
Sebuah motor matic berwarna merah terlihat memasuki sebuah rumah sederhan yang terletak di penghujung kota. Dina Anastasya, dialah pemiliknya. Gadis berusia 28 tahun yang bekerja sebagai staff di perusahaan property yang cukup besar di Ibu Kota, Barasentosa Group. Dina sendiri memiliki paras yang tidak terlalu cantik, tetapi cukup manis. Orangnya juga sederhana dan sedikit cerewet juga blak-blakan.
Seperti biasa, sepulangnya bekerja Dina akan langsung masuk ke kamar. Namun, kali ini niatnya itu harus tertahan saat melihat kondisi ruang tamu lumayan ramai.
"Assalamualaikum," ucapnya dengan raut wajah bingung.
"Waalaikumsalam." Sahut semua orang memusatkan perhatian pada Dina yang baru saja masuk.
Sontak mata Dina pun tertuju pada lelaki yang amat ia kenali. Yaitu Sammy Barasatia, suami dari mendiang adiknya yang usiany terpaut dua tahu di atas Dina. Lelaki tampan dengan wajah dingin seperti sejak pertama kali ia melihatnya dulu. Namun, ada yang aneh kali ini karena Sammy datang tidak sendirian. Melainkan bersama kedua orang tuanya.
Kenapa Sammy membawa orang tuanya? Ah, mungkin memang ada kepentingan soal adik. Itulah yang Dina pikirkan.
"Dina, duduk dulu yuk." Ajak sang Mamah bangkit dari duduknya dengan senyuman lebar.
"Maaf, Mah. Dina capek, mau mandi." Tolak Dina dengan sopan. Dan ia juga agak risih karena lelaki tampan itu terus memandanginya.
"Duduk dulu, Dina. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan sama kamu." Titah sang Ayah.
Dina mengerutkan dahi. "Ada apa sih, Mah?"
"Duduk dulu." Ajak Mamah menuntun Dina duduk di sofa sederhana ruang tamu.
Dengan pasrah dan rasa penasaran, Dina pun duduk. Kebetulan sekali ia duduk tepat di hadapan Sammy. Dan anehnya lagi lelaki itu terus memperhatikannya.
Ish... kenapa dia liatin aku terus sih?
"Jadi begini, Dina. Ayah gak akan bertele-tele lagi. Kami sudah sepakat untuk menikahkan kamu dengan Sammy."
Deg!
Jantung Dina seolah melompat keluar saat mendengar pernyataan dari mulut sang Ayah. Beruntung ia masih bisa mengontrol diri sehingga tidak berteriak sangking kagetnya. "Loh, kok gitu? Kenapa harus sama Sammy?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Dina.
"Kita semua sudah kenal Sammy, dia baik dan mapan. Ayah rasa dia bisa membahagiakan kamu. Lagian usia kamu juga sudah sangat matang buat nikah, Dina. Kamu gak risih sama omongan tetangga huh?" Ujar sang Ayah lagi.
Dina menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Ayah kok main mutusin sendiri sih? Dina gak setuju ah. Sammy kan suami Maira."
"Maira udah gak ada, Dina." Terang Mamah. Menyadarkan Dina jika sang adik sudah tiada beberapa bulan lalu. Yang sampai detik ini tak ia ketahui penyebab jelasnya kenapa. Mamah dan Ayahnya hanya memberi tahu jika Maira sakit lambung. Padahal sebelumnya sang adik tidak memiliki riwayat penyakit tersebut.
Dina menatap lelaki dihadapannya. "Kenapa harus sama Sammy, Yah? Dia kan adik ipar Dina."
"Gak ada salahnya kan naik ranjang? Lagian sekarang Ayah tanya, kamu udah punya calon belum?"
Dina terdiam seketika, pasalnya ia memang belum memiliki kekasih sampai detik ini. Entah apa alasannya, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. "Yah, Dina masih mau kerja." Katanya memelas.
"Kan abis nikah bisa kerja, Dina. Alasan kamu itu gak logis. Kamu juga belum jawab pertanyaan Ayah. Kamu udah punya calon belum?"
Dina menatap Sammy sekilas. Lalu menggeleng. "Kan Ayah tahu Dina gak suka pacaran."
Sang Ayah tersenyum mendengarnya. "Begini, Dina. Sesuai tradisi keluarga kita. Dan kamu juga masih single, Sammy juga duda sekarang. Apa salahnya kalian mencoba menjalin hubungan dulu, kami kasih kesempatan buat kalian saling mengenal. Karena kamu gak mau pacaran, apa salahnya langsung nikah kan?"
