Naik Ranjang

Naik Ranjang
Janji Suci


__ADS_3

Waktu pernikahan Dewi dengan Adrian hanya menyisakan sedikit waktu lagi. Ida pun terus menyiapkan hal-hal untuk pernikahan anak sulungnya nanti. Walau untuk pernikahan nanti hanya ada akad saja, tapi bukan berarti wanita itu tidak mengurusnya dengan serius. Selain mengurus masalah konsumsi, Ida juga mencari barang-barang untuk hantaran, menyewa pakaian pengantin, rias pengantin dan juga dekorasi sederhana. Untuk mengurus itu semua, dia dibantu oleh Pipit. Sedang untuk cincin pernikahan dan mahar diserahkan sepenuhnya pada pasangan pengantin.


Wardhani dan Cahyadi yang sudah mendengar perihal pernikahan Adrian dan Dewi juga bersiap ke Bandung. Kalau tidak ada kendala, sore hari nanti kedua orang tua Ida itu sudah berada di Bandung. Kakak dan adik Ida yang lain juga akan datang di hari H. begitu pula dengan keluarga dari pihak Toni.


Sedang dari pihak Dewi, Iis dan Nandang dipastikan akan datang dengan memboyong keluarga masing-masing. Dari pihak Nenden pun, dipastikan semuanya akan datang menyaksikan pernikahan kedua keponakannya. Adrian sudah menyiapkan vila untuk keluarga dari pihak Dewi tinggal selama acara berlangsung.


Ida juga mengundang beberapa tetangga dekat, termasuk ketua RT dan RW setempat. Haji Soleh beserta istri dan anaknya juga turut diundang. Selain mereka, Amel, Farah, Lia dan Titin turut datang bersama dengan pasangan masing-masing. Begitu pula dengan para sahabat Dewi. Hardi juga turut datang, rencananya pria itu datang dengan membawa kekasihnya.


Dari pihak Adrian, sudah tentu Fajar dan Doni akan datang ke pernikahan sahabatnya itu. Selain itu, ada Ikmal, Rudi dan Jaya yang turut diundang. Tapi Adrian tidak mengundang rekannya di kampus. Pria itu akan mengundang saat resepsi saja. Tak lebih dari 100 orang saja yang akan datang menyaksikan janji suci antara dirinya dengan Dewi.


Dewi sendiri tidak kalah sibuk. Sejak sebulan yang lalu, wanita itu sudah rajin berolahraga demi mencegah tubuhnya bertambah melar. Dia memilih berlari keliling kompleks yang disambung melakukan skipping setiap pagi dan sore. Wanita itu juga tidak makan selepas jam enam sore. Saat malam Arkhan juga tidak banyak menyusu, jadi tak masalah untuknya.


Setiap seminggu sekali, Dewi rajin menimbang berat tubuhnya. Dan hari ini dia merasa senang karena kerja kerasnya membuahkan hasil. Timbangannya turun dua kilo. Lumayan untuk wanita gembul seperti dirinya yang hobi makan dengan alasan menyusui. Selesai mengeluarkan keringat, Dewi memutuskan untuk mandi. Sebentar lagi orang dari salon akan datang untuk melakukan fitting baju.


Tubuh Dewi terasa segar setelah terbanjur oleh air dingin. Benar saja, selesai mandi, seorang wanita muda sudah menunggunya untu melakukan fitting. Dia mempersilahkan karyawan dari bridal masuk ke dalam kamarnya. Dibantu oleh sang karyawan, Dewi mencoba kebaya pengantin berwarna putih yang akan dikenakan saat akad nanti.



“Bagaimana mba Dewi? Nyaman tidak?”


“Pas, mba.”


“Coba mba nya jalan-jalan dulu. Ini di bagian perut dan lengan terlalu ketat ngga?”


Dewi melakukan apa yang diusulkan karyawan salon itu. Dia juga menggerak-gerakkan tangannya. Sejauh ini dia merasa nyaman saja. Kebaya yang dikenakannya tidak terasa ketat atau mengganggu pergerakannya.


“Jadi sudah pas, ya mba. Pakaian saya tinggal saja di sini.”


“Iya, mba.”


“Ini yang buat masnya jangan lupa dicoba kalau sudah pulang kerja nanti.”



“Iya, mba.”


“Kalau begitu saya pulang dulu. Kalau ada perubahan langsung hubungi saya saja.”


“Iya, mba.”


Dibantu karyawan tersebut, Dewi melepaskan kebaya yang dikenakannya. Setelah berganti pakaian, Dewi mengantarkan karyawan tersebut ke depan rumah. Setelah wanita itu pergi, petugas dekor datang untuk mendekor halaman belakang, tempat yang akan dijadikan lokasi akad. Ida menyambut kedatangan orang-orang yang akan mendekor, lalu membawanya ke halaman belakang.


