
Roxas mematut dirinya di depan cermin. Kemeja motif kotak-kotak halus dengan warna dasar biru muda melekat pas di badannya. Untuk bawahan, pemuda itu memilih jeans dengan warna biru dongker. Sesekali dia merapihkan rambut dengan tangannya. Pemuda itu cukup puas melihat penampilannya.
Aditya yang baru keluar dari kamar, tertegun sejenak melihat sahabatnya yang sudah berpakaian rapih. Dia mendekati Roxas yang masih belum selesai bercermin. Sepertinya si leker masih menikmati wajah tampannya di cermin.
“Rapih amat. Mau kemana?” tanya Aditya seraya menyandarkan punggung ke tembok.
“Kan udah gue bilang, hari ini gue bakal dikenalin sama orang yang bakal kasih gue kerjaan.”
“Siapa?”
“Kaga tau. Walas gue yang ngenalin. Doain ya, mudah-mudahan gue keterima kerja.”
“Aamiin.. sukses pokoknya. Kalo yang dikenalin cewek, kedipin aja,” kelakar Aditya.
“Kalo cowok?”
“Kedipin juga, hahaha..”
“Buset. Gue masih normal.”
Roxas menyambar jaket dan kunci motornya. Setelah memakai helmnya, dia berjalan keluar yang diikuti Aditya dari belakang. Beberapa kali Roxas mencoba menghidupkan motornya namun tak berhasil. Dia menggaruk kepalanya, kemudian membuka tanki bensin seraya menggerakkan motor. Pemuda itu menepuk keningnya.
“Kenapa? Abis bensin lagi?”
“Iye. Gue lupa kemarin abis dari rumah Sandra ngga isi bensin dulu.”
“Heuuhh kebiasaan.”
“Dit.. gue pinjem motor, lo. Boleh ngga?”
Adit masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian kembali dengan kunci motor di tangannya. Tak lupa dia mengambil STNK dari dompet lalu memberikannya pada Roxas.
“Ketemuan di mana?”
“Di restoran hotel Amarta.”
“Hotel Amarta? Itu kan hotel tempat gue kerja.”
“Oh iya, kok gue bisa lupa.”
“Tungguin. Gue ikut deh.”
“Nah cakep tuh. Biar gue ngga grogi.”
Aditya kembali masuk ke dalam rumah. Tak lama dia keluar dengan tubuh sudah terbalut jaket dan kepala tertutup helm. Setelah mengunci pintu rumah, pemuda itu menuju motornya. Dia membiarkan Roxas yang mengendarai motornya.
Jarak kontrakan haji soleh dengan hotel tempat Aditya bekerja tidak terlalu jauh. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mereka telah sampai di hotel. Aditya mengangkat tangannya ketika motornya melewati pos satpam. Kendaraan roda dua itu terus melaju memasuki basement hotel.
Setelah memarkirkan motor ke tempat biasa, kedua pemuda itu berjalan keluar basement dan masuk ke dalam hotel lewat pintu depan. Seorang resepsionis yang mengenali Aditya langsung melemparkan senyumnya pada pemuda itu.
“Ciee.. punya banyak penggemar juga di mari,” goda Roxas.
“Paan sih.”
“Cantik, Dit.”
“Cantikan Dewi.”
“Iya dah yang udah bucin ama nyi pelet hahaha…”
Aditya hanya menggelengkan kepalanya. Keduanya terus berjalan menuju restoran yang ada di sayap kanan bangunan. Dari pintu masuk Aditya dapat melihat Adrian sudah duduk menunggu di meja yang ada di bagian sudut. Mereka pun segera menghampiri meja tersebut.
“Pak..” tegur Roxas.
Adrian menolehkan kepalanya lalu mempersiapkan Roxas untuk duduk. Dia terkejut melihat Aditya yang juga datang bersama mantan anak didiknya itu. Aditya menarik kursi di samping kanan Adrian.
“Ngga kerja?” tanya Adrian pada Aditya.
“Libur, bang. Kak Lita belum datang?”
“Belum. Masih ada kerjaan dikit katanya.”
