
Dita kini sudah sampai di perusahaan, dan dia dengan santainya masuk ke dalam kantor seakan akan ini adalah kantornya sendiri. Bahkan semua karyawan yang awalnya menyukainya dan mengaguminya karena kecantikannya, kepintarannya dan bawaannya yang begitu anggun, terlebih orang tuanya yang merupakan seorang pengusaha terkenal dan masuk ke jejeran orang terkaya di ASIA.Tapi kini setelah mereka tau, kalau Dita berusaha menggoda pimpinan mereka membuat mereka infil, terlebih gosip tentang Devano yang mengusir Dita secara terang terangan membuat mereka semakin tak menyukainya. Namun walaupun begitu, selama di kantor, mereka tak berani untuk menggosip, mereka hanya mengucapkan semua itu di dalam hati, betapa Dita begitu murah an, mengejar cowok yang jelas jelas sudah menolaknya secara mentah mentah.
Saat ia sudah sampai di lantai atas, ia lagi lagi bertemu dengan Dodi yang selalu menjadi penghalangnya untuk bertemu dengan Devano.
"Dod, kasih tau aku, dimana Devano?!" teriaknya membuat kegaduhan di kantor.
"Kamu itu gak punya etika ya, hah! Bilangnya lulusan S3, nyatanya bertamu ke kantor orang, teriak teriak kayak gak tau caranya orang bertamu!" sinisnya yang sudah kesal dengan sikap Dita yang datang dan pergi seenaknya.
__ADS_1
"Makanya kasih tau aku di mana Devano sekarang berada," teriaknya frustasi.
"Aku gak tau, jika pun aku tau, aku gak akan ngasih tau kamu," tuturnya pedas.
"Resek banget sih kamu jadi orang,"
"Mending aku resek, ketimbang kamu perempuan gak punya harga diri, ngejar ngejar cowok sampai segininya, murah an sih murah an, tapi jangan terang terangan juga dong, gak malu sama karyawan sini,, yang sudah ilfil lihat tingkah laku kamu itu,"
__ADS_1
"Jangan sesekali kamu berani tampar aku, ingat walaupun kamu anak Tuan George sekalipun aku gak akan takut, jika kamu sampai berani sentuh aku, aku gak akan segan segan nyakitin kamu di sini!" ucapnya sambil melempar tangan Dita secara kasar.
"Huh dasar cowok miskin, kamu itu kalau gak di bantu Devano, gak akan mungkin bisa seperti ini," ujarnya pedas.
"OH ya, mungkin kamu belum di ajarkan agama. Aku sadar, Tuan Devano yang bantu aku, karena Tuan Devano adalah perantara Tuhan yang membuat aku bisa sesukses sekarang. Dan ingat, Rezeki juga sudah ada yang ngatur, dan aku bisa seperti ini juga karena campur tangan Tuhan. Jika pun aku gak di bantu Tuan Devano, tapi jika Tuhan sudah mentakdirkan aku seperti sekarang, tak akan ada yang bisa mengubahnya,"
"Hallah sok ceramah loh. Miskin tetap aja miskin," ujarnya yang langsung pergi gitu aja karena males mendengarkan ceramah Dodi. Lagian ia melihat Devano tak ada di kantor, jika pun ada, ia pasti keluar karena ia tak suka akan keributan.
__ADS_1
Melihat kepergian Dita membuat Dodi akhirnya bisa bernafas lega. Sungguh andai ia boleh memilih, ia tak ingin berurusan dengan yang namanya Dita, karena orangnya susah di atur dan gak tau malu. Dan ia selalu di buat naik darah olehnya. Ia berharap kelak istrinya tak seperti Dita, karena jika itu terjadi, bisa bisa ia akan mati muda.
"Apa aku harus menghubungi Tuan George ya, baiklah kayaknya aku harus menghubungi asistennya dulu, bagaimanapun aku harus membicarakan sifat Dita yang semakin keterlaluan setiap harinya, jika ini di biarkan terus menerus, maka ini tidak baik untuk perusahaan. Apalagi saat ini Tuan Devano sudah menikah, jika Dita sampai mengetahuinya, tak menutup kemungkinan ia akan membuat rumah tangga Tuan devano dan istrinya akan hancur. Dan aku gak mau itu terjadi. Aku akan lakukan apapun untuk melindungi Tuan Devano," gumamnya lalu ia pun segera masuk ke dalam ruanganya untuk menelfon asisten Tuan George.