
Sebulan setelah Doni dan Indira menikah, Fajar dan Dita menyusul ke pelaminan. Pasangan itu akhirnya akan mengikat janji suci di hadapan penghulu. Jika pernikahan Doni digelar secara mewah, berbeda dengan pernikahan Fajar dan Dita yang dilangsungkan sederhana. Akad nikah dilakukan di masjid yang ada di kompleks perumahan di mana Dita tinggal. Dan resepsinya digelar di halaman masjid.
Adrian dan Doni datang bersama pasangannya masing-masing lebih awal untuk menyaksikan akad nikah. Kedua pria itu mendekati Fajar yang terlihat gugup menjelang ijab kabul.
“Tenang aja, Jar. Jangan gugup,” ujar Adrian.
“Ambil nafas dalam-dalam, keluarin lagi. Tapi dari mulut keluarinnya, jangan dari belakang.”
Fajar menoyor kepala Doni dengan kesal. Namun Doni hanya terpingkal saja. Sang penghulu segera memberi tanda pada Fajar untuk memulai akad nikah. Fajar segera menuju akad, lalu duduk di hadapan ayah Dita. Pria itu segera menggenggam tangan Fajar.
“Ananda Fajar Bustomi, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Dita Perdita binti Ahmad Jaelani dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang tunai lima juta rupiah dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Dita Perdita binti Ahmad Jaelani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah!” jawab para saksi.
Sambil mengucapkan hamdalah, Fajar mengusap wajah dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian Dita datang didampingi ibunya. Fajar menatap Dita tanpa berkedip, tak percaya kalau tadi dirinya baru saja membayar tunai wanita itu. Adrian menepuk pundak Fajar untuk membangunkan pria itu dari lamunan.
Fajar segera menyematkan cincin pernikahan di jari manis Dita. Sang pengantin wanita pun melakukan hal yang sama. Setelahnya Dita meraih tangan Fajar kemudian mencium punggung tangannya. Fajar memegangi kedua bahu sang istri lalu mendaratkan ciuman di kening wanita itu.
Kedua mempelai kemudian mendengarkan nasehat pernikahan yang disampaikan penghulu dengan sungguh-sungguh. Sesekali terdengar tawa semua yang hadir ketika sang penghulu menggoda Fajar yang tampak tegang padahal ijab kabul sudah berlangsung dengan lancar.
“Kang Fajar ulah tegang wae. Ngke aya waktosna mun tegang mah. Pas malam pertama (Kang Fajar jangan tegang terus. Nanti ada waktunya. Pas malam pertama).”
Perkataan sang penghulu tentu saja langsung disambut gelak tawa. Doni tertawa paling kencang, rasanya puas saja melihat sahabatnya itu dibuat mati kutu oleh sang penghulu. Adrian mengulum senyumnya, dia jadi teringat saat pernikahannya. Penghulu yang menikahkannya dulu juga begitu jahil dan selalu menggodanya.
Setelah nasehat pernikahan, acara dilanjutkan dengan sungkeman pada kedua orang tua. Suasana langsung berganti haru biru. Kepala Fajar nampak mengangguk-angguk ketika menerima petuah dari orang tua dan mertuanya.
Setelah acara sungkeman berakhir, tamu undangan yang datang menyaksikan akad nikah dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan. Adrian bersama Dewi segera menuju meja prasmanan. Di belakang mereka, menyusul Doni dan Indira. Keempatnya makan bersama di satu meja sambil berbincang.
“Kak Indi gimana rasanya nikah sama bang Doni? Ngga nyesel kan?” goda Dewi.
“Wak sekate-kate nih Dewi. Ya pasti Indi bahagialah, dapet cowok ganteng kaya aku.”
“Ganteng dilihat dari lampu petromak yang udah hitam corongnya, hahaha…”
Tak ayal Indira ikut tersenyum mendengar perkataan Doni. Adrian tertawa puas mendengar sang istri membully sahabatnya.
“Yakin pasti bang Fajar yang duluan bikin kak Dita masuk angin,” sambung Dewi.
“Wah, Ad. Bini lo bener-bener nih. Udah berani PJD sama gue.”
“PJD apaan?” tanya Dewi.
