Naik Ranjang

Naik Ranjang
Penghulu Somplak


__ADS_3

Usai mengucapkan ijab kabul, Adrian tinggal menunggu kedatangan Dewi. Wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya, sedari tadi berada di dalam kamar. Menunggu sampai dirinya membayar tunai wanita itu. Pipit dan Iis yang sedari tadi menemani Dewi, segera membawa wanita itu keluar dari kamar.


Sementara Roxas yang masih duduk di bangku saksi, mengeluarkan kotak kayu dari saku celananya. Dia membuka penutup kotak yang berisikan cincin pernikahan kedua mempelai lalu menaruhnya di atas meja.



Dari arah dalam keluar Dewi yang sudah terbalut kebaya muslim berwarna putih. Di samping kanan dan kirinya berjalan mengapit dirinya, Pipit dan Iis. Adrian berdiri, bersiap menyambut sang pujaan istri yang sekarang sudah sah menjadi miliknya. Tangan pria itu terulur saat Dewi sudah berdiri di hadapannya. Sejenak dia terpaku melihat wajah cantik Dewi, kemudian mengajak wanita itu duduk di sisinya.


Adrian mengambil cincin pernikahan yang ada di depannya, lalu menyematkan ke jari manis Dewi. Begitu pula dengan Dewi, dia mengambil cincin yang tersisa dan menyematkan ke jari Adrian. Dewi meraih tangan sang suami kemudian menciumnya dengan takzim. Dengan lembut Adrian memegang kedua bahu sang istri lalu mendaratkan ciuman di keningnya.


Seketika Dewi terlempar pada kejadian dua tahun silam. Di mana Aditya membayar tunai dirinya di hadapan penghulu. Dia seakan mengalami dejavu ketika Adrian memakaikan cincin dan mencium keningnya. Mata wanita itu berkaca-kaca mengingat momen bersejarahnya dengan Aditya.


Roxas dengan sigap mengambilkan tisu dan memberikan pada sahabatnya itu. Bukan hanya Dewi yang merasa dejavu, tetapi juga dirinya. Dulu Aditya yang melakukan adegan seperti itu dan sekarang Adrian. Pelan-pelan Dewi menghapus genangan air di sudut matanya. Suasana haru meliputi kedua pengantin. Adrian pun bisa merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya itu.


“Alhamdulillah neng Dewi tos dongkap. Ulah ceurik, neng. Senyum.. menyambut hari baru dalam kehidupan. Menjadi istri akang Adrian, kadeudeuh eneng. Sok tingali heula, leres henteu ieu teh akang Adrian? (Alhamdulillah neng Dewi sudah datang. Jangan nangis, neng. Senyum menyambut hari baru dalam kehidupan. Menjadi isti akang Adrian, kesayangan eneng. Ayo dilihat dulu, benar ngga ini akang Adrian?).”


Dewi mengangkat kepalanya lalu melihat pada Adrian, pria yang menjadi cinta pertamanya dahulu. Dapat wanita itu lihat sorot penuh cinta yang ditunjukkan oleh pria yang sekarang menjadi suaminya.


“Leres eta kang Adrian? (benar itu kang Adrian?).”


“Leres, pak (iya, pak).”


“Sanes tuan Takur? (bukan tuan Takur?).”


Senyum Dewi terbit mendengar celotehan sang penghulu. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Yang lain pun ikut tertawa mendengarnya. Sepertinya sang penghulu adalah penggemar film India, dia begitu hafal dengan tuan Takur, tokoh yang kerap digambarkan sebagai lelaki kejam dengan kumis melinting.


“Ai akang teh tos nyarios bogoh teu ka eneng? (kalau akang sudah bilang cinta belum ke eneng?).”


“Atos, pak (sudah,pak),” jawab Dewi pelan.


“Nyariosna duaan pastina. Teu acan pan nyarios di payuneun jalmi rea? (ngomongnya pasti berdua aja. Belum ngomong di depan orang banyak kan?).”


Kembali hanya anggukan yang diberikan oleh Dewi. Perasaan Adrian mulai was-was, kejahilan sang penghulu sepertinya sudah mulai beroperasi kembali. Terlihat pria itu tersenyum penuh makna padanya.


“Sok atuh akang, kuabi dipandu nyariosna. Eh manggilna akang atanapi saha ieu teh? (ya udah akang, sama saya dipandu ngomongnya. Eh manggilnya akang atau siapa?),” sang penghulu melihat pada Dewi.


“Aa,” jawab Dewi pelan.


