Naik Ranjang

Naik Ranjang
Barakallah


__ADS_3

Dari arah pintu masuk ballroom, nampak Budi masuk bersama seorang gadis yang tinggi semampai, berkulit putih dan wajahnya juga cantik. Micky, Hardi dan Bobi dibuat melongo, mereka tak percaya melihat Budi berhasil menggandeng seorang gadis cantik ke resepsi pernikahan mantan kecengannya.


Bukan hanya ketiga pria itu saja yang terkejut, Sandra dan Mila juga sama terkejutnya. Mila sampai mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya bukanlah fatamorgana. Sandra yang mengenali gadis di samping Budi juga hanya bisa ternganga melihatnya.


“Inge..” gumam Sandra pelan namun masih bisa terdengar oleh para sahabatnya.


“Lo kenal, San?” tanya Mila.


“Kenal lah. Dia itu Inge, temen sekelas gue. Dia itu terkenal di jurusan gue, cewek paling cantik. Dengar-dengar juga dia jadi selebgram sekarang.”


“Wah.. si Budi pake pelet apa bisa dapetin yang bening kaya gitu,” sahut Bobi.


“Tuh matanya si Inge ngga katarak kan? Kok mau sih sama si Budi,” Micky masih terheran-heran.


“Kayanya dia klepek-klepek sama pesona Budi yang bukan kaleng-kaleng,” ceplos Hardi yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


Dengan wajah penuh kebanggaan, Budi mengajak Inge, gadis yang bersamanya naik ke atas panggung. Sekarang pria itu sudah siap seratus persen berhadapan dengan Dewi. Dia akan menunjukkan pada mantan pujaan hatinya itu, kalau salah besar Dewi sudah menolaknya. Buktinya sekarang dia berhasil menggandeng gadis yang kecantikannya tidak kalah dari Dewi.


Melihat kedatangan Budi dan Inge, tentu saja membuat Dewi terkejut. Dia sama sekali tak menyangka kalau gadis yang dibawa Budi ke pesta pernikahannya sudah seperti bidadari turun dari bajaj. Dengan dagu terangkat, Budi terus berjalan menghampiri pasangan pengantin tersebut.


Tanpa Budi sadari, sebenarnya Inge juga terkejut melihat mempelai pria adalah dosen di fakultasnya kuliah. Walau gadis itu tidak menempuh pendidikan di jurusan yang Adrian ajar. Namun ketampanan dosen itu sudah menyebar ke seantero fakultas. Dan Inge adalah termasuk pengagum rahasia Adrian.


“Selamat ya pak Rian, Dewi. Semoga pernikahan kalian sakina mawadah warohmah.”


“Aamiin.. terima kasih, Budi,” jawab Adrian seraya melemparkan senyumnya.


“Jadi yang nikah pak Rian,” celetuk Inge sambil melihat pada Adrian dan juga Dewi bergantian.


“Kamu kenal saya?” tanya Adrian bingung.


“Dia Inge, pak. Mahasiswi jurusan HI.”


“Ooh..”


Hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Adrian. Dewi yang berada di samping suaminya memandangi Inge tanpa berkedip. Diam-diam Budi tersenyum melihat sikap Dewi. Dia menyangka Dewi pasti terpukul melihatnya move on begitu cepat. Padahal Dewi memandangi Inge karena tak suka gadis itu melihat pada Adrian dengan tatapan memuja.


“Wi.. selamat ya. Semoga ini menjadi pernikahan terakhir elo.”


“Aamiin.. makasih, Bud. Ini cewek lo?”


“Iya, kenalin namanya Inge.”


Dewi mengulurkan tangannya pada Inge, namun gadis itu hanya membalasnya asal. Dia tentu saja mengenal Dewi karena Inge merupakan salah satu fans The Soul. Dia ingat betul saat Aditya memperkenalkan Dewi sebagai istrinya. Dan sekarang janda Aditya itu sudah menikah lagi dengan Adrian, salah satu dosen yang disukainya. Padahal kematian Aditya belum ada satu tahun.


“Selamat ya. Aku ngga nyangka bisa secepat itu kamu melupakan Adit,” ceplos Inge.


