Naik Ranjang

Naik Ranjang
Gibah


__ADS_3

Seperti biasa, sepulang dari kampus sebelum menuju kedai kopinya, Roxas selalu menyempatkan pulang ke rumah untuk melihat keadaan istrinya. Pria itu juga selalu memasakkan makanan untuk istri tercintanya. Walau Pipit tidak mau didekati olehnya, tapi dia tetap melakukan yang terbaik.


Mobil yang dikendarai Roxas berhenti di depan rumahnya. Sejak mengetahui Pipit hamil, pria itu memaksakan diri untuk membeli mobil. Tidak mungkin dia mengantar Pipit memeriksakan kandungan menggunakan si hejo. Sambil membawa kantong berisi bahan masakan, Roxas masuk ke dalam rumah.


Di ruang tengah, dia melihat Pipit tengah berbaring di sofa dengan kepala rebah di pangkuan enin. Tangan enin terus bergerak mengusap kepala Pipit. Dua jam lalu wanita itu sampai kehabisan tenaga setelah memuntahkan isi di perutnya. Setelah enin memberinya air lemon madu hangat dan mengusap perutnya dengan minyak kayu putih, keadaan Pipit sedikit membaik.


“Enin.. kenapa ya aku kok sebel banget kalau lihat mas Roxas. Males aja kalau dideketin dia. Tapi kalau dia jauh atau ngga ada di rumah bawaannya kangen.”


“Wajar eta mah. Namina oge ibu hamil (namanya juga ibu hamil).”


“Tapi aku kasihan sama mas Roxas. Kira-kira aku kaya gininya lama ngga, enin?”


“Duka. Sok beda-beda soalna (ngga tau. Suka beda-beda soalnya).”


Senyum Roxas mengembang mendengar perbincangan Pipit dengan enin. Pelan-pelan dia mendekat lalu berjongkok di dekat sofa. Roxas meletakkan jari di mulutnya, melarang enin untuk bicara. Roxas mencium kening sang istri dengan lembut.


“Tutup aja mata kamu, sayang,” ujar Roxas saat melihat Pipit hendak membuka matanya.


“Hari ini kamu mau makan apa?” tanya Roxas.


“Aku mau makan bakso aja. Bakso isi cincang, pake soun, toge sama sawi. Yang pedes ya, kayanya enak.”


“Kamu mau beli baso di mana?”


“Di mana aja boleh.”


“Ya udah, aku beli dulu sekarang. Enin hoyong oge? (enin mau juga?).”


“Moal ah.. enin mah hoyong lotek we (ngga ah. Enin mau lotek aja).”


Roxas menganggukkan kepalanya. Dia bangun dari posisinya lalu berjalan menuju dapur untuk menaruh belanjaannya tadi. Baru setelah itu dia keluar rumah untuk membelikan pesanan Pipit dan enin.


Setengah jam kemudian dia kembali dengan dua kantong di tangannya. Satu berisi bakso dan satu lagi lotek. Dengan cepat Roxas memindahkan dua bungkus bakso ke dalam mangkok dan menaruh lotek ke piring. Dia membawa mangkok bakso dan juga lotek ke ruang tengah dan memberikan pada Pipit dan enin. Pria itu kembali ke meja makan untuk mengambil mangkok baksonya dan juga minuman untuk Pipit.


“Sambel sama saosnya mana?”


“Oh iya.”


Roxas kembali ke meja makan mengambil sambal dan saos yang tertinggal. Bergegas dia kembali ke ruang tengah lalu menuangkan sambal dan saos ke mangkok bakso sang istri.


“Kurang.”


“Jangan banyak-banyak, sayang. Nanti sakit perut.”


Bibir Pipit maju mendengar larangan suaminya. Namun akhirnya dia mengalah dan mulai menikmati baksonya. Baru dua suap, dia berhenti makan. Rasa baksonya kurang pas di lidahnya.


“Kenapa, sayang? Ngga enak?”


“Iya.”


“Masa sih? Kalau kataku enak kok. Nih aku suapin.”


Roxas memotong bakso isi cincang, kemudian mengarahkan bakso tersebut ke mulut Pipit. Awalnya wanita itu enggan, namun akhirnya dia membuka mulutnya. Roxas terus memandangi Pipit yang tengah mengunyah baksonya.


“Gimana? Enak kan?”


“Ehmm.. enak. Kok tadi ngga enak.”


“Karena aku yang suapin.”


Kembali Roxas memotong bakso dan menyuapkan ke mulut Pipit. Kali ini dia menambahkan soun, toge dan sawi ke dalam sendok. Roxas tersenyum melihat istrinya yang menghabiskan pesanan baksonya.


“Si utun mau disuapin ayahnya,” ujar enin.