“Sok ayeuna calikna berhadapan. Aa Adrian cobi digenggam tangannya neng Dewi (sekarang duduknya berhadapan. Aa Adrian coba digenggam tangannya neng Dewi).”


Adrian dan Dewi merubah posisi duduknya menjadi berhadapan. Adrian memegang kedua tangan Dewi, dengan mata tak lepas memandang sang istri. Sang penghulu siap memandu mengatakan kalimat-kalimat cinta dari Adrian untuk Dewi.


“Neng Dewi yang cantik dan sexy..”


Adrian menolehkan kepalanya pada sang penghulu sebelum mengikuti ucapan pria itu. Sang penghulu mempersilahkan Adrian untuk mengikuti kata-katanya. Semua yang mendengarkan mencoba menahan tawanya.


“Neng Dewi yang cantik dan sexy,” Adrian mengikuti.


“Aa cinta sama kamu, kalau dalam bahasa Spanyolnya mah abdi bogoh ka anjeun.”


“Aa cinta sama kamu, kalau dalam bahasa Spanyolnya mah abdi bogoh ka anjeun.”


“Kamulah satu-satunya cinta dalam hidup aa. Tak akan ada cinta yang lain di hati aa.”


“Kamulah satu-satunya cinta dalam hidup aa. Tak akan ada cinta yang lain di hati aa.”


“Sejauh apapun kamu melangkah, aa yakin cinta akan membawamu kembali di sini.”


“Sejauh apapun kamu melangkah, aa yakin cinta akan membawamu kembali di sini.”


Dalam hati Adrian ingin tertawa mendengar kata-kata yang diucapkan sang penghulu. Semuanya sudah seperti judul lagu Dewa 19 saja. Tapi apa daya, semua kendali ada di tangan sang penghulu. Pria itu terpaksa mengikutinya saja.


“Sok ayeuna neng Dewi jawab (sekarang neng Dewi jawab).”


Dewi hanya menganggukkan kepalanya. Dia penasaran juga kata-kata apa yang akan dilontarkan penghulu sableng tersebut.


“Aa Adrian anu kasep sareng gagah. Eneng oge bogoh ka aa (Aa Adrian yang ganteng dan gagah. Eneng juga cinta sama aa).”


“Aa Adrian anu kasep sareng gagah. Eneng oge bogoh ka aa (Aa Adrian yang ganteng dan gagah. Eneng juga cinta sama aa).”


“Eneng percaya aa akan membuat eneng bahagia, dunia akhirat.”


“Eneng percaya aa akan membuat eneng bahagia, dunia akhirat.”


“Setelah kita bersama dalam ikatan pernikahan, eneng hanya minta STNK dari aa.”


“Setelah kita bersama dalam ikatan pernikahan, eneng hanya minta STNK dari aa,” usia mengikuti kata-kata sang penghulu, Dewi melihat pada pria tersebut. Terlihat sang penghulu melihat pada Adrian, seolah-olah memberi aba-aba untuk mengikuti kata-katanya.


“Naon STNK teh, neng?”


“Naon STNK teh, neng?” Adrian mengikuti.


“Surat..”


“Surat..” ujar Dewi mengikuti ucapan penghulu.


“Tanda..”


“Tanda..”

__ADS_1


“Nurunin..”


“Nurunin..”


“Kolor.”


“Bhuahahaha..”


Seketika terdengar tawa Roxas dan yang lainnya menyambut ucapan sang penghulu. Kepala Dewi langsung tertunduk. Adrian pun tak kuasa untuk mengulum senyum. Melihat Dewi yang tidak mengikuti ucapan terakhirnya, sang penghulu kembali mendesak.


“Eh.. si eneng naha teu disebat. Sok atuh sebatkeun, pamali eta sakata deui mun teu disebat, bisi meleg dina tikoro (eh si eneng kenapa ngga disebut. Sebutin itu sekata lagi, ngga baik, takut nyangkut di tenggorokan).”


Kembali suara tawa terdengar. Dewi menarik nafas beberapa kali, sebelum mengangkat kepalanya, melihat pada sang penghulu yang melihatnya dengan wajah sok polosnya.


“Sok sebatkeun (ayo sebutin). Surat Tanda Nuruni Kolor.”


“Surat Tanda Nurunin Kolor,” suara Dewi semakin melemah di akhir kalimat. Wajahnya pun sudah memerah menahan malu.


“Tah kitu.. si eneng mah sok isin-isin. Padahal mun tos ningali jeung ngarasakeun anu dibalik kolor aa pasti dedeuieun (nah begitu, si eneng mah suka malu-malu. padahal kalau sudah melihat dan merasakan yang ada dibalik kolor aa pasti minta lagi dan lagi).”


