My Little Woman

My Little Woman
Membahas Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Malam harinya, semua pelayan membuat makanan yang spesial, bahkan lebih banyak dari biasanya, menunya pun berbagai macam sehingga tampak lebih mewah apalagi di hias sedemikian rupa.


Habi sholat isya', barulah Dania mengajak besannya itu untuk makan malam. Devano juga sudah hadir di sana, sedangkan Gofur juga duduk di samping Rahma, sebenarnya Rahma ingin makan di kamarnya karena masih sedikit pusing, namun ia gak enak sama mertuanya itu. Akhirnya Gofur pun menggendong Rahma menuju ruang makan.


Padahal Rahma sudah bisa jalan sendiri, tadi kan sepulang dari rumah sakit, dia bukannya gak bisa jalan, hanya sedikit lemah namun Gofur memilih menggendongnya. Dan sekarang, setelahi istirahat yang cukup, tubuhnya pun sudah agak segeran walaupun rasa pusing itu masih ada walupun hanya sedikit namun ia masih kuat untuk melakukan sesuatu bahkan tadi ia sudah pergi ke kamar mandi sendiri, namun yah, untuk menuju ruang makan, Gofur memilih untuk menggendongnya karena ia takut jika Rahma lelah jika jalan sendiri menuju ruang makan. Rahma pun membiarkan saja, walaupun kadang ia merasa risih karena ia di gendong layaknya anak kecil.


Sekarang di ruang makan sudah hadir semuanya, Darma dan Dania, Pagho dan Magho, sedangkan Rahma di pepet oleh dua orang laki laki tampan, Goffur di sebelah kanannya dan Devano di sebelah kirinya.


Lalu mereka pun makan bersama, sedangkan Gofur, ia makan berdua dengan Rahma, ia menyuapi Rahma dengan lembut dan tak membiarkan Rahma makan sendiri, setelah menyuapi Rahma, ia pun menyuapi dirinya sendiri secara gantian. Yang lain pun tak mempermasalahkannya, karena mereka faham apa yang di rasakan oleh dua sejoli yang lagi mabuk asmara itu. Devano sendiri pun sedikit cemburu namun ia juga bahagia melihat sang adik yang begitu di cintai oleh suaminya.


Setelah selesai sarapan mereka kumpul di ruang keluarga sambil nonton tivi.


"Ma, katanya adik ipar, dia ingin menikah lagi dengan adek di KUA, dan aku ingin mengadakan resepsi mewah untuk adek dan adik ipar, menurut mama, papa, om, dan tante gimana? Tapi di sisi lain juga adek pengen lanjut sekolah, bagaimanapun usianya juga masih sangat muda, dan sayang sekali jika hanya tamat sampai SMP saja, rencananya aku mau mendaftarkan adek  ikut paket C dan setelah itu kuliah di sini," ujar Devano membuka suara.


"Kalau nikah lagi di KUA, papa setuju, apalagi kan dulunya mereka nikah hanya secara sirri dan sudah lama gak ketemu juga, sekalian kan bisa mendaftarkan pernikahannya di KUA biar dapat buku nikah juga, untuk pestanya papa sangat setuju sekali," ujar Darma.


"Ya, nanti kita bisa buat pesta yang sangat meriah apalagi ini kan untuk putriku satu satunya," tutur Dania.


"Gimana kalau pernikahannya di adakan bulan depan aja?" tanya Devano.


"Emang cukup waktu satu bulan?" tanya Magho.


"InsyaAllah cukup tante," jawab Devano.


"Terus gimana dengan sekolah Rahma, berarti dia akan mengejar paket sebelum resepsi itu atau setelah resepsi?" tanya Pagho.


"Setelah resepsi pa, aku mau ngejar paket dan lanjut kuliah, paling tidak sampai S1," jawab Rahma.


"Jika kamu hamil saat masih kuliah gimana?" tanya Magho.


"Aku bisa ambil cuti beberapa bulan," jawab Rahma.


"Aku dukung Rahma, InsyaAllah aku juga masih sanggup kalau jaga cucuku," ucap Dania.


"Nah kalau jaga kami pun juga sangggup hehe," ujar Magho tersenyum.


"Wah kayaknya nanti kalau aku punya anak jadi rebutan nih,' goda Rahma terkekeh.

__ADS_1


"Habisnya yang satunya masih belum bisa mama harapkan  sih, padahal umur dah kepala 3," sindir Dania.


"Apaan sih ma, nyindir segala, kalau aku dah ketemu jodohnya juga pasti aku dah nikah dan buatin cucu yang banyak buat mama," jawab Devano kesal.


"Kamu itu mau nyari yang kayak gimana, banyak yang melamar kamu, tapi kamu tolak, sampai putri kerajaan  dari negeri tetangga pun melamarmu, kamu tolak, bahkan para pengusaha papa banyak yang ingin menjodohkan kamu dengan putri mereka, juga kamu tolak, jangan terlalu pemilih, gak malu sama adik kamu itu," ucap Dania yang membuat yang lain tertawa.


