
“Assalamu’alaikum..”
Perdebatan mereka terhenti ketika Roxas datang membawakan tumpukan Yasiin. Tanpa menunggu dipersilahkan masuk, pria itu segera bergabung di ruang depan seraya meletakkan Yasiin berjumlah dua ratus eksemplar tersebut.
“Udah beres, Rox?” tanya Dewi.
“Udah. Semuanya ada 200. Cukup kan?”
“Kelebihan kayanya.”
“Ngga apa-apa lebih. Asal jangan kurang.”
“Kamu udah selesai kan? Sana pulang, di sini lagi membahas masalah penting.”
Secara tidak langsung Tita seperti mengusir Roxas. Bukannya pergi, pria itu malah mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai. Tadi dia sempat mendengar Nandang dan Iis membahas pernikahan Dewi.
“Maaf, bi. Tapi ibu nitipin Dewi ke saya, Adit sama bang Rian. Jadi, kalau ada yang mau diobrolin soal Dewi, saya juga perlu tahu.”
“Kamu teh siapanya Dewi? Mau sok ikut-ikutan ngatur hidupnya.”
“Bukannya bibi yang ngatur? Saya cuma menjalankan amanat ibu, menjaga Dewi seperti pesan ibu. Maaf mang, kalau mamang mau menikahkan Dewi, saya ngga setuju. Kalau alasan mamang hanya materi, mamang ngga usah khawatir. In Syaa Allah saya masih sanggup kasih biaya Dewi sehari-hari sama bayarin kuliahnya dia. Jangan cuma karena materi, mamang korbanin Dewi. Apa mamang yakin orang yang dijodohin sama Dewi itu lelaki baik-baik?”
“Ya pasti baik. Anaknya juragan tanah di kampung,” sela Tita.
“Ya kalau baik, jodohkan aja sama anak bibi. Dewi udah punya calon. Jangan ganggu Dewi,” tegas Roxas.
“Si Adit anu kere,” kembali Tita menghina Aditya.
“Maaf bi. Aku ngga suka bibi menghina Adit seperti itu. Asal bibi tahu, keluarga Adit itu orang berada. Pasti orang tuanya sakit hati kalau bibi menghinanya seperti itu. Adit memang sedang merintis karirnya. Tapi dia orang yang bertanggung jawab. Bibi pikir dari mana aku bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bayar kontrakan kalau bukan dari Adit. Jauh sebelum ibu meninggal, dia juga udah sering kasih uang buat kebutuhanku. Jadi bibi sama mamang ngga usah pusingin soal hidupku. Aku baik-baik aja, kebutuhan materiku terpenuhi dengan baik. Kalau pun aku mau menikah, aku akan menikah dengan laki-laki pilihanku. Bukan dengan om-om yang bibi bawa ke sini.”
Sontak Iis langsung melihat pada Tita. Dia bertambah geram pada kakak iparnya itu yang terus memaksakan pernikahan pada Dewi. Bahkan wanita itu sudah membawa calon pilihannya menemui Dewi. Kalau tidak ingat wanita itu adalah kakak iparnya, sudah disumpal mulutnya dengan sambal bawang yang dibuatnya tadi.
🌸🌸🌸
“Wi.. lo di sini aja dulu. Kampret emang si Biti. Bentar lagi Adit pulang. Gue mau pemotretan dulu,” ujar Roxas setelah berpakaian rapih.
Usai perdebatan panas tadi, Roxas langsung mengajak Dewi ke kontrakannya dengan Aditya. Kalau tetap berada di sana, takutnya dia akan mengamuk dan mengucapkan kata-kata kasar pada Tita.
“Iya, Rox. Lo berangkat aja.”
Roxas mengusak puncak kepala Dewi, kemudian keluar dari kontrakan. Di berjalan menuju pintu gerbang. Ojek pesanannya sudah menunggu, karena si hejo belum selesai diservice. Sepeninggal Roxas, Dewi membaringkan tubuhnya di atas kasur yang biasa ditiduri sahabatnya. Matanya mulai memanas dan perlahan buliran bening mengaliri pipinya.
“Ibu… hiks.. hiks.. bapak… hiks.. hiks.. Dewi kangen. Kenapa bi Tita sama mang Nandang mojokin Dewi terus. Dewi ngga pernah nyusahin mereka, tapi kenapa mereka kayanya ketakutan Dewi bakal bikin mereka susah.”
