My Little Woman

My Little Woman
Pengakuan Sisil


__ADS_3


Sisil keluar dengan tangan gemetern memegang surat yang dapat dari Pak Go. Ada sedikit rasa takut untuk memberikan surat ini kepada kedua orang tuanya. Bagaimanapun selama ini mama dan papanya selalu membangakan dirinya di depan semua teman temannya dan keluarga besarnya sebagai anak yang pendiam, manis, penurut dan tak pernah bikin ulah. Jika sampai mama dan papanya tau bagaimana sifat Sisil yang sebenarnya, betapa mereka akan sangat kecewa kepadanya. Dan Sisil gak mau jika itu sampai terjadi.


"Satu satunya cara adalah aku minta maaf kepada Rahma dan aku akan meminta dia agat membujuk Pak Go untuk mencabut suratnya." gumam Sisil. Ia pun berjalan ke kelas Rahma namun sesampai di kelas Rahma, ia melihat sudah ada guru di sana. Sedangkan Sisil gak bisa masuk kelas Rahma karena Sisil dan Rahma beda kelas. Sisil pun menuju kelasnya sendiri tapi ia berjanji saat jam istirahat kedua nanti, ia akan pergi menemui Rahma dan meminta maaf padanya.


----------------------------------------------------


Jam 11.30 bel tanda istirahat kedua berbunyi. Sisil segera lari menuju kelas Rahma. Namun ia melihat di kelas hanya ada beberapa orang saja.


"Liat Rahma gak?" tanya Sisil.


"Kayaknya udah pergi ke Musholla tuh. Jam segini kan biasanya dia ke Musholla bareng Della untuk Sholat Dhuhur berjamaah." Jawab Doni, ketua kelas.


"Oke, thanks ya." Ujar Sisil. Ia pun bingung mau ke Musholla apa enggak. Nanti kalau ke Musholla bisa bisa di suruh sholat padahal ia seumur hidupnya belum pernah sholat. Pernah sih pas masih kecil tapi itu dulu dan sekarang ia sudah lupa gimana cara sholat dan bagaimana bacaannya.


Sisil pun menunggu Rahma dan Della di depan kelasnya sambil main hp. Dan lima belas menit kemudian, Rahma dan Della datang.


"Rahma, boleh minta waktunya sebentar." Ucap Sisil sambil menaruh hp nya di saku bajunya.


"Maaf, kamu kenal aku?" tanya Rahma yang memang tidak mengenali siapa orang yang kini ada di hadapannya.


"Iya. Aku mau ngomong sama kamu sebentar. Boleh ya?" Pinta Sisil.


"Baiklah." Jawab Rahma.


"Tapi jangan di sini." Ujar Sisil.


"Iya sudah kalau gitu kita ngobrol di taman aja tapi aku bawa temen gak papa kan?" tanya Rahma.


"Iya gak papa." Jawab Sisil sambil tersenyum.


Rahma pun mengajak Della untuk ngobrol dengan Sisil di taman. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang.


"Ada apa?" tanya Rahma to the point.


"Aku mau minta maaf." Jawab Sisil.


"Untuk?" tanya Rahma tak mengerti pasalnya ia gak kenal dengan orang ini dan tiba tiba ia datang dan ngajak ngobrol dan sekarang ia minta maaaf. Wajar kan jika Rahma nanya minta maaf untuk hal apa.

__ADS_1


"Masalah kulit pisang." Jawab Sisil menunduk karena takut kena semprot oleh Rahma.


"Jadi kamu yang bikin sahabatku hampir jatuh?" bentak Della tak terima.


"Maaf." Jawab Sisil, ia tak berani menatap wajah Rahma dan juga sahabatnya itu.


"Gampang banget kamu minta maaf setelah apa yang kamu perbuat. Jika tadi Pak Go gak bantuin Rahma, entah apa yang akan terjadi padanya. Sungguh, kamu itu benar benar jahat tau gak." Ucap Della kesal.


"Sudahlah Del, jangan pakai emosi. Kita bisa bicarakan ini baik baik." Ucap Rahma menengahi.


