Naik Ranjang

Naik Ranjang
Family Time


__ADS_3

Setelah menidurkan Arkhan, Dewi mencari keberadaan suaminya. Dia masuk ke dalam kamar Adrian, namun tak mendapati pria itu. Lalu Dewi menuju kamar Aditya yang dulu ditempatinya. Saat membuka pintu dia melihat Adrian tengah duduk di sisi ranjang, matanya menatap figura di tangannya.


Perlahan Dewi berjalan mendekat. Mata Adrian terus memandangi wajah Aditya yang ada di figura. Wanita itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan suaminya. Pelan-pelan Adrian mengangkat kepalanya lalu melihat pada Dewi.


“Aa..”


“Aku.. merindukannya. Sangat merindukannya.”


Dewi mendekat lalu memeluk suaminya. Kedua tangan pria itu memeluk pinggang istrinya dan menenggelamkan wajah di perut Dewi. Adrian mulai menangis, punggungnya nampak bergetar. Sesekali Dewi menengadahkan kepalanya, tangannya bergerak menghapus airmata di wajahnya.


Sepulang dari café, Adrian memang lebih banyak diam. Pria itu bisa menahan perasaannya saat di café tadi. Tapi tidak sepulangnya. Dia langsung menuju kamar sang adik dan terus memandangi wajah Aditya. Dewi mengeratkan pelukannya di tubuh Adrian.


“Kenapa dia tidak pernah menemuiku? Kenapa tidak pernah datang ke mimpiku?”


Kembali terdengar suara Adrian di sela-sela tangisnya. Dewi hanya mampu membungkam mulutnya. Kerongkongannya serasa tercekat dan tak mampu mengeluarkan kata-kata. Wanita itu menghapus airmatanya, kemudian melepaskan pelukannya. Dia berjongkok di depan Adrian


“Aa pasti kangen banget sama mas Adit. Aku juga. Tapi aa ngga boleh seperti ini. Airmata kita hanya akan memberatkannya saja. Aa yang bilang itu padaku. Kita hanya perlu mendoakannya saja, kan?”


Adrian menganggukkan kepalanya seraya menghapus airmatanya. Ditariknya Dewi lalu mendudukkan di atas pangkuannya. Kembali dipeluknya tubuh sang istri, untuk beberapa saat pria itu mencoba menenangkan dirinya.


“Arkhan mana?”


“Udah tidur. Aa ngga mau tidur? Sudah malam juga.”


“Ehmm.. ayo kita tidur.”


Adrian mengurai pelukannya. Tangan Dewi bergerak menghapus sisa airmata di wajah suaminya. Dia melemparkan senyum manis pada suaminya dan Adrian pun membalasnya. Dia mendaratkan ciuman di kening Dewi lalu menurunkan wanita tersebut. Sambil memeluk pinggang Adrian, Dewi keluar dari kamar.


Begitu sampai di kamar tamu yang mereka tempati, Adrian langsung menuju box tempat Arkhan tidur. Adrian terus memandangi wajah tampan anaknya. Dia seakan sedang melihat Aditya yang tidur dengan damai. Dulu sewaktu kecil, dia juga sering memandangi sang adik jika tertidur pulas.


“Arkhan, benar-benar duplikat Adit,” ujar Adrian sambil terus menatap Arkhan.


“Mas Adit memberikan kenangan terindahnya untuk kita semua. Seolah dia tahu kalau kita merindukannya, hanya dengan melihat Arkhan, kerinduan kita akan terobati.”


“Kamu benar.”


Dewi membalikkan tubuhnya, kemudian melihat pada Adrian. Kedua tangannya ditangkupkan pada wajah sang suami.


“Besok gimana kalau kita jalan-jalan?”


“Kamu mau kemana?”


“Kemana aja. Kita main bertiga dengan Arkhan. Kasihan Arkhan, aa sibuk ngajar, aku juga sibuk kuliah. Sudah dua minggu dia ngga diajak main.”


“Ok.. besok kita main.”


Senyum mengembang di wajah Dewi. Adrian menghadiahkan ciuman di bibir istrinya kemudian mengajaknya tidur. Dewi mendekatkan tubuhnya pada Adrian kemudian masuk ke dalam pelukannya. Sambil mengusap punggung Dewi, Adrian mendekatkan wajahnya dan kembali mencium Dewi.


