
Setelah Rahma bangun dari tidurnya, mereka pun pulang bersama, hanya saja mereka pulang dengan mobil yang berbeda. Devano gak mau satu mobil dengan Rahma dan Gofur karena ia gak mau mengganggu keromantisan mereka berdua, karena ia tau, Gofur pasti cemburu jika ia terlalu dekat dengan adik kandungnya itu dan ia juga tak mempermasalahkan itu semua karena ia faham kalau Gofur sangat mencintai adiknya sehingga rasa cemburu itu selalu muncul saat Rahma terlalu dekat dengannya. Untuk itu Devano berusaha jaga jarak untuk menghargai perasaan gofur. Sesama lelaki ia tentu faham betul akan perasaannya.
Gofur dan Rahma pun ada di mobil depan sedangkan Devano ada di mobil berikutnya. Saat Devano lagi asyik mengendarai mobil, Ia melihat Dita yang menangis di pinggir jalan.
"Itu Dita kan?" tanya Devano pada dirinya sendiri.
"Kenapa dia nangis di jalan gitu?" tanya Devano lagi. Ia terus memperhatikan Dita yang menangis di pinggir jalan, karena gak tega, ia pun menepikan mobilnya. Lalu ia keluar dan menghampiri Dita.
"Dita, kamu kenapa hem?" tanya Devano ramah.
Namun Dita tidak menjawabnya, ia terus saja menangis membuat orang orang yang ada di dana melihat ke arah Dita.
"Ayo ikut aku, malu nangis di sini, di liatin orang orang," ujar Devano sambil merangkul Dita menuju mobilnya.
Setelah mereka berada di dalam mobil, Devano pun langsung mengemudikan mobilnya sambil terus memperhatikan Dita yang ada di sampingnya, entah kenapa Devano gak tega melihatnya. Ia memberikan tisu kepada Dita.
Dita mengambilnya dan membuang ingusnya sembarangan tanpa memikirkan rasa malu lagi. Devano pun meringis melihatnya karena ia baru melihat Dita yang begitu jorok. Namun untuk ssaat ini dia memilih diam saja.
Devano membawa ke danau buatan milik keluarganya, dan hanya orang orang tertentu saja yang boleh ke sini karena emang danau ini tidak terbuka untuk umum. Bahkan untuk perawatannya aja cukup mahal, ada beberapa orang juga yang menjaga dan merawat danau ini.
Devano membuka pintu mobil dan menuntun Dita untuk duduk di kursi bwah pohon yang langsung mengarah ke danau.
Dita sudah tak lagi sesedih tadi, terlihat ia tak sesegukan seperti saat di pinggir jalan dan di mobil tadi.
"Kamu kenapa?" tanya Devano berusaha untuk buka suara setelah ia berusaha diam dan tak berani bertanya sampai ia melihat Dita sudah mulai merasa tenang.
"Patah hati," jawabnya membuat Devano menoleh ke arahnya.
"Patah hati?" ulang Devano, takut jika ia salah dengar.
"Iya," jawab Dita sambil menganggukkan kepalanya.
"Di putusin Daren?" tebak Devano.
"Bukan dia yang mutusin tapi aku," jawab Dita memubat Devano kaget, karena yang ia tau, Dita sangat menyukai Daren kenapa mendadak dia mutusin Daren.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Devano.
"Dia selingkuh sama Maya," jawab Dita.
"Sekertaris pribadinya itu?" tebak Devano lagi.
"Kamu tau?" tanya Dita.
"Aku pernah bertemu Daren saat ada pertemuan dengan beberapa pengusaha lainnya dan dia membawa sekertarisnya itu, dan mereka terlihat sangat akrab sekali," jawab Devano jujur. Ia gak mau menyembunyikan apapun.
"Oh, aku gak nyangka mereka tega sama aku. Padahal Maya bisa bekerja karena aku yang merekomendasikan dulu. Kebetulan Maya adalah temanku saat di kampus, karena ia baru di pecat dari kantor sebelumnya, makanya aku meminta Daren untuk menjadikan dia sebagai sekertaris peribadinya karena waktu itu sekertaris pribadi Daren sakit sakitan dan memilih berhenti kerja. Tapi siapa sangka, Maya malah menusuk aku dari belakang, ia menggoda Daren dan akhirnya mereka menjalin hubungan bahkan melakukan hubungan badan, dan aku baru tau, Maya dulu di pecat juga karena berusaha menggoda atasannya. Aku menyesal sudah memasukkan Maya di kantor Daren, sekarang hubungan aku sama Daren sudah kandas.
Aku tau Daren gak salah, kalau bukan Maya yang terus menerus menggodanya, pasti Daren gak akan tergoda. Siapa yang akan tahan jika terus menerus di goda sepanjang hari. Apalagi mereka dari pagi sampai sore selalu bersama, terlebih jika Daren harus lembur, Maya pun juga akan lembur dan akan selalu ada di dekat Daren. Kucing pun kalau di suguhi ikan gratis, juga pasti di lahap.
Sungguh, aku benci mereka, terlebih Maya. Aku gak nyangka, orang yang aku fikir baik malah tega menyakitiku, Daren juga, seharusnya ia jujur dari awal, kalau Maya terus menggodanya bukan malah diam hingga akhirnya ia pun tergoda olehnya," ujar Dita mengungkapkan perasaannya.
