Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pergi Tak Kembali


__ADS_3

“Bang… maaf kalau aku sudah merebut kebahagiaanmu. Maaf aku sudah merebut cintamu.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tahu, bang. Aku tahu.. wanita yang abang cintai adalah Dewi.”


Bukan hanya Adrian, namun Ida juga terkejut mendengar penuturan Aditya. Wanita itu memandangi kedua anaknya bergantian. Adrian diam terpaku, tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya. Ternyata sikap aneh Aditya saat itu karena dia sudah mengetahui isi hatinya yang terpendam.


“Bang.. aku mau abang menikahi Dewi.”


“Dit.. kamu bicara apa? Kamu harus sembuh, Dewi dan Arkhan membutuhkanmu, hanya kamu.”


“Waktuku udah ngga banyak, bang. Berjanjilah.. abang akan menikahi Dewi setelah masa iddahnya selesai. Jangan sampai Arkhan tumbuh tanpa kasih sayang dan figur ayah.”


“Adit…”


“Berjanjilah, bang… berjanjilah.. aku yakin abang akan menyayangi dan menjaga Dewi dan Arkhan dengan baik.. berjanjilah..”


Tangan Aditya meraih tangan Adrian, matanya menatap sang kakak penuh permohonan. Adrian seperti kehilangan kata-kata, hanya airmata saja yang bisa dia keluarkan saat ini. Mendengar Aditya yang terus memohon padanya, Adrian pun menganggukkan kepalanya pelan.


“Makasih, bang.. aku… kembalikan cinta yang abang pinjamkan padaku..”


“Adit…”


Airmata Adrian semakin deras bercucuran. Tangis Ida semakin kencang dalam pelukan suaminya. Dari arah luar, terdengar suara langkah kaki mendekati ruang isolasi. Dewi masuk ke dalam ruangan dan langsung menghambur pada suaminya. Adrian menggeser posisinya, memberikan ruang untuk Dewi.


“Mas.. mas sudah sadar… mas…” Dewi memeluk suaminya.


“Sayang… maaf sudah membuatmu cemas. Bagaimana Arkhan?”


“Arkhan sangat merindukanmu, mas. Aku juga…”


Tangan Aditya memeluk punggung Dewi. Matanya kembali mengeluarkan buliran bening. Dia lalu melihat pada Pipit dan Roxas, juga Cahyadi dan kedua pamannya. Perlahan Dewi melepas pelukannya. Tangannya masih memegang erat tangan Aditya.


“Tante..”


“Adit.. kamu harus kuat ya,” suara Pipit terdengar parau. Entah mengapa melihat keadaan keponakannya, dia merasa waktunya tidak akan lama lagi.


“Maafin aku tante.. maafkan keponakan nakalmu ini.”


Tak ada jawaban dari Pipit. Tangis wanita itu mulai pecah, ketakutan mulai menyergapnya. Dia menangis dalam pelukan suaminya. Roxas pun tak kuasa menahan airmatanya. Melihat wajah sang sahabat yang begitu pucat membuat hatinya ketari-ketir.


“Xas.. terima kasih sudah jadi sahabat terbaik gue.”


“Iya, Dit. Makasih juga udah jadi sahabat gue,” Roxas menghapus airmatanya.


“Jaga dan sayangi tante Pit. Tolong bahagiain tante kesayangan gue. Dan jangan lupa kasih gue adik sepupu yang banyak.”


Aditya berusaha tersenyum setelahnya. Dia lalu melihat pada kedua paman dan kakeknya dan mengucapkan permintaan maaf juga. Perasaan Dewi semakin tak enak, genggamannya di tangan Aditya semakin erat saja.


“De.. sayang.. boleh aku.. minta sesuatu?”


“Apa mas? Bilang aja. Apapun akan kulakukan untuk mas.”


“Kamu harus menikah dengan bang Ad.”


“Ngga.. aku ngga mau. Aku cuma mau kamu tetap di sisiku, aku dan Arkhan membutuhkanmu. Jangan tinggalin aku, cukup bapak sama ibu yang pergi. Mas ngga boleh pergi, mas harus sembuh, demi aku dan Arkhan. Kami membutuhkanmu.”


Tangis Dewi semakin kencang. Kini ketakutan benar-benar menguasai hatinya. Dia takut kalau Aditya akan meninggalkannya, seperti Herman dan Nenden dulu. Tangan Aditya terangkat mengusap airmata di wajah istrinya.


