aja,"
"Baiklah, aku mengerti." Amira pun faham dengan apa yang di katakan oleh suaminya, ia tak ingin lagi membantah seperti tadi malam karena ia tak ingin jika sang suami mendiamkan dirinya lagi karena itu sungguh tak nyaman.
"Iya udah ayo kita olah raga kecil kecilan dulu, sebelum lari pagi kita harus melemaskan otot kita dulu biar gak kaku. Kalau langsung lari lari malah bisa bisa kaki kita sakit apalagi setelah bangun tidur, akan semakin terasa sakitnya," ucapnya memberitahu. Amira pun hanya bisa menganggukkan kepala.
Dulu, saat ia belum menikah, jam segini ia pasti sibuk dengan rutinitasnya sendiri, dengan kesibukan yang tiada habisnya, bukan malah santai dan menikmati waktu di pagi hari dengan orah raga seperti ini. Ia benar benar merasa jika hidupnya itu berubah 180 derajat.
"Iya, Mas."
__ADS_1
Lalu Amira pun mengikuti gerakan suaminya, setelah merasa cukup dengan pemanasannya, ia pun mengajak Amira lari pagi mengeililingi halaman rumahnya yang cukup luas.
Mereka berlari secara beriringan sambil ngobrol santai. Sedangkan Dania dan Darma yang melihat dari balik laca pun merasa bahagia melihat putranya yang menemukan pasangan yang tepat.
"Aku bahagia melihat Devano menikahi Amira, dia wanita yang sholehah, baik, ramah, tulus dan terlihat dia itu penyayang. Apalagi ia juga pintar menutup auratnya. Aku percaya dia bisa mengimbangi putra kita dan bisa menjadi orang yang selalu mensupport suaminya," ucap Dania.
"Mama benar, Papa pun juga merasa senang karena Devano menikahi Amira, bukan Dita, entah apa jadinya jika dia menikah dengan Dita, karena Dita jauh berbeda tidak seperti Amira,"
"Ya, Mama pun juga kurang menyukai anak itu. Tapi syukurlah, ternyata jodoh anak kita bukan dia, tapi Amira," gumamnya. Mereka berdua pun membahas Devano dan Amira yang terlihat serasi apalagi Devano terlihat begitu bahagia sejak menikah dengan Amira.
__ADS_1
Sedangkan Devano dan Amira masih saja menikmati olah raga paginya."Kamu sudah capek, belum? Kalau capek kita bisa istirahat dulu, jangan di paksakan," ucap Devano.
"Aku belum capek kok, nanti aku kalau sudah capek akan billang sama kamu," jawabnya sambil mengelap keringetnya dengan handuk kecil yang ia taruh di lehernya. Devano pun menganggukkan kepala, ia baru tau, Amira juga sangat semangat jika di ajak olah raga pagi, tak seperti kebanyakan wanita lainnya yang pagi pagi masih fokus dengan alam tidurnya dan malas di ajak olah raga pagi bersama.