Sontak perkataan gadis itu mengejutkan Dewi dan juga Adrian. Budi juga tak kalah terkejutnya. Dua minggu mengenal Inge, dia tidak tahu kalau gandengannya ternyata fans berat The Soul, band yang digawangi mendiang Aditya.


Dewi yang hendak menyanggah ucapan Inge terpaksa harus menelan kata-katanya lagi begitu merasakan pelukan Adrian di pinggangnya. Mata pria itu mengisyaratkan pada dirinya untuk tidak mengatakan apapun. Akhirnya Dewi memilih bungkam. Budi segera mengajak Inge turun dari panggung pelaminan ketika merasakan atmosfer berbeda setelah ucapan Inge tadi.

__ADS_1


Sepeninggal Budi dan Inge, Dewi mulai mengeluarkan uneg-unegnya. Dia benar-benar tersinggung mendengar ucapan Inge tadi. Adrian tak mengatakan apapun, pria itu memeluk sang istri kemudian mengusap punggungnya dengan lembut.


“Tidak usah dimasukkan ke hati apa yang tadi kamu dengar. Kita tidak bisa menjelaskan situasi kita pada semua orang karena belum tentu orang-orang mau mendengar dan menerimanya. Biarkan saja mereka dengan persepsinya masing-masing. Jangan pedulikan mereka, yang penting kita bahagia. Aku, kamu, Arkhan dan Adit pastinya.”


Kata-kata Adrian bagaimana siraman air es yang langsung mendinginkan hati Dewi yang terbakar amarah. Dia juga yakin setelah resepsinya, gossip tentang dirinya di kampus pasti akan menyebar. Apapun itu, Dewi sudah menyiapkan hati untuk menerima semuanya. Walau pun sulit, dia akan tetap berusaha berpikiran positif.


Seturunnya dari panggung, Budi langsung mengajak Inge menemui para sahabatnya. Tujuannya sudah pasti untuk memamerkan gadisnya itu pada yang lain. Kedatangannya langsung disambut oleh Bobi dan yang lainnya. Dengan bangga Budi mengenalkan Inge pada yang lainnya, kecuali Sandra, karena memang mereka sudah saling mengenal.


“Nge.. kok mau-maunya sih diajak jalan sama Budi? Emang stok cowok di HI udah abis ya?’ ceplos Mila.


“Dih si lambe nyinyir kaga bisa diem mulutnya,” sambar Budi yang diiringi toyoran di kepala gadis itu.


“Kamu ngga lagi dipelet kan sama dia?” sambung Bobi.


“Kamu tahu kan ini Budi?” Micky menunjuk pada Budi.


“Iya, aku tahu itu Budi.”


“Ya kali aja gitu di mata kamu dia berubah jadi Jeff Nichols gara-gara pelet dia.”


Budi menghembuskan nafas kasar mendengar celetukan para sahabatnya. Ingin rasanya dia merutuki para sahabat durjananya itu. Namun Inge terlihat santai menanggapi celetukan sahabat Budi.


“Nge.. kamu sama Budi pacaran apa gimana sih?” tanya Sandra. Dia benar-benar penasaran bagaimana temannya ini bisa nyantol pada Budi yang wajahnya di bawah standar ISO.


“Masih penjajagan aja dulu,” jawab Inge santai yang semakin membuat hidung Budi kembang kempis.


“Coba deh kamu diruqiyah dulu. Kali aja mata kamu burem pas lihat Budi.”


“Jiaaahhh.. ngapain ngiri sama elo. Kalau Inge udah sadar juga, pasti dia ninggalin elo, hahaha…”


"Hahaha... Bener, sekarang Inge masih pingsan, makanya mau sama elo," sambung Micky.


“Kampret!”


Gelak tawa terdengar di meja mereka. Budi terus saja dijadikan bulan-bulanan oleh para sahabatnya. Pria itu segera bangun dari duduknya dan mengajak Inge menikmati hidangan yang disediakan dari pada mendengarkan celotehan absurd para sahabatnya yang hanya meluluhlantakkan harga dirinya.


Perhatian Bobi dan yang lainnya segera teralihkan ketika mendengar suara dari arah panggung hiburan. Ternyata The Soul sudah bersiap untuk menghibur para tamu yang hadir. Fahri bersiap di depan stand mic-nya.


