
Setelah berjam jam ada di dalam kereta, akhirnya ia pun sampai juga di Stasiun Rambipuji Jember. Untuk sampai di rumahnya, Rahmapun naik bentor (Becak Motor) yang kebetulan lagi mangkal di depan stasiun. Dari Stasiun ke Ajung Klompangan tidak membutuhkan waktu lama hanya sekitar 20 menit saja. Sebenarnya jika ia menelvon aby dan umy, pasti dirinya akan di jemput di Stasiun tapi karena Rahma ingin membuat kejutan jadi dia lebih memilih untuk naik bentor saja.
Selama di perjalanan, Rahma mellihat kanan kiri yang bentuknya masih sama sebelum ia berangkat ke Jakarta utuk menimba ilmu. Rahma sangat bahagia karena bisa kembali ke kampung halamannya, kampung tempat ia lahir dan di besarkan. Setelah 20 menit, akhirnya ia pun sampai di depan rumahnya. Kebetulan rumah orang tuanya ada di dekat jalan jadi ia gak perlu jalan kaki lagi.
"Berapa pak?" tanya Rahma setelah turun dari bentor.
"Tiga puluh ribu, neng." Ujar bapak itu tersenyum ramah.
Rahma pun segera menbamil uang di dalam dompet yang ada di dalam tas, ia mengambil uang dua puluh ribuan 1 dan uang sepuluh ribuan 1. Setelah itu memberikannya kepada bapak yang tadi mengantarkan dirinya sampai depan rumah dengan selamat.
"Makasih ya neng."
"Iya pak, sama sama."
"Bapak pamit dulu ya neng."
"Iya pak, hati hati." Ujar Rahma tersenyum. Bapak itu hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi melalui jalan ke arah barat. Sedangkan Rahma langsung masuk ke dalam rumahnya yang kebetulan pintunya lagi terbuka lebar.
"Assalamu'alaikum." Ujar Rahma.
"Waalaikumsalam." Jawab umy yang keluar dari salah satu ruangan.
"Ya Allah nak, kog gak nelvon umy kalau sudah sampai di Stasiun, tau gitu kan umy bisa nyuruh aby buat jemput kamu." Ujar umy sambil memeluk putri kesayangannya.
"Rahma ingin ngasih kejutan buat umy." Ucap Rahma sambil mencium tangan umy nya. Setelah puas peluk pelukan, Rahma pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Aby mana,umy?"
"Ada kog di belakang, bentar umy panggilkan dulu." Ujar umy sambil pergi ke belakang memanggil suaminya.
Tak lama kemudian umy pun kembali bersama aby.
__ADS_1
"Sudah sampai nak, gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik aby." Jawab Rahma sambil mencium tangan aby nya sedangkan umy kembali lagi ke dapur untuk mengambil minuman serta makanan ringan untuk putrinya.
"Gimana? katanya umy, kamu ada yang melamar?" tanya aby to the point.
"Ya aby dan insyaAllah nanti dia dan orang tuanya akan datang ke sini." Jawab Rahma.
"Kamu suka sama dia?" tanya aby.
"Suka aby, dari awal ketemu. Rahma sudah suka sama dia, makanya setiap kali Rahma selesai sholat, Rahma selalu menyelipkan nama dia di doanya Rahma. Dan sekarang Allah meng ijabah doa Rahma."
"Terus bagaimana dengan sekolah kamu nak?"
"Aku bisa tetep melanjutkan sekolah jika nanti dia mengizinkan."
"Siapa namanya?"
"Ahmad Ghofur aby."
"24 tahun."
"Dia gak punya kekasih kan?"
"InsyaAllah enggak aby. Dia masih single kog."
"Syukurlah, terus bagaiman ekonominya?"
"Dia seorang guru yang ngajar di sekolah Rahma dan dia juga punya beberapa usaha yang sangat maju. InsyaAllah dia laki laki yang bertanggung jawab."
"Apakah dia islam?"
"Tentu aby, kalau dia bukan orang islam mana mungkin aku mau menerimanya."
"Baiklah, aby akan merestuimu nak jika dia memang bisa membahagiakan kamu."
"InsyaAllah dia adalah orang yang akan melengkapi hidupku aby. Aku percaya dia bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik, suami dan juga ayah yang baik untuk keluargaku nantinya."
__ADS_1
"Baiklah nak, aby percaya dengan pilihan kamu. Aby percaya kamu gak akan mengecewakan aby dan umy. Aby juga percaya kamu pasti memilih pasangan yang terbaik untuk hidupmu nanti."
"Makasih ya aby, terima kasih karena selalu mendukung pilihan Rahma."
"Aby akan selalu mendukungmu nak jika itu bisa membuatmu bahagia dan selama kamu gak salah jalan, apapun yang kamu inginkan pasti akan aby wujudkan dan aby dukung sepenuhnya." Ujar aby tersenyum. Ingin rasanya Rahma memeluk laki laki yang sudah bekerja keras demi kebahagiaannya tapi apalah daya, ia tak bisa melakukan itu karena ia sangat malu mengingat dirinya kini sudah mulai dewasa. Dia bukan lagi anak kecil yang bisa memeluk laki laki walaupun itu adalah ayah kandungnya sendiri. Memang gak papa, tapi rasa malu itu rasanya lebih dominan. Untuk itulah Rahma bersikap biasa aja.
"Ayo sayang makan dulu, umy sudah menyiapkan makanan untuk kamu. Kamu pasti lapar kan?" tanya umy dan Rahma pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Aby temenin putrinya makan dong." Ujar umy yang dari tadi sibuk di dapur menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk Rahma dan setelah itu menggorengkan telur mata sapi untuk putrinya, siapa tau putrinya lapar dan ingin makan masakannya.
Aby pun hanya mengangguk dan setelah itu ia bersama putrinya langsung ke ruang makan untuk makan bersama.
"Umy gak makan?" tanya Rahma.
"Umy sudah makan tadi nak dan masih kenyang. Kamu makan aja sama aby, umy mau beres beres dulu." Ujar umy tersenyum. Rahma hanya tersenyum dan setelah itu, ia pu nmengambil nasi dan lauk pauknya. Begitupun dengan aby, ia juga melakukan hal yang sama seperti Rahma.
Selesai makan, Rahma ingin membantu umy untuk bersih bersih tapi umy melarang dan menyuruh Rahma istirahat. Karena gak mau membantah, akhirnya Rahma pun memilih untuk ke kamar tidur dan membaringkan tubuhnya karena rasanya badannya remuk dari kemaren sore tidur sambil duduk di kereta.
Karena rasa ngantuk yang begitu mendera, jadi tak berselang lama setelah ia membaaringkan tubuhnya di kasur, ia pun langsung terlelap.
Sedangkan umy dan aby memilih beres beres rumah dan membuat kue basah untuk menyambut kedatangan laki laki yang akan melamar putrinya. Ada rasa bahagia dan juga rasa sedih di hati umy, di satu sisi ia bahagia karena putrinya akan segera menikah tapi di sisi lain, ia juga sedih karena ia gak menyangka putri kecilnya yang rasanya baru saja ia melahirkan dan merawatnya namun kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik yang akan segera menikah dan mengikuti kemanapun suaminya pergi.
__ADS_1