“Penghinaan Jarak Dekat.”
“Hahahaha…”
Hanya suara tawa Adrian saja yang terdengar. Dewi juga tak bisa menahan tawanya. Sejak menikah dengan Adrian dan mengenal lebih dekat kedua sahabat suaminya, Dewi tak sungkan untuk melemparkan gurauan, bahkan menjurus pada pembullyan. Indira menyentuh tangan Doni untuk memberikan dukungan dan berhasil membuat sang suami mesem-mesem.
“BTW si Fajar pas mau malam pertama ijin dulu ngga sama istrinya?”
“Ijin gimana?”
“Lapor, mohon ijin buat jebol gawang. Laporan selesai,” Doni mengatakan dengan gaya seperti inspektur upacara.
“Hahaha.. dasar sableng.”
Fajar yang tengah sarapan bersama istri dan keluarganya langsung menolehkan kepalanya pada meja yang ditempati kedua sahabatnya. Dia yakin sekali kalau semua yang ada di sana tengah bergibah tentang dirinya. Apalagi melihat Doni yang nampak terpingkal.
Usai menghabiskan sarapannya, Fajar segera mendatangi meja yang ditempati sahabatnya bersama dengan Dita. Kedatangan pasangan pengantin, Dewi segera berdiri untuk memberikan ucapan selamat.
“Selamat ya kak Dita, bang Fajar,” Dewi seraya memeluk Dita. Di belakangnya menyusul Indira memberikan ucapan selamat.
“Selamat ya, Jar. Inget jangan cape-cape, tar malam bukannya jebol gawang malah molor,” seru Doni.
Tak ada tanggapan dari Fajar, pria itu hanya menoyor kepala sahabatnya yang kerap bicara tanpa saringan. Adrian berdiri kemudian ikut memberikan ucapan selamat seraya memeluknya.
“Selamat, Jar. Semoga jadi keluarga samawa.”
“Aamiin.. makasih, Ad.”
“Nanti resepsinya pake pesta pedang pora ngga?” tanya Adrian.
“Ngga.”
“Kenapa?”
“Maleslah. Langsung resepsi biasa aja.”
“Ck.. Dita.. Dita.. gue turut prihatin ya, lo dapet suami modelan dia. Gelar pesta pedang pora aja males. Dia rajinnya cuma ngejar penjahat doang.”
“Ngga apa-apa kalo cuma males gelar pesta pedang pora, asal jangan males ngadon aja. Tar lama punya anaknya, hahaha..”
“Heleh lo berdua yang udah duluan nikah aja belum bikin bini melendung.”
“Kalau gue sengaja nunda sampai Arkhan beres asi. Ngga tau kalo Doni, nyasar cebongnya kayanya, hahaha..”
“Sue lo.”
Gelak tawa kembali terdengar. Indira yang paling pendiam dan pemalu hanya menundukkan kepalanya saja mendengar ocehan para lelaki tersebut. Berbeda dengan Dewi dan Dita yang sudah khatam sifat ketiganya.
__ADS_1
Perbincangan pasangan pengantin dengan kedua sahabatnya harus terputus ketika pihak WO memanggil mereka untuk berganti pakaian. Sebentar lagi pesta resepsi akan dimulai. Sambil memeluk pinggang Dita, Fajar mengajak Dita menuju ruang ganti yang ada di bagian dalam masjid.
🌸🌸🌸
Para tamu mulai berdatangan untuk memberikan ucapan selamat. Banyak rekan kerja Fajar yang hadir untuk memberikan ucapan selamat. Begitu pula dengan Dita, rekan kerjanya di kampus juga ikut datang untuk merayakan hari bahagia wanita itu. Di antara para tamu yang datang, nampak Jiya di sana.
Wanita itu tidak datang sendiri, melainkan bersama dengan seorang pria yang sudah mantap dipilihnya sebagai calon pendamping hidupnya. Kedekatan Jiya dengan salah seorang dosen di fakultas teknik ternyata tidak berlangsung lama dikarenakan banyak perbedaan di antara keduanya. Dan sekarang bersama orang baru, Jiya merasa siap untuk melepas masa lajangnya.
