My Little Woman

My Little Woman
Rahma Ikut Devano Ke Kantor


__ADS_3

Keesokan harinya, selepas sarapan pagi, Rahma pun ikut Devano ke kantor, Rahma memakai gamis warna cerah dan sepatu warna putih, tak lupa hijab panjang dan juga cadar membuat Rahma tampil beda dengan yang lain.


Sesampai di depan kantor, Devano dan Rahma turun dari mobil, Devano dengan badan tegapnya dan jaz hitam yang melekat di tubuhnya membuat ketampanannya selalu bisa menghipnotis siapapun yang melihatnya.


Sedangkan Rahma, ia merasa gugup karena in pertama kalinya, ia ikut kakaknya ke kantor. "Kak, aku takut, malu juga," ujar Rahma sambil menggandeng tangan Devano, Devano pun membalas genggaman tangan Rahma.


"Santai aja, ingat ini kantor milik keluarga kita, jadi gak akan ada yang berani sama kita, kamu bersikap biasa aja, senyaman kamu," balas Devano menenangkan Rahma. Namun tetap saja, ia merasa takut.


Bahkan saat mereka jalan menuju kantor, semua orang mulai melihat ke arah mereka, bagaimana tidak, Devano yang terkenal tegas dan dingin bahkan tak tersentuh kini menggandeng tangan seorang wanita, bahkan selama ini yang mereka tau, Devano selalu infil terhadap wanita yang berusaha mendekatinya.


"Pak Devano sama siapa tuh?"


"Baru kali ini aku melihat Pak Devano menggandeng tangan wanita,"


"Kenapa wanita itu pakai cadar ya?"


"Mereka terlihat seperti sepasang kekasih,"


"Aku penasaran seperti apa wajahnya, sampai dia bisa memikat hati Pak Devano,"


"Ternyata seperti itu ya type wanita yang di sukai Pak Devano,"


"Astaga, aku yang mencintai Pak Devano selama ini, bahkan aku  tak pernah sedikitpun di lirik olehnya, tapi wanita itu bahkan dengan mudahnya mendappatkan hati Pak Devano,"


"Siapa wanita itu? Apakah dia juga wanita yang kaya raya seperti Pak Devano?"


Dan banyak pertanyaan lain yang ada di benak mereka, namun mereka memilih bungkam karena ini sudah masuk dalam waktu kerja, jadi takk ada yang berani buka suara.


Sedangkan Rahma memilih diam dan terus mengikuti langkah kakaknya itu. Hingga akhirnya mereka menggunakan lift khusus CEO dan tak ada yang boleh menggunakan lift itu, kecuali orang orang pilihannya.


Sesampai di ruangan Devano, Rahma pun merasa kagum dengan dekorasi ruangannya itu, yang sangat lengkap dan juga mewah.


Rahma pun terus melihat sambil keliling ruangan itu, lalu ia melihat ke luar jendela dimana kita bisa melihat bngunan bangunan  yang sudah sama tingginya.


Sedangkan Devano ia  mulai menghidupkan laptopnya dan membiarkan Rahma melakukan apa yang dia mau.


"Kakak, kenapa ruangan kakak semewah ini, pasti semua benda yang ada di ruangan ini mahal semua ya kak, aku jadi takut sendiri yang mau menyentuhnya," ujar Rahma yang takut menyentuh apapun  dan hanya bisa melihatnya saja.

__ADS_1


"Kamu bisa pegang apa yang ingin kamu pegang, kakak pernah bilang, ini punya keluarga kita, itu artinya ini juga punya mu dek, jika pun kamu menghancurkan ruangan ini  pun tak akan ada yang marah," jawab Devano tersenyum.


"Huefft, emang ya kalau orang kaya itu, bisa seenaknya aja," ucap Rahma lalu ia pun duduk di sofa samping kakaknya. Ia ingin nonton tivi tapi takut mengganggu kakaknya bekerja.


"Kamu mau makan apa, biar nanti aku panggilkan sekertaris ku untuk mengambilkannya,"


"Gak usah kak, aku belum butuh apa apa, lagian kan sebelum berangkat kita sudah makan, jadi aku masih kenyang," ujar Rahma.


"Ya udah nanti, kalau kamu butuh apa apa tinggal bilang aja," ucap Devano dan Rahma pun menjawabnya dengan anggukan kepala. Lalu ia main Hp namun baru satu jam, ia sudah merasa bosan.


"Ka, aku ingin jalan jalan, kelililng kantor ini, apa boleh?" tanya Rahma.


"Apa perlu kaka temenin kamu?" tanya Devano.


"Eh gak usah kak, aku bisa sendiri," jawab Rahma.


"Jangan, kakak khawatir jika membiarkan kamu sendiri, bentar kakak panggilkan sekertaris kakak, santai aja di seorang perempuan kog, dia sekertaris umum, jadi hanya mengatur jadwal kakak aja,"


"Terus kalau sekertaris kakak nemenin aku, kakak gimana?"