Roxas memperhatikan dengan seksama interaksi Adrian dan Aditya. Tak lupa dia meneliti wajah kedua pria itu bergantian. Ternyata jika dilihat dengan seksama, wajah mereka memiliki kemiripan. Lalu Roxas teringat akan motor yang dipakai Aditya, dia yakin kalau motor itu adalah milik Adrian. Karena pernah mendorong motor bolak-balik dari sekolah ke tukang tambal ban. Dia cukup hafal dengan plat nomornya.
“Maaf nih.. pak Adrian abangnya Adit, ya?” terka Roxas.
“Iya, Xas. Bang Ad emang abang gue, abang tulen bukan abang ketemu gede. Cuma gue dilarang bilang sama kalian pas ngelatih band. Takut kalah pamor sama gue, hahaha..”
Sebuah toyoran mendarat di kepala Aditya, sang pelaku tak lain sudah pasti Adrian. Roxas hanya melemparkan cengiran khasnya saja. Dia lalu teringat pada Dewi. Bagaimana perasaan sang sahabat, kalau dua lelaki yang tengah dekat dengannya adalah kakak beradik. Baru membayangkan saja, kepalanya sudah pening.
“Sorry telat.”
Lamunan Roxas buyar ketika mendengar sebuah suara yang lembut. Sontak dia menolehkan kepalanya. Untuk beberapa saat pemuda itu hanya terpaku melihat Yulita yang tengah menarik kursi di sampingnya. Tak sadar, mulutnya sampai menganga melihat kecantikan dan keanggunan Yulita. Aditya sampai menyentuh dan mendorong ke atas dagu Roxas agar mulutnya tertutup.
“Sudah beres pekerjaannya?” tanya Adrian.
“Sudah. Ini.. yang mau kerja?” Yulita melihat pada Roxas, hati pemuda berwajah blasteran itu langsung cenat cenut.
“Iya. Kenalkan ini Roxas.”
“Hai.. aku Yulita.”
Yulita menyodorkan tangannya pada Roxas yang langsung disambut oleh pemuda itu. Telapak tangan Yulita terasa begitu lembut seperti tangan bayi saja. Roxas terus memegang tangan Yulita sambil melihat pada wanita itu tanpa berkedip.
“Ehem!”
Deheman Adrian sontak membuat Roxas melepaskan genggamannya. Dia mengusap tengkuknya karena malu sudah berlaku konyol di depan mantan wali kelasnya itu. Aditya hanya terkekeh saja melihat reaksi Roxas. Dia memang sudah menduga kalau respon Roxas akan seperti ini, mengingat cerita Dewi kalau sahabatnya itu menyukai wanita yang lebih dewasa. Itulah alasannya ingin ikut dalam pertemuan ini.
“Jadi gimana, Ta? Kerjaan untuk Roxas sudah ada?”
__ADS_1
“Ada, Ad. Cuma seperti yang aku bilang, untuk sementara aku tempatkan di bagian yang lowong dan statusnya juga bukan DW kontrak. Ngga apa-apa kan Xas?” Yulita melihat pada Roxas yang masih terkesima pada wanita itu.
“Ngga apa-apa..” suara Roxas terdengar mengambang.
Adrian menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Baru kali ini dia melihat Roxas terpesona pada perempuan. Biasanya dia menjadi pusat perhatian pada gadis di sekolah. Yulita yang dilihat begitu intens oleh Roxas jadi malu sendiri.
“Besok kamu sudah bisa mulai kerja. Kamu kerja di bagian FO, lebih tepatnya diperbantukan sebagai concierge merangkap bell boy.”
Adrian langsung menolehkan kepalanya pada Yulita. Raut wajahnya menunjukkan keheranan sekaligus tanda tanya. Seingatnya dia pernah meminta Yulita untuk tidak menempatkan Roxas di bagian depan yang berhubungan langsung dengan para tamu.
“Ta, kamu yakin itu posisi untuk Roxas?”
“Iya. Tenang aja, dia hanya bertugas menyambut tamu di depan pintu masuk. Sedang staff concierge-nya ada di front desk. Nanti dia yang akan berhubungan dengan tamu.”
“Maksudnya jadi patung selamat datang gitu?” celetuk Roxas.
