My Little Woman

My Little Woman
Nikahi Saja Dia!


__ADS_3

Jam tiga sore, Devano pulang lebih awal. Ia ingin menemui Rahma untuk menceritakan isi hatinya, siapa tau adik kesayangannya itu mempunyai solusi yang tepat untuknya.


Devano mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, untungnya jalanan agak sepi sehingga ia tak perlu di marahi orang karena nyetir seenaknya.


Sesampai di kediamannya, ia langsung memarkirkan mobilnya begitu saja, toh nanti akan ada orang yang menaruhnya di garasi setelah selesai di bersihkan tentunya.


Devano mencari Rahma ke kamarnya tapi gak ada, entah kemana dia saat ini.


"Pulang-pulang bukannya ucap salam, malah kayak orang bingung. Cari siapa?" tanya Dania yang sedari tadi melihat sikap putranya dari ruang keluarga. Sayangnya dirinya tak terlihat oleh Devano sedari tadi, bahkan saat Devano melewati ruang keluarganya, ia hanya fokus natap lurus ke depan.


"Rahma mana, Ma?" tanya Devano gusar.

__ADS_1


"Lagi berenang di belakang. Kamu kenapa sih? Kayak ada masalah gitu?" tanya Dania kepo.


"Ini urusan anak muda, Ma. Jadi saat ini Mama gak perlu tau dulu ya," sahut Devano lalu pergi ke belakang rumah, dan benar saja ia melihat Rahma yang sudah selesai berenang dan kini duduk di tepi kolam sambil menikmati jus jeruk.


"Ra, Kakak ada masalah nih," ujar Devano sambil duduk di dekat Rahma.


"Ada masalah apa?" tanya Rahma, awalnya ia kaget karena tiba-tiba ada yang bersuara, padahal sedari tadi ia tak mendengar langkah kaki seseorang.


"Aku ...." Devano menjelaskan semuanya tentang apa yang tadi terjadi di kantor.


"Ya Allah, Ra. Emang nikah itu gampang?" tanya Devano.

__ADS_1


"Gampang kok, tinggal ucap qobul, selesai," balas Rahma terkekeh.


"Ra, aku serius nih. Menurutmu aku harus gimana? Jika aku sampai gak nikah, otomatis Dita akan terus mengacaukan hari-hariku. Tapi jika aku nikahin Amira, masalahnya aku dan Amira gak sedekat itu. Dan belum tentu Amira mau sama aku. Terlebih aku juga tidak mencintai Amira. Aku bingung Ra. Masa iya aku nikah kontrak, tapi kan dalam agama, gak ada nikah kontram. Atau aku nikahi dia lalu aku ceraikan dia. Tapi apa aku gak kejam kalau kayak gitu. Sumpah Ra, aku bingung,"


"Sudahlah, Kak. Jangan di buat bingung. Kakak tinggal lamar Kak Amira, lalu ajak dia nikah. Selesai toh, ngapain sih di ambil pusing. Aku yakin, Kak Amira pasti mau menerima lamaran Kak Dev. Cewek mana coba yang akan menolak lamaran dari laki-laki tampan dan mapan kayak Kak Dev. Dan masalah cinta, aku yakin Kak Dev dan Kak Amira akan saling jatuh cinta dengan seiring berjalannya waktu. Apalagi Kak Amira itu type wanita yang lembut, pekerja keras, baik, tulus. Apalagi yang di cari? Aku juga setuju Kak Dev sama Kak Amira. Aku yakin kalian pasti akan bahagia," tutur Rahma menjelaskan.


"Jadi kamu dukung aku nikahi Amira?"


"Ya, aku dukung seratus persen."


"Tapi gimana dengan kuliah Amira, dia kan setuju mau kuliah lagi demi kamu?"

__ADS_1


"Ya, kenapa? Kan gak papa kuliah sambil nikah. Aku juga kuliah sambil nikah kah?" tanya Rahma.


"Baiklah, nanti aku coba fikirkan lagi," ujar Devano lesu. Tanpa mereka sadari Dania dari tadi mendengar obrolan mereka. Awalnya Dania mengikuti langkah Devano karena ia penasaran dengan yang katanya urusan anak muda, gak taunya malah bahas ginian. Setelah tau apa yang terjadi, Dania pun mundur secara perlahan, sebagai seorang ibu, ia akan mendukung apapun keputusan anaknya. Dan ia akan memberikan pendapat jika memang Devano meminta pendapatnya. Selama Devano diam dan menyembunyikan semuanya, maka Dania juga akan diam dan pura-pura gak tau.


__ADS_2