"Tapi Ra, dia udah bikin kamu hampir jatuh." Ujar Della.


"Aku tau tapi kan dia udah minta maaf." Ucap Rahma kepada Della agar ia tak lagi emosi. Della pun mulai berusaha untuk mengontrol emosinya, walau sejujurnya ia ingin sekali memberi pelajaran kepada orang yang sudah mau mencelakai sahabatnya itu.


"Boleh aku tau apa alasan kamu membuang kulit pisang itu di depanku?" tanya Rahma lembut.


"Aku cemburu." Jawab Sisil.


"Cemburu? sama siapa?" tanya Rahma tak mengerti.


"Karena aku melihat kamu dan sahabatmu turun dari mobil Refaldo" Jawab Sisil.


"Sudah Del, aku mohon tolong jangan pakai suara tinggi. Gak enak di liatin ma yang lain." Ucap Rahma karena ia melihat ada beberapa pasang mata yang melihat ke arah dirinya.


"Boleh aku tau nama kamu?" tanya Rahma.


"Aku Sisil." Jawab Sisil.


"Kamu salah satu fans Refaldo ya?" tanya Rahma lembut.


"Iya." Jawab Sisil.


"Aku kasih tau ya..Aku dan Della tadi berangkat sekolah jalan kaki. Tapi pas di tengah jalan ternyata Refaldo lewat dan ia meminta aku dan Della untuk masuk ke dalam mobilnya. Awalnya aku gak mau tapi karena melihat jam sudah mepet, akhirnya aku dan Della memutuskan untuk masuk ke dalam mobil apalagi Refaldo sedikit agak memaksa jadi kan gak enak kalau di tolak. Aku gak ada hubungan apapun sama Refaldo. Emang selama ini kamu pernah melihat aku dan Refaldo bareng? Enggak kan? Baru kali ini doang kan?


Aku tau kamu suka sama Refaldo tapi bukan berarti kamu mau mencelakai semua orang yang deket dengan Refaldo. Emang apa untungnya kamu melakukan itu? Apa dengan menyingkirkan semua orang yang deket dengan Refaldo bisa membuat Refaldo jatuh hati sama kamu. Enggak? Yang ada Refaldo semakin ilfil dan jijik sama kamu karena ia tau bahwa kamu bukanlah wanita baik baik dan siapapun orangnya tidak akan mau menjalin hubungan sama orang yang sudah jelas jelas watak dan sifatnya kurang baik.


Sisil, kamu itu cantik. Kamu bisa mendapatkan cowok yang lebih baik, lebih kaya, lebih tajir, lebih keren, lebih segalanya dari Refaldo. Kamu tidak harus fokus sama satu cowok, lihatlah di sekelilingmu masih banyak orang yang menyayangimu dengan tulus tapi kenapa kamu hanya mengejar satu orang yang jelas jelas ia sedikitpun tak melirik ke kamu bahkan tak pernah menganggap mu ada. Apa pernah selama ini Refaldo memberikan kamu kesempatan untuk ngobrol berdua dengannya. Enggak kan? Lalu buat apa kamu capek capek menyingkirkan semua orang hanya demi orang yang tak peduli sama kamu.


Mending kamu fokus belajar agar bisa menjadi kebanggan orang tua. Kamu di sekolahkan biar menjadi anak yang baik, anak yang pintar, anak yang kelak bisa membahagiakan orang tua bukan malah membuat kamu jadi orang jahat seperti ini dan tak peduli dengan nilai sekolah. Jangan mengecewakan kedua orang tuamu hanya demi satu laki laki yang belum tentu bisa kamu miliki seutuhnya. Jika memang dia jodoh kamu, kelak dia pasti akan datang dan melamarmu. Tapi jika dia bukan jodoh kamu walau kamu berusaha untuk bisa mendapatkannya, itu tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Lebih baik, kamu ubah diri kamu jadi lebih baik. Jangan jadi orang jahat seperti ini, jangan habiskan masa remajamu hanya untuk membully teman temanmu dan menghina mereka. Apa kamu gak kasihan sama mereka. Gara gara keegoisanmu, mereka sampai rela pindah sekolah karena sudah tak tahan kamu jahili. Semua orang bahkan semua guru sudah tau siapa kamu. Walau kamu menutupinnya dengan sikapmu yang pura pura baik di depan orang tapi sepintar pintarnya kamu menutupi bangkai, pasti akan tercium juga. Jadi cobalah perbaiki dirimu sekarang, jadilah anak yang bisa mempunyai banyak prestasi hingga semua orang bangga terhadapmu." Ujar Rahma menasehati.