“Hahahaha..”


Wajah kedua pengantin sukses dibuat memerah oleh sang penghulu. Suara tawa dan teriakan dari pada tamu yang hadir pun silih berganti terdengar di telinga pengantin baru tersebut. Roxas sampai memegangi perutnya karena tak berhenti tertawa.


Usai menggoda pasangan pengantin, penghulu mempersilahkan kedua mempelai menandatangani dokumen pernikahan. Setelahnya, mereka berfoto sambil memegang buku nikah dan memperlihatkan cincin pernikahan mereka. Setelah foto sesi selesai, penghulu memberikan sedikit tausyiah akan hukum-hukum pernikahan. Terutama menyangkut hak dan kewajiban suami istri. Kemudian dia mempersilahkan pasangan pengantin melakukan prosesi sungkeman dengan kedua orang tua.


Adrian mendekati Ida kemudian bersimpuh di hadapan wanita itu diiukti oleh Dewi. Tak banyak yang Ida katakan. Hatinya tengah diliputi kebahagiaan melihat sang anak akhirnya bisa bersanding dengan wanita yang dicintainya setelah melalui ujian panjang.


“Jaga, lindungi dan sayangi Dewi juga Arkhan. Mama percaya kamu dapat melakukannya. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


“Aamiin.. In Syaa Allah, ma. Tetap doakan aku.”


Ida hanya menganggukkan kepalanya. Dia mencium kening Adrian penuh kasih sayang. Kemudian dia beralih pada Dewi. Dirangkulnya wanita yang untuk kedua kali menjadi menantunya.


“Mama sayang kamu. Kamu akan selalu menjadi menantu kesayangan mama. Berbahagialah.. lupakan kesedihan yang telah lalu. Adit sudah ikhlas melepasmu bersama dengan Ad.”


Airmata Dewi menitik kalimat singkat namun sarat akan makna dari ibu mertuanya itu. Kemudian dia mengikuti Adrian yang mendekat pada Toni. Pria itu segera menyambut anak sulungnya. Dia tak bisa menahan tangis yang sedari tadi hendak keluar.


“Papa bahagia dan lega melihatmu sekarang. Berbahagialah sekarang bersama istri dan anakmu. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


Toni mengakhiri kalimatnya dengan kecupan di kening anak sulungnya itu. Mata Adrian pun nampak berkaca-kaca mendengar nasehat singkat sang ayah. Toni lalu melihat pada Dewi.


“Terima kasih Dewi, sudah datang dalam kehidupan anak-anak papa. Papa percaya kamu akan memberikan kebahagiaan pada Ad, seperti kamu memberikan kebahagiaan pada Adit. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”


Kerongkongan Dewi serasa tercekat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Toni. Wanita itu pun tak kuasa menahan airmatanya. Adrian mengambil tisu kemudian menghapus airmata di wajah cantik istrinya. Semua yang hadir pun bisa merasakan keharuan yang sama. Kini keduanya menuju Nandang dan Iis.


“Mamang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Binalah rumah tangga kalian dengan kepercayaan dan kejujuran.”


“Dewi.. sayangnya bibi. Semoga pernikahan keduamu menjadi pernikahan terakhir untukmu. Bahagia selalu sampai menua bersama dan ajal menjemput. Dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah. Adrian.. bibi titip Dewi.”


“In Syaa Allah, bi.”


Iis memeluk erat keponakannya ini sebentar, kemudian melepaskannya lagi. Dia ikut menghapus airmata yang membasahi pipi sang keponakan. Usai acara sungkeman, kedua pengantin menerima ucapan selamat dari semua yang hadir.


“Selamat, Ad. Gue cuma bisa ikut bahagia dan mendoakan yang terbaik,” ujar Fajar seraya memeluk sahabatnya itu.


“Makasih, Jar.”


“Dewi.. selamat ya.”


“Makasih, bang.”


Dita yang datang bersama dengan Fajar juga ikut mengucapkan selamat. Seperti dirinya yang sudah menemukan pengganti Aditya di hatinya, wanita itu juga mendoakan Dewi merasakan kebahagiaan bersama dengan Adrian.


“Selamat, bro. Jangan lupa langsung kasih adik buat Arkhan,” seru Doni seraya memeluk Adrian.


“Lo dulu aja cari gandengan. Masa kalah sama Fajar.”


“Ck.. dia itu nikung di perempatan.”