🌸🌸🌸


Keesokan harinya, Arkhan sudah siap untuk pergi. Kaos dan celana jeans selutut sudah melekat di tubuhnya. Dengan digendong Adrian, Arkhan keluar dari kamar. Ida langsung menyambut cucunya itu.


“Cucu nenek udah ganteng. Kalian mau kemana?”


“Mau main, ma. Udah lama Arkhan ngga diajak main. Arkhan mau main ke mana sayang?”


Adrian melihat Arkhan dalam gendongannya. Anak itu hanya meraba-raba wajah sang ayah. Dari dalam kamar, Dewi keluar dengan membawa tas perlengkapan Arkhan. Dengan anak itu dalam gendongannya, Adrian menuju mobilnya, kemudian membukakan pintu. Dewi menaruh dulu tas ke jok belakang, baru naik ke kursi penumpang bagian depan.


Setelah menaruh Arkhan di pangkuan Dewi, pria itu memutari body mobil kemudian naik ke dalamnya. Dia segera menyalakan mesin mobil dan menjalankan kendaraan. Perlahan mobil tersebut bergerak meninggalkan kediaman Toni.


“Kita ke makam Adit dulu, ya,” ajak Adrian.

__ADS_1


“Boleh, a.”


Adrian mengarahkan kendaraannya menuju tempat pemakaman umum di mana Aditya dikebumikan. Tak butuh waktu lama bagi mereka sampai di sana. Setelah memarkirkan kendaraannya, Adrian turun dari mobil diikuti Dewi sambil menggendong Arkhan. Adrian mengambil Arkhan dari sang istri, sebelah tangannya menggendong sang anak, sebelahnya lagi menggandeng tangan sang istri.


Setelah menyusuri deretan makam, mereka berhenti di sebuah makam yang terawat dengan baik. Nisan kayu sudah digantikan dengan nisan keramik. Nama Aditya tertulis jelas di nisan tersebut. Dewi berjongkok di dekat makam Aditya. Adrian menurunkan Arkhan dan berdiri di dekatnya.


“Apa kabarmu, Dit? Maaf abang baru bisa menengokmu lagi. Abang datang bersama Dewi dan Arkhan. Sesuai permintaanmu, kami sudah menikah sekarang. Dan Arkhan.. dia tumbuh dengan baik. Dia mulai belajar berjalan dan bicara.”


Adrian memeluk bahu Arkhan dan menariknya lebih dekat ke arahnya. Pria itu mensejajarkan wajahnya dengan Arkhan, lalu meminta anak itu melihat pada makam Aditya.


“Arkhan sayang.. Ini papa. papa Adit tidur di sini sekarang. Coba kamu panggil, sayang.”


“Pa… pa… pa..”


“Iya sayang, benar begitu. Panggil papa, dia adalah papamu.”


“Pa.. pa.. pa..”


Arkhan menepuk-nepuk rumput yang tumbuh di atas makam Aditya. Dewi menyusut matanya yang membasah. Tanpa berkata-kata, dia terus memperhatikan Adrian yang terus mengenalkan Aditya pada Arkhan. Sesekali pria itu mencium pipi gembul Arkhan.


Adrian memposisikan Arkhan di depannya, kemudian dengan tangannya, dia mengangkat kedua tangan Arkhan seperti sedang berdoa. Dewi pun mengangkat tangannya, ikut mengamini doa yang dipanjatkan oleh suaminya.


“Ya Allah.. ampunilah dosa papa. Masukkan papa ke surga-Mu. Arkhan sayang papa dan akan selalu mendoakan papa. Papa.. yang tenang di sana. Arkhan akan jadi anak soleh untuk papa, mama dan ayah, aamiin..”


Adrian mengusapkan tangan Arkhan ke wajah anak itu. Kepala Arkhan mengangguk-angguk, seakan mengerti apa yang dikatakan oleh sang ayah. Pria itu memeluk sang anak dari belakang seraya menciumi puncak kepalanya. Mata Adrian terus menatap makam Aditya. Dalam hatinya mendoakan sang adik agar tenang di sisi-Nya.


🌸🌸🌸


Usai mengunjungi makam Aditya, Adrian membawa istri dan anaknya menuju salah satu mall terbesar yang ada di kota Bandung. Mall baru saja buka setengah jam yang lalu ketika kendaraan milik Adrian memasuki pelataran pusat perbelanjaan tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya, ketiganya masuk ke dalam mall.


