
"Danendra, Wijaya," gumam Ayah Amira yang masih terdengar oleh Darma, Dania dan Devano.
"Iya, kenapa?" tanyanya.
"Bu ... bukannya itu bangsawan nomer satu, yang namanya selalu muncuk di TV, media sosial dan juga di koran ataupun di majalah. Bahkan nama itu selalu menjadi perbincangan hangat oleh semua netijen karena kekayaannya yang tak akan habis tujuh turunan," ujar Amira membuat Darma terkekeh. Dia fikir, ada apa.
"Ya betul itu kami," jawabnya santai.
"Ya Allah Ya Robbi, mimpi apa aku sampai berbesanan dengan orang bangsawan seperti ini. Apa aku dulu pernah melakukan kebaikan yang begitu besar?" tanya Ayahnya Amira cukup keras hingga semua orang juga ikut mendengar perkataannya.
"Ayah, jangan seperti itu. Malu," bisik Amira, ia malu sendiri dengan tingkah laku Ayahnya yang sampai seperti itu.
"Amira, bagaimana kamu bisa menemukan mereka?" tanya Ayahnya Amira, yang masih bingung harus berbuat apa.
"Pak Dev, itu bos aku Pa di perusahaan," jawabnya.
"Napa kamu gak bilang dari awal jika yang melamar itu, bos kamu," omel Ayahnya Amira.
Darma yang melihatnya pun merasa bingung, kenapa malah bahas ke sana kemarin.
"Maaf, ini gimana ya, apa anak saya di terima lamarannya?" tanya Darma.
"Tapi apakah Tuan tak malu mempunyai besan dan menantu miskin seperti kami?" tanya Ibunya Amira mengambil alih.
__ADS_1
"Kenapa harus malu, Ibu. Kalian orang baik, apa hanya karena harta, kalian sampai berfikiran seperti itu. Allah aja tidak meemandang sebanyak apa harta yang kita punya, melainkan ketakwaan kita. Jika memang kami mau, kami bisa aja berbesanan dengan sama-sama orang bangsawan, tapi kembali lagi ke Devano. Dia tidak mau menikah dengan orang bangsawan, melainkan ia ingin menikah dengan wanita yang bisa menjaga auratnya dimanapun ia berada. Baik, ramah, disiplin, bertanggung jawab, pintar, dan bisa menghargai orang lain dan taat ibadah. Itulah yang anak saya cari. Masalah uang, kami sudah punya. Kami hanya ingin anak kami mendapatkan pendamping yang bisa di ajak kerja sama membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Ia menginginkan seorang istri yag kelak bisa menjadi istri sholehah dan ibu yang terbaik buat anak-anak mereka kelak," jawaban Darma membuat semua orang terharu mendengarnya. Betapa Darma dan keluarganya begitu baik, mereka tak memandang orang dengan harta tapi karena keimanannya kepada sang Maha Pencipta.
"Kalau gitu, kami menerima Devano menjadi menantu kami. Karena Amira sendiri, InsyaAllah juga menerima lamaran ini, iya kan Nak?" tanya Ibunya Amira yang lebih tenang ketimbang sang suami.
"Iya, Bu," jawabnya menundukkan kepala.
"Nah misal kami menginginkan pernikahan di percepat apakah bisa, terserah kalian mau menikah di sini atau di Singapure, jika di sini, kita bisa memakai gedung hotel milik Devano. InsyaAllah untuk masalah pesta dan lain sebagainya, biar itu semua jadi urusan kami," ucap Darma.
"Anu Tuan, saya hanya ingin menikah sederhana aja," balasnya yang membuat orang melongo. Di saat semua orang memimpikan nikah dengan pesta yang super mewah tapi Amira berbeda, dia malah meminta nikah dengan sederhana. Semua orang yang ada di sana gregetan tapi berbeda dengan kedua orang tua Amira yang mengerti kenapa anaknya menikah sederhana, karena emang Amira dari dulu gak suka jadi pusat perhatian.
"Kalau saya sih terserah Amira enaknya gimana," ucap Ibunya Amira.
"Nak Amira, kamu yakin mau nikah sederhana, apa kamu gak memimpikan nikah 7 hari 7 malam misalnya. Nanti 4 hari di sini, 3 hari di Singapure?" tanya Dania.
"Enggak, Nya. Saya ingin yang sederhana aja," jawabnya kekeh.
"Enggak Papa, Ma asal ..." Devano menggantungkan ucapanya membuat semua orang penasaran.
"Asal apa, Nak?" tanya Dania.
"Asal Amira berhenti memanggil saya dengan sebutan Pak, dan berhenti memanggil Mama dan Papa dengan sebutan Nyonya dan Tuan," jawab Devano yang membuat Amira mendelikk ke arah Dev. Dev yang di pelototi pun hanya tersenyum, senyum yang membuat semua wanita terpanah.
"Amira, bisa kan nama panggilannya di ganti sesuai permintaan Devano?" tanya Dania lembut.
__ADS_1
"Bisa, Nya. Eh Mama maksudku, Saya akan memanggil kalian Mama, Papa dan ...." Amira seakan bingung mau manggil apa untuk Devano.
"Sayang," ucap Devano yang membuat Amira kesal. Ia malu karena orang-orang malah menertawakannya.
"Ya, kayaknya nama panggilan sayang terkesan romantis," goda Dania.
"Mas aja deh," kata Amira.
"Kurang romantis itu, Mah. Panggil sayang coba, biar semua orang mendengarnya," ujar Devano yang mulai ikut mencairkan suasana karena sedari kayaknya sedikit tegang.
"Ayo, turuti Nak, permintaan calon suamimu," ujar Ibu Amira.
"Ibu, aku malu. Nanti deh kalau sudah resmi nikah, aku akan manggil Sayang,"
"Beneran loh ya, kalau gitu. Ayo kita nikah sekarang," ajak Devano membuat orang-orang lagi-lagi melongo karena tindakan Devano yang mengajak nikah dengan begitu santainya.
"Kita cukup panggilkan Pak Penghuluya. Nanti sesampai di singapure kita tinggal urus surat nikahnya. Kan kamu ingin nikah sederhana, jadi kita tinggal panggilkan pak penghulu untuk menikah kan kita. Kan semuanya sudah lengkap, pengantin wanita ada, pengantin laki-laki ada, wali kamu ada, saksi nikah banyak, mahar, tinggal kamu sebutkan, InsyaAllah aku sanggup. Apalagi?" tanya Devano. Membuat orang-orang yang mendengarnya geleng-geleng kepala.
"Kayaknya Tuan Muda Devano gak sabar pengen nikahin ponakan saya," gurau Pamannya Amira.
"'Hehe biar cepat halal dan saya bisa bawa Amira ke kediaman saya, Paman," ujar Devano tersenyum.
"Tinggal Amiranya nih? Gimana? Mau gak nikah sekarang, biar Paman panggilkan Pak Penghulu ke sini," ucap Paman sambil melirik ke arah Amira.
__ADS_1
"Ini kan baru acara lamaran, kenapa bahas nikah sih, saat ini juga lagi nikahnya. Astaga Pak Dev, jangan bikin malu lah," Amira hanya ngedumel dalam hati.
Sedangkan Devano hanya senyam senyum melihat wajah Amira yang seperti dongkol ke arahnya. Begitupun yang lain, walaupun mereka tau ini baru acara melamar, tapi mereka juga tak masalah jika langsung nikah, bukankah pacaran setelah menikah itu lebih baik ketimbang nanti malah hamil duluan sebelum nikah, bisa bikin malu keluarga besar dan yang paling penting bikin Allah murka.