Naik Ranjang

Naik Ranjang
Maribaya We're Coming


__ADS_3

Semua murid sudah berkumpul di dekat gerbang sekolah. Roxas dan yang lainnya masih menyusun barang di bagasi mobil Hardi. Dia mengusulkan untuk mengumpulkan tas di mobil Sandra, agar mereka bisa duduk nyaman tanpa harus memangku tas.


Di tengah kesibukan mereka, kendaraan Adrian muncul. Pria itu menghentikan mobilnya di dekat Dewi yang tengah duduk di kursi tembok yang ada di trotoar dekat gerbang sekolahnya. Roxas segera menyambut kedatangan wali kelasnya.


“Sudah kumpul semua?” tanya Adrian.


“Sudah, pak.”


“Langsung berangkat aja kalau gitu.”


“Beberapa anak ikut di mobil bapak ngga apa-apa? Mobil Hardi sama Sandra penuh sama barang-barang.”


“Iya ngga apa-apa.”


“Gaaeess ayo berangkat. Sebagian ikut di mobil pak Adrian ya.”


Mendengar itu tentu saja para siswi bersorak kegirangan. Mereka berebut untuk ikut di mobil Adrian. Terpaksa Roxas dan Hardi mengatur mereka untuk ikut mobil siapa. Hanya empat orang saja yang diputuskan ikut di mobil Adrian.


Sandra segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan penumpang, sedang di kursi belakang Mila, Wulan dan Irma. Roxas menggaruk kepalanya melihat tingkah centil keempat temannya. Dia lalu melihat Dewi yang masih bergeming di tempatnya. Kemudian pemuda itu menghampiri Dewi.


“Wi.. ayo.”


Dewi berdiri dari duduknya kemudian berjalan pelan menghampiri sahabatnya. Roxas segera mengambil ransel dan bungkusan berisi makanan kemudian memegang lengan Dewi, membantunya berjalan menuju mobil Adrian.


“San, turun. Lo ikut gue.”


“Ogah, gue ikut di sini.”


“Gimana ceritanya lo ikut di mari. Ya lo naik mobil lo sendiri. Gue ngga mau bawa mobil lo kalo ngga ikut bareng gue,” ancam Roxas.


“Iya, iya.”


Walau tak rela, akhirnya Sandra turun dari mobil. Roxas menahan pintu agar tetap terbuka lalu meminta Dewi naik. Saat akan mengambil paper bag di tangan sahabatnya itu, Dewi melarangnya.


“Yang ini biar gue bawa aja.”


“Ya, udah. Seat belt jangan lupa dipake.”


Roxas menutup pintu depan, kemudian membuka pintu belakang. Ketiga teman sekelasnya sudah duduk cantik sambil memeluk tas mereka.


“Tas taro di mobil Sandra,” titah Roxas.


“Lo aja deh yang taroin,” Mila menyodorkan tas miliknya pada Roxas, diikuti oleh Irma dan Wulan.


“Tangan gue cuma dua. Kaga lihat udah penuh,” Roxas mengangkat kedua tangannya yang memegang ransel Dewi dan bungkusan plastik.


“Lagian gue bukan kacung lo lo pada. Turun! Taro sendiri!” sambungnya.


Mau tak mau ketiga gadis itu turun. Mereka tak berani melawan apa kata Roxas. Kalau pemuda itu sudah keluar tanduknya, lumayan ngeri juga. Ketika ketiganya turun, Adrian masuk ke dalam mobil. Dia melihat Dewi yang sudah duduk di kursi samping pengemudi sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran jok. Melihat Adrian, Dewi segera memberikan paper bag di tangannya.


“Ini jaket bapak. Maaf baru sekarang kembaliinnya.”


“Kamu sakit?”


“Ngga.”


Adrian segera menempelkan punggung tangannya ke kening Dewi. Dia dapat merasakan suhu tubuh gadis itu yang di atas suhu normal.


“Kalau sakit ngga usah ikut. Saya antar pulang aja.”


“Ngga mau. Saya mau ikut ke vila.”


“Kamu lagi ngga sehat. Jangan memaksakan diri.”


“Ngga mau. Pokoknya saya mau ikut, hiks.”


Adrian terkejut melihat Dewi yang tiba-tiba menangis. Gadis itu kesal, baik Aditya maupun Adrian sama-sama memintanya tidak ikut ke vila. Pria itu menghela nafasnya sejenak. Kemudian mengambil jaket dari dalam paper bag dan membuka sabuk pengaman di tubuh muridnya.