Suasana mall masih cukup lengang. Belum banyak pengunjung yang datang. Beberapa tenant sendiri terlihat masih bersiap menerima kedatangan pelanggan. Bersama dengan Dewi dan Arkhan dalam gendongannya, pria itu menuju lift untuk sampai ke lantai teratas gedung ini.


Arena permainan anak masih terlihat sepi. Baru satu, dua pengunjung yang datang. Adrian membeli tiket lebih dulu sebelum masuk ke arena bermain yang memiliki fasilitas mandi bola, permainan ketangkasan, trampoline dan bermacam mainan lainnya.


Tawa Arkhan terdengar ketika Adrian menaruh anak itu di antara lautan bola. Bahkan tubuh Arkhan sampai tenggelam. Anak itu berteriak senang ketika sang ayah mengangkat tubuhnya kemudian keluar masuk kumpulan bola. Setelah menaruh barang-barangnya, Dewi bersiap masuk ke dalam kolam.


“Sayang… sini pegangan ayah. Awas ada gempaaaa,” ujar Adrian saat melihat Dewi memasuki area kolam bola.


“Ish.. lebay.”


“Hahaha..”


Arkhan bertambah senang setelah Dewi masuk ke dalam. Adrian mengambil bola kemudian melemparkannya pada Dewi. Pria itu mengajarkan sang anak untuk melakukan hal yang sama. Beberapa kali Dewi menutupi wajahnya, untuk menghindari lemparan bola dari anak dan suaminya.


“Arkhan mau naik perosotan?” tawar Adrian. Kepala anak itu hanya mengangguk-angguk saja.


Sambil menggendong Arkhan, Adrian naik ke atas. Pria itu menuju perosotan yang cukup tinggi. Ujung perosotan sendiri berada di kolam bola. Dia mendudukkan diri di dekat seluncuran dan bersiap untuk turun. Dewi menunggu di bawah. Mulutnya terus memanggil nama sang anak.


“Arkhan! Lihat sini! Mama di sini!” Dewi melambaikan tangannya.


“Mama.. we’re coming!”


Usai mengatakan itu, tubuh Adrian meluncur ke bawah. Tangannya memegang erat Arkhan yang ada di pangkuannya. Suara tawa Arkhan terdengar disusul teriakannya ketika tubuhnya masuk ke dalam kolam bola. Dewi mengambil Arkhan yang tertimbun bola.


“Mau lagi, sayang?” tanya Dewi.


“Ia.. ia…”


Sekali lagi Adrian naik ke atas untuk bermain perosotan. Arkhan semakin senang. Anak itu terus mengajak kedua orang tuanya naik perosotan. Bergantian Dewi dan Adrian memangku Arkhan saat bermain perosotan.


“Kita ke pipa di sana,” Adrian menunjuk pipa berwarna-warni yang ada di bagian atas.

__ADS_1


Keduanya kembali naik, kemudian menuju area lain yang cukup luas. Adrian duduk di depan pipa, dan Dewi duduk di bagian ujungnya. Dia melepaskan Arkhan, membiarkan anak itu merangkak ke arah Dewi. Baru sampai di pertengahan, Arkhan berhenti. Dia menoleh pada Adrian kemudian kembali padanya.


“Arkhan.. mama di sini!” teriak Dewi.


Arkhan kembali merangkak, tapi baru sampai pertengahan, anak itu kembali pada ayahnya. Adrian tertawa melihat wajah cemberut Dewi, sudah empat kali percobaan, tapi anak itu tidak sampai-sampai ke ujung. Tak hilang akal, Dewi mengeluarkan coklat dari saku celananya.


“Arkhan lihat.. mama punya apa?”


Dewi menggoyang-goyangkan coklat di tangannya. Melihat itu, dengan semangat Arkhan merangkak menuju Dewi. Tangannya langsung menggapai coklat di tangan sang mama. Dewi segera meraih Arkhan dan membawanya keluar dari pipa. Dia membukakan bungkus coklat kemudian mengarahkan ke mulut Arkhan.


“Makan yang banyak ya, sayang. Mama jangan dikasih.”


Dewi menyebikkan bibirnya mendengar ucapan Adrian. Puas bermain di sana, Adrian mengajak Arkhan menuju trampolin. Dia meletakkan Arkhan di tengah-tengah, kemudian pria itu menggerakkan tubuhnya membuat Arkhan memantul-mantul.


Dewi tertawan melihat posisi Arkhan yang tengkurap dengan wajah menempel ke alas trampolin. Tangannya terentang, menjaga tubuhnya agar tidak terombang-ambing. Karena trampolin terus bergoyang, Arkhan menangis.


