
Setelah selesai makan malam bersama Mama dan Papanya, Devano pun mengajak Amira untuk jalan jalan bersama. Awalnya Amira menolak, karena bagaimanapun ia masih risih jalan berdua dengan laki laki di malam hari walaupun laki laki itu telah berstatus jadi istrinya. Ia juga merasa tak enak dengan sang mertua karena ia takut jika nanti di kiranya ia suka keluyuran dan memanfaatkan suaminya untuk keluar terus, padahal Devano tengah banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Memikirkan hal itu membuat Amira merasa tak enak hati.
Namun saat mama mertuanya datang dan menasehati dirinya untuk keluar bareng suaminya membuat dirinya pun mau tak mau mengikuti nasihat mama mertuanya itu. Akhirnya mereka berdua pun keluar bersama naik mobil milik Devano yang terbaru.
"Sayang kita mau ke mana sih?" tanya Amira.
"Ke Mall," jawabnya santai.
"Ngapain ke mall malam hari?"
"Ya belanja dong sayang, kamu kan belum ada baju dan yang lainnya jadi kita ke sana untuk borong keperluan kamu. Dan lagi ke Mall tuh enaknya emang di malam hari karena cukup ramai dan sekalian ktia bisa refreshing kan ketimbang di kamar terus tapi gak ngapa ngapain dan itu malah menyiksa aku,"
"Menyiksa gimana?" tanya Amira tak mengerti.
"Ya coba kamu fikir, laki laki berduaan dengan wanita yang sudah halal di sebuah kamar, dan gak ngapa ngapain, apa ya aku gak tersiksa?"
"Maksudnya apa sih, aku kok gak faham?" tanya Amira yang benar benar gak faham dengan arah pembicaraan sang suami.
"Aku itu kalau berduaan dengan kamu terus di kamar, juniorku itu berdiri Yank. Astaga, masak itu aja gak ngerti dan kalau gak di masukin, bisa bisa kau tersiksa seorang diri dan kamunya malah enak enak gak ngerasain apapun seperti apa yang aku rasakan," jawabnya. Ia merasa gemas karena istrinya itu benar benar gak peka sama sekali.
Amira yang mendengarnya pun merasa malu sekali karena Devano ngomong blak blakan. "Astaga mas, bisa gka sih kalau ngomong itu di saring?" tanyanya dengan wajah yang merah karena menahan rasa malu.
"Ya habis kalau aku ngomong gak detail gitu kamunya gak ngerti sih, aku kan jadi gregetan."
"Hehe ya namanya kan aku gak tau, Mas. Dan belum pernah merasakan hal seperti itu juga,"
__ADS_1
"Makanya ayo nanti malam kita coba, biar kamu bisa merasakannya dan gak merasa penasaran lagi,"
"Emang siapa yang penasaran?"
"Kamulah,"
"Ih sok tau,"
"Aku tau kok?"
"Tau dari mana?"
"Dari wajahmu yang seperti mupeng,"
"Muka pengen yank, astaga bahasa gaul gitu juga kamu gak ngerti yank, dari dulu kamu ngapain aja sih yank, sampai polos gini?" tanya Devano penasaran sambil tetap fokus menyetir mobilnya. Sesekali ia melihat ke sampingnya dimana istrinya berada.
"Aku kan dari dulu sibuk sekolah, Mas. Cari Ilmu, lulus sekolah, sibuk kerja. Mana ngertilah hal seperti itu,"
"Aku juga sibuk sekolah dan sibuk kerja, tapi aku gak kalah sama anak gaul zaman sekarang tuh," sindirnya.
"Ya beda,"
"Apanya yang beda?" goda Devano.
"Tau ah," Amira pun memilih diam dan tak lagi membalas setiap ucapan suaminya itu. Ia lebih menikmati pemandangan di luar jendela.
__ADS_1
Devano pun memilih diam juga dan fokus menyetir. Sesampai di depan Mall, ia pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir VVIP. Setelah itu, ia memakai topi, Amira yang melihatnya pun merasa heran.
"Ngapain pakai topi?" tanya Amira.
"Ya gak papa sayang, biar gak ketemu orang aja. Maksudku siapa tau ada yang mengenaliku, kan aku gak enak malu, dan takut kencan kita terganggu aja,"
"Bilang aja, Mas malu kan jika ketahuan jalan bareng aku, apalagi jika sampai mereka tau aku ini istrinya Mas," ucapnya sewot.
"Ya Allah sayang, kamu itu salah faham, kok bisa sih kamu mikir sampai ke arah situ. Aku hanya gak suka aja jika jalan jalan kita keganggu sama orang lain. Kan kamu tau sendiri, bukan maksudku sombong, tapi aku ini seorang pengusaha yang namanya ada dimana mana, mungkin kebanyakan dari mereka gak tau wajahku karena memang wajahku jarang muncul di majalah atau di media sosial, tapi aku takutnya ada di antara mereka yang mengenaliku atau pernah berjumpa denganku. Aku ingin kita jalan jalan tanpa ada gangguan dari orang lain. Tapi jika kamu keberatan aku memakai topi, aku akan membukanya kok," ucapnya sambil mau membuka topi yang sudah terpasang di kepalanya namun Amira buru buru mencegahnya.
"Enggak usah, Mas. Tadi aku hanya bercanda kok, gak serius," tuturnya tersenyum lembut.
"Beneran?" tanya Devano memastikan.
"Iya, Sayang. Iya udah ayo kita keluar dari mobil, nanti orang orang ngiranya kita ngapain lagi karena terlalu lama di dalam mobil, di tempat parkir pula," ucapnya.
"Haha kamu gak perlu takut. Ini parkiran VVIP, hanya ada beberapa orang aja yang markir mobil di sini, kamu lihat di sekliling kita, sepi kan?" tanyanya.
Amira melihat ke sekelilingnya dan benar saja parkiran ini emang sepi dan tak seperti parkiran di luar tadi.
"Iya tapi kita sampai kapan di sini terus?" tanyanya kesal.
"Hehe kamu pasti bosen ya, iya udah ayo keluar," ajaknya.
Lalu mereka berdua pun turun dari mobil dan jalan bergandengan tangan masuk ke dalam mol.
__ADS_1