Naik Ranjang

Naik Ranjang
Calon Berondong


__ADS_3

Jam tujuh malam, keluarga Aditya baru saja di rumahnya. Perjalanan panjang sepulang dari rumah Nandang, ditambah kemacetan membuat perjalanan memakan waktu lebih lama. Ida turun lebih dulu lalu masuk ke dalam rumah. Baru saja kakinya menginjak ruang tamu, sebuah suara mengagetkannya.


“Dari mana saja kalian?!”


“Astaghfirullahaladziim..”


Ida memegangi dadanya yang berdebar kencang. Hampir saja dia terjatuh mendengar suara ibunya yang ternyata sudah berada di rumahnya. Setali tiga uang, Pipit yang baru masuk pun terkejut melihat ibunya sudah berada di depan sang kakak.


“Ibu..”


Pipit mendekati ibunya kemudian mencium punggung tangannya. Dia segera mengajak ibunya menuju ruang tengah. Di sana sudah menunggu ayahnya yang duduk sambil menonton televisi. Pipit menghampiri sang ayah kemudian mencium punggung tangannya. Di belakangnya berturut-turut menyusul Toni, Aditya dan Adrian. Mereka juga terkejut melihat kedatangan Wardani dan Cahyadi.


“Ibu sama bapak kapan sampai?” tanya Toni kepada mertuanya.


“Tadi sore jam empat. Kalian dari mana?” jawab Cahyadi.


“Habis dari Tasik. Kami baru saja mengantar Adit melamar kekasihnya.”


“APA??!!”


Toni hanya tersenyum tipis, sudah bisa ditebak kalau mertuanya akan bereaksi seperti ini. Kedatangan mereka ke Bandung untuk melihat Pipit dan hendak menjodohkan anak sulung mereka dengan lelaki pilihannya. Tapi ternyata mereka harus mendapati kenyataan kalau cucu bungsu mereka yang akan melepas masa lajang.


“Adit kan sek enom, lo menopo kok wes ngebet kawin (Adit itu masih muda. Kenapa mau menikah sekarang?),” ujar Wardani.


“Wes mantep lan siap. Aku mung dukung wae. (Udah siap dan mantap, bu. Aku cuma bisa mendukung saja),” jawab Ida.


Toni tak bisa berkata apa-apa, dia hanya menyerahkan pada istrinya saja untuk menenangkan kedua mertuanya. Pria itu memberi tanda pada Adrian dan Aditya untuk masuk ke dalam kamar. Pipit yang juga hendak pergi, tapi langsung ditahan oleh Wardani.


“Kowe kate nang endi? Rene lungguh sek. (kamu mau kemana? Sini duduk).”


“Gerah bu, aku mau mandi.”


“Ibu pengen ngomong diluk, rene lungguh sek. (Ibu mau ngobrol sebentar. Duduk dulu).”


Mau tidak mau Pipit kembali duduk. Wanita itu sudah tahu apa yang akan dibicarakan ibunya. Ingin menghindar tapi sepertinya sia-sia saja. Dia melirik pada Ida yang tak bisa mengatakan apapun. Kemarin kakaknya ini memang sudah mewanti-wanti soal calon suami. Otak Pipit langsung berkerja, mencari alasan menolak perjodohan yang akan disampaikan ibunya.


“Anak pak darmo lagek muleh soko newyork. De e sak iki golek bojo, gelem yo ibu jodohne karo sigit? (anak pak Darmo baru saja kembali dari New York. Dia lagi cari calon istri, kamu mau ya ibu jodohkan sama Sigit?).”


“Sigit? Emoh, bu. (ngga mau, bu).”


“Opoo? Sigit ganteng, mapan umure dhuwurmu 4 taun, kurang opo maneh? (kenapa? Sigit itu cakep, mapan, umurnya juga cuma empat tahun di atasmu, kurang apa coba?).”


“Cakep, mapan, tapi duda.”


“Emange opoo nek dudo? Mesio dudo sing penting kualitase sip (memangnya kenapa kalau duda? Biar duda asal berkualitas).”


“Aku ngga masalahin soal status dudanya, bu. Tapi dia itu kan duda cerai. Mereka cerai karena keluarga pak Darmo ngga setuju sama istrinya. Sampai sekarang juga mas Sigit masih berhubungan dengan istrinya. Ngga mau aku, nanti yang ada mereka clbk, aku yang ngenes.”