“Nanti sekalian dekor kamar pengantin kan, bu?” tanya sang petugas dekor.


“Iya. Mau dekornya nanti setelah halaman belakang atau sekarang?”


“Yang dekor kamar pengantin beda orang bu. Dia lagi di jalan.”


“Oh ya sudah.”


Petugas dekor mulai bekerja membuat background untuk pasangan pengantin saat melakukan akad nanti. Beberapa orang keluar masuk membawakan barang dan peralatan untuk mendekor. Bi Parmi datang membawakan makanan dan minuman untuk mereka semua. Dia meletakkan makanan dan minuman di atas meja, kemudian kembali ke dapur.


🌸🌸🌸


Sore harinya, sepulang dari kampus, Adrian menjemput kakek dan neneknya ke bandara Husein Sastranegara. Pria itu langsung membawa keduanya menuju kediaman orang tuanya. Sesampainya di rumah kesibukan masih berlangsung. Halaman belakang belum sepenuhnya selesai. Petugas dekorasi masih harus mengatur meja prasmanan dan juga menyusun kursi-kursi.


Ida membawa kedua orang tuanya ke kamar yang ditempati Pipit dahulu. Kamar tamu yang biasa digunakan oleh mereka, sedang disulap menjadi kamar pengantin. Kamar tersebut sengaja dipilih karena memiliki kamar mandi di dalamnya, jadi pengantin akan merasa lebih privat.


“Pipit mana?” tanya Wardhani begitu masuk ke dalam kamar.


“Lagi mengantar keluarga Dewi ke vila.”


“Semua persiapannya sudah selesai?”


“Sudah, bu. Tinggal dekorasinya saja.”


“Hantarannya bagaimana?”


“Hantaran juga sudah selesai.”


“Makanan?”


“Makanan juga sudah siap. Aku kan pesan ke catering.”


Wardhani hanya menganggukkan kepalanya saja. Wanita itu lega sang anak sudah selesai melakukan persiapan. Walau hanya akad, namun perayaannya juga harus tetap spesial. Apalagi Ida hanya tinggal menikahkan Adrian saja. Tentunya dia ingin melakukan yang terbaik untuk anak satu-satunya itu.


Mengetahui Adrian yang sudah sampai rumah, Dewi mengambil beskap yang nanti akan dikenakan Adrian lalu membawa ke kamarnya. Dia mengetuk pintu lebih dulu, dan masuk setelah mendengar suara Adrian. Nampak pria itu sedang bermain di atas kasur bersama Arkhan selesai membersihkan diri.


“A.. ini beskapnya dicoba dulu.”

__ADS_1


“Iya, nanti.”


“Sekarang. Kalau kekecilan atau kebesaran bisa langsung ditukar.”


Mendengar ucapan Dewi, Adrian bangun dari posisinya lalu mengambil beskap dari tangan Dewi. Dia langsung mencoba pakaian tersebut tanpa melepaskan pakaian yang dikenakannya.


“Bukannya dibuka dulu kaosnya.”


“Kaosnya tipis, ngga ngaruh juga. Pas kok ini.”


Dewi merapihkan beskap yang dikenakan Adrian. Setelah yakin kalau ukurannya pas, dia bantu melepaskan beskap lalu menggantungnya di dekat lemari.


“Celananya ngga dicoba?”


“Ukurannya sama kaya punyaku, ngga usah dicoba. Udah pas itu.”


Dewi menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari kamar tersebut. Dia segera kembali ke kamarnya. Di sana Sandra, Sheila dan Mila sudah menunggunya untuk membantu wanita itu melakukan maskeran. Tak lupa Sandra membantu Dewi melakukan perawatan kuku kaki dan tangan.


“Ngga kerasa ya, Wi. Besok lo bakalan dibayar tunai sama pak Rian,” celetuk Mila.


“Mudah-mudahan ini menjadi pernikahan terakhir elo. Langgeng terus sampai kalian dapet anak dan cucu dan hanya maut yang memisahkan.”


“Aamiin,” Dewi menanggapi doa yang diucapkan Sandra.


“Mas kawinnya apa, Wi?” tanya Mila penasaran.


“Seperangkat alat shalat sama kalung emas.”


“Duh ngga sabar deh lihat akad kalian,” ujar Sheila.


“Lo kapan nyusul, Shei?” tanya Sandra.


“Nanti abis lulus kuliah, baru Rivan ngelamar gue.”


“Mudah-mudahan lancar ya, Shei.”