“Sayang… aku.. sudah tidak.. ku..at.”


“Mas…. Mas…”


“Menikahlah dengan bang Ad. Hanya dia yang aku percaya untuk menjagamu juga Arkhan,” suara Aditya terdengar semakin melemah. Dewi masih menggelengkan kepalanya.


“Aku mohon, sayang.. menikahlah dengan bang Ad. Aku mohon..”


“Mas harus sembuh… mas ngga boleh ngomong gitu,” jawab Dewi di sela-sela tangisnya.


“Menikah..lah.. de..ngan bang.. Ad. Aku.. mo..hon.”


Suara tangis di dalam ruangan semakin kencang terdengar. Cahyadi mengusap mata tuanya yang terus mengeluarkan cairan bening. Ida terus menangis dalam pelukan suaminya yang juga tak bisa menahan airmatanya. Pipit dan roxas berpelukan sambil menangis. Adrian pun hanya menundukkan kepalanya, tetesan air dari matanya terus meluncur deras.


“Sayang.. demi.. Ar…khan..”


Pertahanan Dewi runtuh. Dia akhirnya menganggukkan kepalanya. Tak tega melihat suaminya yang terus memohon. Adrian mengangkat kepalanya ketika Aditya menyentuh tangannya. Dia membawa tangan Adrian ke atas tangan Dewi kemudian menutup dengan tangannya.

__ADS_1


“Aku titipkan cin.. taku.. pada a..bang..”


“Dit…”


“Sayang… be.. ri.. kan.. ciu..man terak…hirmu un..tukku..”


Kedua tangan Dewi menangkup wajah Aditya kemudian menciumi wajah suaminya. Airmatanya terus menetes membasahi wajah Aditya. Dewi menempelkan bibirnya ke bibir Aditya cukup lama, kemudian melepaskan ciumannya.


“Pa..pa… bim..bing a..ku.. pa…”


Toni melepaskan pelukannya dari Ida. Pria itu mendekati sang anak. Dia tahu sudah waktunya melepas anak bungsunya pergi. Dengan suara parau dan bergetar, Toni membimbing sang anak mengucapkan lafazh Allah. Dengan suara pelan Aditya mengikuti ucapan ayahnya. Matanya memandangi lagi wajah-wajah orang yang sangat disayanginya. Perlahan matanya menutup setelah nyawa meninggalkan raga. Hanya senyuman saja yang tertinggal di wajahnya.


“ADIT!!!”


“MAS!!!”


Dewi memeluk tubuh Aditya yang sudah tak bergerak lagi. Wanita itu menangis histeris sambil memanggil-manggil suaminya. Toni jatuh terduduk di sisi ranjang. Tubuh Ida limbung mengetahui anak bungsunya sudah meninggalkan dunia untuk selamanya. Pipit menangis kencang dalam pelukan suaminya. Adrian jatuh terduduk di lantai dengan kepala tertunduk. Airmatanya berjatuhan membasahi lantai di bawahnya.


Langkah Fajar tertahan saat akan memasuki ruang isolasi begitu mendengar teriakan dan suara tangis dari ruangan tersebut. Pria itu menyenderkan punggungnya ke tembok dan perlahan merosot turun ke bawah. Dia pun ikut menangis, menyalahkan dirinya karena gagal melindungi Aditya.


🌸🌸🌸


Gerimis kecil mengiringi pemakaman Aditya. Semesta seakan ikut berduka akan kepergian pria yang sehari-harinya selalu terlihat ceria. Adrian, Roxas dan Toni membaringkan jasad Aditya ke pembaringan terakhirnya. Dewi tak berhenti menangis ketika tanah mulai menutupi tubuh suaminya.


Untuk ketiga kalinya dia harus kehilangan orang yang dicintainya. Untuk ketiga kalinya dirinya ditinggalkan orang tercinta. Iis yang baru datang tadi shubuh terus mendampingi keponakannya yang nampak begitu terpukul. Dewi terus menangis dalam pelukannya.


Berita kepergian Aditya dalam sebuah kecelakaan terus mewarnai layar televisi dan juga media sosial. Tempat pemakaman umum di mana Aditya disemayamkan didatangi bukan hanya oleh pihak keluarga, tapi personil The Soul dan jajaran manajemen turut datang mengucapkan bela sungkawa. Fay menangis tersedu dalam pelukan Rangga. Dia tak menyangka Aditya akan secepat itu meninggalkan mereka.


