
Keesokan harinya, setelah selesai sholat shubuh, Amira dan Devano pun pergi ke pasar tradisional untuk belanja dan sekalian Amira ingin membeli jajan tradisional di sana. Sebenarnya bisa aja mereka menyuruh bibi belanja ataupun menyuruh tukang kebun untuk belanja. Tapi Amira menolak, karena ingin merasakan pacaran halal versi rakyat jelata. Karena jika Devano pasti akan memilih versi sultan atau paling gak memilih hal hal yang cukup mudah tak terlalu bersusah payah. Tapi demi Amira, ia pun rela melakukannya.
Untungnya gak jauh dari Villa yang mereka tempati ada pasar tradisional, jaraknya sekitar 45 menit jika di tempuh dengan sepeda motor.
Yah, Amira meminta Devano membawa sepeda motor ketimbang naik mobil, Akhirnya Devano pun lagi lagi mengalah, dan ia meminjam sepeda motor milik Pak Tukang Kebun.
"Sayang pegangan dong," ucapnya sambil fokus menyetir.
"Eh ini udah pegangan," jawabnya sedikit berteriak karena ia takut jika Devano tak mendengar suaranya, kini mereka tengah ada di jalan raya.
"Tapi yang kamu pegang itu, hanya bajunya," ucapnya sedikit meninggikan suaranya, bukan bermaksud membentak, namanya juga naik sepeda motor dan dengan laju cepat di tambah jalan lumayan ramai, tentu harus meningginkan suara agar Amira mendengar apa yang ia ucapkan.
"Peluk aku, lingkarkan tanganmu di perutku,"
"Tapi ...."
__ADS_1
"Ah kelamaan, ih." Devano yang merasa kesal pun langsung menarik tangan Alana hingga akhirnya membuat Alana mau gak mau memeluk Devano dari belakang. Sungguh rasanya dag dig dug dar.
"Enak kan?" tanya Devano karena melihat Amira yang tak lagi mengoceh seperti tadi dan malah menempelkan kepalanya di punggunyanya.
"Apanya?" tanya Amira.
"Ya naik sepeda motor sambil meluk gini, kesannya romantis. Kita kayak orang lagi pacaran jadinya,"
"Iya," jawab Amira yang bingung mau ngomong apa.
"Jadi Mas Dev ingin aku natap Mas Dev terus?" tanya Amira yang ternyata konek dengan apa yang di ucapkan oleh Devano.
"Iya dong, siapa tau kan dengan kamu menatap aku terus, kamu bisa melihat ketampanan aku dan langsung jatuh hati sama aku," jawab Devano dengan PD nya.
"Kalau aku bilang sekarang aku sudah jatuh hati, apa Mas Dev percaya sama aku?" tanya Amira santai. Tapi tidak untuk Devano yang langsung ngerem seketika untung tak kendaraan di belakangnya agak sepi sehingga mereka tak kena semprot pengendara lainnya.
__ADS_1
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Devano sambil menoleh ke arah Amira.
"Enggak ada, aku gak bilang apa apa," jawabnya sambil menoleh ke arah lain karena ia pun malu di tatap secara insten oleh Devano.
"Masak sih, padahal tadi aku dengernnya kamu itu bilang jatuh hati sama aku, apa aku salah denger ya?" tanyanya.
"Iya, kayaknya Mas Dev salah denger deh."
"Hmm padahal aku berharap itu bener loh, tapi ya sudahlah," Devano pun melanjutkan naik sepeda motornya lagi menuju pasar tradisional.
Amira pun sebenarnya mau bilang iya, tapi ia malu, terlebih ia masih belum tau bagaimana perasaan Devano, ia tak ingin cintanya bertepuk sebelah tangan, ia tak ingin dirinya malu, ia takuk di ledek Devano karena mudah jatuh hati terhdapnya. Jadi ia ingin memastikan dulu, bagaimana perasaan suaminya pada dirinya saat ini. Jika iya sudah yakin, maka ia pun akan terang terangan mengatakan apa yang ia rasakan saat ini.
Amira memeluk Devano lagi dan menyenderkan kepalanya di punggung Devano, sungguh ia merasa nyaman sekali menaruh kepalanya di tubuh Devano yang cukup kekar. Walaupun sedikit keras tapi ia merasa nyaman.
Dan saat ini, Amira pun menikmati jantungnya yang berdetak keras setiap kali dirinya dekat dengan Devano, ia tau jika dirinya mulai mencintai Devano, suaminya. Lagian wanita maana yang tidak jatuh cinta, jika Devano memperlakukan dirinya dengan baik dan spesial. Apalagi Devano adalah suaminya, tentu peasaannya tidak salah jatuh hati sama suaminya sendiri, kecuali ia jatuh cintanya pada suami orang, mungkin tiu salah dan tak seharusnya terjadi.
__ADS_1
Devano sendiri pun menikmati pelukan istrinya. Dan tadi ia pun yakin jika dirinya tak salah dengar, tapi mungkin Amira malu untuk mengakui perasaannya saat ini, jadi Devano pun tak mau memaksannya, biarlah seiring berjalanya waktu, ia yakin ada saat nya dimana ia dan Amira akan saling mengungkapkan perasaannya maisng masing.