"Kaka masih ada sekertaris cowok yang akan menghandle semuanya, dia sangat sigap. Jadi kamu gak perlu khawatir akan hal itu, bentar kaka panggilkan dulu," Lalu Devano pun menelfon  sekertarisnya itu.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Amira sopan.


"Tolong temani adik saya jalan jalan, katanya dia mau keliling kantor, awas jangan sampai terluka sedikitpun dan kamu harus menjaganya sebaik mungkin," ucap Devano tegas.


"Baik, pa. Mari non," ajak Amira dengan suara seramah mungkin.


"Kak, aku keluar dulu ya,"


"Iya, kalau ada apa apa, langsung hubungi kakak, mengerti,"


"Iya kak, siap," jawab Rahma, lalu ia pun pergi keluar bersama dengan Amira. Dalam hati Amira bertanya tanya, sejak kapan Pak Devano punya adik, karena setau dia, Devano adalah anak tunggal.


"Kak, siapa namanya?" tanya Rahma mencairkan suasana.


"Amira, non," jawab Amira tetap dengan kesopanannya.

__ADS_1


"Kak Amira, bisa gak kalau berdua, jangan formal gitu, jadi gak enak aku, anggap aja aku temen atau adik kak Amira sendiri, dan jangan panggil aku non, kalau cuma berdua, okey," ujar Rahma gak suka dengan sikap Amira yanag terlalu formal.


"Tapi non, saya tidak berani," ucap Amira jujur.


"Santai aja, gak akan ada yang marahin Kak Amira,"


"Baiklah, jika kamu memaksa. Boleh aku nanyaa?" ujar Amira yang sudah gak tahan ingin tau hubungan Rahma dengan Pak Devano.


"Kak Amira pasti ingin nanya hubungan aku dengan Kak Dev kan?" tebak Rahma.


"Iya itu pun jika kamu berkenan, aku gak akan maksa," ujarr Amira gak enak hati.


"Aku adik kandung Kak Dev," jawab Rahma tersenyum.


"Tapi bukannya Pak Devano anak tunggal?" tanya Amira lagi.


"Ada suatu kejadian kenapa aku baru muncul sekarang, tapi aku gak bisa menceritakan sekarang,"


"Baiklah aku mengerti, kamu mau aku antar kemana?" tanya Amira yang mulai mengakrabkan diri karena Rahma enak diajak ngobrol berdua.


"Hemm enaknya dimana, aku sih cuma bosan aja di ruangan Kak Dev, gak ngapa ngapain, makanya aku pengen keliling kantor, atau ke kantin aja yuk, aku penasaran seperti apa kantin di sini," ucap Rahma semangat.


"Baiklah ayo," ajak Amira. Orang orang yang melihat Amira dan Rahma pun mulai bertanya tanya, namun pertanyaan itu hanya mereka simpan dalam hati sampai jam istirahat tiba, untuk saat ini mereka gak mau mengeluarkan suara kecuali membahas masalah kantor.


Amira dan Rahma pun tiba di kantin, lagi lagi Rahma di buat terkejut dengan kemewahan kantin ini. "Pasti makanannay enak enak kan?" tanya Rahma.


"Iya karena Pak Devano selalu memberikan yang terbaik buat karyawannya. Mereka bisa makan gratis di sini saat jam istirahat tiba, dan semua makanan yang di sini halal," ujar Amira dan Rahma pun ingin mencicipi makanan yang ada di kantin.


"Apa aku boleh  mencicipinnya, aku penasaran dengan rasanya?" tanya Rahma.


"Boleh, ayo ikut aku," ajak Amira.


Lalu Amira pergi dan memanggil pelayan lalu meminta makanan tereenak untuk Rahma, awalnya mereka bertanya tanya siapa Rahma, namun sama seperti yang lain, mereka memilih diam. Karena mereka tau, Amira sekertaris Devano, membuat mereka pun menuruti permintaan Amira. Lalu pelayan itu pun menghidangkan makanan terlezat dan menaruhnya di meja dimana Amira dan Rahma menunggu.


Mereka menunggu di ruang privat, yang hanya atasan yang berani duduk di sana, termasuk Amira. Karena cuma berdua, Rahma pun membuka cadarnya agar ia leluasa makannya.


"Wah, aku gak nyangka kamu cantik banget ya, sekilas kamu emang mirip sama Pak Devano." ujar Amira kagum melihat kecantikan Rahma.

__ADS_1


"Kamu bisa aja, kamu juga cantik kog. Ayo kita makan setelah itu, aku mau lihat ke semua ruangan, aku ingin tau seluk beluk perusahaan ini," ujar Rahma dan Amira pun dengan semangat menemani Rahma makan berdua. Dan Devano sesekali memantau keadaan adiknya itu, untunglah setiap ruangan ada CCTV membuat Devano bisa leluasa menjaga adiknya itu, walaupun gak ada di sampingnya.


Ia senang karena Rahma mudah akrab hingga ia dengan sekertarisnya itu sudah seperti teman lama.


__ADS_2