Teman-teman kuliah Dewi juga datang untuk memberikan dukungannya. Mereka juga cukup akrab dengan Aditya. Masih teringat jelas momen kebersamaan mereka selama ini. Haji Soleh beserta keluarga dan juga penghuni kontrakan juga ikut datang memberikan penghormatan terakhirnya. Sosok Aditya yang supel, ramah dan humoris begitu melekat dalam benak mereka.


Soulers tak mau ketinggalan. Para fans The Soul, khususnya Aditya turut datang. Mereka ingin melepas idola mereka ke rumah terakhirnya. Banyak yang menangis dan tak percaya dengan kepergian Aditya. Dan salah satunya adalah Dita. Wanita itu terus menangis dalam pelukan sang kakak. Masih melekat dalam ingatannya pertemuan terakhir mereka. Saat Aditya tiba-tiba meminta maaf padanya. Setya beserta istri dan adiknya juga turut datang ke pemakaman. Pria itu benar-benar terkejut mendengar kecelakaan yang terjadi dan akhirnya merenggut nyawa Aditya.


Dewi terus memeluk nisan suaminya dengan airmata berderai. Adrian duduk terpekur di dekat makam. Tangannya meremat tanah merah yang masih basah. Roxas terduduk di hadapannya. Pria itu juga masih belum bisa mengenyahkan kesedihannya. Kepergian sang sahabat benar-benar membuatnya terpukul.


Satu per satu orang-orang yang mengantarkan Aditya menuju peristirahatan terakhirnya pulang meninggalkan area makam. Kini hanya tinggal anggota keluarga inti saja yang ada di sana. Ida mengajak menantunya untuk pulang, tadi Wardhani menghubunginya mengatakan kalau Arkhan tak berhenti menangis.


“Wi.. ayo pulang. Arkhan rewel terus.”


Mendengar nama anaknya, Dewi tersadar dari lamunannya. Dibantu Pipit, wanita itu bangun. Sebelum pergi, dia melihat lebih dulu pada nisan yang bertuliskan nama sang suami. Sambil menghapus airmatanya, Dewi berjalan meninggalkan makam Aditya. Beberapa saat kemudian, Adrian ikut menyusul.


🌸🌸🌸


Malam harinya digelar pengajian di dua tempat. Pengajian di kediaman Toni dan di kontrakan haji Soleh. Untuk pengajian di kontrakan, Pipit dan Roxas yang mengaturnya dibantu oleh Iis. Manajemen The Soul mengarahkan Soulers yang ingin mengikuti pengajian bisa datang ke kontrakan haji Soleh.


Doa bersama diadakan hampir di jam yang sama di dua tempat berbeda. Toni sampai harus memasang tenda untuk menampung tetangga yang datang untuk mendoakan almarhum anak bungsunya. Begitu pula di kontrakan haji Soleh, tikar panjang digelar memanjang di depan kontrakan sampai ke pintu gerbang.


Di tengah kesedihannya, Roxas bersyukur ada banyak orang yang mendoakan almarhum sahabatnya. Dia berharap Aditya tenang di alamnya yang baru dan Dewi dapat melalui ini semua dengan tabah. Walau sulit, tapi pria itu yakin, dirinya dan semua orang yang menyayangi Aditya bisa melewati kesedihan ini dan menjalani kehidupan seperti biasanya.


Usai pengajian, kesunyian melingkupi kediaman Toni. Pria itu memilih mengurung diri di kamar bersama dengan Ida. Dewi juga mengurung diri di kamar bersama dengan Arkhan. Wanita itu berbaring di atas kasur, menemani anaknya yang masih terjaga.


Hal yang sama terjadi pada Adrian. Pria yang biasanya terlihat tegar dan mampu membangkitkan semangat orang lain, kini hanya bisa berdiam diri di kamar. Jangankan menyemangati orang lain, membantu dirinya bangkit pun saat ini masih belum mampu. Adrian masih sangat terpukul akan kepergian Aditya.


Semalaman Adrian tetap terjaga. Dia tak bisa memejamkan mata sedektik pun. Pria itu memilih duduk terpekur di atas sajadahnya setelah menunaikan shalat sunat tahajud. Airmatanya kembali mengalir ketika memanjatkan doa untuk sang adik tercinta. Disekanya airmata yang membasahi pipi. Setelah cukup lama, dia bangun dari duduknya lalu membereskan peralatan shalatnya.