Airmata Dewi terus mengalir. Dibalik ketegarannya, tak dapat dipungkiri gadis itu masih merasa rapuh. Dalam usia muda harus ditinggal kedua orang tua. Keluarga sang bapak yang harusnya bisa menjadi pelindung justru menekannya, memintanya cepat menikah.
Dari arah luar terdengar suara motor Aditya berhenti di depan rumah. Pria itu melihat sandal Dewi di depan kontrakannya. Pintu rumah juga terbuka, dia yakin kalau kekasihnya itu ada di dalam. Sambil membawa helmnya, Aditya masuk ke dalam seraya mengucapkan salam. Matanya langsung tertuju pada Dewi yang tengah tiduran.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Dewi dengan suara serak.
“De.. kamu kenapa?”
Aditya langsung mendekati Dewi begitu mendengar suara Dewi yang seperti sedang menangis. Dia mendudukkan diri di dekat Dewi, kemudian menepuk pelan pundaknya.
“De..”
Sambil menghapus airmata yang terus saja keluar, Dewi bangun dari tidurnya. Refleks tangan Aditya bergerak menghapus buliran bening yang masih mengalir. Setelah beberapa hari, baru sekarang dia melihat Dewi menangis lagi.
“Kamu kenapa?”
“Aku kangen bapak sama ibu. Aku juga kesal sama bi Tita dan mang Nandang.”
“Apa mereka maksa kamu lagi?”
Dewi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terisak. Aditya mendekat kemudian memeluk Dewi. Tangis Dewi bertambah kencang dalam pelukan Aditya. Dia seperti tengah mencari perlindungan dari pria itu.
“Biar aku yang bicara sama mereka. Kamu ngga usah khawatir.”
“Aku ngga mau nikah sama si om.”
“Kamu ngga akan nikah sama dia.”
“Aku mau nikah sama kamu.”
Aditya terpaku sejenak mendengar ucapan Dewi. Tangannya yang tadi tengah mengusap puncak kepala sang gadis terhenti begitu mendengar Dewi mau menikah dengannya. Dewi melepaskan diri dari pelukan Aditya. Dengan matanya yang masih mengeluarkan cairan bening, dia melihat pada Aditya.
“Aku mau menikah denganmu.”
“Kamu serius? Kamu sudah memikirkan baik-baik?” Aditya memegang kedua bahu Dewi.
__ADS_1
“Iya. Lamar aku di depan mang Nandang dan bi Tita.”
“Iya, aku akan melamar kamu.”
Di tengah tangisnya Dewi menyunggingkan senyuman. Dua hari berturut-turut dia bermimpi bertemu dengan Aditya ketika tengah tersesat di hutan. Pria itu mengulurkan tangannya, membawanya keluar dari hutan lebat yang tak berujung. Gadis itu yakin kalau itu adalah pertanda kalau dirinya dan Aditya memang berjodoh. Hatinya semakin mantap untuk memilih Aditya. Untuk Adrian, dia sudah merelakan hati menganggap pria itu hanya sebagai kakak ipar saja.
🌸🌸🌸
Sebelum pengajian dimulai, Adrian bersama Pipit datang. Mereka juga ingin mengikuti tahlilan 40 hari Nenden. Selain mereka, Sheila, Mila, Sandra, Micky, Bobi dan Budi juga datang. Budi bahkan membawakan makanan buatan ibunya khusus untuk wanita yang sampai saat ini masih menjadi pilihan hatinya walau hanya dianggap sebagai kekasih yang tak dianggap oleh Dewi.
Aditya segera menarik kakak dan tantenya itu ke kontrakannya. Ada hal yang ingin dibicarakan oleh pria itu. Roxas yang hendak ke rumah Dewi juga ditahan olehnya. Kini keempatnya duduk bersama di dalam kontrakan.
“Tan, bang.. abis acara tahlilan, aku mau ngelamar Dewi.”
“Hah??” baik Adrian, Pipit maupun Roxas sama-sama terkejut.
“Kamu serius?” tanya Adrian.
“Iya, bang. Dewi udah bilang siap nikah sama aku. Bibinya beneran ngotot mau nikahin dia sama Soka.”
