My Little Woman

My Little Woman
Curahan Hati Devano


__ADS_3

“Ada apa, Nak?” tanya Dania lembut, kini mereka tengah duduk di kamar Devano. Kebetulan di sana juga ada kursi sofa  yang cukup untuk menampung 8-10 orang. Karena memang sofanya cukup panjang dan di sana ada 4 sofa.


“Aku kesel, Ma,” adu Devano layaknya anak kecil.


“Kesel kenapa?” tanya Dania kepo sedangkan Darma memilih diam dan menjadi pendengar setia.


“Tadi Dita ke kantor, dia itu nyebelin banget tahu gak, ganggu aku kerja, pokoknya bikin aku emosi tingkat tinggi, aku yang biasanya bisa tahan mengolah emosiku tapi di depan dia aku gak bisa, dia seperti menguji kesabaranku,” ujar Devano membuat Darma dan Dania faham.


“Kenapa gak kamu usir, kamu kan bukan anak kecil, masak kayak begitu saja gak bisa,” sindir Darma.


“Astaga, Pa. Aku sudah mengusirnya bahkan membentaknya tapi dia seperti tak punya urat malu, nempel terus di samping aku dan ngomong panjang lebar akhirnya aku gak bisa konsen bekerja padahal pekerjaanku hari ini banyak banget, tapi dia terus saja membuat otakku mendidih hingga aku gak bisa fokus bekerja. Mana dia maksa banget lagi nyuruh aku datang ke rumahnya, alasannya sih papinya ngundang aku makan malam, padahal mah aku yakin, itu hanya akal-akalan dia,” ucap Devano membuat Darma dan Dania pun menganguk-anggukkan kepala.


“Kenapa dia bisa seperti itu ya?” tanya Dania heran.

__ADS_1


“Entahlah, Ma. Aku pun juga bingung, nyesel aku dulu nolongin dia, kalau tahu akhirnya kayak gini, aku biarin dia nangis meraung-raung di pinggir jalan, biar sekalian jadi tontonan orang-orang yang ada di sana. Sangking akunya gak tegaan, selalu saja merasa kasihan, tapi kalau sudah kayak gini, aku nyesel beribu-ribu nyesel. Pantas saja pacarnya selingkuh, siapa yang akan tahan punya pacar kayak begitu, aku saja nyesel pernah suka sama dia.” Devano pun ngomong panjang lebar mengungkapkan isi hatinya, inilah enaknya jika punya orang tua kayak sahabat, ia bisa mencurahkan isi hatinya sepuas mungkin.


“Apa kamu butuh bantuan papa?” tanya Darma yang merasa kasihan melihat putranya seperti merasa frustasi, ini pertama kalinya ia seperti ini.


“Entahlah, Pa. Aku bingung, sebenarnya juga kalau papa sampai turun tangan, aku gak enak sama papinya Dita. Nanti di kira aku mengadu domba, padahal kan aku cuma curhat, iya kan, Ma?” tanya Devano, dan Dania pun mengangukkan kepala sambil tersenyum.


“Terus maumu bagaimana sekarang?” tanya Darma.


“Aku juga bingung,” jawab Devano.


“Terus bagaimana dengan pekerjaanku?” tanya Devano.


“Masalah pekerjaan kan ada papa, papa bisa bantu kamu, tapi pekerjaan yang bisa kamu selesaikan di rumah, ya kamu selesaikan biar gak numpuk, sebagian kamu kasih ke asisten kamu dan masalah lainnya, papa yang akan bantu kamu,”

__ADS_1


“Baiklah aku setujuh, hari ini juga aku akan menyudul Rahma ke rumah mertuanya,” ucap Devano tersenyum.


“Tapi ya kamu jangan menginap di sana, gak enak sama mertua adek kamu sendiri, kamu bisa tinggal di kantor atau di apartemen,” tutur Dania.


“Iya, Ma. Pastinya. Lagian juga aku mana mungkin tinggal di rumah kedua orang tua gofur, walaupun rumah itu milik mertua adikku sendiri. Iya sudah kalau begitu aku mau beres-beres dulu,”


“Jangan lupa kirim pesan ke adek kamu, biar dia tahu,” ujar Dania.


“Enggak usahlah, biar jadi kejutan buat Rara,” balas Devano yang kadang manggil Rahma dengan sebutan Rara.


“Iya sudah deh terserah kamu, tapi nanti jika kamu sudah sampai, jangan lupa kabari mama sama papa,” ujar Dania.


“Siap.”

__ADS_1


Akhirnya Devano pun segera bersiap-siap dengan di bantu oleh Dania karena ia akan menginap beberapa hari di Indonesia, menikmati waktu di sana sekalian liburan, nilai plus nya ia bisa terhindar dari Dita sang biang kerok.


__ADS_2