“Pakai jaketnya.”


Dewi menegakkan tubuh kemudian memakai jaket Adrian kembali. Adrian menarik resleting jaket kemudian memasangkan kembali sabuk pengaman ke tubuh Dewi. Setelah itu dia mematikan AC dan membuka kaca jendela sedikit. Di saat bersamaan Mila, Wulan dan Irma masuk ke dalam mobil.


“Sudah beres?” tanya Adrian.


“Sudah, pak.”


Melihat mobil Hardi dan Sandra sudah mulai bergerak, Adrian pun segera menjalankan kendaraannya. Di belakangnya menyusul mobil Saddam dan Willy. Iring-iringan kendaraan mulai bergerak meninggalkan sekolah.


“Mila, coba kamu telepon Hardi atau Roxas. Bilang saya mau mampir dulu ke mini market. Jangan terlalu ngebut jalannya.”

__ADS_1


“Siap pak.”


Dengan cepat Mila melakukan apa yang diperintahkan wali kelasnya itu. Dia memilih menghubungi Hardi yang lebih ramah lingkungan karena sedari tadi Roxas terus membentaknya.


Adrian menghentikan kendaraannya di depan Alfabeta mart, kemudian turun dari mobilnya. Para gadis hanya duduk diam dan memandangi sang wali kelas yang entah membeli apa. Sepuluh menit kemudian Adrian kembali dengan membawa empat cup coklat hangat. Dia memang sengaja mampir untuk membelikan minuman hangat untuk Dewi. Tapi karena ada murid lainnya, dia juga membelikan untuk mereka.


“Ini untuk kalian,” Adrian memberikan gelas satu per satu.


“Makasih, pak,” ujar mereka bersamaan.


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali menjalankan kendaraannya. Dewi menyeruput pelan minuman yang masih cukup panas itu. Sekilas dia melirik pada Adrian yang fokus menyetir. Badannya mulai menghangat ketika minuman coklat yang dibelikan Adrian memasuki kerongkongannya, sehangat hatinya yang mendapat perlakuan manis dari sang wali kelas.


“Pak.. AC-nya dimatiin, ya.”


“Iya. Buka aja jendelanya. Tapi jangan lebar-lebar.”


Mila menuruti apa yang dikatakan Adrian. Kedua jendela bagian belakang mulai terbuka setengah. Dewi terus menyeruput minuman di tangannya, diam-diam dia tersenyum. Alasan Adrian tak menyalakan AC pasti karena dirinya.


Pukul empat sore, semuanya tiba di vila milik keluarga Hardi. Udara khas pegunungan langsung terasa ketika mereka menuruni mobil, kecuali penumpang di mobil Adrian yang sudah merasakannya sejak mobil melewati terminal Ledeng.


Vila Hardi terdapat tiga buah kamar tidur. Setelah berunding sebentar, Hardi memutuskan satu kamar dipakai Adrian dan dua kamar lainnya untuk para gadis. Sedang para jejaka tidur di ruang tengah yang cukup luas. Dia memang sudah menyiapkan karpet, surpet dan kasur lipat serta beberapa selimut untuk mereka tidur nanti.


Dewi berada satu kamar dengan Sheila, Mila, Sandra dan Irma. Karena masih tak enak badan, gadis itu memilih merebahkan diri setelah shalat ashar. Sheila yang tahu Dewi sedang kurang sehat menyelimuti tubuh Dewi dengan selimut.


“Sorry ya, gue ngga bisa bantu siapin makan malam.”


“Makan malam udah ada yang ngurus, tenang aja. Mending lo istirahat,” ujar Sheila yang diangguki oleh lainnya.


🌸🌸🌸


Malam menjelang, udara di sekitar vila semakin menusuk tulang. Roxas dan kawan-kawan sudah berkumpul di halaman belakang. Jaket tebal telah melekat di tubuh mereka. Maklum saja, di musim kemarau ini, suhu di daerah Lembang dan sekitarnya bisa mencapai 17 derajat Celsius. Mereka duduk mengelilingi api unggun, sambil membakar jagung.


Adrian menghampiri anak muridnya yang sedang berkumpul di halaman belakang. Pria itu mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada di sana. Matanya memandangi satu per satu yang ada bersamanya, namun dirinya tidak bisa menemukan keberadaan Dewi.


“Xas, Dewi mana?” tanya Adrian.


“Lagi istirahat di kamar, pak.”


“Masih sakit?”


“Kayanya sih. Tapi kata Sheila tadi udah minum obat. Lagi tidur kali.”