“Siapa Soka?” tanya Pipit.
“Anak juragan tanah di kampungnya Dewi. Ngotot banget bibinya, makanya aku mau ngelamar dia sekarang.”
“Kalau kamu udah yakin dan Dewi juga setuju ngga apa-apa. Biar abang yang ngomong.”
“Eh.. ngga.. ngga.. biar aku yang ngomong. Aku tuh tante kamu, perwakilan orang tuamu. Tenang aja, biar tante yang lamarin Dewi buat kamu.”
Walau bingung bercampur was-was, Aditya hanya mengangguk saja mendengar Pipit yang akan melamar Dewi untuknya. Mudah-mudahan saja tidak ada kata-kata nyeleneh sang tante saat melamar Dewi nanti.
Melihat orang-orang sudah berdatangan, Adrian beserta yang lain bergegas menuju kediaman Dewi. Pipit masuk ke dalam dan menuju dapur untuk menemui Dewi. Sedang Aditya, Adrian dan Roxas memilih duduk di kursi yang disediakan di depan kontrakan Dewi. Pak haji Soleh langsung memulai acara pengajian malam ini.
Empat puluh menit berlalu, pak haji Soleh menutup acara 40 hari Nenden. Tak lupa para undangan yang datang mendoakan almarhum dan almarhumah semoga diberikan tempat yang baik di sisi-Nya. Dewi dan Iis dibantu oleh Nita serta Pipit bantu memberikan bingkisan pada yang datang untuk dibawa pulang.
Pak haji Soleh bersama dengan anak dan istrinya masih bertahan di rumah Dewi setelah para tamu pulang. Begitu pula dengan Adrian, Aditya dan Roxas yang ikut masuk ke dalam. Mereka hendak menyampaikan lamaran untuk Dewi malam ini. Pipit mengajak Dewi menuju ruangan depan disusul oleh Iis dan Nita.
“Dewi.. bagaimana kuliahmu?” tanya pak haji Soleh.
“Alhamdulillah lancar, pak.”
“Syukurlah. Kamu harus rajin dan menyelesaikan kuliahmu, karena itu impian kedua orang tuamu. Jangan pikirkan hal lain. Kalau kamu butuh bantuan, datang ke ibu atau bapak, jangan sungkan.”
Haji Soleh melihat pada Tita sejenak. Dia mendapat laporan dari istrinya yang mendengar kasak-kusuk tetangga kalau wanita itu pernah membawa seorang pria ke rumah Dewi. Gossip soal wanita itu hendak menikahkan Dewi dengan seorang pria sudah menjadi rahasia umum di kontrakan tersebut.
“Bapak memang bukan siapa-siapa. Tapi.. orang tuamu menitipkan kamu sama bapak. Jadi.. bapak harap tidak ada orang yang mengambil keputusan sepihak atas hidup kamu. Kalau kamu ingin menikah, itu harus murni dari keinginanmu sendiri, bukan karena paksaan dari pihak lain.”
Ucapan haji Soleh seperti peluru yang tepat sasaran, meluncur deras menuju Tita dan Nandang. Apalagi pria bersahaja itu langsung melihat pada pasangan tersebut di akhir kalimatnya.
“Iya, pak. Terima kasih.”
“Kalau begitu, bapak pamit dulu.”
Haji Soleh, Ratna dan Salim segera bangun dari duduknya. Dewi ikut bangun untuk mengantar mereka semua keluar disusul oleh Iis dan Aditya. Sebelum pergi, haji Soleh menepuk pundak Aditya. Kemudian ketiganya segera meninggalkan kediaman Dewi. Setelahnya mereka kembali masuk ke dalam rumah.
Semua keluarga Dewi masih berkumpul di ruang depan, sepertinya mereka masih menunggu tamu agung yang hendak datang. Sesekali dia melihat pada Pipit, Aditya, Adrian dan Roxas yang belum juga beranjak pergi. Sementara Nita sedari tadi mencuri pandang pada Adrian. Sepertinya wanita muda itu tertarik padanya.
“Kalian ngga pulang?” tanya Tita seperti mengusir secara tidak langsung.
“Belum mau, bu. Sebenarnya ada yang mau kami bicarakan dulu,” Pipit mulai membuka jalan untuk melamar Dewi untuk keponakannya.
“Mau membicarakan apa?”
