
Beberapa hari kemudian, Dania tertidur di kursi sambil menggenggam tangan Rahma, Darma tidur di kursi sova yang empuk, dan Devano yang tertidur di kasur yang ada di samping Rahma.
Tanpa sepengetahuan mereka semua, Rahma mulai bisa menggerakkan jari jari tangannya. Dan tak lama kemudian, ia pun mulai membuka mata.
Ia melihat wanita paruh baya sekitar umur 55 tahun yang tidur dengan menggenggam tangannya.
"Inikah wajah mama kandung ku, ternyata benar wajah kami memang mirip. Mama sangat cantik, apakah mama suka perawatan di usia mama yang tak lagi muda?" tanya Rahma dalam hati
Lalu ia melihat ke arah samping ternyata ada kakaknya yang tidur nyenyak, mungkin ia lelah setelah seharian bekerja.
__ADS_1
Dam di sofa, ia melihat papanya yang tidur sambil duduk, Rahma senang karena kini ia sudah berkumpul bersama keluarga kandung nya.
"Ma," panggil Rahma dengan suara lirih. Dania yang mendengar ada suara langsug melihat ke arah Rahma dan betapa kaget nya ia melihat putrinya sudah sadar.
"Davina, kamu sudah sadar nak?" tanya Dania menangis haru.
"Kamu kenal mama?" tanya Dania.
"Iya ma, aku sudah mendengar semua curahan hati mama hanya saja aku susah mau buka mata. Aku bahagia karena akhirnya aku bisa bertemu sama mama," ucap Rahma menitikkan air mata.
"Mama juga seneng nak, mama bahagia bisa bertemu kamu lagi," ujar Dania tersenyum, ia berbicara pelan agar suami dan putranya itu tidak bangun.
"Ma, bisa ambilkan air, aku haus," pinta Rahma, Dania pun dengan sigap mengambil air dengan sedotan lalu membantu putrrinya minum.
"Udah ma, makasih ya," ujar Rahma.
"Iya sayang," jawab Dania lalu ia pun duduk di samping Rahma.
__ADS_1
"Mama gak tidur lagi, ini masih malam," tutur Rahma lembut.
"Enggak sayang, mama sudah gak ngantuk lagi, kamu gak mau bobok?" tanya Dania.
"Aku aja baru bangun ma, males tidur lagi, nanti malah gak bangun bangun," canda Rahma.
"Jangna bilang gitu nak, mama sedih kamu ngomong gitu, mama gak mau kehilangan kamu lagi," ujar Dania sendu.
"Maaf ma, aku cuma bercanda," ucap Rahma.
Lalu mereka pun ngobrol hingga pagi. Darma dan Devano yang sudah bangun langsung kaget melihat Rahma yang sudah sadar.
"Nak, kamu sudah sadar?" tanya Darma senang.
"Ia, papa," jawab Rahma. Mendengar dirinya di sebut papa, membuat hati Darma rasanya menghangat, ia pun memeluk putrinya itu.
"Papa senang kamu sadar, papa juga senang kamu memanggil papa, jangan sakit lagi," ucap Darma sambil melepas pelukannya.
"InsyaAllah pa, aku gak janji. Tapi kayaknya tubuhku ini bermasalah deh, gampang sakit hehe. Padahal dari kecil aku gak pernah sakit loh, fisikku kuat, tapi sejak kecelakaan, rasanya tubuhku mudah banget pingsan," cakap Rahma mengeluh atas fisiknya yang tak kuat seperti dulu.
"Kamu sudah ingat Ra?" tanya Devano.
"Iya kak, aku sudah ingat semuanya, aku juga sudah mendengar semua perkataan kakak, mama sama papa, makanya saat aku sadar, aku tau, kalian adalah keluargaku. Dan aku bahagia akan hal itu, daan untuk suamiku, jika di izinkan, aku ingin bertemu dengannya," ucap Rahma, karna bagaimanapun ia gak mau terlalu lama meniggalkan suaminya.
"Tapi dek," Devano seakan merasa keberatan dengan permintaan adiknya itu.
"Aku janji akan tinggal sama mama dan papa, sama kakak juga. Tapi izinkan suamiku juga tinggal di sini," ucap Rahma memohon.
"Nak, penuhi permintaan Rahma. Gak baik juga menjauhkan mereka berdua, bagaimanapun mereka itu suami istri," ucap Darma.
__ADS_1
"Baiklah, Bulan depan, aku akan membawanya ke sini. Dan selama satu bulan ini kamu harus sembuh dan menghabiskan waktu bersama kakak, mama dan papa," ujar Devano. Rahma pun akhirnya menganggukkan kepala. Gak papa, setidaknya sebulan lagi Rahma bisa bertemu dengan suaminya itu.