My Little Woman

My Little Woman
Devano Infil Kepada Dita


__ADS_3

Devano yang sudah selesai langsung datang menghampiri Dita yang sudah duduk santai memain Hp, bahkan di dpeannya juga sudah ada minuman dan Devano yakin, sekertarisnyalah yang menyiapkan semuanya karena dialah yang paling sigap.


Devano pun duduk di kursi yang ada di depan Dita dan di tengah tengah mereka terhalang oleh meja.


"Devano," sapa Dita dengan tersenyum manis, Devano yang melihat senyuman itu malah merasa ada yang aneh dengan wanita yang ada di hadapannya ini.


"Ada apa? Tumben ke sini?" tanya Devano biasa biasa aja, entah kenapa jika dulu ia merasa senang bisa bicara dengan Dita tapi sekarang, ia seperti berbicara dengan orang lain saja.


"Gak ada, tadi aku gak sengaja aja lewat depan kantor kamu terus aku keingat kamu, jadi aku mampir, apa aku ganggu pekerjaan kamu?" tanya Dita seperti merasa bersalah.


"Namanya juga jam kerja, tentu siapapun yang bertamu di saat jam kerja, pasti akan merasa terganggu, setidaknya datang lah saat jam istirahat," jawab Devano santai.


"Apa itu artinya aku boleh datang ke sini lagi setiap jam istirahat tiba?" tanya Dita tersenyum cerah. Devano pun hanya menghela nafaas, kayaknya ia salah bicara.


"Bukan begitu maksudku, kalau mau ke sini lagi dan ada keperluan, datanglah saat jam istirahat. Kamu tau kan, aku bukan type orang yang mempunyai banyak waktu untuk hal sesantai ini. Lagian kita gak terlalu akrab untuk terus bertemu dan ngobrol santai seperti ini, aku takut orang lain mengira kita sedang menjalin sebuah hubungan," jawab Devano.

__ADS_1


"Apa kamu keberatan aku sering menemui kamu hanya karena kita tidak sedang menjalin hubungan?" tanya Dita lagi membuat Devano sedikit frustasi. Ngomong sama kaum emang ribet dan harus penuh kesabaran.


"Sudahlah jangan di bahas lagi," jawab Devano tak mau memperpanjang masalah yang malah nanti akan membuat pusing sendiri.


"Aku mau ngajak kamu jalan jalan nanti sore? Apa kamu ada waktu?" tanya Dita.


"Aku gak bisa, maaf. Karena aku ada janji sama adik aku, kalau aku akan mengajak mereka ke tempat kuda," jawab Devano jujur.


"Wah benarkah, kalau gitu apa aku boleh ikut, aku juga pengen naik kuda, tapi aku belum terlalu mahir, gimana kalau nanti sekalian kamu ngajarin aku naik kuda dengan benar?" tanya Dita antusiaas.


"Maafin aku Devano, aku sebenarnya faham apa maksdu kamu tapi aku gak mau jauh dari kamu, setelah papi memberitahu aku, kalau kamu mencintai aku, aku ingin memperjuangkan cinta itu kembali. Aku tau kamu kecewa dengan sikap aku kemarin, tapi aku gak akan menyerah. Aku butuh sosok laki laki seperti kamu yang baik dan tak pantas untuk aku jadikan suamiku. Aku emang baru patah hati karena laki laki yang aku cintai tega menghianati aku, tapi gak masalah. Karena aku yakin dengan pengkhianatan ini, setidaknya aku tau bagaimana sifat mereka dan kini aku ingin, bisa sama kamu.


Maafin aku jika selama ini aku gak peka, andai aku tau kalau kamu cinta sama aku, pasti aku gak akan mencintai dia sampai sedalam ini, hingga aku berakhir kecewa, andai aku tau, tentang perasaan kamu, pasti aku akan memilih kamu dari pada dia dan pasti aku bahagia dan tak perlu lagi merasakan rasa sakit seperti ini. Devano aku butuh seorang laki laki seperti kamu yang bisa mencintai orang dengan tulus, aku gak mau kehilangan kamu, bagaimanapun caranya, kamu harus jadi milikku," ucap Dita dalam hati.