“Hahaha…”


“Wi.. selamat ya. Awas jangan bengek punya suami model si Ad, hahaha..”


Kedua pengantin terus menerima ucapan selamat dari tamu yang datang. Mila, Sandra, Sheila, Bobi, Micky, Hardi dan Budi tak ketinggalan ikut memberikan selamat pada mereka berdua.


“Selamat ya, pak. Walau saya cinta mati sama bapak, tapi demi sahabat tersayang, saya rela hati saya patah jadi dua,” ceplos Mila yang langsung disambut toyoran dari sahabatnya yang lain.


“Selamat ya pak, Dewi. Jangan lupa cepet-cepet kasih Arkhan adik,” Sheila.


“Selamat buat pasangan pengantin. Samawa till Jannah,” Sandra.


“Selamat pak. Jangan shock dapet istri model Dewi, hahaha..” Micky.


“Selamat pak. Punten ah, mau langsung makan aja, ngga kuat laper,” Bobi langsung menuju meja prasmanan setelah mengucapkan selamat.


“Selamat ya, pak, Dewi. Semoga jadi keluarga yang harmonis, samawa dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah,” Hardi.


“Aamiin.. makasih Hardi.”

__ADS_1


“Selamat, pak,” ucap Budi begitu dingin. Kemudian dia melihat pada Dewi, menggenggam tangan wanita itu dengan erat.


“Selamat Wi.. terima kasih sudah hadir sebagai bidadari untukku. Aku tahu cinta tidak selamanya harus memiliki. Aku doakan kamu berbahagia dengan lelaki pilihanmu,” Budi melirik keki pada Adrian.


“Ehem!!”


Terdengar deheman keras Adrian yang melihat Budi tak kunjung melepaskan tangan istrinya. Cepat-cepat Budi melepaskan pegangannya dari tangan Dewi dan bergegas menyusul sahabatnya yang sudah lebih dulu menuju meja prasmanan.


“Selamat ya, Ad. Tante ikut bahagia. Berbahagialah, sudah saatnya kamu bahagia sekarang,” Pipit memeluk erat keponakannya itu.


“Makasih, tan. Makasih sudah mendukung dan menguatkanku selama ini.”


Pipit mengurai pelukannya, disusutnya sudut matanya yang berair. Kemudian wanita itu menghampiri Dewi. Kembali wanita itu mendaratkan pelukan pada mempelai wanita.


“Semoga tidak ada airmata lagi dalam kehidupanmu. Berbahagialah bersama Ad. Dia sangat mencintaimu dan tante yakin dia akan membahagiakanmu.”


“Terima kasih, tante.”


Setelah puas memeluk dan menyampaikan kata-kata doa pada keponakannya, Pipit melepaskan Dewi dari pelukannya. Dia memberi kesempatan pada sang suami memberikan ucapan selamat.


“Bang…”


Terdorong oleh suasana haru dan kebahagiaan yang meliputi hatinya, Roxas kembali memanggil Adrian dengan sebutan bang. Pria itu memeluk pria yang banyak pengaruh positif pada dirinya dengan erat. Bahagia melihat Adrian yang akhirnya bisa bersanding dengan wanita yang dicintainya. Setelah pengorbanan yang dilakukannya demi sang adik yang sekarang sudah tenang di alamnya.


“Sekarang waktunya abang bahagia bersama Dewi. Aku percaya Adit juga bahagia melihat kalian bisa bersama. Aku titip Dewi, tolong jangan buat dia menangis lagi.”


“Terima kasih, Xas.. terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk semua kasih sayangmu dan dukunganmu untukku, Dewi dan Adit.”


“Kalian adalah keluargaku, orang-orang yang kusayang.”


Roxas melepas pelukannya seraya menghapus airmatnya yang menetes begitu saja. Kemudian dia beralih pada Dewi. Pria itu hanya diam saja melihat sang sahabat yang juga sudah berurai airmata.


“Jangan nangis lagi, Wi. Sekarang waktunya kamu berbahagia. Cintamu sudah kembali. Hiduplah bahagia dengannya, dan biarkan Adit menjadi kenangan terindah dalam hidupmu.”


Tangis Dewi pecah mendengar kata-kata sahabatnya. Roxas mengusap puncak kepala sahabatnya ini sambil menghapus airmata di wajah Dewi dengan tisu di tangannya. Dia menarik tangan Dewi lalu memberikannya pada Adrian.


