My Little Woman

My Little Woman
George Anindita Mikhaila Washington


__ADS_3

Sepulang kerja, George langsung menemui putrinya yang ada di apartemen nya dan kebetulan putrinya itu lagi di apartemen dan gak pergi kemana mana.


Putrinya emang tinggal di apartemen sejak lulus kuliah dan ia mengelola sebuah berlian sendiri, cuman memang belum terkenal padahal sudah berdiri sekitar 2 tahun. Namun ia tak patah semangat, ia terus berusaha agar bisa bersaing dengan yang lain.


Putrinya juga tak pernah meminta bantuannya karena ia ingin membangun usahanya dari nol tanpa bantuan siapapun termasuk dirinya.


"Papi, tumben kemarin, ada apa?" tanya Dita. Nama lengkapnya George Anindita Mikhaila Washington, yang akrab di panggil dengan sebutan Dita.


"Gak ada, tadi papi pulang kerja terus keinget kamu, jadi papi ke sini? Emang gak boleh?" tanya George sambil duduk di sova.


"Boleh dong pi, hanya saja papi kan hampir gak pernah ke sini, jika pun ke sini pasti karena ada sesuatu," ucap Dita curiga.


"Kalau kamu gak mau papi ke sini, makanya kamu pulang ke rumah utama aja ngapain coba tinggal di apartemen sendiri. Gak kasihan sama papi?"


"Kan ada mami pi sama Dek Alyas, belum lagi ada ast sama yang lainnya, jadi papi gak perlu di kasihani,"


"Hah, kamu emang putri papi yang the best dah, terlalu patuh sama orang tua," sindir George.


"Hehe sindiran papi halus banget sampek ngena banget ke hati, baiklah besok aku pulang ya demi papi,"


"Pulang paling sehari, gak nginep," sindir George lagi.


"Kali ini aku nginep deh seminggu"


"Beneran?"


"Iya, janji. Mana pernah sih, aku ingkar janji"


"Sip, papi percaya sama kamu, oh ya papi boleh nanya gak?" ujar George mulai ingin membahas masalah pribadi putrinya.

__ADS_1


"Nanya apa pi?" ujar Dita santai.


"Kamu sudah punya pacar?" tanya George pelan, gak mau kalau putrinya tau kalau dirinya kini ingin mengintrogasi dirinya.


"Emm kenapa papi tiba tiba nanya gitu?" tanya Dita dag dig dug dar, karena biasanya papinya itu gak pernah mengurus masalah pribadinya.


"Ya papi ingin tau aja, umur kamu kan sudah cukup umur untuk membina rumah tangga, jadi papi fikir pasti kamu sudah punya seseorang yang kamu sukai kan?" tanya George.


"Jawab jujur aja, gak perlu bohong. Papi gak akan marah," imbuh George.


"Sebenarnya aku suka sama seseorang papi,"


"Siapa namanya?"


"Daren Alfonso,"


"Siapa dia?"


"Kamu menjalin hubungan dengannya?"


"Iya,"


"Sudah berapa lama?"


"Hampir satu tahun,"


"Kog papi gak pernah tau?


"Papi kan sibuk sama pekerjaan papi, lagian juga papi gaj pernah nanya,"

__ADS_1


"Kamu beneran suka sama dia?"


"Yai yalah pi, kalau gak suka ngapain aku menjalin hubungan dengannya terlebih udah hampir setahun. Dan aku tuh bukan cuma suka, tapi sayang dan cinta sama Daren,"


"Baiklah, lalu kapan keluarganya mau lamar kamu? Gak mungkin kan selamanya kalian cuma pacaran?" tanya George.


"Aku belum tau pi, aku masih ingin menjalani hubungan ini seperti ini dulu, aku belum siap jika harus melangkah ke jenjang yang lebih serius,"


"Tapi nak, mau sampai kapan? Umur mu juga kan sudah tak muda lagi, sudah seharusnya di umurmu yang sekarang, kamu itu sudah menjalani rumah tangga, bukan malah pacaran kayak anak muda,"


"Emang papi fikir aku sudah tua, umurku masih 25 tahun loh pi," ujar Dita tak terima.


"Dulu mami kamu aja nikah sama papi umur 22 tahun loh, terus mami lahirin kamu saat umur 24 tahun,"


"Ya kan beda pi, mami bukan wanita karir, habis kuliah langsung di ajak nikah sama papi, beda sama aku, aku kan habis kuliah ingin berkarir dulu,"


"Ya sudahlah terserah kamu, tapi papi harap, kamu dan pacar kamu itu segera memutuskan untuk menikah, jangan mau di ajak pacaran terus, di pegang pegang, di cium, ingat. Di agama bahkan di larang untuk bertatapan apalagi sampai di pegang pegang. Kamu belun memberikan kehormatan kamu kan sama pacar kamu? "


"Ya enggaklah pi, di kira aku cewek apaan. Cuma sebatas pegang tangan aja, tapi pernah sekali di cium pipiku, tapi hanya sekali itu aja kog,"


"Kamu tau saat kamu pacaran, pegang pegangan, tatap tatapan, di cium, kamu yang melakukannya, papi yang ikut kena dampaknya. Sama aja kamu menyeret papi ke neraka,"ujar George sedih.


"Maafin Dita ya pi,"


"Sudahlah yang penting, papi sudah nasihatin kamu. Papi juga yakin, kamu pasti sudah mengerti mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang harus di pertahankan dan mana yang harus di lepaskan. Mana yang harus di dekati dan mana yabg harus di jauhi" ujar George.


"Ya, aku mengerti kog," ucap Dita.


Lalu George pun memutuskan pulang, setelah puas bercakap-cakap dengan putrinya itu.

__ADS_1


Tak lupa George menghubungi Darma dan mengatakan kalau memang putrinya itu sudah punya pacar dan kini hilang sudah harapannya untuk bisa berbesan dengan Darma, mertua yang pantas untuk Dita tapi apalah daya jika putrinya sudah mencintai laki laki lain. Ia tak bisa memaksa dan gak mau menjadi ayah yang egois yang memaksa kehendak nya.


__ADS_2