My Little Woman

My Little Woman
Masak Bersama


__ADS_3

Setelah sampai di Villa, bibi  membantu mereka membawa belanjaan mereka ke dapur. Dan setelahnya, Amira pun memberikan jajan untuk bibi dan Pak Tukang kebun. Amira juga  meminta agar hari ini, bibi tak perlau memasak, karena ia dan sang suami sendiri yang akan memasak untuk sarapan pagi hari ini. Bibi yang menngerti pun langsung memilih keluar, ia tak ingin menganggu keromantisan penganti baru itu. Ia memilih membantu Pak Tukang kebun menyiram bunga, merawat tanaman dan membuang daun yang sudah kuning dan memotong beberapa tangkai agar kelihatan lebih rapi. Mereka melakukan itu sambil ngemil dan ngobrol santai.


Sedangkan di dapur, Amira dan Devano sibuk memasak, tapi sebenarnya Amira lah yang masak. Karena Devano hanya duduk santai sambil menikmati teh hangat buatan Amira dan melihat Amira yang sedari tadi memotong sayuran dan mencucinya hingga bersih lalu menaruhnya di rak agar airnya menetes. Lalu ia melihat Amira yang sibuk memotong daging lalu ia mencucinya juga hingga bersih lalu ia taburi daging itu dengan jeruk nipis. Lalu setelah ia juga membelah ikan dan memotongnya menjadi beberapa bagian lalu  mencucinya dan tiriskan. Terakhir ia juga mengambil tiga butir telu yang ia kocok lepas dan menaruhnya di baksom.


Devano terus melihat Amira yang terlihat begitu lihat melakukan ini dan itu. Bahkan sesekali Devano memotrenya secara diam diam dan memvidiokan Amira. Amira yang terlalu fokus tak tau apa yang kini tengah di lakukan oleh sang suami.


Saat Amira tengah fokus menggoreng ikan, Devano bangkit dari tempat duduknya lalu ia berjalan ke arah Amira dan memeluk Amira dari belakang.


"Ya Allah, Mas. Aku kaget loh," ucap Amira karena tiba tiba ada yang melingkarkan tangannya di perutnya.


"Maaf. Masih lama?" tanya Devano.


"Gak kok, 15 menit lagi sudah matang. Kenapa? Sudah lapar?" tanya Amira yang tetap fokus menggoreng, jujur ia merasa kurang bebas bergerak saat Devano memeluknya dari belakang. Tapi ia pun juga nyaman dengan apa yang di lakukan oleh Devano saat ini, makanya ia membiarkan Devano terus memeluknya.


"Enggak sih, aku hanya ingin kita berpelukan aja, kangen,"


"Kan sudah bareng aku terus, kok masih kangen?" tanya Amira.


"Enggak tau, kangen aja sih, pengen meluk terus, enak,"


"Iya udah peluk aja aku, tapi jangan terlalu erat ya, biar aku bisa tetap beraktvitas,"


"Iya." Dan akhirnya Devano terus menempelkan tubuhnya di punggung Amira.

__ADS_1


"Ternyata seperti ini ya rasanya kalau punya suami," ucap Amira.


"Kenapa?" tanya Devano.


"Iya beda rasanya. Kalau dulu masak sendiri, enggak ada yang  menemani, bawaannya buru buru terus karena di kejar waktu atau, jika sudah gak sempet masak ya beli di luar. Dan kadang gak ngurus diri sendiri, makan gak makan, tetap berangkat kerja, bahkan jika libur, lebih memilih untuk tidur dan bangun siang. Tapi tidak untuk sekarang, semuanya berubah. Sekarang, tidur ada yang menemani, aku ada temen ngobrol, bisa beraktivitas bareng, gak lagi kesepian, terus gak bisa lagi egois karena harus memikirkan perasaan pasangan, belajar untuk peka terhadap pasangan, terus jalan jalan ada yang menemani,, ke pasar di temani, bahkan masak pun di temani, bahkan bukan cuma di temani, tapi juga di peluk hehe. Terus ada temen untuk makan bareng, banyak deh perbedaannya." sahut Amira.


"Lebih enak mana?" tanya Devano sambil menaruh dagunya di bahu kiri Amira, sedangkan kedua tangannya masih melingkar di perut Amira yang rata.


"Sekarang dong,"


"Beneran?" tanyanya.


"Iyalah, Mas,"


"Gak papa lah Mas, aku malah seneng bisa kuliah lagi, berasa masih remaja aku. Dan lagi aku bisa lebih dekat dengan adik ipar aku."


"Tapi janji ya, kalau sudah kuliah, gak boleh lirak lirik cowok lain, kamu harus ingat sudah punya suami ganteng gini,"


"Emang Mas Dev ganteng?" goda Amira.


"Iya dong, buktinya banyak yang ngantri pengen jadi istri aku," jawabnya PD.


"Sebenarnya ganteng atau gaknya itu yang bisa nilai orang lain dan tentu setiap orang yang lihat punya kriteria tertentu, mungkin sebagian orang ada yang mengatakan Mas Dev itu ganteng, tapi mungkin juga ada sebagian orang yang mengatakan Mas Dev itu biasa biasa aja, karena type cewek itu juga beba beda."

__ADS_1


"Terus kamu type yang mana? Apa aku sudah masuk krtieria pria idamanmu?" tanya Devano serius.


"Jawab gak ya?" goda AMira lagi.


"Jawab dong, jangan bikin orang penasaran, boda loh."


"Mas Dev itu masuk kriteria aku kok,"


"Benarkah?"


"Ya, berarti aku bisa dong buat merebut hati kamu?"


"Ya gitu deh,"


"Atau saat ini kamu sudah jatuh hati sama aku?" tanyanya.


"Mas Dev sendiri gimana, apa Mas Dev sudah jatuh hati sama aku, kalau Mas Dev bisa jawab, aku pun akan menjawab bagaimana perasaanku sekarang." jawabnya sambil menaruh ikan, dan telur yang sudah ia goreng di meja. Dan kini ia tinggal membakar daging yang sudah ia potong tipis tipis agar cepat matang. Ia jgua suah membaluri daging itu dengan bumbu agar rasanya lezat dan aromannya pun bikin orang pengen ikut menikmatinya juga.


Sedangkan lalapan sayur dan sambal sudah selesai dari tadi dan sudah ia taruh di meja. Nasinya pun juga sudah matang, hanya tinggal dagingnya aja yang belum selesai di bakar.


"Aku ..." Devano bingung mau jawab apa.


"Kalau Mas Dev masih ragu dengan apa yang Mas Dev rasakan, gak papa, gak usah di jawab. Lagian kita nikah kan baru beberapa hari. Ini seperti masih pendekatan, semoga aja lambat laun perasaan itu akan tumbuh di hati kita agar bisa menjalani rumah tangga dengan penuh cinta. Untuk saat ini biarkan semuanya berjalan dulu, kita nikmati waktu kita berdua."

__ADS_1


"Iya kamu benar" jawanbya. Tapi dalam hati, sejujurnya Devano mulai menyukai bahkan mencintai Amira, hanya saja ia ingin meyakinkan diri terlebih dahulu sebelum ia mengungkapkan perasaannya untuk Amira.


__ADS_2