"Ayah nakal. Arkhannya nangis nih."


Dewi mengambil Arkhan lalu keluar dari arena trampolin. Mereka kemudian turun ke bawah, membawa Arkhan menuju area yang menyediakan aneka mainan. Adrian menaikkan Arkhan ke mobil-mobilan, kemudian mendorongnya pelan. Tawa Arkhan kembali terdengar. Puas bermain mobil, anak itu mulai merangkak dan belajar berjalan mengelilingi tempat tersebut.


Tanpa lelah Arkhan terus merangkak, berdiri dan berjalan sambil berpegangan pada mainan yang terpasang di sana. Dewi terus mengikuti sang anak tanpa lelah. Adrian beristirahat di satu sudut sambil mengabadikan gambar anaknya.


“Arkhan udah dong, mama capek,” ujar Dewi seraya mendudukkan diri di dekat Arkhan.


Ucapan Dewi hanya dianggap angin lalu oleh anak itu. Dia terus mengulangi apa yang dilakukannya. Melihat Dewi yang sudah mulai lelah, Adrian mendekat dan menggantikan tugasnya. Arkhan yang mulai lelah merangkak mendekati Dewi, kemudian naik ke atas pangkuan wanita itu. Dia menduselkan wajahnya ke dada sang mama.


“Arkhan mau nyusu kayanya,” ujar Adrian.


“Iya. Di mana ya tempat buat ASI?”


Mata Adrian berkeliling, kemudian matanya menangkap sebuah ruangan dengan tulisan ruang ASI di pintunya. Keduanya segera menuju ruangan tersebut. Adrian membukakan pintu, dia ikut masuk ke dalam lalu mengunci pintu. Dewi mendudukkan diri di sofa dan mulai menyusui Arkhan.


Adrian mendudukkan diri di samping Dewi. Matanya memandangi hasil jepretannya tadi di ponsel. Senyum mengembang di wajahnya melihat wajah Arkhan yang menggemaskan. Kemudian matanya tertuju pada sang anak dalam gendongan Dewi. Dia asik menyusu langsung dari sumbernya.


Perlahan Adrian menggeser tubuhnya mendekati Dewi. Arkhan terlihat masih anteng menyusu. Pria itu meraih wajah Dewi kemudian menempelkan bibir mereka. Dengan gerakan lembut dia menyesap bibir atas dan bawah sang istri bergantian. Adrian mengakhiri ciumannya dengan sesapan panjang di bibir bawah Dewi. Di saat bersamaan, Arkhan selesai menyusu.


“Kita makan dulu,” ajak Adrian.


“Arkhan mau mamam?” Dewi melihat pada anaknya yang terlihat lebih segar sekarang.


“Bilang aja mamanya, pake alasan Arkhan.”


“Ish.”


Arkhan segera berpindah pada Adrian, kemudian mereka keluar dari ruangan. Dewi mengambil barang-barang di loker, lalu keluar dari arena bermain tersebut. Mereka berjalan menuju food court untuk mengisi perut mereka.


“Kamu mau makan apa?”


“Apa ya? Ehmm.. mie hot plate yang pake katsu aja, a.”


“Arkhan mau apa, sayang?”


“Beliin zupa aja.”


Pria itu bergegas menuju stand untuk memesan makanan. Tak lupa pria itu juga membeli kue coklat untuk anak dan istrinya. Setelah membayar pesanan, dia segera kembali ke mejanya. Sambil menunggu makanan siap, Dewi memberikan biskuit untuk anaknya.


“Ini zupanya udah siap. Arkhan makan zupa dulu, ya.”


Dewi menusuk pastry yang menutupi bagian atas mangkok dengan sendok. Dia mengaduk-aduk sebentar sup jagung yang masih panas sebelum menyuapkannya. Seorang pelayan datang mengantarkan mie hot plate pesanannya. Adrian pun memesan makanan yang sama.


Melihat sang istri masih sibuk menyuapi Arkhan, Adrian menarik hot plate milik Dewi ke dekatnya. Dia memilin mie dengan garpu, kemudian menyuapkannya pada Dewi. Tak lupa dia memberikan chicken katsu pada istrinya itu. Adrian terus menyuapi Dewi dan dirinya bergantian sampai makanan mereka habis.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Duh adem banget ya lihatnya😘


__ADS_2