Wardani baru saja hendak membalas ucapan putrinya yang keras kepala. Namun wanita itu tak melanjutkan setelah mendapat tepukan dari suaminya. Kepala Cahyadi menggeleng, pria itu kemudian melihat pada putri bungsunya.


“Opo kowe wes duwe calon? Jare mbak yu-mu, kowe mesti nampik arek lanang sing dikenalno. (apa kamu sudah punya calon? Kata kakakmu, kamu selalu menolak laki-laki yang dikenalkan padamu).”


Sontak Pipit langsung melihat pada kakaknya. Ida hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia lalu melihat pada Toni yang hanya mengangkat bahunya saja. Wanita itu menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan bapaknya.


“Aku memang sudah punya calon. Cuma aku takut bapak sama ibu nda setuju,” jawab Pipit pelan.


“Sopo?” tanya Wardani bersemangat.


Bukan hanya Wardani, tapi Cahyadi dan Ida juga penasaran. Hanya Toni yang masih diam dan menyimak pembicaraan. Sesungguhnya pria itu menantikan drama apalagi yang akan disuguhkan adik iparnya ini.


“Dia masih muda, bu. Baru 21 tahun. Makanya aku takut mau kenalin ke ibu.”


“Astaghfirullah,” Wardani memegangi kepalanya yang mendadak pusing.


“Berarti dia masih kuliah?” tanya Ida.


“Dia ngga kuliah, mba. Dia kerja, jadi model. Mba juga kenal kok sama dia.”


“Moso?”


“Iya. Dia temannya Adit, Roxas yang tadi nganter pak haji Soleh.”


Toni hampir saja menyemburkan minuman yang baru masuk ke mulutnya. Matanya langsung melihat pada Pipit. Ida juga tidak kalah terkejutnya, jika tidak salah ingat, pemuda bernama Roxas itu memang masih muda.


“Kowe ojo ngapusi (kamu jangan bohong),” ujar Wardani di sela-sela keterkejutannya.


“Aku ngga bohong, bu. Ibu sama bapak bisa tanya sama Adit atau Ad, aku memang baru tiga bulan jadian sama dia. Tapi aku nyaman dan yakin sama dia, bu. Tapi aku mau nunggu dia siap dulu. Rencananya tahun depan dia mau kuliah, mungkin beres dia kuliah baru kita nikah.”


Pipit cukup lancar mengarang bebas tentang hubungannya dengan Roxas. Entah dapat ide dari mana wanita itu mengatakan hal tersebut. Yang penting dirinya aman dan tidak dikejar-kejar untuk menikah.


“Nek ngenteni de e marine kuliah, umurmu piro baru rabi? (kalau kamu nunggu dia beres kuliah, umur berapa kamu nikah?).”


“Yaa.. sekitar 32 atau 33 bu, hehehe..”


“Ora iso, ora iso, sesuk jak en arek e rene, methuk i ibu lan bapak. Ben ta takonane dhewe kapan siape nek ngrabi awakmu. (ngga bisa, ngga bisa. Besok kamu bawa anaknya ke sini, ketemu ibu sama bapak. Biar ibu tanya sendiri kapan dia siap nikahin kamu).”


Kali ini giliran Pipit yang terkejut. Padahal dirinya sengaja menyebut nama Roxas dengan harapan sang ibu percaya dan tidak menanyakan masalah pernikahan lagi mengingat usia Roxas yang masih muda. Tapi ternyata dugaannya salah, Wardani justru ingin bertemu dan bertanya langsung pada pemuda itu.


“Ya jangan maksa, bu. Roxas itu masih muda. Kayanya dia belum siap nikah.”

__ADS_1


“Moso kalah padha Adit. Adit wae wis siyap nikah, dheweke kabeh seumuran kan? (Masa kalah sama Adit. Adit aja udah siap nikah, mereka seumuran kan?).”


Duh mampus gue, salah strategi nih. Kenapa gue lupa kalo si Adit mau nikah. Asem deh.. mana gue belum calling si bule karbitan. Mampus beneran gue nih..


“Wis kana yen arep adus. Sesuk ojo lali gawa calonmu ketemu ibu (sudah sana kalau mau mandi. Besok jangan lupa bawa calonmu ketemu ibu).”


Dengan tubuh lunglai Pipit bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya. Kepalanya pusing memikirkan bagaimana caranya membujuk Roxas agar mau bertemu dengan kedua orang tuanya.


🌸🌸🌸


“Apa bu?"