Mendengar itu, Dina langsung memelototi adik iparnya itu. Sammy yang melihat itu ingin sekali tertawa karena ekspresi Dina sangatlah lucu, tetapi ia tetap mempertahankan wajah datarnya dihadapan sang Kakak ipar.
"Dina sibuk, Yah. Gak sempat pacaran." Cetus Dina.
"Lah, yang nyuruh kamu pacaran itu siapa? Ayah sama Mamah nyuruh kamu nikah bukan pacaran."
__ADS_1
Dina terdiam sejenak. "Tapi...."
"Apa salahnya sih saling kenal lebih dulu." Sela Ayah.
Lagi-lagi Dina memelototi adik iparnya itu supaya bicara. Dan yang dipelototi masih dengan ekspresi datarnya. Tentu saja hal itu membuat Dina kesal. "Hey kamu, gak setuju kan kita nikah?"
Orang tua Sammy tersenyum mendengarnya. "Sammy setuju kok, Nak Dina."
"Hah? Kok bisa setuju?" Kaget Dina dengan ekspresi lucu.
Mamah menepuk pundak Dina karena kesal dengan putrinya itu. "Kita sudah diskusiin ini sebelumnya, Dina. Sammy setuju buat nikahin kamu. Mamah gak mau lagi dengar cemoohan tetangga karena kamu gak nikah-nikah."
Dina menoleh ke arah sang Mamah. "Mamah, ngapain sih harus dengerin perkataan orang? Yang jalanin kan Dina. Jelas lah Sammy mau sama Dina, kan masih perawan." Celetuknya.
"Ish kamu ini." Mamah mencubit pelan lengan Dina, membuat gadis matang itu meringis kesakitan. "Mama tahu pemikiran kamu, tapi hati Mamah sakit pas dengar mereka ngatain kamu perawan tua, gak laku lah. Mamah gak kuat, Dina."
Dian menghela napas berat. "Tapi Dina belum siap nikah, Mamah."
"Mau sampai kapan, Dina? Semua teman kamu udah pada punya anak, bahkan ada yang dua dan tiga. Kamu itu bukan belum siap, tapi gak mau nyiapin diri."
"Mah, Maira baru meninggal tiga bulan yang lalu. Masak iya Dina nikahin suaminya?" Kesal Dina.
"Memangnya kenapa? Sammy juga siap. Lagian ini tradisi keluarga kita."
"Pemikiran kalian itu kolot tahu gak sih? Perjodohan konyol," geram Dina. Ditatapnya Sammy lekat. "Lagian apa alasan kamu mau nikahin aku huh? Aku gak punya apa-apa. Aku juga gak secantik Maira, aku...."
"Dina." Sela Ayah memperingati putrinya.
"Ayah, Dina ngomong apa adanya. Dina gak punya apa-apa dan gak secantik Maira. Semua orang juga tahu itu." Kesal Dina. Ya, Maira memang jauh lebih cantik dari pada Dina. Semua orang juga mengakui itu.
Ibu dari Sammy pun angkat bicara. "Begini saja deh, gimana kalau kalian pendekatan dulu? Sammy yang antar jemput kamu kerja. Disitu kalian bisa saling mengenal satu sama lain. Gimana?"
"Saya setuju, mulai besok Dina pulang pergi bareng Sammy." Sambar Ayah Dina.
"Ayah." Protes Dina tak terima.
"Jangan protes, Ayah udah ngasih waktu buat kamu nyari calon suami. Tapi kamu gak manfaatin itu. Mungkin kamu gak peduli soal omongan orang. Tapi Mamah kamu terganggu, Dina. Setiap malam tidurnya tidak nyenyak." Tegas Ayah Dina. Spontan Dina pun terdiam.
"Dina, Mamah mohon kali ini aja. Tolong ya terima Sammy? Kalian jalanin aja dulu." Mohon Mamah menggenggam tangan Dina.
"Kenapa jadi gini sih? Ini pemaksaan tahu gak?" Dina menghebuskan napas berat. Lalu tampak berpikir. "Iya deh Dina coba. Tapi Dina berhak nolak kan kalau gak cocok?"
"Ya, tapi Ayah rasa kalian akan cocok."
Dina menatap Sammy penuh arti, tetapi detik berikutnya ia memalingkan wajahnya asal. Sedangkan Sammy sendiri masih setia memandang Dina. Pandangan yang sulit diprediksi.
Obrolan itu pun terus berlanjut sampai Dina bosan setengah mati. Ditambah tubuhnya yang lengket membuatnya ingin segera ke kamar dan membersihkan diri.