“Selamat siang semuanya. Pertama-tama kami ingin mengucapkan selamat pada kedua mempelai yang tengah berbahagia. Kami doakan semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek, dan hanya maut yang memisahkan.”


“Aamiin..”


Terdengar suara penonton mengamini doa yang dilontarkan sang vocalis. Adrian dan Dewi juga ikut mengamini. Keduanya sudah duduk di kursi pelaminan untuk menikmati lagu yang disuguhkan. Sang pembawa acara menghentikan sejenak para tamu yang hendak memberikan ucapan selamat.


“Baiklah.. lagu pertama yang akan kami bawakan adalah lagu berisikan selamat dan doa untuk pasangan pengantin. Sebuah lagu dari Maher Zain, Barakallah.”


Usai Fahri mengatakan hal tersebut, suara musik langsung terdengar. Lagu berirama up beat tersebut langsung memenuhi ballroom. Fahri mengambil mic di depannya, kemudian mulai bernyanyi sambil melihat pada pasangan pengantin.


“We're here on this special day. Our hearts are full of pleasure. A day that brings the two of you. Close together. We're gathered here to celebrate. A moment you'll always treasure.

__ADS_1


Let's ask Allah to make your love. Last forever. Let's raise our hands. And make du'a. Like the Prophet taught us. And with one voice let's all say.”


Tamu undangan yang menghadiri resepsi pernikahan Dewi dan Adrian ikut terhanyut dengan lagu yang dibawakan oleh Fahri. Mereka ikut menyanyikan lirik di bagian refrain. Lagu tersebut memang sangat populer dan sudah sering diputar saat Ramadhan tiba. Padahal isi lagu tersebut adalah doa untuk pasangan yang tengah merayakan hari bahagianya.


“Baraka Allahu lakuma. Wa baraka 'alaykuma. Wa jama'a baynakuma fi khayr. Baraka Allahu lakuma. Wa baraka 'alaykuma. Wa jama'a baynakuma fi khayr.”


Semua tamu ikut menyanyikan lirik tersebut bersama dengan Fahri. Dewi dan Adrian juga ikut menyanyikan di tempat mereka duduk. Sementara Arkhan yang berada dalam pangkuan Roxas tak berhenti bergerak. Anak itu terlihat begitu menikmati penampilan band besutan almarhum papanya.


Pipit tak berhenti tersenyum melihat Arkhan yang nampak bersemangat. Tangannya bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Sesekali Roxas mengangkat anak itu dan memposisikannya berdiri. Arkhan terlihat begitu bersemangat.


Di meja lain, Indira tak bisa menahan senyumnya mendengar Doni yang juga ikut menyanyikan bagian refrain. Walau suaranya jauh dari kata enak didengar, namun pria itu tetap saja bernyanyi. Fajar dan Dita sampai harus menutup kedua telinga mereka demi menghindari polusi suara yang diciptakan Doni.


Usai menyanyikan lagu yang berisikan doa untuk pasangan pengantin, Fahri melanjutkan nyanyiannya. Kini dia mulai menyanyikan lagu-lagu bertema cinta. Pria itu juga mengajak tamu yang datang untuk mau naik ke atas panggung, bernyanyi bersamanya.


Mila awalnya menawarkan diri untuk bernyanyi. Untung saja Sandra, Bobi, Hardi dan Micky dapat menghentikan gadis itu tepat waktu. Ikmal tak berhenti tertawa melihat tingkah Mila dan juga para sahabatnya. Di matanya Mila benar-benar terlihat menggemaskan.


“Untuk kesempatan kali ini, ijinkan saya mengajak pasangan pengantin naik ke atas panggung menyanyikan lagu untuk kita semua.”


Ucapan Fahri langsung dijawa oleh tepukan tangan tamu undangan dan juga teriakan yang meminta pasangan pengantin untuk bernyanyi. Fahri turun dari panggung hiburan kemudian berjalan menuju panggung pelaminan, meminta kedua mempelai untuk bernyanyi. Awalnya Adrian menolak, namun karena bujukan Fahri dan Dewi, akhirnya pria itu mau juga.