“Iya, enin.”


Pipit mengambil gelas berisi air putih hangat kemudian meminumnya sampai habis. Perutnya benar-benar kenyang. Energinya yang tadi terbuang karena muntah-muntah tergantikan oleh semangkok bakso yang dibelikan suaminya.


“Mas mau ke café?”


“Iya. Kenapa? Mau ikut?”


“Ngga. Pulangnya jangan malam-malam.”


“Iya.”


“Aah enin hoyong bobo, tunduh (enin mau tidur, ngantuk).”


Enin bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar. Wanita itu naik ke atas ranjang. Dengan remote di tangannya dia menyalakan televisi di depannya. Sebenarnya enin tidak mengantuk, hanya memberikan waktu berduaan saja pada kedua calon orang tua tersebut.


Setelah menghabiskan baksonya, Roxas mengambil mangkok kotor lalu membawanya ke dapur. Setelah mencuci bersih semua peralatan makan yang tadi digunakan, pria itu kembali pada Pipit. Namun ternyata istrinya itu sudah masuk ke dalam kamar. Roxas pun masuk ke dalam kamar. Nampak Pipit berbaring di kasur dengan posisi membelakanginya.


“Sayang.. aku pergi dulu, ya.”


“Mas.. kandunganku sekarang udah tiga bulan lebih.”


“Iya, terus?”


“Kata dokter udah boleh kalau mas mau nengok.”


“Nengok gimana?”

__ADS_1


Sesaat Roxas seperti orang bodoh yang tak mengerti kemana arah pembicaraan istrinya. Senyumnya langsung mengembang saat tahu apa arti kalimat tadi.


“Beneran boleh, Yang?”


“Iya.”


“Bentar aku beli topeng dulu.”


“Buat apa?”


“Biar kamu ngga sebel lihat muka aku.”


Tak ayal Pipit tertawa mendengar ucapan suaminya. Wanita itu membalikkan tubuhnya, lalu melihat pada suaminya yang berjongkok di dekat ranjang. Dia memang masih sebal dan kesal melihat wajah Roxas, tapi tidak seperti saat awal kehamilan. Kadarnya sudah sedikit berkurang sekarang.


“Mas mau pake topeng apa?”


“Spiderman, hehehe..”


“Ngaco. Ngga usah pake topeng. Aku kan bisa merem.”


“Oh iya. Terus mau kapan?”


“Ya nanti, sekarang kan mas mau ke café.”


“Bisa ditunda itu.”


“Idih.. ngarep.”


“Iya, sayang. Udah dua bulan loh.”


Wajah Roxas terlihat cemberut. Matanya menunduk melihat pada juniornya yang sudah puasa selama dua bulan. Tak jarang dia bermain solo karir karena Pipit tidak mau membantunya. Sekarang saat wanita itu membuka kesempatan, tentu saja tidak akan disia-siakan olehnya.


“Boleh ya, sekarang. Nanti malem tambahnya.”


“Ngelunjak.”


“Ya sayang.”


Roxas mengedip-ngedipkan matanya. Pipit mengambil bantal kemudian melemparkannya tepat ke wajah Roxas. Pria itu hanya tertawa saja seraya menangkap bantal yang melayang ke arahnya.


“Yaaang..” Roxas tetap berusaha membujuk.


“Ya udah cepetan.”


“Yessss!!”


Buru-buru pria itu bangun lalu menutup pintu kamarnya. Hatinya bersorak senang karena sang istri mengijinkannya bermain kuda-kudaan sebelum berangkat ke kedai. Dengan tergesa dia membuka kaos yang dikenakannya. Pipit membalikkan tubuhnya, tak mau melihat pada sang suami. Tapi diam-diam dia mengulum senyum.


🌸🌸🌸


Saat menikahkan Aditya, Ida tak bisa menggelar pesta mewah karena keinginan sang anak. Tapi untungnya kali ini Adrian tidak melarangnya. Pria itu juga ingin memberikan pesta pernikahan yang akan dikenang oleh Dewi seumur hidupnya. Walau ini adalah pernikahan keduanya.


Pada acara resepsi, Adrian mengundang rekan kerjanya di kampus. Dewi juga mengundang teman-temannya di kampus, namun tidak semua, hanya yang dikenalnya dekat. Tak lupa dia juga akan mengundang tetangganya di kontrakan haji Soleh termasuk sang pemilik kontrakan. Mata Dewi langsung tertuju pada undangan yang tergeletak di atas meja. Semua undangan sudah disebar, kecuali undangan untuk penghuni kontrakan.


“Aa.. mau antar aku ngga? Aku mau kasih undangan ke kontrakan haji Soleh.”


“Boleh. Sebentar aku ke kamar mandi dulu.”