“Aamiin.. makasih Wi.”


Sambil terus berbincang, Sheila, Sandra dan Mila membantu Dewi melakukan perawatan wajah dan juga tubuh. Sesekali terdengar tawa mereka saat mengenang kejadian-kejadian lucu saat sekolah dulu.


🌸🌸🌸


Roxas yang didaulat sebagai penerima tamu, segera mengarahkan tamu yang datang menuju halaman belakang yang sudah disulap menjadi tempat akad.



Tak jauh dari meja akad terdapat sebuah meja yang memajang hantaran pernikahan dan juga kue pernikahan. Di sisi kiri, meja prasmanan sudah siap dengan aneka hidangan.




Para tamu segera menempati kursi yang sudah disiapkan. Sedang kedua penganti masih bersiap di dalam kamar sambil menunggu sang penghulu datang. Setelah mengantar para tamu, Roxas segera menuju kamar Adrian, untuk melihat kesiapan sang calon pengantin. Di kamar sebelah, Dewi ditemani Pipit dan Iis juga tengah bersiap.


Motor yang dikendarai Doni berhenti di depan kediaman sahabatnya. Tak lama di belakangnya, menyusul Fajar yang juga datang menggunakan kendaraan roda dua. Di belakang pria itu duduk, wanita yang sudah sebulan ini dekat dengannya. Setelah melepaskan helmnya, Doni menunggu sang sahabat yang baru memarkirkan kendaraannya.


“Sendirian aja, Don?” tanya Dita, wanita yang datang bersama dengan Fajar.


Sejak sebulan lalu, hubungan Dita dengan Fajar memang dekat. Setelah kepergian Aditya, wanita itu memang berniat membuka hati untuk pria lain. Tak disangka, berawal dari kebersamaan mereka di dojang hero, kedekatannya dengan Fajar mulai terjalin. Pria yang awalnya menjadi sabeum, kini sudah berubah status menjadi kekasihnya. Fajar juga menerangkan pernikahan siapa yang akan mereka datangi dan alasan dibalik pernikahan tersebut agar Dita tidak salah paham nantinya.


“Ngeledek,” cetus Doni.


Fajar hanya terkekeh mendengar jawaban Doni. Sambil menggandeng tangan Dita, pria itu masuk ke dalam rumah disusul oleh Doni. Ketiganya langsung menuju halaman belakang. Ternyata hampir semua undangan sudah datang. Mereka mengambil tempat di kursi yang kosong.


Toni menyambut kedatangan petugas KUA dan mengajaknya menuju halaman belakang. Mengetahui sang penghulu sudah tiba, Roxas segera mengajak Adrian menuju halaman belakang. Pria itu lebih dulu menarik nafas panjang beberapa kali sebelum keluar kamar lalu menuju halaman belakang.


Adrian segera menuju meja akad. Di sana sudah terdapat bingkisan mahar untuk Dewi, calon istrinya.



Pria itu lalu mendudukkan diri di depan Nandang, paman Dewi yang akan menjadi wali nikah sang keponakan untuk kedua kalinya. Di samping Nandang, sang penghulu duduk tenang. Pria itu sedang memeriksa kelengkapan dokumen kedua mempelai. Di samping kanannya duduk haji Soleh yang menjadi saksi pihak perempuan. Sedang dari pihaknya, Roxas yang menjadi saksi.


“Sareng akang Adrian Pratama, leres? ( dengan aa Adrian Pratama, betul?).” tanya sang penghulu.


“Betul, pak.”


“Status perjaka, teu acan gaduh buntut, leres? (status perjaka, belum punya buntut, betul?).”


“Betul, pak.”

__ADS_1


“Calonna neng Dewi Mantili binti Herman Suherman, leres? (calonnya Dewi Mantili binti Herman Suherman, betul?).”


“Betul, pak.”


“Hebat euy si akang, calonna pendekar. Atuh kedahna nami akang teh Patih Gutawa nya (hebat si akang, calonnya pendekar. Seharusnya nama akang, patih Gutawa).”


“Hahaha..”


Terdengar gelak tawa dari tamu yang datang. Adrian hanya tersenyum saja menanggapi guyonan penghulu tersebut. Pria yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu melanjutkan tanya jawabnya dengan sang calon pengantin. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi ketegangan mempelai pria.


“Akang teh bade nikah sareng neng Dewi pedah naon? Bogoh atanapi kapaksa? (akang nikah sama neng Dewi karena apa? Cinta atau terpaksa).”


“Bogoh, pak (cinta, pak),” jawab Adrian sambil tersipu malu.


“Alhamdulillah, upami bogoh mah bakalan lancar jaya ieu mah (Alhamdulillah, kalau cinta bakal lancar jaya).”