“Hahaha… ya ngga gitu juga. Selain menyambut tamu, kamu juga bisa memandu tamu menuju meja resepsionis, menunjukkan jalan ke lift atau membantu tamu mengangkat barang bawaan,” jelas Yulita.
“Kalau ada yang nanya-nanya gimana kak? Apalagi kalo tamu bule? Jangan salah kak, nih orang, muka bulenya kamuflase doang. Aslinya mah Sule hahahaha…” timpal Aditya.
Adrian tak dapat menahan tawanya mendengar celetukan sang adik. Yulita pun ikut tertawa. Berbeda dengan Roxas yang hanya diam memandangi wajah Yulita yang kecantikannya bertambah saat tertawa.
“Tenang aja. Nanti arahkan aja ke front desk.”
“Aman, Xas,” Aditya menepuk lengan Roxas sambil tak henti tertawa.
“Besok kamu masuk pagi, jadwal jam tujuh. Tapi setengah jam sebelum tugas harus sudah datang. Nanti temui aja pak Asra. Dia chief conciergenya.”
“Oh, iya.”
“Tenang aja, Xas. Gue besok juga shift pagi. Nanti gue anterin ketemu pak Asra,” ujar Aditya.
“Thanks, bro.”
“Ok, kalau begitu. Aku permisi dulu, ya.”
“Makasih ya, Ta.”
“Iya, Ad.”
“Kak.. dikasih apa gitu sama bang Ad, nih,” goda Aditya sambil menurun naikkan alisnya.
“Ngga tau, Dit. Aku ajak makan malam aja nolak dia,” Yulita melirik pada Adrian. Sedang yang dilirik tak merespon apapun.
“Hahaha… bang Ad gitu loh.”
“Sampai ketemu besok ya, Xas. Ad, aku balik ke ruangan dulu. Kalau senggang kita makan siang bareng.”
“Hmm..”
Yulita berdiri kemudian meninggalkan area restoran. Dia sudah khatam betul sifat Adrian, jadinya tak aneh kalau pria itu selalu menolak atau tidak merespon ajakannya. Walau dalam hati kecilnya berharap hati Adrian akan luluh padanya suatu saat nanti.
“Tadi abang ketemu sama Rajet ngga?” tanya Aditya begitu Yulita pergi.
“Hahaha.. Asep, bang.”
“Oh Asep. Iya, tadi ketemu abang di kampus. Dia udah daftar juga kelas karyawan.”
“Syukur deh.”
“Kamu yakin ngga mau lanjut kuliah?”
“Ngga ah. Aku mau kerja aja, kumpulin duit buat nikahin calon makmum.”
“Kapan kamu mau kenalin calon makmummu?”
“Nanti, bang. Tunggu aja tanggal mainnya,” Aditya mengedipkan matanya.
Wajah Roxas sedikit tegang mendengar pembicaraan kakak beradik itu. Sepertinya Adrian tidak tahu kalau calon makmum yang dimaksud sang adik adalah Dewi. Kepala pemuda itu jadi pening lagi. Bagaimana bisa kakak adik terpikat pada perempuan yang sama. Dirinya benar-benar tak menyangka pesona Dewi Mantili bisa begitu hebatnya.
“Kalian mau pesan sesuatu?” tawar Adrian.
“Ngopi ajalah,” ujar Aditya.
Adrian mengangkat tangannya, memanggil pelayan yang berdiri di dekat meja kasir. Pelayan pria itu segera menghampiri. Dengan cepat dia mencatat pesanan Aditya dan Roxas, kemudian segera menyerahkan nota pesanan.
“Bang, aku mau nitip sesuatu buat mama. Lusa aku ke kampus, ya.”
“Kamu kasih aja sendiri ke mama. Abang mau keluar kota besok.”
“Kemana?”
“Pandeglang. Ada penelitian di sana.”
“Lama?”
“Paling lama dua minggu.”
“Hmm.. ya udah. Nanti aku ke rumah deh.”
“Abang duluan. Xas, yang rajin kerjanya.”
“I.. iya, pak.”
“Elah kaga usah bapak ngapa manggilnya,” seru Aditya.
“Ya kan walas gue, bro.”