Setelah memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai, Jiya bersama pasangannya turun dari panggung pelaminan. Sebelum berburu makanan yang ada di halaman masjid, terlebih dulu dia menyapa Adrian dan Dewi. Adrian terkejut melihat pria yang datang bersama dengan Jiya.
“Om Bayu,” sapa Adrian.
“Apa kabar, Ad?” Bayu mengulurkan tangannya pada Adrian.
“Alhamdulillah, baik,” Adrian membalas uluran tangan Bayu.
“Kalian saling kenal?” tanya Jiya bingung. Dia cukup terkejut melihat Adrian yang mengenal Bayu.
“Adrian ini keponakannya Pipit,” terang Bayu.
“Kalian kenal di mana?” tanya Adrian penasaran.
“Waktu Jiya datang ke rumah sakit bawa temannya yang kecelakaan. Judulnya musibah membawa berkah, dari situ kita kenalan dan dekat.”
“Alhamdulillah, namanya jodoh kita ngga pernah tahu ya, om. Kapan nih kalian nyusul?”
“Secepatnya, doain aja.”
“Aamiin..”
Sebuah mobil berhenti di depan masjid. Dari dalamnya keluar Roxas bersama dengan Pipit. Mereka juga turut diundang ke pesta resepsi Fajar dan Dita. Keduanya langsung menuju panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Setelahnya Roxas mengajak Pipit turun lalu mendekati Adrian. Keduanya terkejut melihat Bayu ada bersama sang keponakan. Tiba-tiba saja Roxas merasa cemburu melihat pertemuan Bayu dan istrinya.
“Mas Bayu apa kabar?” tanya Pipit.
“Alhamdulillah, baik. Aku dengar kamu sudah melahirkan. Anakmu ngga dibawa?”
“Ngga, mas. Anakku ada di rumah sama uyut dan neneknya.”
“Ehem!”
Deheman Roxas menghentikan pembicaraan Pipit dan Bayu. Dewi hanya terkekeh melihat wajah sahabatnya yang masam. Sadar akan kecemburuan Roxas, Bayu segera memperkenalkan Jiya sebagai calon istrinya.
“Kenalkan ini Jiya, calon istriku.”
“Bu Jiya,” tegur Roxas.
“Kalian kenal?” kini giliran Bayu yang bingung.
“Roxas itu mahasiswaku, mas,” jawab Jiya.
Pipit segera menyalami Jiya. Dia tak menyangka wanita yang pernah didengarnya sangat memuja Adrian justru akan melepas masa lajangnya bersama mantan kekasihnya. Di antara yang lain tentu saja Dewi yang paling merasa lega. Jika Jiya sudah memiliki pasangan, maka dia sudah tidak perlu khawatir lagi wanita itu masih menginginkan suaminya.
“Wi..”
Kepala Dewi menoleh ketika sebuah suara memanggilnya. Ternyata para sahabatnya juga ikut datang untuk memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Apalagi Dita termasuk dosen favorit mereka. Mila segera menghampiri Dewi dan bercipika-cipiki.
“Kalian datang juga,” ujar Adrian.
“So pasti, pak. Kan ini ajang perbaikan gizi, hahaha..” seru Bobi.
“Oh iya, minggu depan kalian dateng ke GOR Citra ya,” seru Budi seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikan pada semua orang yang ada di sana.
“Emang ada apa?”
“Proliga. Itu tiketnya udah aku beliin.”
“Emangnya udah dijual? Lo calo ya?” seru Bobi.
“Sembarangan! Gue kan udah pernah bilang magang jadi pegawai lepas di Proliga.”
“Oh yang jadi kang ngelap bola, hahaha…”
“Pokoknya dateng ya. Dijamin seru, ada tiga pertandingan, satu tim cewek, dua tim cowok. Mulai dari jam dua.”
“In Syaa Allah.”
Setelah membagikan tiket untuk menonton pertandingan kasta voli tertinggi di Indonesia, Budi segera mengelilingi stall untuk berburu makanan bersama dengan Bobi. Dewi melihat dua tiket di tangannya, lalu memasukkan ke dalam tasnya. Sepertinya seru juga menonton pertandingan voli bersama dengan para sahabatnya. Dia berencana membawa Arkhan, supaya anaknya tidak kaget dan canggung ketika berada di antara orang banyak.