Roxas terkejut mendengar apa yang dikatakan Pipit padanya. Matanya melotot, tangannya sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau kemarin berpura-pura menjadi pacar di depan Viren, biasa saja. Tapi kalau sekarang, harus berpura-pura di depan kedua orang tua Pipit, lain cerita.


“Aku minta tolong sama kamu ya, Xas? Aku beneran buntu makanya aku bilang kamu pacarku. Tadinya aku pikir karena kamu masih muda, orang tuaku bakal maklum kalau aku nunda pernikahan. Tapi ibuku emang amazing. Dia pake alasan Adit buat maksa aku bawa kamu ketemu sama mereka.”


Masih belum ada jawaban dari Roxas, pria itu juga bingung sendiri. Bagaimana bisa dirinya terus terlibat dalam urusan Pipit. Awal-awal niatnya membantu karena memang Pipit baik dan juga karena wanita itu tante dari Aditya dan Adrian. Tapi sekarang masalahnya malah makin runyam.


“Kamu bisa kan besok ketemu orang tuaku? Aku bilang hari ini kamu lagi ada pemotretan.”


“Duh gimana ya, bu. Besok aku ada janji sama Amanda.”


Sejak menjadi brand ambassador, hubungan Roxas dan Amanda memang semakin dekat. Usia Amanda dia atas Roxas satu tahun. Sejak sebulan lalu kedekatan mereka semakin erat, karena kerap melakukan sesi foto bareng.


“Oh gitu. Ya udah deh, ngga apa-apa. Biar aku cari alasan lain aja sama mereka.”


Pipit segera meninggalkan Roxas yang masih berada di lobi, wanita itu langsung naik ke lantai tiga. Rencananya hari ini ada pemotretan di suite room bersama dengan Amanda. Roxas sedang menunggu gadis itu datang. Tak lama orang yang ditunggunya datang.


“Aku telat ngga?” tanya Amanda.


“Ngga, kok. Ayo kita ke atas.”


Keduanya segera menuju lift di bagian dalam hotel. Roxas melemparkan senyuman pada resepsionis yang bertugas. Sekarang Roxas sudah tidak bekerja sebagai DW concierge lagi karena kesibukannya sebagai BA. Sesampainya di lantai 14, keduanya segera menuju kamar yang dijadikan tempat pemotretan.


“Ok.. kalian ganti baju dulu, ya. Tim wardrobe sudah menyiapkan semuanya. Nanti posenya kalian seperti pengantin baru yang masih malu-malu buat malam pertama, ok.”


Sebelah jempol Riko terangkat setelah menerangkan konsep pemotretan kali ini. Roxas segera menuju ke sudut ruangan yang sudah diberi sekat untuk berganti pakaian, sedang Amanda masuk ke kamar mandi. Tak lama keduanya keluar. Roxas mengenakan kaos polo dengan celana cargo selutut, sedang Amanda mengenakan setelan baju santai, dengan celana selutut.


Beberapa kali Riko memberi arahan pada kedua modelnya. Kameranya terus mengabadikan gambar Roxas dan Amanda dari berbagai sudut. Setelah dirasa cukup, pria itu mengakhiri sesi pemotretan. Usai berganti pakaian, Roxas menghampiri Amanda yang tengah menimati udara sore hari di balkon kamar.


“Manda.. soal acara besok gimana kalau dicancel dulu?” Roxas berdiri di samping gadis itu.


“Kenapa?”


“Aku mendadak ada acara keluarga. Tapi kalau kamu ngga mau ya ngga apa-apa, kita jalan aja.”


“Kalau kamu ada acara keluarga ya udah, cancel aja. Kita jalannya kalau kamu udah ada waktu.”


“Iya.”


“Ok, deh. Kalau urusan keluargaku sudah selesai, nanti aku kasih tau.”


“Ok.”


Amanda melemparkan senyum manisnya. Sebenarnya besok selain janji nonton bersama, Roxas juga ingin menyatakan perasaannya pada Amanda. Melihat respon Amanda padanya, rasanya tak salah mengira kalau gadis itu juga menyukainya. Jika Amanda membalas perasaannya, maka saat pernikahan Dewi nanti, dia bisa mengajak Amanda.


Setelah acara pemotretan benar-benar berakhir, Roxas memilih menemui Pipit. Dia memutuskan untuk membantu tante dari sahabatnya itu. Lagi pula Pipit juga sering berbuat baik padanya, rasanya tak tega saja kalau sampai menolak permintaan tolongnya.


TOK


TOK


TOK


“Masuk!” terdengar suara Pipit dari dalam.