“Udah jadi mantan walas. Tua banget abang gue dipanggil bapak. Udah panggil abang aja, biar sama kaya gue. Ngga apa-apa kan, dia panggil abang?” Aditya melihat pada Adrian.
__ADS_1
“Bebas. Senyamannya aja. Abang pulang dulu.”
Adrian berdiri, sebelum pergi, disempatkan menepuk pundak Aditya dan Roxas bergantian. Dia mampir lebih dulu ke meja kasir untuk membayar pesanan. Baru kemudian keluar dari restoran.
“Gue beneran ngga nyangka kalau pak eh bang Rian itu abang lo.”
“Gue juga ngga nyangka walas yang sering lo puji-puji itu abang gue, hahaha…”
Lain walas hungkul, Dit. Lanceuk maneh oge saingan maneh keur meunangkeun Dewi. Aahh aing jadi lieur deui, kieu carana mah (Bukan walas aja, Dit. Abang kamu juga saingan kamu buat dapetin Dewi. Aahh jadi pusing lagi kan kalo gini caranya).
“Eh.. lo sama Dewi kan sekelas, jadi bang Ad wali kelasnya Dewi juga.”
“Ya iya, masa beda. Ngaco lo mah.”
“Wuanjiirr jadi walas yang sering bikin si Dewi bengek sampe darting and turun bero itu abang gue dong hahaha…”
“Ya emang. Abang lo emang luar biasa. Baru awal ngajar aja dia udah buka aib gue ama Dewi. Itu awal kedongkolan Dewi sama abang lo.”
“Buka aib gimana?”
“Dewi kan kaga pernah mau orang tau soal nama belakangnya. Eh abang lo dengan santainya kasih pengumuman di depan kelas. Korbannya bukan cuma dia doang, tapi gue juga. Nama depan gue yang udah disembunyiin mati-matian dibongkar ama abang lo.”
“Hahaha.. abang gue kalo bikin orang darting emang jagonya. BTW emang nama depan lo apaan?”
“Aep.”
“Huahahaha… wuanjiir muka bule nama Aep hahaha…”
Aditya tak bisa berhenti tertawa begitu tahu nama depan sahabatnya ini. Dia memang hanya tahu nama Roxas saja, tanpa tahu nama panjangnya.
“Heran gue kenapa bisa nama Aep nyangkut di elo.”
“Jadi gini.. sebenarnya nyokap gue dari sejak hamil emang udah nyiapin nama Roxas buat gue. Berhubung bokap gue ngga bertanggung jawab, abis nitip saham pergi gitu aja, akhirnya kakek gue inisiatif ngasih nama belakangnya buat gue, Hidayatullah. Nah pas gue lahir, ternyata muka gue mirip ama bokap gue. Kakek gue gedeg, akhirnya dia nambahin nama Aep di depan nama gue. Sebenernya gue keki juga ama kakek gue, dia kan sebelnya ama bokap gue, kenapa pelampiasannya ke gue. Jadi gagal keren kan nama gue.”
“Huahahaha… tragis amat asal usul nama lo, hahahaha…”
Beberapa orang yang ada di restoran sampai menolehkan kepala ke meja yang ditempati kedua pemuda tampan tersebut, karena Aditya tak berhenti terpingkal. Sedang Roxas hanya diam saja seraya menyesap minumannya.
“Eh, Xas. Gue penasaran, di sekolah lo ada yang naksir abang gue ngga?”
“Banyak. Dari mulai cabe-caben sampe yang udah mateng juga ada.”
“Cabe-cabean siapa?”
“Ya murid-muridnya lah. Capernya naudzubillah, padahal abang lo juga jarang senyum tapi pada klepek-klepek kalo masuk kelas.”
“Teman-teman kelas lo?"
“Semua anak IPS ngeceng dia keles. Anak kelas 10 sama 11 juga. Belum lagi guru-guru cewek yang masih jomblo, udah kaya cacing kepanasan kalo deket bang Rian. Modus mulu, ngajak makan siang barenglah, ngendon di ruang guru atau ngajak ngobrol gaje, pada caper semua.”
“Khatam banget lo.”
