Naik Ranjang

Naik Ranjang
Merana


__ADS_3

Di belakang meja kerjanya, Adrian tetap berusaha fokus mengerjakan proposal yang harus diselesaikannya. Beberapa kali dia harus menghapus dan mengetik ulang proposal tersebut. Sejatinya pikiran pria itu tengah terbelah. Sejak menyakiti hati Dewi, dia tak konsentrasi bekerja. Ingin rasanya dia menanyakan keadaan Dewi, namun ditahannya. Lagi pula Adrian yakin, Dewi tidak akan pernah membalas pesan yang dikirimkan olehnya.


Adrian menghembuskan nafas lega, akhirnya dia bisa juga menyelesaikan tugasnya. Hanya tinggal dikirimkan pada Rudi dan Jaya. Nanti mereka yang akan mengerjakan sisanya. Pria itu mematikan laptop, kemudian berdiri dari kursi kerjanya. Dia lalu keluar dari kamarnya.


Semilir angin malam menerpa tubuhnya saat Adrian memilih duduk di taman belakang rumahnya. Matanya menatap langit yang terlihat gelap. Hanya ada segelintir bintang saja terlihat. Sepertinya akan turun hujan malam ini. Udara juga terasa sedikit gerah. Pikiran Adrian berkelana ke malam di mana dia menyakiti hati gadis yang dicintainya.


Maafkan aku, Wi.. mungkin di matamu aku adalah seorang pengecut, laki-laki brengsek. Tapi aku ngga punya pilihan selain melakukan ini. Aku harap suatu saat nanti kamu akan memahami dan memaafkanku.


Adrian mengangkat tubuhnya, kemudian kembali ke kamarnya. Diambilnya kembali kotak yang berisikan semua kenangan akan Dewi. Matanya menatap tanpa berkedip semua barang yang ada di sana.


“Apa aku harus membuangnya?” gumamnya pelan.


Setelah berpikir beberapa saat, pria itu menutup kembali kotak tersebut kemudian membawanya keluar dari kamarnya. Pria itu terus keluar dengan kotak di tangannya. Diletakkannya kotak tersebut di pintu, tempat di mana asisten rumah tangganya meletakkan sampah. Besok petugas kebersihan akan mengambil sampah sesuai jadwal.


Adrian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Tak lama dia kembali bangun lalu mengambil dompetnya. Ada satu foto yang belum disingkirkan olehnya. Dia mengambil foto dirinya bersama dengan Dewi saat berada di Maribaya. Sulit rasanya merobek foto tersebut. Akhirnya dia meletakkan kembali dengan posisi dibalik. Lalu pria itu bergegas keluar kamar. Diambilnya kembali kotak yang tadi sudah dibuangnya. Adrian menaruh kotak di atas lemari, di bagian paling sudut. Tak sanggup rasanya membuang semua kenangannya bersama dengan Dewi.


🌸🌸🌸


BUGH


BUGH


BUGH


Beberapa kali Adrian menendang samsak di depannya. Pagi sekali pria itu sudah meninggalkan rumah. Dia memilih pergi ke Dojang Hero, melampiaskan semua kekesalannya dengan berlatih taekwondo. Entah sudah berapa lama pria itu berlatih. Yang jelas tubuhnya sekarang sudah dipenuhi keringat.


Pria itu jatuh terduduk ketika tenaganya mulai habis. Dibaringkan tubuhnya ke lantai, dadanya bergerak naik turun. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Fajar naik ke lantai dua. Dia heran melihat mobil Adrian sudah terparkir di depan dojang sepagi ini. Pria itu lalu menangkap Adrian tengah berbaring di lantai.


“Ad…”


Mendengar suara Fajar, pria itu mengangkat tubuhnya lalu duduk bersila. Fajar mengambil minuman dari show case lalu memberikan pada sahabatnya. Tak butuh waktu lama, Adrian langsung menghabiskan minuman dalam botol tersebut.


“Lo kenapa?”


“Ngga apa-apa.”


“Dewi barusan telepon gue.”