Hingga pembicaraan itu pun usai, tidak ingin menunggu lama Dina pun bergegas ke kamarnya dengan perasaan dongkol.
"Menikahi adik ipar? Ish, terbayang saja tidak." Kesalnya seraya membanting tasnya di atas pembaringan. Wajahnya juga dibuat murung kala melihat foto dirinya dan sang adik yang terpajang di dinding. "Kenapa kamu harus pergi sih Dek? Coba aja kamu ada, pasti Kakak gak segila ini. Tolong beri tahu Mamah sama Ayah ya, kalau perjodohan ini gak bener."
Cukup lama Dina termenung. Sampai ia pun tersadar dan bergegas ke kamar mandi. Karena waktu magrib akan segera tiba.
****
__ADS_1
Keesokan harinya, Sammy benar-benar menjemput Dina ke rumah. Tentu saja gadis itu memekik kaget, tidak menyangka lelaki itu sudah ada di rumahnya. Sammy terlihat begitu tampan dengan stelan kantornya. Membuat Dina harus berusaha menyembunyikan ketertarikannya pada lelaki tampan itu.
Sialan. Kenapa dia ganteng banget sih?
"Nah, itu dia Dina. Yuk sarapan dulu." Ajak Mamah saat melihat putri sulungnya dengan senyuman lebar.
"Mah, aku udah telat." Tolak Dina dengan tatapan tajam ke arah Sammy.
"Ck, sarapan aja dulu sebentar."
"Di kantor aja sarapannya. Ayok, aku udah telat." Tanpa banyak berpikir Dina langsung menarik Sammy keluar.
Sesampainya di luar, Dina melepaskan tangan Sammy dengan kasar. Dan kembali memelototi lelaki itu. "Kamu ngapain sih pake datang segala?"
"Kita udah bahas kemarin soal ini." Jawab Sammy dengan santai.
Dina mendengus sebal. "Ya udah buruan, aku udah telat." Dengan dongkol Dina masuk ke mobil mewah lelaki tampan itu.
Seulas senyuman tipis terbit dibibir Sammy, lalu ia pun ikut masuk ke dalam mobilnya.
"Ini masih pagi, kita sarapan dulu sebentar." Ajak Sammy seraya melirik Dina yang masih terlihat kesal. Sontak Dina pun menoleh.
"Kamu budek ya? Kan aku udah bilang kalau...."
"Jam kerja perusahaan pukul delapan, ini masih jam tujuh." Sela Sammy sembari melajukan mobilnya.
"Dari mana kamu tahu?"
Sammy tidak menjawab.
"Jangan sok tahu jadi orang. Udah mending langsung antar aja ke kantor." Ketus Dina.
Sammy meliriknya sekilas tanpa kata.
"Btw, kamu gak seriusan mau nikahin aku kan?" Dina menatap lawan bicaranya dengan serius.
Sammy menoleh sekilas. "Aku serius."
"Hah? Kok bisa? Kamu gak lupa kan aku ini Kakak ipar kamu loh? Yah... aku tahu sih kamu lebih tua dari aku. Tapi kan gak lucu aja kalau kita nikah. Walaupun tradisi keluarga. Aku rasa gak perlu maksain diri buat nikah sama cewek yang gak kamu suka." Dina memasang sendu.
Sammy tidak langsung menjawab.
"Kamu bisa nolak kalau terpaksa. Jangan cuma pasrah. Aku yakin kamu juga keberatan kan? Perempuan kayak aku ini mana bisa disandingin sama kamu. Kamu itu ganteng, mapan lagi. Sedangkan aku cuma karyawan biasa. Beda sama Maira, meski dia gak kerja, tapi dia cantik. Enak dibawa kemana-mana." Imbuh Dina.
"Aku gak perlu istri cantik." Jawab Sammy dengan lugas.
Mendengar itu Dina tertawa renyah. "Bulshit, mana ada zaman sekarang cowok seganteng kamu gak perlu istri cantik. Aku rasa kamu udah punya pilihan sendiri kan?"
"Udah."
Dina terdiam sejenak mendengar jawaban Sammy. "Kalau gitu pilih aja dia, aku rasa jalur kita beda."
"Ya."
Ish, ini orang lagi irit bicara apa gimana sih? Dari tadi jawabannya singkat mulu. Au ah, terserah dia aja. Gerutu Dina dalam hati. Dan pada akhirnya ia pun memilih diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sedangkan Sammy, ia terus mencuri pandang ke arah Dina. Seolah ingin ada yang ia sampaikan, tetapi mulutnya seakan sulit terbuka.
__ADS_1
Tbc...
Hallo guys... semoga kalian suka ya sama cerita baru aku.