“Lah iya. Gue kan tiap pulang sekolah les sama abang lo buat ngatrol nilai gue. Sepanjang gue les, kelakukan caper guru-guru cewek terpampang nyata di depan mata gue.”
“Hahaha… kalo Dewi gimana?”
Roxas terdiam sejenak, dia masih bingung harus menjawab apa. Kalau mengatakan Dewi tidak punya perasaan jatuhnya bohong, tapi kalau bilang, tak tega melihat Aditya patah hati. Apalagi saingannya adalah abang yang sangat dia sayangi dan banggakan.
“Dewi suka cerita ngga soal walasnya ke elo?” akhirnya Roxas memilih jalur aman, mengembalikan bola panas pada Aditya.
“Dia bilang gedeg banget ama walasnya. Mana gue pernah nyemangatin dia ngerjain walasnya… hahaha… ternyata gue doain dia ngerjain abang gue, sue bener, hahaha…”
“Ya gitu deh. Awal-awal tuh gue, Dewi sama Micky sering banget dihukum ama abang lo. Si Dewi yang paling sering dapet hukuman combo. Soalnya di antara murid cewek, dia doang yang paling nyolot ama bang Rian.”
Untuk yang satu ini Roxas tidak perlu berbohong, karena awal pertemuan Dewi dan Adrian memang begitu adanya. Asalkan jangan sampai Aditya bertanya hubungan Dewi dengan mantan wali kelasnya sekarang.
“Gue ngga bisa bayangin gimana reaksi abang gue kalau tau calon makmum yang gue maksud itu Dewi, hahaha…”
Nu aya reuwas. Aahh lain bang Rian hungkul, si Dewi oge bakalan reuwas, syukur lamun teu nepi ka pingsan (Yang ada kaget. Aahh bukan bang Rian aja, si Dewi juga bakal kaget, syukur kalo ngga sampe pingsan).
“Eh.. bu Yulita masih jomblo ngga?” Roxas segera mengalihkan pembicaraan, agar Aditya tak banyak bertanya soal Dewi dan Adrian.
“Masih jomblo sih kayanya. Kenapa? Lo naksir ya?”
“Cantik bro. Kalau dia mau mengakhiri masa jomblonya sama gue, kaga bakalan nolak gue.”
“Hahaha… kak Lita emang jomblo, tapi bukan berarti dia ngga ngeceng seseorang.”
“Emang keur ngeceng saha? (emang lagi ngeceng siapa?).”
“Siapa coba?”
“Ah teu ngeunah hate kieu carana. Boa-boa bang Rian. (ah ngga enak hati kalo gini. Jangan-jangan bang Rian).”
“Hahaha… hooh.. kak Lita naksir bang Rian dari jaman kuliah. Cuma waktu itu abang lagi kesengsem sama si Ara, jadi ngga pernah dilirik.”
“Buset cantik kaya gitu kaga dilirik. Emang yang namanya Ara cantik banget?”
“Heleh cewek model ulet bulu, kerjanya cuma ghosting abang gue doang. Empet gua ama dia. Sekarang malah suka ngejar-ngejar abang gue, pengen gue tampol tuh cewek ganjen.”
“Wah.. layu sebelum berkembang euy..”
“Jangan patah semangat. Lo masih punya peluang kalo emang bener mau ngejar kak Lita. Intensitas lo ketemu ama dia kan lebih banyak dari pada sama bang Ad.”
“Wah bener oge. Gasskeun lah..”
Roxas kembali bersemangat. Dari pada pusing memikirkan cinta segi tak beraturan antara Adrian, Dewi dan Aditya, lebih baik dia memikirkan bagaimana caranya bisa kenal lebih dekat dengan Yulita dan kalau bisa menjadikan wanita itu kekasihnya. Membayangkan dirinya berpacaran dengan Yulita saja sudah membuatnya senang bukan kepalang.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Baru Roxas yang tau yeee... Itu juga udah bikin si Leker pusing tujuh keliling. Gimana kalo Dewi tau?
Yang nanya Dewi kapan naik ranjang, untuk saat ini belum, soalnya kasur Dewi ngampar di lantai, ngga pake ranjang. Coba tanya ke bu Nenden, kapan mau beliin ranjang buat Dewi🤣🤣🤣**