“Naon nu dipika bogoh teh? (apa yang membuat cinta?).”


Adrian cukup bingung menjawab pertanyaan sang penghulu. Dia melihat pada Nandang yang hanya mengulum senyum saja. Melihat Adrian yang hanya diam saja, sang penghulu melanjutkan godaannya.


“Pedah neng Dewi macan gersang nya matak bogoh? (karena neng Dewi macan gersang ya, makanya cinta).”


“Hah?” hanya itu saj yang keluar dari mulut Adrian.


“Naon macan gersang teh, pak? (apa macan gersang, pak?),” celetuk Roxas.


“Manis cantik segar dan merangsang.”


“Uhuuuuyyyy…”


Terdengar teriakan dari para tamu yang datang. Adrian menundukkan kepalanya, wajahnya sudah bersemu merah mendengar kalimat sang penghulu yang luar biasa membuatnya tak bisa berkata-kata.


“Mas kawin, cincin pernikahan tos aya? (mas kawin, cincin pernikahan sudah ada?).”


“Sudah, pak.”


“Sok atuh derr keun. Tapi urang latihan heula, bisi salah (ayo kita langsung lakukan. Tapi latihan dulu, takut salah).”


Sang penghulu memberi tanda pada Nandang untuk menjabat tangan Adrian. Pria itu mempersilahkan Nandang untuk mengucapkan kalian ijab. Dia juga menerangkan pada Adrian untuk langsung menjawab setelah Nandang menekan tangannya.


“Ananda Adrian Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya, Dewi Mantili binti Herman Suherman dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan kalung emas seberat 15 gram dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Mantili binti Herman Suherman kepada saya dengan mas kawin tersebut tunai!”


“SAAHH!!” ujar para tamu disusul suara tepuk tangan.


“Teu acan.. karek latihan ieu teh (belum, baru latihan ini).”


“Hahaha..”


“Engke upami tos akad nu bener, terus sah ulah dikeprokan tapi didoakeun. Kade ulah dikeprokan, tapi didoakeun. (nanti kalau sudah akad yang enar, jangan tepuk tangan tapi didoakan. Awas jangan tepuk tangan tapi di doakan).


Doanya seperti doa nabi Muhammad ketika menikahkan anaknya Fatimah Az-Zahra. Barokallaahu lakumaa wa 'alaikumaa wa as'ada jaddakumaa wa akhroja minkuma al-katsiroth thoyyib. Atau minimal dengan ucapan hamdallah. Itu lebih baik dari pada tepuk tangan. Bukannya tidak boleh, hanya saja penempatannya yang tidak tepat. Karena pernikahan adalah ibadah, jadi harus diakhiri dengan doa atau hamdallah. Mengerti ya bapak ibu?”


“Mengerti.”


Sekali lagi sang penghulu meminta Nandang untuk memegang tangan Adrian. Kali ini ijab Kabul yang sesungguhnya akan dilakukan. Adrian menarik nafas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Dia terus mengingat kata-kata yang harus diucapkannya di saat penting ini.


Nandang membaca kembali kertas yang berada di dekatnya. Di sana tertulis apa yang harus dikatakannya. Setelah benar-benar siap, pria itu menjabat erat tangan Adrian. Setelah menarik nafas panjang, pria tersebut memulai ijabnya.


“Ananda Adrian Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya, Dewi Mantili binti Herman Suherman dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan kalung emas seberat 15 gram dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Mantili binti Herman Suherman kepada saya dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Kumaha, sah? (bagaimana sah?).”


“SAH!!” jawab kedua saksi dan para undangan bersamaan.


“Alhamdulillah,” ujar yang lain.


“Alhamdulillah,” Adrian mengusap wajah dengan kedua tangannya.


“Barokallaahu lakumaa wa 'alaikumaa wa as'ada jaddakumaa wa akhroja minkuma al-katsiroth thoyyib.”


Terdengar sang penghulu dan haji Soleh membacakan doa tersebut yang langsung diamini oleh Adrian dan juga semua yang hadir. Perasaan Adrian lega sekaligus bahagia, kini dirinya sudah resmi menyandang status suami dari Dewi Mantili, wanita pujaan hatinya.


🌸🌸🌸


**Alhamdulillah SAH, satu anakku udah nikah🤭 Tinggal resepsinya aja.

__ADS_1


Jangan lupa amplopnya ya. Jangan bawa keresek aja. Itu amplop juga harus ada isinya, minimal yang warna biru, jangan kertas pake tulisan MAAF ANDA BELUM BERUNTUNG atau COBA LAGI🤣**


__ADS_2