"Adek kan menikah karena dia  sudah ketemu jodohnya, kalau aku kan belum,"


"Karena kamu itu pemilih, mama sampai bingung sama cewek kriteria kamu itu,"


"Yang penting mah tulus ma, sayang aku, sayang mama, sayang papa, sayang sama adek dan sayang sama keuarga besar kita, bukan nikah sama aku karena aku ini tampan dan kaya, nanti kalau aku miskin dan jelek, mereka mau ninggalin aku, mama mau kayak gitu, mereka berlaku manis kalau ada uang dan jahat kalau sudah kita jadi kere, aku gak mau ma semua itu terjadi, untuk itu, aku harus mencarinya sebaik mungkin, lama gak papa, asal pas ketemu, langsung ngepas di hati," jawab Devano.


"Tapi jangan lama lama juga kali, mama dah gak sabar pengen gendong cucu,"


"Ya kan bentar lagi, mama juga dapat cucu dari adek ma, aku yakin adik ipar pasti kuat 24 jam untuk buatin mama cucu, iya kan?" tanya Devano kepada Gofur, Gofur pun hanya diam dengan pipi yang memerah karena malu.


"Hahaha, kenapa pipinya memerah gitu?" goda Devano.


"Kamu itu gak sopan Dev, ngapaiin nanya kayak begituan?" ujar Darma usil.


"Dulu papa sekali buat langsung jadi loh, jangan sampai kalah sama papa," ujar Pagho, Gofur pun langsung menatap sang papa.


"Apaan sih, kalian ini. Kenapa seperti itu di bahas," ujar Gofur menahan malu.


"Gak papa kali, di sini kami mah sudah dewasa, hal seperti itu sudah lumrah, yang penting jangan melakukannya kalau belum nemu yang halal, walau kepengen harus di tahan," sindir Dania lagi.


"Aku gak kepengen kog," jawab Devano.


"Emang siapa yang membicarakan kamu?" tanya Dania lagi membuat Devano langsung bungkam.


"Makanya kak, cepetan nikah," ucap Rahma.


"Kapan kapan aja deh, nanti kalau kamu dah bisa buatin ponakan buat kakak, kakak pasti nikah," jawab Devano.


"Beneran, aku tagih loh janjinya," ujar Rahma.


"Iya ya, lagian juga gak mungkin kan kakak selamanya jadi perjaka tua,"

__ADS_1


"Haha bener juga ya," ucap Rahma manggut manggut.


"Terus ini acaranya mau di tetapkan tanggal berapa biar enak ngurus ini dan itunya," ujar Darma serius.


"Aku sih kalau masalah tanggal gak terlalu masalah, tanggal berapa aja okey," ucap Rahma.


"Gimana kalau tanggal 27 bulan depan, berarti masih ada sisa 35 hari untuk kita menyiapkan semuanya," usul Devano.


"Oke, aku setuju," jawab Gofur dan yang lainnnya pun juga setuju.


"Tapi apa di tanggal itu, keadaan Rahma sudah baik baik saja?" tanya Dania khawatir.


"Aku sangat yakin sekali ma, sekarang aja aku dah sembuh, apalagi nanti, masih sebulan lagi, pasti sudah sembuh total, asal ada Mas Go di samping aku,"  ucap Rahma sambil melihat ke arah sang suami.


Gofur pun memeluk Rahma yang terlihat menggemaskan itu.


"Ingat kalau mau bermesraan jangan di sini, hargailah yang jomblo," sindir Devano.


"Makanya cari dong, biar gak iri," ucap Rahma.


"Baiklah ini berarti tanggal 27 ya, sudah sepakat, dan masalah resepsinya mau di adakan di mana?" tanya Pagho.


"Gimana kalau di sini aja?" tanya Darma.


"Iya, saya setuju," balas Pagho.


"Untuk masalah resepsinya biar nanti kami yang urus," ujar Dania.


"Terus aku bagian apa?" tanya Magho.


"Bagian catering aja," jawaab Dania, sebenarnya ia bisa aja mengurus semuanya, namun ia juga gak enak sama besannya itu, apalagi ini kan yang menikah juga putranya, pasti sebagai seorang orang tua, dirinya juga ingin ikut andil dalam memeriahkan pernikahan putranya itu.


"Tapi saya besok haru kembali ke Indonesia dulu mungkin sekitar seminggu, setleah itu saya akan kembali ke sini untuk menguru semuanya," ucap Pagho.


"Baiklah gak papa, santai aja," balas Darma.


Mereka pun terus membahas masalah pernikahan Gofur dan Rahma yang akan di adakan bulan depan. Rahma dan Gofur pun merasa sangat bahagia, walaupun sebenarnya mereka ingin nikah sederhana namun mereka juga tak mungkin mengewakan kedua orang tua mereka yang ingin membuatkan pesta pernikahan buat mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2