“Bagaimana keadaanmu?”


“Mendingan, pak.”


“Udaranya dingin. Pakai pakaian berlapis.”


Sejenak Dewi termangu, apa yang dikatakan Adrian barusan sama persis yang dikatakan Aditya padanya. Adrian melambaikan tangan ke depan wajah Dewi, membuat gadis itu terbangun dari lamunannya.


“Malah ngelamun.”


“Eh.. euungg.. u.. udah kok pak.”


“Udah apa?”


“Udah pake baju berlapis.”


“Bagus. Kaos kakinya juga pake.”


“Nanti aja kalau mau tidur.”


“Pake sekarang. Di luar dingin.”


Dewi terpaksa kembali ke dalam kamar untuk memakai kaos kaki. Tak lama dia kembali dengan kaki terbungkus kaos kaki. Dia juga membawa sandal di tangannya. Dengan isyarat kepala Adrian mengajak Dewi ke halaman belakang. Gadis itu kemudian mendudukkan diri di dekat Roxas dan Adrian mengambil tempat di sampingnya.


“Gaeess besok kita berangkat pagi ya, jam tujuh harus udah siap semua,” ujar Hardi.


“Besok rencananya kita kemana dulu nih?” tanya Micky.


“Kita ke curug Omas dulu aja. Ada pemandunya penduduk sini, soalnya gue juga ngga hafal treknya.”


“Kita ke curug Omas aja? Apa sekalian ke Tahura?” tanya Micky.


“Buset jauh kalau ke Tahura jalan kaki, bisa langsing mendadak gue,” protes Bobi.


“Dasar lemah, kebanyakan lemak sih,” ledek Micky yang disambut gelak tawa.


“Sue lo. Pikir aja ama otak, lo. Nih kita posisi di Maribaya, jalan ke curug Omas aja udah lumayan jauh, terus nyambung ke Tahura. Lo tau kan Tahura tuh di dago pakar, bayangin kita bakalan jalan Maribaya-Dago-Maribaya, jauh koplok!” kesal Bobi.

__ADS_1


Adrian hanya tertawa mendengar perdebatan anak muridnya. Tak ada niat menginterupsi apalagi melerai, dibiarkan saja mereka beradu argument dan saling meledek sesukanya. Hardi segera menengahi perdebatan Micky dan Bobi.


“Gaaeess… gaaeesss… udah jangan ribut. Kita ngga bakalan ke Tahura karena pertimbangan jarak. Lagian repot juga kalau si Bobi pingsan di jalan. Udah berat badannya, berat juga timbangan dosanya.”


“Hahaha…”


Perkataan Hardi langsung disambut gelak tawa lainnya. Bobi yang menjadi bahan pembicaraan, nampak cuek. Dia asik memakan jagung bakar yang baru saja matang. Hardi pun melanjutkan ucapannya.


“Jadi, dari sini ke curug Omas dulu, terus lanjut ke curug Maribaya. Nah di sini kalian bisa puas-puasin deh, mau main di curug, berendam air hangat, mancing ikan, jalan-jalan di skybridge Tapak Halimun atau selfie bebas. Pokoknya jam 3 harus udah ada di titik kumpul. Buat biaya masuknya udah gue beresin dari uang kas kita, sisanya dipake buat makan siang kita di sana.”


Semua menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dewi ketar-ketir sendiri mendengar rencana perjalanan mereka besok. Apa bisa dia ikut dengan kondisinya sekarang. Badannya masih lemas dan kepalanya juga masih terasa pusing. Gadis itu pesimis bisa ikut bersama yang lainnya.


“Untuk malam ini jangan tidur terlalu larut, persiapkan diri kalian untuk besok. Perjalanan yang akan kalian tempuh cukup jauh juga,” akhirnya terdengar juga suara Adrian.


“Iya, pak,” jawab mereka serempak.


Setelah pembicaraan rencana besok selesai, kegiatan kembali dilanjutkan dengan berbincang santai sambil membakar jagung. Roxas juga tidak ketinggalan memainkan gitarnya mengajak semua untuk bernyanyi.


🌸🌸🌸


Pukul setengah lima shubuh Adrian keluar dari kamarnya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat para murid lelaki yang tidur di ruang depan dan tengah. Posisi tidur mereka tidak beraturan. Roxas dan Hardi dalam keadaan aman, karena mereka tidur di bale-bale yang ada di sana. Micky juga aman, tidur di sofa panjang yang ada di ruang depan. Di sofa sebelah, nampak Indra tertidur dengan kaki menjuntai.


