
Setelah memberitahu Rahma mengenai Amira yang setuju untuk kuliah lagi, Devano pun mulai focus kerja lagi. Tapi baru aja kerja gak sampai lima belas menit, tiba-tiba seseorang yang paling ingin ia hindari datang. Siapa lagi kalau bukan Dita.
Devano hanya bisa menghela nafas, entah dari mana Dita tau kalau ia hari ini sudah masuk kerja, mungin ia telah menyuruh seseorang untuk memata-matai dirinya.
“Dev, kamu dari mana sih, kok kamu menghilang gitu aja?” tanya Dita sambil duduk di kursi di depan meja Devano.
“Aku ada urusan,” sahut Devano sambil menatap layat computer, ia tak ada niat untuk melihat Dita walau hanya sejenak.
“Oh, kok kamu gak bilang ke aku?”
“Emang kamu siapanya aku, sampai aku harus bilang ke kamu,”
__ADS_1
“Dev, kok kamu bilang gitu sih sama aku?”
“Loh aku ngomong sesuai kenyataan loh, emang kamu siapa aku, sehingga aku mesti laporan jika harus pergi ke sana kemari,” ujar Devano, ia tau kata-katanya ini sangatlah menyakitkan, namun ia pun juga jengah dengan sikap Dita yang seolah-olah mengklaim dirinya adalah milliknya..
“Aku kan calon masa depan kamu Dev,” ucap Dita tanpa tau malu membuat Devano terkekeh.
“Haha, kalau mau mimpi jangan ketinggian Dit. Kalau jatuh sakit Maaf nih ya, aku sudah punya pacar dan aku akan segera menikah,” ujar Devano berbohong.
“Kamu pasti bercanda kan Dev, bukan kah kamu pernah bilang gak mau pacaran, jika kamu cocok, kamu akan langsung menikahinya,”
“Ya, kamu benar. Aku emang akan segera menikahinya dan setelah itu aku bebas pacaran sama dia, pacaran dengan label halal tentunya,” jawab Devano sambil tangannya ketak ketik keyboard, entah apa yang sedang ia ketik.
__ADS_1
“Kamu fikir aku akan percaya Dev, aku tau kamu sedang berbohong, karna kamu gak suka aku ganggu kamu kan, makanya kamu bicara kayak gini,” ucap Dita yang tak mempercayai ucapan Devano sedikitpun.
“Ngapain aku harus berbohong, kamu tunggu aja undangannya. Aku pastikan dalam waktu dekat, kamu akan menerima undangan pernikahan dariku,” ujar Devano meyakinkan Dita, walaupun ia sendiri bingung, wanita mana yang akan ia jadikan pengantin wanitanya untuk ia nikahi agar ia bebas dari wanita yang kini ada di hadapannya ini.
“Aku gak akan percaya, sebelum aku lihat dengan mata kepala aku sendiri. Aku tau Dev, selama ini kamu gak pernah kelihatan deket dengan cewek lain dan wanita yang dulu ada di dekat kamu itu adalah adik kamu kan, aku sudah tau semuanya. Jadi jangan pernah bohongin aku karena itu gak akan mempan,” tutur Dita yang sedikitpun tak mempercayai ucapan dari laki-laki yang ia sukai.
“Terserah kamu percaya apa gak, kamu tunggu aja, gak sampai sebulan, aku pastikan kamu akan terima undangan pernikahan dariku. Dan sekarang lebih baik kamu pergi, aku gak mau calon istri aku melihat kamu ada di ruangan ini dan ia mikir yang macam-macam tentang aku, aku gak mau dia berfikir buruk tentang aku karena kamu yang terus datang ke ruanganku,” usir Devano yang sudah mulai kesal karena Dita terus menerus mengganggu dirinya bekerja.
“Oke, aku akan pergi. Tapi ingat, aku gak akan nyerah untuk mendapatkan kamu Dev, apapun akan aku lakukan agar kamu jatuh dalam pelukan aku, dan siapapun yang mencoba untuk merebut kamu dari aku, aku pastikan dia akan menyesal seumur hidup,” ancam Dita, lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Devano dengan suasana hati yang begitu panas.
Devano sendiri pun hanya tercengang dengan apa yang di katakana oleh Dita, ia tak menyangka jika Dita bisa seegois itu, hanya ingin mendapatkan dirinya, ia berubah untuk menjadi orang yang jahat.
__ADS_1
“Astaga, kenapa tadi aku ngomong gitu, jika dalam sebulan aku gak memberikan undangan sama dia, pasti ia akan terus ganggu aku. Aku harus gimana nih? Apa aku mesti nikah kontrak tapi kan dalam islam, gak ada pernikahan kontrak. Atau emang ini sudah waktunya aku harus nikah dan mencari calon istri mulai sekarang. Tapi siapa? Apa Amira? Eh kenapa aku malah keingat Amira ya, apa karena Rahma yang menginginkan Amira jadi kakak iparnya, makanya aku tiba-tiba kefikiran ke Amira?” tanya Devano dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa gusar, padahal biasanya ia tak pernah seperti ini. Kenapa hanya karena seorang wanita, ia bisa frustasi seperti ini. Padahal jika urusan bisnis, ia tak pernah lemah dan selalu menjadi laki-laki kuat dan di takuti oleh banyak orang. Tapi jika sudah urusan wanita, membuat dirinya seringkali kalang kabut dan frustasi. Seperti saat ini.