Roxas menggerakkan handle pintu, kemudian masuk ke dalam. Nampak Pipit masih serius berkutat dengan berkas-berkas di atas meja. Dia segera mengangkat kepalanya ketika Roxas sudah berdiri di depannya.


“Ada apa?” tanya Pipit santai.


“Besok jam berapa kita ketemu orang tua ibu?”


“Kamu beneran mau bantu aku? Katanya ada janji sama si Aman?”


“Aman?”


“Iya, Amanda, hahaha..”


“Yaelah bu, ngga enak banget motong nama orang. Tar orangnya nangis guling-guling loh, hahaha..”


“Kamu beneran mau bantu aku?” tanya Pipit lagi memastikan.


“Iya, bu. Nanya mulu.”


Hanya senyuman saja yang diberikan oleh Pipit. Jujur saja, dia lega mendengar Roxas mau membantunya. Dengan begitu dia bisa menolak perjodohan dan mengulur pernikahannya dengan siapa pun itu. Roxas akan menjadi tameng terbaiknya sekarang.


“Jam setengah delapan di rumah Adit. Kita makan malam bareng.”


“Adit sama bang Rian ada ngga?”

__ADS_1


“Ya pasti ada.”


“Waduh..”


Sejenak Pipit hanya terdiam saja melihat Roxas yang terkejut. Tapi kemudian dia menyadari kalau Aditya dan Adrian memang kenal dekat dengan Roxas. Mereka pasti akan terkejut melihat kedatangan sahabatnya itu.


“Kamu tenang aja. Nanti aku yang ngomong sama mereka, biar mereka ikutan sandiwara kita.”


“Iya, bu. Boleh. Kalau sama Adit saya sih santai. Tapi malu sama bang Rian, hehehe..”


“Iya, nanti aku minta si Ad ngga ngomong yang aneh-aneh. Lagian dia juga kan ngga banyak omong orangnya.”


“Aamiin..”


Dipikir Roxas mereka hanya akan bertemu berempat saja. Tapi ternyata pertemuan dilakukan di kediaman Aditya. Sudah pasti dia akan bertemu dengan duo kakak beradik tersebut. Aditya bisa dipastikan akan meledeknya habis-habisan, tapi entah dengan Adrian. Pria itu sulit sekali diprediksi jalan pikirannya.


🌸🌸🌸


Mata Wardani terus saja memandangi pria yng duduk di hadapannya. Dari segi wajah dan penampilan, Roxas memang tidak ada celanya. Pria bertubuh tinggi dengan postur tubuh proposional, ditunjang wajah bulenya yang tampan tentu saja masuk ke dalam kriteria menantu idaman Wardani. Tapi wanita itu masih sangsi apa benar Roxas adalah pacar dari anaknya.


“Siapa namamu?” Wardani membuka pembicaraan.


“Aep Roxas Hidayatullah, bu. Panggil aja Roxas.”


“Aep?” tanya Wardani memastikan, dan Roxas hanya menjawab dengan anggukan.


Bukan hanya Wardani, tapi Ida juga Cahyadi juga bingung mendengar nama depan pria itu. Toni yang juga ikut dalam pertemuan itu juga berpikir keras, kenapa pria dengan wajah blasteran bisa memiliki nama depan Aep.


“Itu nama Aep dapat dari mana?” tanya Toni penasaran.


“Itu nama dari kakek. Awalnya nama saya cuma Roxas Hidayatullah. Tapi berhubung almarhum kakek keki berat sama bapak saya, jadinya ditambahin nama Aep di depan nama saya, hehehe.”


“Keki gimana?” timpal Ida yang tetiba saja jadi kepo dotcom.


“Ya keki, bu. Soalnya bapak saya kan cuma nanem saham aja, abis itu ibu ditinggal tanpa kabar.”


Semuanya berdehem mendengar penjelasan Roxas. Pipit yang baru mendengar alasan tersebut, sontak melihat pada Roxas. Dia tak menyangka kalau Roxas ternyata sudah ditinggal ayahnya sejak dalam kandungan. Toni jadi tidak enak sendiri karena sudah memulai pembicaraan tersebut.


“Ngga apa-apa, pak, ibu. Saya udah sering ditanya kaya gitu.”


“Jadi kamu sekarang tinggal dengan ibumu?” tanya Cahyadi.


“Ibu saya sudah meninggal. Saya dibesarkan sama enin. Tapi untuk sementara saya ngontrak, dan enin sama bibi saya. Kalau sudah punya rumah sendiri, saya mau ajak enin tinggal bareng. Semoga bb.. ehm Pipit mau menerima enin kalau kami menikah nanti.”