Fajar tak melanjutkan ucapannya, menunggu reaksi sang sahabat. Namun Adrian masih setia menutup mulutnya. Akhirnya pria itu meneruskan kalimatnya.


“Dia minta dirolling waktu latihannya. Dia juga minta gue yang ngajar dia. Lo lagi ada masalah sama dia?”


Tak ada jawaban dari pria itu. Dia hanya mengesah panjang saja, seakan ada beban berat yang menggelayuti hatinya.


“Kabulkan aja apa maunya, asalkan dia tetap berlatih di sini,” akhirnya terdengar juga jawaban dari mulut Adrian.


“Sebenarnya ada apa sih? Sikap lo aneh, Dewi juga. Ada apa sama kalian? Lo udah bilang ke dia soal perasaan lo?”


Adrian hanya menggelengkan kepalanya saja. Fajar menghela nafas panjang. Seumur-umur berteman dengan Adrian, baru kali ini dia melihat sang sahabat sekacau ini. Pria itu menepuk pundak Adrian pelan, hingga melihat padanya.


“Lo udah ngga percaya lagi sama gue, sampe lo ngga mau cerita ke gue?”


“Gue harus gimana, Jar?”


“Kenapa , Ad?”


Tak sanggup menanggung semuanya sendiri, akhirnya meluncurlah cerita tentang Dewi. Apa yang dilakukannya kemarin, demi sang adik, dia sampai menyakiti perasaan gadis itu dan membuatnya membenci dirinya. Fajar yang tahu kondisi keluarga Adrian sejak lama, hanya diam mendengarkan saja sampai sahabatnya itu selesai bercerita.


Sementara di bagian depan dojang, motor Roxas dan Micky berhenti. Hari ini Roxas mengantarkan Micky untuk berlatih taekwondo. Sepertinya ucapan pemuda itu saat di rumah Dewi benar-benar akan diwujudkan. Kedatangannya disambut oleh Doni yang baru datang sepuluh menit lalu.


“Bang.. ini saya bawa teman yang mau daftar.”


“Oh temannya Dewi yang waktu itu kan?” Doni langsung mengenali Micky.


“Iya, bang.”


“Jadi juga mau latihan taekwondo.”


“Jadi, dong.”


“Bang, aku kalo mau ganti jadwal latihan bisa ngga? Soalnya jadwal kerjaku kan ngga pasti shiftnya. Kalau ganti pas libur bisa ngga?”


“Boleh aja, sih. Tapi mungkin sabeumnya ganti, takutnya Ad ngga bisa di waktu yang kamu pilih.”


“Iya, ngga apa-apa.”


“Atau lo ngomong sendiri aja sama orangnya. Kebetulan di atas ada sabeum Fajar juga. Kalo gue kan lo udah tahu jadwalnya kapan aja.”


“Sip, bang. Nitip si monyet satu nih.”


“Sue lo!”

__ADS_1


Micky melayangkan tendangan, namun dengan cepat pemuda itu berkelit. Sambil terkekeh dia naik ke lantai atas. Namun langkah Roxas terhenti ketika mendengar Adrian dan Fajar tengah berbincang.


“Jadi lo mutusin nyerah ke Dewi demi Adit? Gila, lo. Sampai kapan lo mau berkorban buat Adit? Terus Dewi, lo bisa bayangin ngga gimana perasaannya saat ini?” ujar Fajar kesal setelah Adrian menyelesaikan ceritanya.


“Terus gue harus gimana? Kalau gue bilang alasan sebenarnya, Dewi justru akan bingung. Gue ngga mau dia ngerasain itu, cukup biar gue aja yang sakit.”


“Terus gimana sekarang perasaan lo? Senang? Puas? Ad.. Adit udah besar, gue yakin dia bisa menerima semuanya. Mungkin aja dia justru tenang setelah tahu cowok yang disuka Dewi itu kakaknya sendiri.”


“Gue cuma ngga mau ngerampas kebahagiaan dia lagi. Sejak kecil dia udah kehilangan perhatian bokap, dia juga kehilangan impiannya, kehilangan rumahnya, dan gue ngga bisa lihat dia kehilangan perempuan yang disukanya.”