"Mungkin kamu dan Daren itu gak berjodoh. Bersyukur Allah memberitahu kamu sifat mereka berdua sebelum kamu dan Daren menikah. Bayangkan aja jika kamu tau saat kamu dan Daren sudah jadi suami istri, pasti akan lebih menyakitkan, apalagi jika kamu sudah punya anak dengannya. Lagian menurutku, seorang laki laki jika dia tulus mencintai seorang wanita, walaupun dia di goda kayak apapun, pasti akan memilih bertahan dan menghindar," ucap Devano.
"Tapi aku masih mencintai Daren, hanya saja aku kecewa dengan sikapnya itu,"
"Tapi Daren sudah minta maaf dan menyesal?"
"Jika dia minta maaf, ya maafkan aja, gak papa. Allah aja maha pemaaf, jadi sebagai hambanya kita pun juga harus memaafkannya bukan? masalah dia melakukan dosa dengan melakukan hubungan badan tanpa ada ikatan yang halal, biarkan itu menjadi urusan dia sama Tuhan. Tapi jika kamu memberikan dia kesempatan untuk kembali lagi, lebih baik kamu fikirkan, karena ini menyangkut masa depan kamu, jangan sampai kamu menyesal setelah kamu menikah dengannya. Mungkin semua orang bisa berubah dan semua orang berhak mempunyai kesempatan kedua, tapi apa yang di lakukan Daren menurutku sudah keterlaluan, untuk itu, kamu harus memikirkan baik baik, jangan hanya pakai hati, tapi pakai logika juga," jawab Devano.
"Entahlah aku pusing memikirkannya, saat ini aja hatiku sakit saat aku ke kantor Daren dan aku malah melihat mereka sedang bercumbu, rasanya sangat sakit," ujar Dita yang kembali menangis.
"Sudahlah, lupakan semua itu. lebih baik kamu bersenang senang, lagian juga ngapain pacaran, kalau dia emang cinta sama kamu, dia pasti akan langsung datang ke papa kamu, melamar mu dan menikahimu, itu baru cinta. Bukan malah ngajak pacaran terus megang megang tangan kamu, cium kamu, belum halal udah berani nyentuh kamu. Apa kamu gak kasihan sama papa kamu, dia juga ikut terseret dosa karena dosa yang kamu lakukan bersama pacar kamu itu. Lagian kata mama dan papaku, paling enak tuh pacaran udah nikah, udah halal, mau di apain juga bebas, dapat pahala pula,"
"Kog kamu jadi ceramahin aku?" tanya Dita sambil menatap Devano.
"Bukan ceramahin kamu, tapi ngasih tau, syukur alhamdulillah kalau ucapanku sedikit berguna buat kamu, kalau gak ya ga papa, yang penting kan aku sudah nasihatin kamu, selebihnya sih terserah kamu, dosa di tanggung masing masing kan?"
"Aku ini lagi patah hati loh, hibur kek, malah di ceramahin," ucap Dita sewot.
"Sudahlah, lebih baik kita ke resto aja yuk, kamu pasti lapar kan, karena setahuku orang nangis itu bikin orang jadi lapar, siapa tau habis makan, kamu bisa ceria lagi atau bisa lanjutin nangisnya," sindir Devano.
__ADS_1
"Kamu itu nyebelin deh, gak ada romantis romantisnya,"
"Kalau pengen aku romantisin, kamu harus aku halalin dulu,"
"Ogah, aku gak mau di halalin kamu,"
"Ya sudah gak papa, masih banyak di luar sana bahkan ngantri yang pengen banget aku halalin,"
"Terus kenapa sampai sekarang belum nikah juga kalau banyak yang ngantri?"
"Ya karena aku belum nemu yang tepat, sudahlah ayo cari makan, aku juga sudah lapar ini," ajak Devano lalu mereka pun pergi ke resto yang tak jauh dari danau itu. Namun juga harus pakai mobil, kalau jalan kaki membutuhkan waktu yang cukup lama.
Sesampai di resto, Devano langsung memesan ruangan VVIP.
"Aku ke kamar mandi dulu, mau cuci muka," ujar Dita setelah ia selesai memesan makanan dan minuman miliknya.
"Iya," jawab Devano sambil memilih makanan yang ingin ia makan. Setelah selesai, pelayan yang tadi bertugas mencatat pun pergi untuk menyiapkan makanan dan minuman yang di pesan oleh Dita dan Devano.
Sambil nunggu makanan datang dan Dita yang lagi ke toilet buat cuci muka, Devano pun main Hp. Namun tiba tiba saja, ada telfon masuk dari Rahma.
"Assalamualaikum kak,"
"Waalaikumsalam dek, ada apa?"
"Kak Dev ada dimana, kenapa belum sampai rumah juga, padahal kan kita pulang bareng tadi?" tanya Rahma khawatir.
"Oh Kak Dev masih ada urusan di luar, maaf lupa bilang sama kamu,"
"Oh gitu ya udah gak papa, tak fikir tadi Kak Dev kenapa napa. Aku tutup dulu ya,"
"Iya,"
"Assalamualaikum,"
"Waalikumsalam." Jawab Devano.
__ADS_1
Lalu Devano pun lanjut main Hp, hingga akhirnya pelayan datang membawakan makanan dan minuman miliknya dan juga milik Dita.