“Bang.. tolong tenangin sahabatku yang cengeng ini, hehehe…”


Adrian menyambut tangan Dewi kemudian menarik ke dalam pelukannya. Roxas segera berlalu, menyusul istrinya menuju meja prasnaman. Lebih dulu dia akan mengambilkan makanan untuk eninnya tercinta.


“Jangan nangis sayang. Nanti make up-mu luntur. Kan ngga lucu penganti mukanya kaya kuntilanak, maskaranya luntur ke sana sini.”


“Ish..”


Dewi menepuk dada suaminya itu. Di saat seperti ini, dia masih sempat meledek dirinya. Namun tak ayal senyum terbit di wajah cantiknya. Adrian mengurai pelukannya. Dengan hati-hati dia menghapus airmata di pipi Dewi.


“Yuk foto dulu buat pasangan pengantin,” seru sang fotografer.


Setelah tak ada lagi airmata yang membasahi wajah Dewi, sang fotografer mengajak pasangan pengantin untuk berfoto di depan booth yang sudah disediakan.



Beberapa kali pria itu mengarahkan kedua mempelai untuk bergaya di depan kamera. Adrian dan Dewi berdiri berhadapan, kedua tangan Adrian ditaruh di pinggang Dewi. Sedang Dewi memeluk leher Adrian dengan mata saling memandang.


Pose kedua, tangan Adrian masih berada di pinggang sang istri. Kedua tangan Dewi ditaruh di dada Adrian. Pose ketiga, Dewi menyandarkan kepalanya ke dada Adrian, dan kedua tangan Adrian memeluk pinggang dan punggung istrinya. Pose keempat, Adrian memeluk Dewi dari belakang dengan posisi wajah seperti hendak mencium pipi Dewi. Pose kelima, Dewi duduk di atas kursi, Adrian berdiri di belakangnya dengan kedua tangan berada di atas pundak sang istri.


“Ok.. sekarang foto bareng Arkhan.”


Ida mendekati pasangan pengantin lalu memberikan Arkhan pada mereka. Ketiganya pun melakukan beberapa pose pemotretan. Arkhan yang sudah sadar kamera, terus saja tersenyum ke arah kamera. Anak itu seperti ikut berbahagia akan pernikahan kedua orang tuanya.


🌸🌸🌸


Setelah melalui serangkaian acara dari pagi hingga sore hari, ditutup dengan acara makan malam bersama seluruh keluarga. Kedua pengantin bersiap untuk masuk ke kamar pengantin yang sedari siang belum sempat dilihat atau dimasuki pengantin baru tersebut.


“Kalian tidur sana, pasti capek,” ujar Ida.


“Arkhan mana, ma?” tanya Dewi.


“Arkhan udah tidur di kamar mama. Kalian ngga usah pikirin Arkhan. Masa malam pertama tidur sama Arkhan, bisa gagal dong,” ujar Ida seraya tersenyum.


“Nanti kalau Arkhan mau nyusu gimana ma?”


“Bisa kasih susu formula. Sekali-kali ngga apa-apa kan? Mama yakin, Arkhan anteng kok malam ini.”


Wanita itu segera berlalu meninggalkan Dewi seraya mengedipkan matanya. Dewi hanya bisa menarik nafas panjang. Sebenarnya mengajak Arkhan tidur bersama hanyalah alasannya saja. Dia masih grogi tidur satu kamar dengan Adrian. Tapi sekarang pria itu adalah suaminya. Sudah kewajibannya melayani dan tidur satu ranjang dengannya.


Tangan Dewi menggerakkan handle pintu kamar tamu yang dijadikan kamar pengantin. Matanya langsung menangkap nuansa hijau yang mendominasi kamar tersebut.



Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang. Menunggu Adrian yng masih berada di luar bersama dengan Toni, Cahyadi dan Roxas.


Setelah mengantar Roxas pulang dan mengunci pintu pagar, bersama dengan Toni dan Cahyadi, Adrian masuk ke dalam rumah. Toni segera menyuruh anak sulungnya itu masuk ke dalam kamar pengantin. Jantung Adrian berdebar kencang ketika mendekati kamar pengantin. Pria itu menarik nafas panjang beberapa kali sebelum membuka pintu.


CEKLEK


🌸🌸🌸


**Ngarep MP nya🤣

__ADS_1


Sabar yoo.. Aku lagi merangkai kata yang ngga kejedot review entuuunn wkwkwk..


Kemarin aku off. Dari awal kan aku udah bilang Kamis itu jadwal aku libur, kalau up anggap aja bonus. Aku sama seperti kalian yang bisa merasakan lelah, punya kesibukan dan ingin spend time bersama keluarga🙏**


__ADS_2