Adrian segera menuju kamar mandi. Dari dalam kamar, Ida keluar setelah menidurkan Arkhan. Dia menghampiri Dewi yang duduk di ruang tengah.


“Ma.. aku sama aa mau ke kontrakan dulu. Mau kasih undangan.”


“Iya. Eh jangan lupa pulangnya beli biskuit buat Arkhan, udah habis.”


“Iya, ma.”


“Arkhan mana, ma?” tanya Adrian begitu keluar dari kamar mandi.


“Arkhan tidur.”


“Mbah kapan ke sini?”


“Mbah sudah datang, tadi dijemput Roxas. Mereka nginap di rumah tantemu.”


Kepala Adrian mengangguk mendengar jawaban sang mama. Pria itu memberi kode pada istrinya untuk segera berangkat. Dewi mengambil undangan di atas meja, kemudian mengikuti Adrian keluar. Mereka segera naik ke dalam mobil. Tujuannya kali ini adalah kontrakan haji Soleh.


Kedatangan Dewi dan Adrian disambut senang oleh semua penghuni kontrakan. Dewi memberikan undangan yang dibawanya dan berharap semua bisa datang ke acara resepsinya. Adrian memilih menunggu di kontrakan Amir. Kebetulan pria itu sedang libur.


Diantar Amel, Dewi menuju rumah haji Soleh untuk mengantarkan undangan pernikahan. Ratna memeluk Dewi dengan erat, dia sudah sangat merindukan Dewi. Sejak wanita itu pindah, mereka sudah jarang bertemu.


“Bagimana keadaan Arkhan?”


“Alhamdulillah baik, bu. Tadinya mau diajak, tapi Arkhannya tidur.”


“Syukurlah kalau sehat. Kamu juga sudah sehat kan?”


“Alhamdulillah sehat, bu. Lihat aja badanku subur gini.”


“Hahaha.. bisa aja kamu. Kamu kapan ada niatan tambah momongan?”


“Nanti bu, kalau Arkhan sudah selesai ASI.”

__ADS_1


“Pilihan yang bagus. Tapi Rian ngga keberatan?”


“Aa malah yang ngusulin.”


“Alhamdulillah. Ibu turut senang mendengarnya. Sudah waktunya kamu berbahagia, Wi. Semoga pernikahan keduamu akan menjadi pernikahan terakhirmu.”


“Aamiin..”


“Kalian mau minum apa?”


“Ngga usah, bu. Kita mau langsung pulang.”


“Ya sudah. Salam buat mertuamu.”


“Iya, bu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Bersama dengan Amel, Dewi meninggalkan kediaman Ratna. Dewi mengajak Amel ke depan gang. Dia ingin membeli gudeg di penjual gudeg langganannya yang berjualan di dekat tempat foto copy. Sudah lama dia tidak mencicipi gudeg, dan hari ini sangat ingin memakannya.


Saat tengah menunggu pesanan gudegnya dibuat, Dewi melihat pada warung makan yang ada di sebelah tempat foto copy. Pemiliknya masih sama, wanita yang dulu menggosipkan ibunya memiliki hubungan dengan Salim. Dan kebiasaan bergosipnya ternyata masih berlangsung. Sayup-sayup Dewi bisa mendengar wanita itu membicarakan seseorang.


Dewi memberikan uang setelah pesanan gudegnya selesai. Saat akan meninggalkan tempat tersebut dan melintasi tempat makan, dia mendengar sang pemilik sedang menggosipkan dirinya.


“Si Dewi kabarnya udah nikah lagi ya. Cih.. suaminya meninggal belum ada setahun udah nikah lagi. Habis masa iddah langsung nikah, luar biasa.”


Emosi Dewi langsung naik mendengar ucapan wanita itu. Amel berusaha menarik Dewi dan membiarkan saja wanita itu. Tapi Dewi yang sudah kadung emosi, langsung masuk ke tempat makan untuk melabrak wanita tersebut.


“Ibu kalau mulut bisa dijaga ngga? Kayanya kalo ngga ngomongin orang sehari bisulan ya,” sembur Dewi.


“Eeehhh.. janda genit ternyata yang datang. Kenapa? Kamu ngga suka dengar omongan saya? Memang benar kan kamu itu janda gatel. Belum setahun suamimu pergi udah nikah lagi. Kalau bukan gatel apa namanya?”


“Saya nikah lagi atau ngga emang ngerugiin ibu? Sirik aja jadi orang. Mau nikah lagi, kek. Ngga kek, ya suka-suka saya dong.”


“Heleh palingan kamu bunting kan makanya cepet-cepet nikah.”


“Astagfirullah, dijaga tuh mulut bu,” Amel ikutan tersulut emosi mendengar ucapan pedas pemilik tempat makan.


