
Setelah mandi dan selesai sholat, ia pun mengaji sambil menunggu adzan shubuh tiba, setelah adzan shubuh, barulah ia membangunkan suaminya untuk sholat shubuh karena waktunya yang hanya sebentar.
"Mas, bangun. Sudah shubuh, ayo sholat dulu," ucapnya dengan lembut. Devano yang mendengar suara Amira pun mulai membuka mata, lalu ia mengucek matanya layaknya anak kecil dan itu sukses membuat Amira gemas.
"Ambil wudhu dulu sana, lalu sholat bareng ayo," ajaknya. Dan Devano pun menganggukkan kepala. Lalu ia berjalan menuju kamar mandi, bukan hanya untuk ambil wudhu, melainkan ia ingin mandi agar terlihat segar di mata sang istri. Amira yang menunggu suaminya cukup lama pun hanya bisa menghela nafas. Lalu ia pun pergi ke lemari untuk mengambil sarung dan baju koko milik suaminya dan menaruhnya di atas kasur.
Dan tak lama kemudian, Devano pun selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit perutnya yang kotak kotak itu, melihat hal itu, membuat Amira memalingkan wajahnya. Devano yang melihatnya pun hanya tersenyum apalagi ia mengingat tadi malam, Amira begitu memuji dirinya dari yang katanya perut kotak kotak, dada yang bidang, tangan yang kekar dan lain sebagainya. Ia bahkan mengingat dengan betul apa yang di ucapkan oleh istrinya tadi malam.
Namun untuk saat ini ia tak ingin menggodanya, ia ingin fokus untuk ibadah lebih dulu. Ia pun mengeringkan tubuhnya termasuk rambutnya baru setelah itu, ia mengambil sarung dan juga baju koko yang sudah di siapkan oleh istrinya.
Selesai memakai sarung dan bajunya, barulah ia sholat bareng sang istri. Sholat berjamaah di kamarnya. Selesai sholat, Amira mencium tangan suaminya yang langsung di sambut dengan mencium keningnya oleh Devano.
"Olah raga pagi, mau?" tanya Devano. Membuat Amira yang lagi fokus buka mukenahnya langsung kaget seketika.
__ADS_1
"O ... olah raga pagi, maksudnya gimana ya?" tanya Amira yang fikirannya langsung mengarah ke olah raga pagi di atas ranjang, gak tau kenapa fikirannya yang polos mendadakan mengarah ke sana.
Devano yang seakan mengerti akan apa yang di fikirkan oleh istrinya pun hanya geleng geleng kepala karena ia tau, bahwa istrinya sudah berfikiran mesum di pagi buta ini.
"Olah raga jalan jalan pagi maksudku, olah raga di depa rumah, itu kan halamannya cukup luas bahkan sudah seperti lapangan sepak bola aja, bahkan berkali kali lipat. Aku ingin mengajak kamu lari pagi biar tubuh kamu sehat, segar dan gak gampang sakit. Tapi jika kamu ingin kita olah raga di atas ranjang, juga aku gak nolak kok," godanya membuat Amira merona seketika. Apalagi Devano mengingat ucapan Amira tadi malam yang menginginkan seorang anak darinya.
"Eh aku mau kok,"
"Mau olah raga di atas ranjang?" tanyanya dengan ambigu.
"Oh, aku fikir, kamu mau di ajak olah raga di atas ranjang, aku hampir aja seneng," godanya membuat Amira semakin merona.
"Eh kalau Mas mau, gak papa," ujarnya membuat Devano melongo.
__ADS_1
"Tadi kamu ngomong apa?" tanyanya, takut jika ia salah dengar.
"Aku gak ngomong apa apa kok, ayo kalau mau olah raga pagi di depan rumah," Amira segera melipat mukenah yang sudah ia buka dan menaruhnya di tempat yang sudah di sediaka. Lalu ia segera mengambil baju suamiya, ****** *****, celana dan baju olah raga. Dan dirinya pun ganti baju dan celana longgar karena tak mungkin ia olah raga dengan memakai gamis.
Devano pun segera ganti baju baju lagi dengan baju olah raga yang di pilihkan istrinya. Biasanya ia lah yang memilih sendiri dan mengmbilnya sendiri.
"Kamu gak ganti baju?" tanya Devano yang melihat Amira masih diam.
"Aku ganti baju di kamar mandi ya,"
"Iya udah sana," balasnya. "Padahal ganti di sini juga gak papa kok, aku gak akan lihat," gumamnya dengan suara yang lebih kecil.
__ADS_1