Hampir saja lidah Roxas menyebut kata ibu di depan nama Pipit. Pria itu memang belum terbiasa memanggil Pipit hanya dengan nama saja. Kejujuran Roxas yang diberi bumbu penyedap, tentu saja membuat Wardani yakin kalau Roxas memang menjalin hubungan dengan anaknya.


“Apa yang kamu suka dari anak saya? Dia itu tujuh tahun lebih tua dari kamu. Dia juga galak, cerewet, kalau ngomong nda pake saringan, nda bisa masak juga. Apa yang kamu suka darinya?”


Mata Pipit membulat mendengar ucapan Wardani. Bisa-bisanya sang ibu tercinta menjelek-jelekkan dirinya di depan Roxas. Ida hanya terkikik saja, mulut pedas ibunya tidak meluntur termakan usia.


“Nah saya juga bingung, bu. Sebenarnya apa yang saya suka dari Pipit sampai sekarang juga saya belum tahu. Seperti yang ibu bilang, dia itu galak, cerewet, kalau ngomong bikin orang darah tinggi. Tapi kok ya saya suka? Apa saya dipelet ya, bu?”


PLAK


“Aduuhh…”


Sebuah pukulan mendarat di lengan Roxas. Pipit sang pelaku sama sekali tidak menyesal sudah melakukan tindakan KDRT pada pacar abal-abalnya itu. Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, pria itu malah semakin menegaskan semua sifat buruknya dan menuduhnya melakukan pelet.


“Hahahaha…”


Cahyadi dan Toni tak kuasa menahan tawanya mendengar jawaban Roxas. Baru saja bertemu, jujur saja Cahyadi sudah menyukai Roxas. Biar pria itu masih muda, tapi sepertinya layak dijadikan menantunya. Adrian dan Aditya yang menguping dari kamar Adrian, juga tak bisa menahan tawanya.


Setelah Pipit mengatakan siapa yang akan dibawanya sebagai pacar pura-pura. Kedua kakak beradik itu memutuskan tidak akan ikut bergabung. Mereka takut justru mengacaukan sandiwara sang tante. Keduanya hanya mencuri dengar saja dari pintu kamar yang sengaja dibuka.


“Kamu beneran serius sama Pipit?”


“Maunya serius, bu. Tapi jodoh kan di tangan Tuhan, saya hanya bisa berusaha dan berdoa. Kalau memang Pipit jodoh saya, Alhamdulillah.”


“Kapan rencanamu menikahi Pipit?”


Kali ini Roxas tak langsung menjawab. Ini adalah pertanyaan jebakan. Jika menjawab berarti dia sudah berjanji akan menikahi wanita itu. Lalu bagaimana hubungannya dengan Amanda yang baru saja akan terjalin. Dia melihat pada Pipit.


“Kan sudah kubilang kemarin, Roxas mau kuliah dulu. Setelah dia lulus kuliah, baru kita putuskan soal pernikahan,” jawab Pipit.


“Belum tentu ibumu ini masih hidup kalau nunggu dia beres kuliah,” ujar Wardani pelan.


“Ya.. kok ibu bilangnya gitu. Ibu harus tetap sehat, berumur panjang dan lihat aku kasih cucu buat kalian.”


“Iya, bu. Jangan mendahului takdir Tuhan,” timpal Roxas.


“Bapak harap paling lama setahun lagi kalian sudah menikah,” seru Cahyadi.


“In Syaa Allah, pak. Doakan saja yang terbaik buat kami. Mudah-mudahan kami berjodoh dan menikah sesuai keinginan kalian,” jawab Pipit diplomatis.


Roxas hanya terdiam mendengar ucapan Cahyadi dan juga Pipit. Dia jadi merasa bersalah sudah membohongi kedua orang tua tersebut. Semoga saja Pipit mendapatkan laki-laki baik sebagai jodohnya. Dan keinginan kedua orang tua Pipit melihat anaknya menikah menjadi kenyataan.


🌸🌸🌸


**Roxas udah dikenalin sama ortunya Pipit walau cuma pacar abal²😂

__ADS_1


Penulisan kalimat bahasa Jawa sudah dikoreksi ya. Makasih minhay udah jadi kamus hidup. Kalau masih ada yang salah, mohon maaf, mungkin kamus hidupnya keturunan Jawa KW🤭🙏**


__ADS_2