
Setelah dari Mall, Devano pun mengajak Amira pulang, ia sudah tidak mood untuk mengajak Amira jalan jalan lagi. Dan Amira pun hanya bisa menganggukkan kepala, dan sepanjang jalan, mereka hanya diam diaman saja, tanpa ada yang berbicara sepatah katapun.
Dan itu benar benar tidak membuat Amira tak nyaman karena Devano seakan benar benar bungkam dan tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Mas," panggilnya karena sudah tak tahan lagi di diemin terus menerus.
"Hem," jawabnya tanpa menoleh ke arahnya. Dan fokus menyetir.
"Sayang," panggilanya sekali lagi sambil sedikit mencondongkan badannya ke arah Devano.
"Apa?" jawabnya, kali ini ia menoleh ke arah Amira namun hanya sekilas saja dan setelah itu fokus lagi ke depan.
"Cintaku, suamiku, pujaan hatiku, belahan jiwabku, pangeranku," panggilnya dengan banyak panggilan membuat Devano yang mendengarnya pun merasa geli sendiri. Namun ia berusaha untuk tetap terlihat dingin, walaupun ia sudah tak lagi merasa marah atau apapun.
"Sayang, jangan diemin aku dong, jelek tau. Kalau wajahnya terlihat dingin dan kaku gitu," ocehnya membuat Devano melototkan matanya ke arah Amira, namun bukannya takut malah bikin Amira terkekeh.
"Ih, kok melotot gitu sih, gak baik loh." ujarnya santai. Membuat Devano yang mendengarnya pun geleng geleng kepala.
"Mas, udahan dong marahnya. Aku minta maaf, aku janji mulai hari ini, aku akan berusaha untuk mengimbangimu dengan memakai pakaian yang super mahal itu, agar kamu tak lagi merasa malu dan lain sebagainya. Aku sadar aku salah, maaf kalau kata kataku tadi malah membuat hatimu terluka, tapi sungguh aku tak bermaksud seperti itu. Mungkin karena kau dari keluarga yang menengah ke bawah, jadi untuk beli baju yang super mahal seperti tadi membuatku kaget dan sok, dan aku merasa diriku begitu dzolim, karena aku membeli baju dengan harga yanga cukup fantastis, sedangkan di luar sana ada banyak orang yang kelaparan sedangkan aku di sini malah foya foya dan menghabiskan banyak uang hanya untuk baju yang aku pakai. Mungkin aku masih belum terbiasa dengan kehidupan Mas Dev, tapi aku janji, aku akan berusaha untuk berubah. Aku mohon jangan diemin aku lagi ya, plisss, aku janji deh akan melakukan apapun, agar Mas Dev, suamiku yang paling ganteng sedunia bisa maafin aku," ucapnya dengan mimik wajah sok sedih.
__ADS_1
"Kalau gitu cium aku," godanya tapi tetap memasang wajah sok dinginnnya.
"APAAA?!"
"Kalau gak mau ya sudah,"
"Eh siapa yang bilang aku gak mau, aku mau kok. Lagian cium suami sendiri kan dapat pahala," ujarnya dengan suara sedikit gemeteran. Mungkin karena ia merasa malu tapi berusaha untuk terlihat berani.
"Beneran?" tanyanya sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Iya," jawabnya sok berani.
"Eh, harus sekarang juga ya,"
"Emang maunya kamu, kapan? Tahun depan?" tanyanya. Entah kenapa ia merasa suka bisa menjahili istrinya sendiri yang terlihat polos itu.
"Sekarang juga kok, sungguh!"
"Iya udah ayo cium aku sekarang,"
__ADS_1
"Tutup dulu matamu dong,"
"Kenapa mesti di tutup?" tanyanya.
"Ya kan aku malu, ini pertama kalinya loh aku cium cowok selain ayahku, tentunya."
"Oh gitu, oke deh." Devano pun mulai memejamkan matanya, sungguh ia merasa geli, kenapa hanya ingin mendapatkan ciuman dari istrinya sendiri, ia harus malakukan hal konyol seperti ini. Padahal jika ia mau, ia bisa mencium istrinya sebanyak apapun yang ia mau.
Amira pun mencium Devano di pipinya hanya sekilas bahkan hanya hitungan detik saja, namun itu cukup buat Devano.
"Sekarang gak marah lagi kan?" tanyanya. Mendengar hal itu, Devano pun membuka mata.
"Iya," jawabnya sambil menjalankan mobilnya kembali.
"Sebenarnya ciumanmu itu sangatlah buruk, itu seperti ciuman adik kakak, tapi gak papa. Lain kali aku akan mengajari kamu bagaimana ciuman yang benar itu, terlebih ciuman sepasang kekasih," ujarnya memberitahu.
"Sudah aku kasih ciuman itu seharsunya bersyukur loh, karean mas orang pertama yang aku cium setelah ayahku."
"Ya ya, aku bersyukur. Sangat bersyukur," balasnya.
__ADS_1
Tak lama kemduian, mereka pun sudah sampai di depan istana mereka. Devano dan Amira segera turun dari mobil, lalu Devano meminta bibi untuk mengambil semua belanjaan di dalam mobil dan menaruhnya di kamar miliknya.