Suasana hening sejenak. Fajar hampir saja kehilangan kata-kata setelah mendengar penjelasan Adrian. Dia tahu betul bagaimana kondisi Aditya, bagaimana Adrian mati-matian berusaha menjadi yang terbaik untuk adiknya demi membalas semua perhatian dan kasih sayang sang ayah yang terenggut olehnya.


Roxas masih bertahan di tempatnya. Rasanya tak enak jika harus menginterupsi pembicaraan keduanya. Ingin kembali ke bawah, namun dia juga penasaran dengan percakapan mereka.


“Ad.. selama ini lo udah menjadi kakak, sahabat bahkan ayah yang baik untuk Adit. Percayalah, dia udah besar. Dia bisa mengatasi masalahnya sendiri. Lagi pula lo ngga bisa maksain hati. Kalau Dewi ngga cinta ke Adit, jangan paksa dia untuk menerima cinta Adit.”


“Gue ngga maksa dia terima Adit. Kalau pun Dewi ngga bisa sama Adit, seenggaknya bukan gue yang jadi penghalangnya. Hubungan Dewi dan Adit terjalin sebelum gue datang. Gue yang membuat Dewi berpaling. Andai gue ngga masuk, mungkin hubungan mereka baik-baik aja.”


“Stop, Ad! Berhenti nyalahin diri sendiri. Lo pikir Adit bakal berterima kasih sama elo? Dia justru bakal kecewa. Sama seperti elo, Adit juga sayang banget sama elo. Kalo dia tau cewek yang disuka lo itu Dewi. Gue yakin dia bakal suka rela ngalah.”


“Dan gue ngga mau itu terjadi. Seperti yang gue bilang, gue ngga mau dia kehilangan lagi.”


“Tapi dia sudah kehilangan. Karena hati Dewi cuma buat lo.”


Fajar beranjak dari duduknya. Percuma saja bicara dengan sahabatnya ini. Roxas bergegas turun ke bawah saat melihat Fajar berjalan ke arahnya. Dia tak mau ketahuan menguping pembicaraan.


🌸🌸🌸


To : Calon Teman Ranjang


Teh.. aku tunggu di depan, ya.


Roxas menaruh kembali ponsel ke saku celananya setelah mengirimkan pesan pada Yulita. Rencananya hari ini dia akan mengajak wanita itu berkencan. Pemuda itu mengambil ponselnya, menunggu jawaban dari wanita tersayangnya, namun belum ada jawaban darinya, namun tanda ceklis sudah berubah biru.


Dari arah basement kemudian dia melihat Yulita berjalan keluar. Senyum mengembang di wajah Roxas, akhirnya wanita yang ditunggunya datang juga. Yulita segera melangkahkan kaki menuju Roxas yang duduk di atas tunggangannya di dekat gerbang masuk hotel.


“Teteh bawa mobil?” tanya Roxas.


“Ngga.. hari ini aku sengaja ngga bawa mobil.”


“Ok, teh.”


Roxas memberikan helm pada Yulita. Wanita itu naik ke belakang Roxas, Bukan hanya tidak membawa mobil, wanita itu juga mengenakan celana panjang saat bekerja, hingga dirinya tidak harus duduk dalam posisi miring. Roxas langsung menjalankan kendaraannya, membelah jalanan kota Bandung.


“Bebas aja!”


“Teteh yang bilang, jangan terserah aku!”


“Di mana ya?” Yulita malah balik bertanya.


“Mau BIP, Ciwalk, PVJ atau di mana?”


“Ciwalk aja.”


“Ok, deh.”


Roxas melajukan kendaraannya menuju lokasi yang dipilih oleh Yulita. Perasaan pemuda itu begitu berbunga-bunga. Berharap ini akan jadi jalan pembuka dirinya bisa bersama dengan Yulita, semoga saja.


CIIITTT


Untung saja Roxas mengerem kendaraannya ketika tiba-tiba seorang nenek menyebrang tanpa melihat kanan, kiri. Tubuh Yulita sampai membentur punggung Roxas akibat acara rem mendadak. Terdengar makian dari mobil yang ada di sebelahnya karena sang nenek dengan seenak jidatnya menyebrang. Namun nenek tersebut nampak tak acuh. Dia malah menyebrang sambil berjoged, entah apa yang didengarnya dari earphone yang dipakainya.