"Maafkan aku, aku sadar aku salah. Tapi aku harus bagaimana sekarang. Pak Go memberikan aku surat untuk kedua orang tuaku. Aku gak mau mama dan papa aku tau bagaimana aku di sekolah. Aku gak mau mengecewakan mereka. Aku mohon bantulah aku, bujuk Pak Go agar ia mencabut surat yang sudah ia berikan padaku. Aku mohon......" Pinta Sisil.


"Aku gak bisa bantu. Karena aku gak akrab sama Pak go. Lagian Pak Go itu adalah guru di sini, dan aku mana mungkin berani bilang seperti itu setelah beliau memutuskan sesuatu. Maaf, aku gak bisa membantumu. Mungkin inilah saanya kamu mempertanggung jawabkan semua kesalahanmu dari dulu sampai sekarang. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab." Ujar Rahma.


"Jadi kamu gak bisa bantu aku?" tanya Sisil.


"Maaf, aku gak bisa." Jawab Rahma lembut. Sebenarnya ia kasihan sama Sisil. Tapi ia gak mungkin datang ke Pak Go dan meminta beliau untuk mencabut surat panggilan orang tua untuk Sisil. Itu sangat sangat tidak mungkin.


"Iya sudah gak papa. Aku ngerti kog. Sekali lagi, aku minta maaf atas perbuatanku tadi." Ucap Sisil.


"Tak masalah, asal kau tak mengulanginnya lagi." Ucap Rahma lembut.


"InsyaAllah aku gak akan mengulanginya lagi. Aku akan belajar menjadi lebih baik dari sekarang." Ucap Sisil tersenyum.


"Syukurlah."


"Terima kasih atas nasehatnya." Ujar Sisil lalu pergi gitu aja meninggalkan Rahma dan Della yang masih duduk santai di bawah pohon.


"Kasihan ya dia." Ucap Della.


"Iya. Selama ini dia sudah di butakan oleh cinta. Aku harap setelah ini, ia bisa belajar dari kesalahan yang sebelumnya agar tak lagi mengulanginnya. Dia sebenarnya wanita yang baik, hanya saja karena rasa kagum yang berlebihan membuat ia melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Tak peduli walau ia akan menyakiti banyak orang. Dan sekarang, ia merasa takut dan gelisah setelah Pak Go memberikan surat panggilan orang tua mungkin ia tak ingin mengecewakan orang tuanya karena sikap ia selama ini selama di sekolahan." Ujar Rahma.


"Apa kamu yakin ia akan berubah?" tanya Della.


"Entahlah. Tapi aku harap ia mau berubah menjadi lebih baik." Jawab Rahma tersenyum manis.


"Iya semoga aja. Iya udah masuk kelas yuk, udah bell tuh. Oh ya nanti pulang sekolah kita beli nasi goreng ya. Pengen nasi goreng aku." Ujar Della sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kelasnya.


"Boleh tapi uangku habis. Aku pinjem punyamu dulu ya." Ucap Rahma.


"Oke, kebetulan uangku masih ada. Jadi nanti biar punyamu aku yang bayarin. Kamu juga dulu sering bayarin aku pas aku gak ada uang, sekarang gantian waktunya aku untuk mentraktir kamu. Jadi kamu gak perlu pinjem. Kita ini kan sahabat bahkan seperti saudara jadi harus bisa berbagi." Ujar Della.


"Hehe iya kamu benar."


Mereka pun masuk ke dalam kelas, jam terakhir adalah pelajaran bahasa indonesia dan Rahma sangat suka pelajaran itu.


__ADS_1



__ADS_2