My Little Woman

My Little Woman
Menyerah


__ADS_3

Sejak Dita tau kalau Devano benar-benar sudah menikah dengan seseorang membuat Dita benar-benar sangat frustasi sekali, ia bahkan tak keluar dari kamarnya membuat kedua orang tuanya merasa sedih dan juga khawatir dengan keadaan Dita saat ini.


Tuan George berusaha untuk menenangkan Dita dan menghiburnya, Dia tau jika Dita tengah patah hati setelah tau jika Devano, laki-laki yang ia taksir, laki-laki yang ia cintai kini telah membina rumah tangga dengan orang lain. Walaupun ia melihat Dita yang tengah sedih dan frustasi seperti ini, menurutnya ini jauh lebih baik, ketimbang Dita harus mempermalukan diri sendiri dengan mengganggu suami orang, apalagi datang ke kantor Devano hanya untuk membuat keributan di sana.


"Sayang, kamu harus kuat Nak, mungkin Devano bukanlah jodoh kamu, siapa tau Tuhan saat ini tengh menyiapkan jodoh terbaik buat kamu," hibur Tuan George.


"Apa yang di katakan Papi benar, Nak. Kamu gak boleh larut dala kesedihan, ingatlah bahwa jodoh itu sudah ada yang mengatur. Walaupun kamu berusaha memaksakan kehendak kamu, tapi jika dia bukan jodoh kamu, maka gak akan pernah bisa bersatu, begitupun sebaliknya, walaupun kamu berusaha untuk menghindar dari seseorang, tapi jika orang itu ditakdirkan buat kamu, maka kamu akan bersatu dengannya. Dari pada kamu cuma sedih kayak gini, lebih baik kamu memperbaiki diri kamu sendiri, kamu harus rubah sifat kamu, kamu harus bisa menjadi wanita yang terhormat, tak seperti kemaren-kemarennya yang teriak-teriak sampai tak punya rasa malu gitu. Bukan cuma kamu yang malu, tapi Mami dan Papi pun juga ikut malu karena sikap kamu yang kayak gitu," oceh sang Mami.


"Apaka Papi sudah tau, siapa wanita itu?" tanya Dita tanpa melihat ke arah orang tuanya, ia tetap menghadap ke arah jendela dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Iya, Papi sudah tau," jawabnya.

__ADS_1


"Siapa?"


"Amira, karyawan di kantor Devano."


Mendengar hal itu, Dita hanya mengangguk-anggukkan kepala, dia tak menyangka jika ternyata pilihan Devano jatuh pada karyawannya sendiri ketimbang dirinya.


"Papi harap, kamu tak lagi menganggu Devano, Sayang,"


"Aku gak akan menganggu mereka, Pi. Aku sadar, apa yang aku lakukan selama ini salah. Walaupun berat, aku akan mencoba untuk mengiklaskan semuanya. Aku akan mencoba untuk melupakan rasa cintaku," jawab Dita sambil menghapus air matanya.


Sebesar apapun kesalahan Dita, nyatanya tak bisa membuat ia terlalu lama mendiamkannya dan membiarkan Dita melewati hari-hari terberatnya.

__ADS_1


"Pi, aku mau ke Amrik," ucapnya sambil melepaskan pelukan Tuan George.


"Ngapain ke sana?" tanya Tuan George kaget.


"Aku ingin melanjutkan sekolahku di sana, sekaligus aku inginn cari kerja di sana, Pi. Aku ingin membuat diriku sesibuk mungkin agar aku bisa melupakan rasa sakitku, aku juga ingin liburan untuk menenangkan hatiku dari rasa sakitnya patah hati, aku mohon tolong izinin aku ya Pi, Mi," pintanya memohon.


"Baiklah, jika itu emang mau kamu, Papi dan Mami akan mengizinkan. Asal kamu di sana harus jaga diri baik-baik, dan jangan lupa untuk terus menghubungi Papi ataupun Mami."


"Siap, Pi."


Lalul mereka bertiga pun berpelukan.

__ADS_1


"Dev, mungkin berat melupakan kamu, terlebih aku tulus menyayani dan mencintai kamu, tapi aku pun tak mau menjadi penghalang kebahagian kamu, aku tau dan aku sadar, aku tak pantas buat kamu. Dan semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu, aku akan selalu mendoakan kamu Dev, karena bagaimanapun kamu adalah laki-laki yang ada di hati aku, walaupun kita tak bisa bersama, namun aku gak akan pernah melupakan kamu. Jika pun kelak aku mencintai laki-laki lain, aku pastikan, dia tak akan menggeser posisi kamu di hati aku. Karena kamu akan selalu menempati relung hati aku yang paling dalam." Dita hanya bisa mengucap semua itu dalam hati.


Ia memilih menyerah, bukan karena tak lagi cinta, tapi karena ia sadar posisinya saat ini, bahwa ia sudah kalah, kalah dalam hal merebutkan hati dan cinta Devano. Dan lagi, sejak awal, ia emang sudah kalah. Sayangnya, ia mengabaikan fakta yang terjadi, hingga membuat Devano ilfil dan jijik dengan sikapnya yang selama ini, bahkan ia pun juga malu jika mengingat sikapnya yang begitu urakan. Tanpa tau malu, berteriak layaknya di tengah hutan.


__ADS_2