Setelah insiden sang nenek, Roxas kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa kali pemuda itu bertemu dengan kemacetan, sebelum akhirnya sampai di Ciwalk. Dia terus memasukkan kendaraannya ke basement.


“Teteh mau makan dulu?” tawar Roxas.


“Kalau makan dulu nanti nontonnya kemaleman dong.”


“Iya juga sih.”


“Langsung nonton aja.”


“Gimana teteh aja.”


Udara dingin yang berasal dari air conditioner langsung terasa ketika keduanya memasuki gedung mall. Mereka segera menuju lantai atas, di mana bioskop berada. Beberapa pasang anak muda dan juga gerombolan ABG nampak memenuhi lobi bioskop. Yulita langsung berkeliling, memilih film apa yang akan ditontonnya.


Setelah berkeliling sebentar, akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada film drama asal negeri sendiri. Sudah beberapa kali dia melihat iklannya di televisi atau media sosial. Roxas membayar tiket sesudah Yulita memilih tempat duduk. Pemuda itu melihat jam di pergelangan tangannya.


“Teh.. masih ada sisa waktu 15 menit sebelum studio dibuka. Aku shalat dulu.”


“Aku tunggu di sini aja.”

__ADS_1


“Ok, teh.”


Roxas bergegas menuju tempat shalat yang ada di lantai bawah. Sedang Yulita memilih untuk menunggu di lobi. Wanita itu memang jarang sekali menunaikan yang lima waktu. Dan jika sedang bepergian seperti ini, dia memilih tidak melaksanakannya. Malas saja karena tidak membawa sendiri alat shalat.


Sepuluh menit kemudian, Roxas sudah kembali ke lobi bioskop. Dia mengajak Yulita membeli popcorn dan minuman. Setelahnya, mereka segera memasuki studio 1, tempat di mana film yang akan mereka tonton diputar. Suasana redup langsung menyapa indra penglihatan mereka. Keduanya segera menuju kursi mereka.


Beberapa kali Roxas nampak menguap, karena genre film yang dipilih Yulita terkesan membosankan untuknya. Beberapa kali dia berusaha untuk tetap membuka matanya, namun berat sekali rasanya. Akhirnya dia menyerah dan memilih tidur saja. Sedang Yulita menonton dengan seriusnya.


Lampu studio langsung menyala begitu film selesai diputar. Yulita tertawa melihat Roxas yang tidur dengan mulut menganga. Ditepuknya pelan lengan bule kamuflase itu. Setelah beberapa kali tepukan, akhirnya Roxas terbangun.


“Eh.. filmnya udah abis?”


“Hahaha… iya. Kamu tidur kaya kebo.”


“Ya ampun maaf. Aku paling ngga bisa nonton yang gituan. Auto mampet ini mata, hehehe..”


“Ayo.”


Yulita berdiri lalu mengajak Roxas untuk pergi dari sana. Sekeluarnya dari studio, Roxas berpamitan ke toilet untuk membasuh wajahnya. Tak lama kemudian dia kembali dengan wajah yang sudah lebih segar.


“Kemana lagi kita sekarang? Makan?” Roxas melihat jam di pergelangan tangannya.


“Eung.. boleh deh.”


Keduanya lalu meninggalkan area bioskop. Dipikir Roxas, Yulita akan makan di mall, namun ternyata dia malah mengajak Roxas ke Padaloma. Dia ingin merasakan lagi roti bakar di sana. Roxas memakaikan helm ke kepala Yulita, lalu memutar kendaraannya.


“Ayo, naik.”


Yulita naik ke belakang Roxas. Kali ini dia langsung memeluk tubuh pemuda itu. Karuan saja Roxas merasa senang. Dalam hatinya bersorak senang. Akhirnya sang pujaan hati nemplok dengan sendirinya. Sambil mengendarai tunggangannya, Roxas bercerita tentang apa saja supaya perjalanan lebih meriah.


