
Kabar masuknya Daren dan Maya ke penjara, sampai juga ke telinga Darma, Dania, dan juga Rahma. Gofur sebagai orang luar memilih diam dan gak ikut angkat bicara.
Kini mereka bertempat ada di ruang keluarga, sehabis makan malam seperti biasa mereka ngobrol santai.
"Untung nak kamu tak menikah dengan Dita," ucap Daniah.
"Emang kenapa ma?" tanya Devano.
"Bayangkan aja saat kamu menikah dengannya dan tak sengaja kamu membuat hatinya terluka, pasti Tuan George akan melakukan hal yang sama. Dan mama gak suka akan hal itu," ucap Dania mengungkapkan perasaannya.
"Apa yang di lakukan Daren dan Maya keterlaluan ma, andai papa ada di posisi Tuan George, mungkin papa akan melakukan hal yang sama, mungkin tapi," ujar Darma.
"Sebenarnya aku tak mempermasalahkan apa yang di lakukan oleh Tuan George, karena yah Daren dan Maya pantas mendapatkan itu semua. Setidaknya memberikan sedikit pelajaran buat mereka, akan membuat Daren dan Maya jera dan menyadari kesalahannya. Tapi ya sudahlah, itu semua kan hak mereka. Kita sebagai orang luar tak boleh ikut campur, setiap orang pasti punya cara tersendiri untuk membela orang yang di cintainya.
Dan kita juga tak boleh membenci Daren dan Maya, jika ingin membenci, bencilah sifatnya jangan orangnya. Dan jika perlu, kita harus mendekati mereka dan menasehati mereka, karena saat ini mereka butuh orang yang bisa menasehati nya dan membawanya ke jalan yang benar.
__ADS_1
Lagian juga kita itu gak boleh membicarakan keburukan orang lain, karena bisa jadi dosa kita lebih banyak, hanya saja Tuhan menyembunyikan semua dosa dosa kita dan tak menampakkannya, " jawab Devano.
"Terus kak, andai nih yah, Tuan George kembali pengen menjodohkan Kak Dev dengan Kak Dita, apakah Kak Dev akan menerimanya? Kemarin kemarinnya kan Kak Dev gak menerima dia dengan alasan karena Kak Dita lebih memilih Kak Daren. Sekarang Kak Daren dan Kak Dita sudah putus, apakah Kak Dev akan memberikan kesempatan buat Kak Dita untuk berhubungan dengan Kak Dev? " tanya Rahma.
"Aku gak tau, tapi yang jelas aku sudah gak tertarik dengan Dita. Bukan apa apa sih, karena sepertinya dia cukup keras orangnya karena saat aku menasehatinya dia terlihat sewot dan bilang aku ceramahi dia. Aku takut saat dia jadi istriku dan aku menasehatinya, dia akan melawan sama aku," jawab Devano.
"Heufft aku juga gak mau punya kakak ipar yang keras kepala, aku takut nanti dia gak bisa menerima aku dan menyayangi aku sebagai adik iparnya," ujar Rahma.
"Iya sudah jangan bahas masalah ini, jika pun Tuan George kembali ingin menjodohkan putrinya dengan kamu, biar papa yang akan menolaknya secara halus," ucap Darma.
"Gak papa," jawab Gofur tersenyum sambil mengelus kepala Rahma dengan lembut.
"Kalau di sini, jangan merasa sungkan dan malu, santai aja. Kami ini sekarang adalah keluarga kamu, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Danendra, jadi bersikap lah seperti saat kamu tinggal bersama mama dan papa kamu di sana," ucap Dania.
"Apa yang di katakan mama benar, oh ya gimana kalau besok sore kita main kuda?" ajak Devano.
__ADS_1
"Boleh," jawab Gofur yang memang suka berkuda.
"Aku boleh ikut gak?" tanya Rahma.
"Boleh dong, di sana ada lima kuda, jadi kita bisa pakai satu satu," jawab Devano.
"Enggak mau, aku maunya sama Mas Go," ujar Rahma.
"Iya sudah biar nanti kamu pakai yang punya papa, kudanya sudah terlatih banget," ucap Devano.
"Iya kalian bisa pakai punya papa. Lagian juga papa sudah lama gak main kuda" tutur Darma tersenyum.
"Mama juga sebenarnya pengen ikut tapi gak bisa, karena mama ada janji sama teman mama, jam 3 samlai jam 5 sore," ujar Dania yang bisa menemani anak dan menantunya main kuda.
"Gak papa ma, biar besok aku, Kak Dev sama Mas Go aja," jawab Rahma.
__ADS_1
Mereka pun ngobrol santai sampai jam 9. Lalu setelah itu mereka masuk ke kamar masing-masing untuk tidur.