“Assalamu’alaikum.”
Belum juga Pipit membuka suaranya, ketika terdengar seorang laki-laki mengucapkan salam. Dengan penuh semangat Tita menjawab salam tersebut, kemudian berdiri menyambut kedatangan orang yang sudah ditunggunya sedari tadi.
“Waalaikumsalam.”
Senyum Tita semakin merekah melihat kedatangan Wahyu dan anaknya Soka. Wanita itu langsung mempersilahkan keduanya masuk. Melihat kedatangan Wahyu dan Soka, perasaan Pipit langsung tidak enak. Dia harus menyerobot pembicaraan, hingga kedua pria itu tidak mempunyai kesempatan untuk melamar Dewi.
“Maaf saya baru datang. Tadinya mau ikut pengajian, tapi jalanan macet sekali.”
“Ngga apa-apa juragan. Juragan sudah datang saja, saya sangat senang.”
Wajah Tita terlihat begitu sumringah menyambut kedatangan Wahyu dan anaknya. Berbanding terbalik dengan Iis. Matanya memancarkan ketidaksukaan. Dia tahu betul sepak terjang Wahyu di kampungnya. Pria itu tidak akan mau repot-repot datang ke sini kalau tidak ada maunya. Apalagi dia tidak mengenal Nenden.
“Mau minum apa juragan?”
“Tidak usah repot-repot.”
Mata Wahyu langsung melihat pada Dewi yang duduk di sebelah Iis. Refleks gadis itu memeluk lengan Iis, seperti tengah mencari perlindungan dari wanita itu. Cara Wahyu menatapnya, jujur saja membuat gadis itu sedikit takut. Pipit yang melihat hal tersebut langsung memasang ancang-ancang.
__ADS_1
“Sebelumnya saya minta maaf datang ke sini tanpa pemberitahuan. Sebenarnya maksud kedatangan saya…”
“Maaf pak.. sekali lagi saya minta maaf. Tapi sebelum bapak datang, saya yang lebih dulu ingin berbicara dengan keluarga ini. Saya mohon dengan hormat, bapak menunggu giliran untuk bicara. Bisa?”
Kepala Wahyu langsung tertoleh pada Pipit. Dia cukup kesal ada wanita yang berani memotong pembicaraannya. Tapi ketika melihat wajah cantik Pipit, pria itu membiarkan saja wanita itu bicara lebih dulu. Dia menggerakkan tangannya, mempersilahkan Pipit untuk bicara.
“Maaf teh.. memang ada hal penting apa? Rasanya ngga sopan aja memotong pembicaraan orang lain,” seru Tita.
“Ibu bisa diam sebentar? Saya perlu bicara dengan suami ibu dan juga adik ipar ibu. Saya ngga ada urusan dengan ibu,” tegas Pipit dengan wajah serius.
Tita hanya berdehem saja. Dia benar-benar tidak menyukai Pipit. Adrian yang juga kesal melihat Tita, mencoba menahan diri. Dia yakin sang tante bisa mengatasi semuanya dengan baik.
“Sebelumnya saya minta maaf kalau yang saya katakan ini terkesan mendadak. Saya diberi amanat oleh keponakan tersayang saya, mengutarakan niat baiknya untuk melamar Dewi.”
“Apa??!!” mata Tita sampai melotot mendengarnya.
Bukan hanya Tita, tapi Wahyu dan Soka juga terkejut. Mereka langsung melihat pada Tita, kemudian melihat pada Pipit yang masih terlihat tenang. Tita yang tidak terima langsung menyambar sebelum Pipit berkata lagi.
“Dewi sudah dilamar oleh lelaki lain. Kamu pasti tahu kan, tidak etis melamar perempuan yang sudah dilamar lelaki lain.”
“Tidak etis kalau sang wanita sudah menerima lamarannya. Tapi saya yakin kalau Dewi belum menerima lamaran si Basoka, iya kan Wi?”
“Iya, bi,” jawab Dewi pelan.
Jawaban pelan Dewi bukan karena takut pada Soka atau Wahyu, tapi karena dirinya sebisa mungkin menahan tawa mendengar cara Pipit memanggil nama anak juragan tanah tersebut. Adrian, Aditya dan Roxas kompak menundukkan kepala mereka, menyembunyikan senyum di wajah ketiganya.