🌸🌸🌸
Budi melambaikan tangannya ketika melihat sahabatnya mulai berdatangan. Pria itu sengaja menunggu di depan pintu masuk. Selain para sahabatnya, dia tentu saja memberikan tiket untuk Khayra juga. Gadis itu akan datang bersama dengan kakaknya untuk menonton pertandingan.
“Roxas mana?” tanya Budi yang tidak melihat kehadiran salah satu sahabatnya.
“Nanti dia datengnya pas pertandingan Labani lawan ENTIN BEN aja.”
“Oke deh, ayo let’s go.”
Semuanya langsung masuk ke dalam GOR. Adrian menggendong Arkhan yang nampak antusias begitu anak itu memasuki gelanggang olahraga tersebut. Nampak di tribun atas, para pendukung tim Bandung BJB sudah duduk manis untuk melihat pertandingan tim favoritnya. Di sebelahnya nampak pendukung Pertamina Fastron tak kalah ramai untuk memotivasi tim yang mereka dukung.
Di bagian lain, supporter yang mengenakan kaos dengan tulisan BEN juga sudah banyak yang datang. Mereka akan mendukung dua tim jagoan mereka yang akan bertanding hari ini, ENTIN BEN dan BEN Gladiator. Di bagian tersisa ada pendukung Palembang Bank Ngedumel. Sedang untuk pendukung Jakarta Labani belum datang karena pertandingan tim tersebut akan digelar paling akhir.
Pertandingan pertama antara BEN Gladiator melawan Palembang Bank Ngedumel mulai digelar. Terdengar teriakan Mila ketika mendengar nama kapten tim BEN Gladiator dipanggil masuk ke dalam lapangan.
__ADS_1
“Rivan!! Ai lope yu!!”
Budi hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar teriakan Mila. Ikmal yang ikut menemani kekasihnya sudah sangat maklum dengan kelakukan calon makmumnya itu. Teriakan Mila kembali terdengar ketika mendengar pembawa acara memanggil nama salah satu pemain asing dari Palembang Bank Ngedumel.
“Jun Ho oppa!! Sarange!!”
“Berisik, Mil,” cetus Budi.
“Bodo. Sirik aja lo.”
Pertandingan kedua tim papan atas tersebut berlangsung seru. Mila tak henti-hentinya mendukung Rivan dan Kim Jun Ho. Apalagi ketika kedua pria itu melakukan spike keras dan menghasilkan poin.
“Lo sebenernya dukung siapa sih?” kesal Budi.
“Ya dukung yang cakep lah, hahaha… ngga penting yang menang siapa. Yang penting mata gue seger bisa lihat Rivan sama Jun Ho oppa.”
Waktu pertandingan memakan waktu lebih dari dua jam karena kedua tim bermain sampai lima set dengan kemenangan diraih tim Palembang Bank Ngedumel. Fajar nampak kecewa, karena BEN Gladiator termasuk salah satu tim favoritnya, selain Babanghara Promosi.
Pertandingan kedua digelar, kali ini giliran Budi, Bobi dan Micky yang mengeluarkan suaranya. Mereka mendukung jagoan masing-masing. Micky menjagokan tim Bandung Ajib , sudah tentu pemain favoritnya adalah Shella Bernadetha. Lain dengan Bobi yang mendukung Tiara Sanger, masih dari tim Ajib. Sedang Budi sudah pasti mendukung tim di mana pemain favoritnya berada, Yola Yuliana.
“Yola! Yola! Go Yola go! Go Yola go!”
“Shella! Shella!”
“Sanger!! I love you!!” teriak Bobi tidak mau kalah.
“Pucuk.. pucuk.. pucuk..”
Teriakan Mila sontak mendapat toyoran bertubi-tubi dari Bobi, Budi dan Micky. Tak terima kekasihnya ditoyor, Ikmal bergantian mengeplak kepala ketiga pria tersebut. Mengingat Ikmal lebih tua dari mereka, Bobi cs tidak berani membalas Ikmal. Adrian hanya terpingkal saja melihat kelakukan anak didiknya dengan rekan kerjanya.