Gemuruh tepuk tangan mengiringi langkah pasangan pengantin menuju panggung hiburan. Arkhan berteriak kegirangan melihat kedua orang tuanya naik atas panggung hiburan. Anak itu nampak semakin bersemangat. Roxas bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju depan panggung agar Arkhan bisa melihat lebih jelas kedua orang tuanya.


Setelah sepakat akan lagu yang akan dibawakan, Fahri memberi tanda pada teman-temannya untuk mulai memainkan musik. Dewi dan Adrian berdiri berhadapan dengan tangan masing-masing memegang mic. Mereka memilih menyanyikan lagu Sepanjang Hidup milik Maher Zain. Lagu ini akan mereka nyanyikan dalam versi duet.


Lagu dimulai dengan petikan gitar Rangga yang disusul dengan alat musik lainnya. Adrian bersiap menyanyikan bagiannya. Dia mendekatkan mic ke mulutnya, bersiap menyanyikan bait pertama.


“Aku bersyukur kau di sini kasih. Di kalbuku mengiringi. Dan padamu ingin ku sampaikan


Kau cahaya hati. Dulu ku palingkan diri dari cinta. Hingga kau hadir ubah segalanya. Oh inilah janjiku kepadamu.”


Walau tidak bisa dikatakan merdu, namun suara Adrian masih layak untuk didengar dan tidak menyebabkan polusi suara. Fajar dan Doni cukup terkejut melihat sahabatnya itu mau bernyanyi di hadapan banyak orang. Sejak bersama dengan Dewi, pria itu memang mengalami banyak perubahan dalam hidupnya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Ida dan Toni. Anak sulung mereka yang biasa tertutup dan lebih banyak diam, sedikit demi sedikit mulai berubah sejak bersama dengan Dewi. Ida mengusap air di sudut matanya. Dia begitu terharu melihat perubahan sang anak, begitu pula dengan Toni.


“Kau anugerah Sang Maha Rahim. Semoga Allah berkahi kita. Kekasih penguat jiwaku. Berdoa kau dan aku di Jannah. Ku temukan kekuatanku di sisimu. Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku. Oh inilah janjiku kepadamu.”


Dewi menyanyikan bagiannya sambil terus melihat pada suaminya. Adrian meraih tangan Dewi kemudian menggenggamnya dengan erat. Sorot matanya penuh dengan cinta melihat pada wanita pujaan yang sekarang sudah menjadi pendamping hidupnya.


“Sepanjang hidup bersamamu. Kesetiaanku tulus untukmu. Hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku. Sepanjang hidup seiring waktu. Aku bersyukur atas hadirmu. Kini dan selamanya aku milikmu. Yakini hatiku.”


Kembali mereka menyanyikan part refrain bersama-sama. Genggaman tangan keduanya semakin erat saja. Semua yang hadir seakan bisa merasakan cinta keduanya yang begitu besar. Adrian melepaskan genggamannya, kemudian mengambil Arkhan dari gendongan Roxas. Sambil menggendong Arkhan, pria itu melanjutkan nyanyiannya bersama dengan Dewi.


Roxas yang masih berdiri dekat panggung hanya bisa memandangi keluarga kecil di hadapannya dengan berkaca-kaca. Sebagai saksi hidup cinta Adrian dan Dewi, dia bisa merasakan kebahagiaan mereka yang sempat tertunda. Kehadiran Aditya di tengah-tengah mereka justru menjadi jembatan untuk keduanya bersatu dan semakin mengeratkan cinta di antara keduanya.


Adrian dan Dewi mengakhiri lagunya dengan memberikan ciuman di pipi anaknya. Senyum Arkhan mengembang dan memperlihatkan lesung pipinya. Semua personil The Soul dan juga Roxas memandang terpana pada Arkhan. Mereka seperti melihat penampakan Aditya di sana.


🌸🌸🌸


**Terjawab sudah ya siapa yang dibawa Budi ke resepsi😂

__ADS_1


Untuk semua yang menjalankan ibadah puasa, semoga tetap diberikan kekuatan ya. Semangat masaknya dan jangan sampe gosong🤭**


__ADS_2