Matanya melihat jam yang tergantung di dinding, waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Sayup-sayup dia mendengar suara tangis Arkhan dari kamar Aditya. Pria itu keluar dari kamarnya dan menuju kamar Aditya.


TOK


TOK


TOK


“Wi..”


Tak ada jawaban dari dalam, hanya suara tangis Arkhan saja yang terdengar semakin keras. Lagi pria itu mengetuk pintu kamar, hingga akhirnya Dewi membukakan pintu. Nampak Arkhan menangis dalam gendongan Dewi.


“Arkhan kenapa?”


“Ngga tau, bang. Aku susuin juga ngga mau.”


“Kenapa sayang? Sini sama ayah.”


Adrian mengambil Arkhan dari gendongan Dewi. Anak itu langsung terdiam begitu berada dalam gendongan ayahnya.


“Kamu tidur aja. Biar Arkhan sama abang.”


Dewi hanya menganggukkan kepalanya. Dia menutup pintu kemudian kembali ke ranjang. Kepalanya terasa berat karena terlalu banyak menangis. Adrian berjalan ke dapur mengambil minuman untuknya dan juga biskuit untuk Arkhan. Setelahnya Adrian kembali ke kamarnya. Diletakkan Arkhan di atas kasur, lalu memberikan beberapa mainan untuk anak itu.

__ADS_1


Sambil memegang mainnya, Arkhan memakan biskuit yang diberikan oleh Adrian. Pria itu memandangi wajah keponakan yang wajahnya begitu mirip dengan Aditya. Arkhan sudah seperti foto copyan papanya saja. Bahkan letak lesung pipinya pun sama. Adrian tersenyum, seolah dirinya tengah berhadapan dengan Aditya.


Setelah menunaikan ibadah shalat shubuh, Dewi keluar dari kamar. Dia langsung menuju kamar Adrian. Tak terdengar suara apapun dari dalam sana. Diketuknya pintu kamar kakak iparnya itu, namun tak ada jawaban dari dalam. Dewi menggerakkan handle pintu.


Begitu pintu terbuka, nampak Adrian dan Arkhan tengah tertidur nyenyak. Ibu jari Arkhan masuk ke dalam mulutnya, dan sebelah tangannya lagi memegang tangan Adrian. Melihat Adrian yak tertidur nyenyak tak tega rasanya harus membangunkannya. Namun akhirnya wanita itu membangunkan sang kakak ipar.


“Bang.. bangun, udah shubuh.”


Merasakan guncangan di tubuhnya, perlahan mata Adrian terbuka. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Dewi, kemudian pandangannya beralih pada jam dinding di kamarnya. Pria itu bangun dari tidurnya.


“Arkhan, biarkan saja di sini.”


“Iya, bang.”


Dewi keluar dari kamar disusul oleh Adrian. Tak lama pria itu kembali dan langsung menunaikan shalat shubuh. Setelah kewajibannya selesai dilaksanakan, pria itu kembali naik ke atas kasurnya dan merebahkan tubuh di dekat Arkhan. Karena masih mengantuk, Adrian kembali terlelap.


🌸🌸🌸


Tiga hari setelah kepergian Aditya, Fajar baru berani datang ke kediaman Adrian untuk mengatakan semua kebenaran yang terjadi pada Aditya. Kondisi Adrian sudah sedikit tenang, walau awan duka masih menyelimutinya. Pria itu pasrah jika nanti Adrian akan murka padanya.


Mendengar kedatangan Fajar, Adrian yang sedang bermain dengan Arkhan segera menuju teras. Nampak sahabatnya itu duduk menunggunya dengan kepala tertunduk. Pria itu mengambil duduk di dekat sahabatnya.


“Ada apa, Jar?”


“Ad.. sebelumnya gue minta maaf.”


“Maaf? Soal apa?”


“Soal Adit.”


“Adit? Ada apa dengan Adit?”


Fajar memberanikan diri menatap wajah sahabatnya. Dia menarik nafas panjang sebelum mengatakan kejadian yang menimpa Aditya sebelum kecelakaan yang menimpanya. Wajah Adrian mengeras mendengar cerita dari Fajar. Tangannya mengepal erat dan tiba-tiba saja pria itu berdiri seraya menendang kursi yang didudukinya.