Di tengah kebahagiaannya, sebuah insiden tak terduga terjadi. Si hejo tiba-tiba ngadat dan berhenti jalan. Beberapa kali pemuda itu mencoba untuk menyelah, namun sia-sia. Si hejo tetap teguh pada pendiriannya, mogok jalan. Roxas menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Teh.. bisa turun dulu?”


Yulita menuruti apa kata Roxas. Pemuda itu juga ikut turun dari tunggangannya, lalu membuka jok motor. Dibukanya tutup tangki bensin, kemudian menggoyangkan motornya. Sungguh pemuda itu kesal sekali, bagaimana dia bisa lupa mengisi bensin.


“Teh.. duduk dulu di sana, yuk,” Roxas mendorong motornya menuju halte yang ada di sana.


“Teh.. aku beli bensin dulu. Ini motor lupa diisi bensin.”


“Ok.”


Roxas menyebrang, kemudian menunggu angkot yang lewat. Tangannya melambai ketika sebuah angkot melintas, pemuda itu langsung naik ke atasnya. Matanya terus mengawasi kanan dan kiri, sepertinya dia tadi melihat tukang bensin eceran di jalan yang dilewatinya tadi.


Tangannya bergerak mengetuk atap angkot ketika melihat tukang bensin eceran. Setelah membayar angkot pemuda itu segera menuju tukang bensin eceran. Beberapa kali pemuda itu mencari sang penjual yang tidak ada di tempat.


“Kang.. mau beli bensin?” tanya penjaga kios rokok.


“Iya. Kemana ya orangnya?”


“Lagi pulang ke rumahnya dulu. Tunggu aja dulu.”


Pemuda itu akhirnya memilih duduk di dekat kios tersebut. Namun tiba-tiba rintik hujan turun. Roxas merutuki harinya yang sial ini. Kenapa juga di saat kencan pertamanya, si hejo ngambek dan hujan turun, ditambah sang penjual bensin eceran juga belum kembali.


“Kang.. ke sebelah sini biar ngga kehujanan.”


Penjaga kios tersebut meminta Roxas untuk berpindah tempat ke tenda pedagang kaki lima. Pemuda itu segera berpindah ke sana, sambil menunggu pedagang bensin eceran yang belum datang juga.


Hujan sudah mulai berhenti. Terlihat seseorang berlari menembus hujan lalu menuju kios penjual bensin eceran. Roxas langsung mengira orang itu adalah pemilik kios. Dengan cepat dia menghampirinya.


“Kang.. pertalite-nya.”


“Berapa kang?”


“Satu aja. Boleh kan sama botolnya? Motor saya jauh soalnya.”


“Boleh, kang. Tambahin aja buat botolnya.”


Roxas menyerahkan selembar dua puluhan dan tak meminta kembalian. Pemuda itu segera pergi dari sana. Kebetulan sekali ada angkot yang melintas. Dia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Yulita. Hampir empat puluh menit dia meninggalkan gadis itu di halte.


“Halo..”


“Halo, teh. Maaf ya, agak lama. Ini aku udah jalan ke sana,” ujar Roxas.


“Aduh maaf, Xas. Kamu kelamaan, jadi aku pesan taksi online. Ini taksinya udah datang. Aku duluan ya. Makasih buat hari ini.”


Panggilan berakhir. Roxas hanya bisa diam saja memandangi ponselnya. Ingin rasanya pemuda itu berteriak. Kenapa acara kencannya persis seperti yang dikatakan Aditya, mogok, hujan dan akhirnya Yulita memilih pulang sendiri.


Haissshhh.. urang kualat kitu? Batur keur nyeri hate, urang malah bobogohan. Tapi lain salah aing oge. Aahhh teuing.. dasar siaaal. Awas sia hejo, ku aing dikilo maneh (gue kualat gitu? Orang lagi sakit hati, gue malah pacaran. Tapi bukan salah gue juga. Tau aaahh.. dasar sial, awas hejo, gue timbang beneran nih).


🌸🌸🌸

__ADS_1


Ini yg merana dua²nya ya, Adrian sama Roxas🤭


__ADS_2