My Little Woman

My Little Woman
Pasar Tradisional


__ADS_3

Sesampai di pasar tradisinonal, Devano memarkirkan sepeda motornya. Lalu ia menggandeng tangan istrinya untuk membeli sayur, daging dan ikan yang ia mau. Di pasar itu, di saat orang sibuk menawar sana sini, tapi tidak dengan Amira, bahkan semahal apapun, akan ia beli. Entahlah. Devano pun hanya diam memperhatikan istrinya yang bercakap cakap dengan penjual itu sambil memilah milih sayur yang menurutnya paling bagus dan yang ia suka tentunya.


Setelah cukup membeli sayur, daging dan buah, mereka pindah ke pedagang lain, lalu untuk membeli bumbu bumbu segala macam yang tak semua di ketahui oleh Devano. Selesai membeli bumbu, barulah Amira membeli jajan tradisional, dan Devano pun tak berani melarangnya.


"Sayang, sini belanjaannya biar aku yang bawa semua," pinta Devano.


"Enggak usah, Mas. Nanti tangannya kotor," tolak Amira


"Gak apa apa, kan nanti tinggal cuci sudah bersih lagi kan," ujar Devano sambil mengambil belanjaannya dari tangan Amira, karena ia gak tega melihat Amira membawa belanjaanya dengan tangan kanan dan tangan kirinya.


Karea Devano sedikit memaks, Amira pun pasrah. Ia lalu berjalan ke arah ibu ibu paruh baya dan memborong makanan itu semua.


Ibu itu pun merasa senang apalagi ketika Amira memberikan uang lebih padanya. Setelah itu, mereka pun pulang dengan membawa banyak belanjaan yang di taruh di pengait depan yang ada di sepeda motor dan sebagian lagi ia di pegang oleh Amira.


"Mas, kita berhenti di taman ya," pinta Amira.

__ADS_1


"Oke." Tanpa banyak bicara, Devano pun langsung mengiyakan permintaan Devano.


Sesampai di taman, mereka langsung turun lalu Amira melihat beberapa orang yang ada di sana, dengan santainya ia membagi bagikan kue yang ia beli tadi, dan hanya menyisakan beberapa saja. Dan setelah itu ia membeli minuman dua botol, lalu ia mengajak suaminya duduk di taman berdua dengan di temani dua botol air dan juga jajan tradisional.


"Mas, gak tanya kenapa aku gak nawar saat beli di pasar tadi?" tanya Amira yang seakan tau apa yang di fikirkan oleh suaminya saat mereka tengah di pasar tadi.


"Kenapa?" tanya Devano dengan polosnya.


"Karena aku punya suami kaya. Jadi aku fikir, buat apa aku nawar yang mungkin keuntungan buat mereka tidaklah seberapa. Jika dulu sebelum menikah, aku mungkin suka nawar jika uangku benar benar kepepet, karena bagaimanpun aku juga harus pinter pinter ngatur keuangan agar bisa bertahan sampai gajian lagi. Tapi tidak untuk sekarang, aku tak mau melakukan tawaran ini itu, karena bagiku, anggap aja sekalian sedekah. Lagian walaupun aku melakukan hal seperti itu seumur hidup aku pun, tak akan membuat kakak rugi apalagi sampai jatuh bangkrut kan. Dan kenapa aku memilih untuk belanja di pasar tradisional ketimbang pasar modern, karena aku berfikir, orang orang yang jualan di pasar tradisional, mereka jualan bukan untuk menebalkan tabungan mereka, ada kalanya mereka berdagang hanya untuk bisa makan di esok harinya. Kita tak pernah tau, apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, untuk itu aku ingin membantunya dengan membeli dagangan mereka dengan tidak melakukan tawar menawar."


"Ya kelihatannya sih lebih simple, tapi kan gak semua orang kadang mau di kasih uang, ada yang nolak karena merasa ia punya harga diri, ada yang merasa ia tak suka di kasihani oleh orang lain. Tapi ada juga yang blak blakan menyukai dan menerima setiap pemberian orang. Namun kan kita gak tau setiap isi hati orang masing masing, jadi buat menjaga perasaan mereka, salah satunya adalah belikan apa yang menjadi usaha mereka, apapun yang mereka jual, belilah tanpa harus melakukan tawar menawar, karena aku yakin, keuntungan yang mereka ambil pun juga tak seberapa. Syukur alhamdulillah jika cukup untuk kehidupannya, tapi jika enggak, kan kasihan," jawab Amira. Devano yang mendengarnya pun merasa bahagia, tak salah dia memilih seorang istri karena Amira mempunyai hati yang begitu baik dan tulus. Bukan hanya fisiknya aja yang cantik, tapi hatinya pun juga.


"Jadi itu alasannya kamu juga memborong jajanan tradisional tadi?"


"Ya, karena aku lihat jualannya belum ada yang beli, masih penuh bahkan ia terlihat merenung. Aku gak tega, makanya aku borong. Awalnya sih mau aku berikan sama bibi dan pak kebun yang ada di sana, tapi lihat orang orang sini, kok malah kefikiran buat ngasih  ke mereka hehe,"

__ADS_1


"Iya sudah nanti bibi dan pak kebun, kita bawakan yang lain," ujar Devano. Dan Amira pun menganggukkan kepala.


"Iya udah ini mas makan dulu, jajanya sih enak kayaknya," ucapnya sambil memberikan jajan itu ke Devano. Devano pun tersenyum dan mengambil jajan itu dari tangan istrinya, "Makasih," tuturnya.


"Sama sama. Aku harap Mas Dev gak sakit perut ya setelah jajan ini, karena kan biasanya kalau orang kaya apalagi sultan setau aku, mau makan aja, makanannya harus sesuai arahan dokter gizi,"


"Haha itukan kalau orang lain, tapi tidak denganku. Mama, Papa, Rahma dan suaminya, aku lihat kalau mereka mau sesuatu walaupun itu di jual di pinggir jalan, ya tinggal beli dan makan apa aja, selama itu enak dan bersih tentunya."


"Kalian emang beda ya,"


"Ya, mungkin dengan begini, aku dan keluargaku pun bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bukan hanya makanan dari kalangan atas yang bisa aku cicipi, makanan dari kalangan bawah pun pasti aku cicipi kok . Pokok halal dan tidak menggunakan zat zat yang berbahaya." ucapnya sambil menikmati  jajan yang ad di tangannya.


Amira pun juga menikmati jajan tersebut yang ternyata sangat enak. Manisnya pas dan rasanya lembut di lidah, hanya saja Amira kurang tau ini jajajnya apa namanya. Begitupun dengan Devano ia juga tak tau apa nama makanan ini, tapi emang rasanya bener bener bikin lidah ketagihan.


Mereka pun ngobrol sambil menikmati jajajan itu, setelah habis, barulah mereka minum dari air botol yang ia beli tadi.

__ADS_1


Dan setelah itu, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumah. Dan saat ada yang jualan, mereka beli untuk oleh oleh bibi dan pak tukang kebun yang jaga villa.


__ADS_2