Pemandangan mengenaskan justru terjadi di ruang tengah. Bobi yang ukuran tubuhnya paling besar di antara yang lain tidur dengan posisi telentang, kedua tangan dan kakinya terbuka lebar. Salah satu tangannya menindih dada Usep yang tubuhnya lebih kecil darinya. Dan di sebelah kanannya, Fathir tidur dengan nyenyaknya beralaskan lengan Bobi. Sedang Budi lebih naas, perutnya tertimpa sebelah kaki Bobi yang berukuran Jumbo.


Di bagian lain, Saddam tidur dengan posisi meringkuk. Pemuda itu mencoba menghangatkan tubuhnya dengan tidur seperti itu karena tidak kebagian selimut. Tak jauh darinya berbaring Wawan yang sama meringkuk, hanya saja wajahnya berada tepat di depan bokong Saddam. Kalau sampai Saddam menyemburkan gas beracunnya, sudah pasti semua akan terhirup habis oleh Wawan.


Di dekat meja, nampak Willy masih tertidur dengan lelapnya. Karena udara dingin membuat pemuda itu mencoba mencari kehangatan, maka sejak beberapa saat yang lalu dia sudah memeluk erat Heri yang tidur di sampingnya. Entah apa yang dimimpikannya, membuat Willy memonyongkan bibirnya seperti hendak mencium.


Adrian berjalan menuju dapur. Matanya melihat-lihat isi dapur yang tidak terlalu besar itu, seperti tengah mencari sesuatu. Kemudian tangannya bergerak mengambil panci dan juga sendok sayur kemudian kembali ke ruang tengah.


TENG


TENG


TENG


“Bangun.. bangun.. bangun…” ujar Adrian seraya memukulkan sendok sayur ke ****** panci.


TENG


TENG


TENG


Mendengar suara berisik, semua yang sedang asik bergelung dengan mimpi mulai membuka matanya. Serempak semuanya bangun, ada yang mengucek-ngucek mata, menguap, menggaruk-garuk kepala atau duduk terdiam dengan mata setengah watt, berusaha mengumpulkan kesadarannya.


“Bangun! Sudah waktu masuk shubuh. Ayo ke kamar mandi, berwudhu. Kita shalat berjamaah. Bangunkan juga teman-teman kalian yang lain.”


Mendengar titah sang wali kelas, serempak semua bangun. Sambil menunggu giliran ke kamar mandi, mereka membereskan surpet, kasur lipat dan selimut lalu menumpukkannya di bale-bale. Roxas mengetuk pintu kamar yang ditempati para gadis.


“Bangun oii!! Bangun!! Shubuh!!”


TOK


TOK


TOK


Tak berapa lama kedua pintu kamar terbuka. Para gadis juga bersiap ke kamar mandi untuk berwudhu dan bersiap untuk shalat. Karena ruangan yang terbatas, Adrian membagi waktu shalat menjadi dua termin. Termin pertama, dirinya yang akan menjadi imam dan termin kedua, Roxas yang menjadi imamnya.


Jam enam pagi, bu Lani yang diminta membuatkan sarapan sudah mengantarkan makanan yang dipesan Hardi. Nasi putih, telur balado, mie goreng dan tumis kacang panjang sudah tersedia di ruang tengah. Mengingat sebentar lagi mereka akan memulai rencana trecking, semua langsung berkumpul di ruang tengah untuk menikmati sarapan.


Dewi yang masih belum fit, tidak bisa menikmati makanannya. Hanya beberapa suap saja yang bisa masuk ke dalam perutnya. Sambil menikmati makanannya, Adrian melihat pada Dewi. Wajah gadis itu masih terlihat pucat.


Selesai sarapan dan membersihkan perabotan kotor, semua mulai bersiap-siap. Untuk acara trecking ini, Roxas menugaskan Budi, Micky dan Fathir membawa tas yang berisi perbekalan untuk mereka berupa camilan dan juga air mineral. Kemudian meminta yang sudah siap untuk menunggu di halaman depan, termasuk Dewi.


🌸🌸🌸


**Seketika pada pengen jadi Dewi nih. Sebelum berangkat diperhatiin sama Adit, pas di perjalanan diperhatiin sama pak gulu, uhuk...


Buat pembaca setia Scandals.. Sesuai janji, mamake kasih visual Arland dan Adis, ya. Yang belum baca, cuss ke sebelah💃💃💃


Arland**



Adis


__ADS_1


__ADS_2