"Dev, aku boleh ikut kan?" tanya Dita lagi karena Devano memilih diam. Ia bingung harus jawab apa.

__ADS_1


"Ya Tuhan ... apakah cintaku selama ini salah? Ah maksudku apa aku salah mencintai wanita seperti ini, kenapa mendadak aku jadi infil ya? Aku harus gimana, alasan apa yang cocok untuk menolak nya. Ya Tuhan kenapa aku mendadak bodoh gini cih, ayolah berfikir, plis," gumam Devano dalam hati.


"Karena kamu diam, aku anggap kamu setuju, nanti jam berapa dan dimana tempatnya, biar nanti aku langsung ke tempatnya aja," ucap Dita yang langsung mengambil kesimpulan sendiri.


"Emang benar kata mama dulu, jangan melihat hanya dari penampilann saja, karena kadang penampilan tak mencerminkan sifat aslinya. Mending Amira kalau gini, dia baik, pekerja keras, di siplin, dak sangat sopan kepada orang lain, ramah dan tak suka mendekati laki laki yang bukan mahromnya. Bahkan selama ini aku tak pernah melihat dia bicara sama laki laki lain kecuali masalah pekerjaan. Eh, tapi kenapa aku malah membandingkan Amira dengan Dita ya?" tanya Devano dalam hati.


"Dev, jam berapa dan di mana?" ulang Dita lagi melihat Devano yang sering banyak diamnya.


"Jam 3 di Danendra Horses," jawab Devano.


"Baiklah, aku usahakan datang tepat waktu. Ia sudah kamu lanjut kerja lagi gih, sekarang kamu banyak bengongnya pasti karena mikirin pekerjaan kan makanya kamu gak konsen gini, aku pamit pulang dulu dan terima kasih atas waktunya, aku merasa sangat tersanjung, kamu mau nemenin aku ngobrol di tengah tengah kesibukan kamu, maafin aku ya, lain kali kalau aku datang, aku usahakan saat jam istirahat biar gak ganggu waktu kamu kerja, aku pamit pulang dulu," ucap Dita, lalu ia pun pergi meninggalkan Devano sendirii di ruangan itu.


"Aish, ternyata seperti ini kah wanita yang aku suka dulu, untung gak jadi menikah, kenapa dia seperti wanita murahan gitu ya, aku jadi infil deh. Seharusnya kan sebagai wanita gak seharusnya melakukan semua ini, mana mungkin aku jadikan dia istriku, kalau tingkah lakuya kayak gini, bagaimanapun aku ingin mencari istri yang baik dan sholehah karena dialah yang akan mengandung anak anakku dan menjadi ibu sekaligus guru pertama untuk anak anakku kelak," gumam Devano lalu ia pun pergi, di saat saat seperti ini, kadang ia malah keingat dengan Rahma, adik  kesayangannya. Andai gak ada Gofur, ia ingin mengajak Rahma jalan jalan, tapi sejak ada Gofur, ia harus membatasi diri karena gak mau membuat laki laki itu cemburu padanya.


"Aish, mending aku ke perusahaan yang satunya aja deh," ujar Devano. Di sini ada dua perusahaan, Perusahaan Sanjaya dan Perusahaan Danendra, sedangkan di luar sana masih ada Perusahan DRM, perusahaan papanya sendiri yang ia bangun dengan susah payah, sedangkan Perusahaan Danendra dan Perusahaan Sanjaya adalah milik kakeknya dulu. Ia sendiri juga punya namanya Four D Group.  Kenapa di kasih Four D, karena Devano mengambil inisial dari nama keluarganya, Darma, Dania, Devano dan Davina. Walaupun saat ia mendirikan, Davina masih belum di ketahui keberadaannya, tapi tetap saja baginya Davina akan selalu ada di hati, begitupun dengan saat ini, walaupun Davina mengubah namanya menjadi Rahma, tapi baginya, dia tetap Davina, adik kandungnya, hanya saja namanya aja yang berubah, tapi dia tetap Davina.

__ADS_1


__ADS_2