“Heh! Nama saya bukan Basoka,” protes Soka.
“Maaf.. lidah kepeleset dikit. Masih untung ngga saya panggil Basuki.”
Mata Soka membulat mendengarnya. Wahyu segera menenangkan anaknya, malu kalau sampai bertengkar karena masalah nama dengan seorang wanita. Roxas menaikkan bagian atas kaosnya sampai menutup wajah, dia sudah tak sanggup untuk menahan tawa. Namun begitu, suara tawanya yang seperti tikus bengek masih bisa terdengar.
“Dewi.. kamu tahu kalau Adit, keponakanku cinta mati sama kamu. Apa kamu bersedia menerima lamaran dia? Saat ini mungkin dia belum punya apa-apa yang bisa dibanggakan, tapi dia adalah laki-laki baik yang siap bertanggung jawab untuk hidupmu dunia dan akhirat. Jadi.. apa kamu mau menerima lamarannya?”
Waktu seakan berhenti ketika Pipit selesai mengajukan pertanyaan tersebut. Semua mata langsung tertuju pada Dewi. Tangan Soka nampak mengepal erat, mata pria itu menatap tajam pada Dewi dan Tita bergantian.
“In Syaa Allah, aku terima lamaran Adit.”
“Alhamdulillah,” ujar Pipit, Adrian, Aditya dan Roxas bersamaan.
“Wi.. kamu beneran mau menikah dengan Adit?” tanya Iis memastikan.
“Iya, bi. In Syaa Allah, Dewi siap. Mohon doa restunya, bi.”
“Kalau kamu memang sudah siap, bibi hanya bisa merestui dan mendoakan,” Iis memeluk tubuh keponakannya ini.
“Ngga bisa.. ngga bisa..” sergah Tita.
“Apa yang tidak bisa, bu? Yang bersangkutan sudah menjawab,” ujar Pipit.
“Kalian pasti maksa Dewi kan buat terima lamaran?”
“Ibu jangan lempar batu sembunyi tangan. Di sini yang memaksa, saya atau ibu? Lagian ibu itu ngga ada hak ngatur hidup Dewi. Apa pak Nandang juga menentang keputusan ini?”
Pipit melihat pada Nandang yang sedari tadi hanya diam saja. Perlahan pria itu mengangkat kepalanya kemudian balas melihat Pipit. Lalu pandangannya tertuju pada Aditya yang juga tengah melihat padanya.
“Kapan kalian akan melamar Dewi secara resmi?”
“Bapak..” langsung terdengar suara Tita pertanda protes.
“Minggu depan, In Syaa Allah saya akan datang membawa orang tua saya ke rumah mamang,” jawab Aditya mantap.
“Baiklah. Saya akan menunggu kedatangan kalian.”
Wahyu benar-benar kesal mendengar Nandang menyetujui lamaran Aditya untuk Dewi. Tanpa banyak bicara, pria itu bangun dari duduknya dan keluar dari rumah disusul oleh Soka. Tita yang melihat itu segera mengejar kedua pria tersebut.
“Juragan… juragan.. tolong maafkan suami saya.”
“Diam!!! Mulutmu itu manis sekali. Kemarin kamu bilang keponakanmu mau dinikahi oleh anakku. Tapi sekarang mana??!!”
“Maaf juragan. Saya akan mencoba membujuk sekali lagi.”
“Tidak perlu! Kembalikan saja uang modal yang sudah saya berikan untukmu. Saya kasih kamu waktu seminggu. Kalau tidak, anakmu yang akan menikah dengan Soka. Ayo, Soka.”
Tita terkejut mendengar jawaban Wahyu. Pria itu bergegas pergi bersama dengan Soka, meninggalkan Tita yang tengah kebingungan. Bagaimana dia bisa mengembalikan uang modal sebesar 25 juta yang sudah diterimanya. Uang itu sudah dipakai untuk menebus rumah yang digadaikan ke bank dan juga diberikan pada orang tuanya.
🌸🌸🌸
**Sokoooorrr makanya jadi orang jangan sok iyeh.. Siap² aja anaknya yang jadi bayaran🤭
Readers siap² ya, Adit mau lamar Dewi secara resmi. Jangan lupa nanti dateng kondangan. Amplopnya sekalian😁**
__ADS_1