Sesuai janjinya, Roxas dan Pipit datang menjelang pertandingan kedua berakhir. Bandung Ajib harus menyerah kalah dari Pasmina Megatron dan membuat Budi jingkrak-jingkrak kesenangan. Roxas mengambil tempat duduk di samping Adrian. Dia bersiap melihat pertandingan tim favoritnya, Jakarta Labani.
“Fahri I love you!!” teriak Mila ketika Fahri melakukan servis.
“Udah nikah,” sambar Budi.
“Farhan I love you!” Mila berganti haluan.
“Lo dukung siapa sih?” kesal Budi.
“Dukung yang ganteng. Rojalin Penchev I love you!” Mila kembali berteriak.
“Ngga sekalian sebut kang Kohar I love you.”
“Siapa kang Kohar?”
“Tuh kang ngepel lapangan.”
“Hahahaha…”
Pertandingan ketiga pun berlangsung tak kalah seru. Kedua tim bermain sebanyak tiga set dan kemenangan akhrnya diraih oleh Jakarta Labani. Mila bersorak senang karena Fahri berhasil membawa timnya meraih kemenangan. Dia segera turun menuju lapangan dan mendekati Fahri untuk diajak foto bersama.
“Mal.. calon makmumnya ajaib bener ya, hahaha,” ledek Adrian.
“Iya. Tapi mau gimana lagi, uniknya kan di situ.”
“Arkhan ngga rewel, Wi,” ujar Pipit yang melihat Arkhan begitu anteng melihat jalannya pertandingan walau belum mengerti.
“Iya. Dia kayanya senang deh.”
“Arkhan mau jadi pemain voli?” tanya Adrian dan kepala anak itu hanya mengangguk-angguk saja.
“Zidan ngga dibawa, tante?”
“Ngga lah. Baru dua bulan, pamali katanya.”
“Bukan soal pamali. Takut dia sawan lihat Mila,” sambar Roxas.
“Hahaha…”
Ikmal kembali menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Roxas. Matanya terus mengikuti pergerakan Mila yang tengah minta berfoto dengan Fahri, Farhan, Rojalin Penchev dan Dimas Saputra. Semua pevoli yang berwajah tampan dibabat habis oleh gadis itu, diajak berfoto bersama.
Bersama dengan Dewi dan Arkhan dalam gendongannya, Adrian keluar dari GOR. Waktu sudah malam, hampir jam sembilan ketika mereka keluar dari sana. Keduanya segera menuju mobil.
“Kita belum makan malam, ya. Arkhan lapar ngga, sayang?” tanya Adrian.
Tak ada jawaban dari Arkhan, anak itu sepertinya sudah kehabisan energi. Adrian segera melajukan kendaraannya pulang, mengingat Arkhan yang sudah mengantuk. Tapi sebelumnya dia mampir dulu untuk membeli makan malam.
Adrian melihat pada anaknya yang masih mengunyah makanan dengan mata terpejam. Pria itu tak bisa menahan senyumnya melihat kepala Arkhan yang tertunduk beberapa kali karena mengantuk.
“Arkhan cape banget ya, kasihan.”
“Tapi dia tadi semangat banget, a. Biasanya anak kecil suka bosan di tempat yang sama lama-lama, tapi Arkhan ngga.”
“Kayanya dia mau jadi pemain voli kali, hahaha…”
Dewi mencium puncak kepala anaknya yang sudah masuk ke alam mimpi. Ini pertama kalinya dia mengajak Arkhan ke suatu tempat dalam jangka waktu yang cukup lama, kecuali berwisata. Dan ternyata sang anak tidak rewel, dan sangat menikmati. Adrian mengusak puncak kepala Arkhan yang sekarang sudah benar-benar terlelap. Diraihnya tangan Dewi lalu mendaratkan kecupan di punggung tangannya.
“I love you,” ujar Adrian pelan.
“Love you too, a,” balas Dewi sambil tersenyum.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Nama tim terpaksa aku plesetin takut ditolak neneng entun, disangka promosi😜
Wah sudah semakin mendekati ending. Siap² buat penggemar NR, pesawat udah mau landing😘