Melihat sang sahabat yang emosi, Fajar ikut berdiri untuk menenangkannya. Semua yang ada di dalam terkejut mendengar keributan di teras. Toni bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.


“Ad.. sabar.. jangan begini.”


BUGH


BUGH


Dua pukulan beruntun mendarat di wajah Fajar hingga pria itu jatuh tersungkur. Toni yang baru keluar terkejut melihat anaknya yang begitu emosi. Adrian berteriak kencang sambil menendang atau membanting barang-barang yang ada di sekitarnya. Lalu tangannya yang terkepal memukuli tembok di dekatnya sampai tangannya terluka.


Fajar dan Toni berusaha menenangkan Adrian yang begitu emosi. Dewi hanya bisa diam terpaku melihat Adrian seemosi ini. Takut melihat ayahnya yang tengah mengamuk, Arkhan menangis kencang. Mendengar tangis Arkhan, emosi Adrian mulai menyurut. Pria itu jatuh terduduk di lantai.


“Kamu kenapa, Ad?” tanya Toni yang masih bingung.


“Fajar?” Toni bertanya pada Fajar karena Adrian tidak kunjung menjawabnya.


Sejenak Fajar melihat pada Adrian, menunggu respon pria itu. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan pada seluruh keluarga. Pria itu membantu Adrian bangun lalu masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, Toni, Ida, Cahyadi, Wardhani dan Dewi berkumpul, menunggu penjelasan dari Fajar.


Tangis Ida pecah begitu mendengar kematian anaknya bukanlah karena kecelakaan lalu lintas biasa, tapi karena ada seseorang yang menginginkan kematiannya. Sama seperti Adrian, Toni pun merasakan emosi yang sama. Tapi pria itu berusaha menahannya ketika melihat wajah Dewi yang begitu shock.


“Siapa yang sudah mencelakai suamiku?” tanya Dewi dengan tatapan kosong.


“Kami masih menyelidikinya. Aku janji akan menemukan pembunuhnya dan aku akan membawanya ke hadapanmu. Aku janji, Wi. Maafkan aku karena tidak bisa melindungi Aditya.”


Dewi tak bisa menahan airmatanya lagi. Sambil menggendong Arkhan, wanita itu masuk ke dalam kamar. Diletakkan begitu saja Arkhan di atas kasur, Dewi membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menangis tersedu. Hatinya sakit mendengar semua kenyataan yang terjadi pada suaminya.


Pintu kamarnya terbuka, Wardhani masuk lalu duduk di sisi ranjang. Diusapnya punggung cucu mantunya ini. Kesedihan yang dirasakan Dewi juga dirasakan olehnya. Sang cucu harus menjadi korban kejahatan oknum tak bertanggung jawab. Wanita tua itu hanya bisa berharap keadilan bisa ditegakkan. Dan pembunuh Aditya mendapatkan hukuman yang setimpal.


🌸🌸🌸


**Alhamdulillah kemarin jualan kanebo laku. Sekarang mau ditambah sama kain pel dan serbet🤭


Untuk yang nangis bombay dan kecewa karena Adit harus dibuat meninggal, maaf.. Hanya ini skenario terbaik, natural dan masuk akal yang sudah kususun sejak awal novel ini dibuat.


Banyak yang mau Adit sama Dita, kalau seperti itu tetap aja jatuhnya selingkuh. Ngga mungkin kan Adit nyerahin Dewi gitu aja ke Ad, apalagi udah ada Arkhan. Ad pasti ngga akan mau, begitu juga dengan Dewi. Kalau alur ini yg terjadi malah ngga masuk akal aja jadinya. Belum nikah aja Ad udah rela lepas Dewi, apalagi udah nikah, apa dia mau terima Dewi?


Sejak awal novel ini memang tentang konflik hati, dan Aditya sebagai second lead. Aku mau karakter Adit tetap dikenang sebagai laki² baik, setia dan sayang pada keluarganya. Jangan dirusak dengan adanya perempuan lain. Apalagi Adit menikahi Dewi dengan mengorbankan perasaan sang kakak. Sesuatu yg aneh kalo dia nemplok di cewek lain. Dan hubungan ketiganya bakal awkward kalo sampai terjadi.


POV Aditya :


Selamat tinggal semuanya. Terima kasih atas dukungan kalian semua untukku. Kenanglah aku sebagai sebuah cerita manis dan indah🤗**


__ADS_1


__ADS_2