Adu mulut pun tak bisa terelakkan. Beberapa orang berusaha memisahkan dan menarik Dewi serta Amel untuk meninggalkan tempat makan. Namun Dewi bergeming, ingin rasanya dia merobek mulut wanita bertubuh gempal dengan dandanan menor di depannya.


Melihat ada kerumunan di tempat makan. Fajar yang tengah berpatroli dengan mobil dinasnya berhenti. Pria itu turun lalu mendekati tempat makan tersebut. Dia terkejut melihat Dewi tengah beradu mulut dengan seorang wanita.


“Dewi,” tegur Fajar.


“Bang Fajar. Kebetulan ada abang. Aku mau tuntut nih si menor, sembarangan aja kalo ngomong. Ngatain aku bunting makanya cepat-cepat nikah. Keseringan ngemut lisptik kali makanya otaknya ngga berfungsi.”


“Eh sembarangan kamu ngomong, ngatain saya menor.”


“Emang iya, kalau bukan menor apa namanya? Ngaca sana dandanan udah kaya ondel-ondel aja belagu. Jaga tuh mulut, udah muka jelek, mulut juga jelek, ngga ada bagus-bagusnya.”


Sebisa mungkin Fajar menahan tawanya mendengar cerocosan Dewi. Dia segera melerai pertengkaran. Pria itu membawa Dewi pergi. Mau tidak mau dia mengikuti keinginan Fajar. Bersama dengan Amel, wanita itu kembali ke kontrakan haji Soleh. Fajar terus mengawal Dewi, takut wanita itu kembali ke tempat makan tadi. Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Adrian. Pria itu hendak menyusul sang istri karena pergi terlalu lama.


“Jar.. ngapain di sini?” tanya Adrian.


“Abis melerai perang dunia, hahaha..”


“Perang dunia apa?”


“Noh si Dewi tadi ribut sama yang jaga tempat makan dekat foto copyan.”


“Abisan tuh emak rese. Dia ngegosipin aku hamil karena nikah sesudah iddah. Pengen ku kasih sambel mercon tuh mulutnya.”


“Gue cabut ya. Tenangin tuh bini lo, hahaha..”


Adrian segera merangkul bahu Dewi kemudian berjalan kembali ke kontrakan. Setelah berpamitan dengan warga kontrakan, keduanya segera menuju mobilnya. Adrian menjalankan kendaraan dengan kecepatan pelan lalu berhenti di depan tempat makan yang dimaksud Fajar. Pria itu turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam tempat makan.


Melihat kedatangan Adrian, wanita pemilik tempat makan langsung menyambutnya dengan wajah dibuat secantik mungkin. Adrian minta dibungkuskan gorengan yang ada di sana.


“Mau berapa, mas?” tanyanya dengan suara dibuat semerdu mungkin.


"Semuanya aja."


Dewi yang melihat dari dalam mobil segera menurunkan kaca jendela kemudian berteriak kencang.


“Oii!!! Ngga usah kecentilan ganggu suami saya!”


Wanita itu terkejut mendengar ucapan Dewi. Dia melihat pada Adrian yang melihatnya dengan tatapan tajam. Wanita itu jadi salah tingkah sendiri. Pria di depannya ini tidak mengatakan apapun, tapi tatapannya saja sudah membuatnya merinding.


“Ibu mau saya kasih tips supaya jualannya laku?” ujar Adrian seraya mengambil gorengan pesanannya.


“Ma.. mau, mas.”


“Banyak berdoa dan berhenti menggosipkan orang. Kalau itu tidak benar, maka jadinya fitnah. Tempat makan ibu ini akan jadi sarang maksiat karena dijadikan tempat mengumbar fitnah. Kali ini saya masih bisa memaafkan, tapi kalau saya dengar lagi ibu mengatakan hal jelek tentang istri saya, apalagi memfitnah, maka saya tidak segan-segan melaporkan ibu ke polisi.”


Setelah mengatakan itu, Adrian segera keluar dari sana. Wanita pemilik tempat makan hanya terdiam saja setelah mendengar ucapan panjang lebar Adrian. Tangannya sedikit bergetar saat mengambil gelas berisi air untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


Sekeluarnya dari tempat makan, Adrian berjalan menuju pangkalan ojek. Dia menyerahkan gorengan yang dibelinya pada para pengojek tersebut. Mendapat makanan gratis tentu saja para pengojek itu senang. Setelah memberikan gorengan, proa itu segera kembali ke mobilnya dan meluncur pergi dari tempat tersebut.


🌸🌸🌸


Yang mau dateng ke resepsi Dewi - Adrian jangan lupa dress code nya hijau imut bin manja😉

__ADS_1


__ADS_2