
Waktu menunjukkan pukul lima sore, nampak Adrian masih berkutat di belakang meja kerjanya. Sesekali matanya melirik pada jam di pergelangan tangannya. Waktunya untuk pulang dan bersiap untuk melihat penampilan sang adik. Belum lagi dia berjanji akan menjemput Dewi di rumahnya. Tapi sekarang dia masih terjebak dalam pekerjaan.
Di ruang tengah, Jaya juga masih berjibaku dengan pekerjaan. Rudi sudah lebih pulang karena pekerjaannya sudah selesai, sedang Ikmal masih berada di luar untuk mengurus beberapa hal. Hari ini mereka mendapatkan pekerjaan tambahan. Tidak diambil sayang karena honornya lumayan besar. Akhirnya memutuskan untuk mengambilnya, alhasil Adrian masih terjebak dalam pekerjaan.
Adrian tersentak ketika mendengar suara adzan di ponselnya. Tak terasa satu jam berlalu dengan cepat dan dia masih belum selesai dengan pekerjaannya. Pria itu bergegas untuk menunaikan shalat maghrib, kemudian segera kembali ke belakang mejanya. Sekali lagi dilihatnya jam di pergelangan tangan. Jarum pendek menunjuk angka enam, sedang jarum panjang berada di angka dua.
Pria itu berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengambil ponselnya. Dia memutuskan untuk menghubungi Dewi. Sepertinya Adrian tidak akan sempat menjemput Dewi. Benda pipih bermerk pabrikan ternama sudah bertengger di telinganya. Tak lama terdengar suara Dewi menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam. Wi..”
“Iya, a.”
“Kamu bisa ikut Roxas aja ke cafenya? Kita ketemu di sana aja ya. Kerjaanku belum beres,” terdengar suara Adrian dari sebrang.
“Iya, a. Aa beresin kerjaan aja dulu. Aku biar ikut Rox.”
“Wi..” Adrian menjeda ucapannya sejenak.
“Kenapa a?”
“Nanti ada yang mau aku obrolin.”
“Soal apa?”
“Nanti aja di sana.”
“Iya, a. Sekarang aa beresin kerjaan aja dulu.”
“Ok, deh. Sampai ketemu di café. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Adrian mengakhiri panggilan, kemudian kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kepalanya terangkat ketika mendengar ketukan di pintu yang terbuka. Nampak Jaya memasuki ruangan kemudian mendekati rekannya itu.
“Ad.. gimana? Udah beres?”
“Sebentar lagi, mas. Tinggal bikin run down acaranya aja.”
“Udah biar aku yang kerjain. Katanya malam ini Adit perform.”
“Iya, mas.”
“Ya udah kamu pulang aja sekarang. Biar aku yang beresin.”
“Eh beneran mas? Ngga ngerepotin?”
“Ngga. Lagian kerjaanku udah beres. Ikmal juga lagi di jalan ke sini. Kamu mending pergi sekarang. Biar Adit senang lihat kedatanganmu.”
“Makasih ya, mas.”
Senyum Adrian merekah mendengar Jaya bersedia menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu segera membereskan barang-barangnya. Hanya laptop saja yang sengaja ditinggalkan. Setelah berpamitan dengan Jaya, Adrian bergegas pergi. Jaya mendudukkan diri di kursi Adrian dan segera menyelesaikan sisa pekerjaan. Tadi saat akan masuk ruangan, dia tanpa sengaja mendengar percakapan Adrian dengan Dewi di telepon. Pria itu sengaja meminta Adrian pulang cepat.
Avanza hitam yang dikendarai Adrian melaju kencang membelah jalanan kota Bandung. Tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk sampai ke rumah. Pria itu sengaja mengambil jalan pintas agar tidak bertemu dengan kemacetan. Sambil terburu dia segera masuk ke dalam rumah.
Dua puluh menit kemudian dirinya telah selesai membersihkan diri dan berpakaian. Polo shirt warna putih dan celana jeans melekat pas di tubuhnya. Pria itu kemudian berjalan ke meja kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sejenak dia memandangi kotak beludru hitam berisi cincin yang akan diberikan pada Dewi lalu memasukkan ke dalam saku celananya.
Saat akan pergi, dia teringat akan pesan Aditya. Adrian mengambil ponselnya, lalu menghubungi Yulita. Kemarin dia sudah mengajak wanita itu ke café untuk melihat pertunjukkan The Soul.
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam. Ta.. kamu jadi ke café ngga?”
“Mau sih.. tapi aku ngga tahu lokasinya.”
“Aku jemput aja. Siap-siap, aku berangkat sekarang.”
“Ok, Ad.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Adrian mengakhiri panggilan. Pria itu menyambar kunci mobil dari atas meja, lalu keluar dari kamar. Di ruang tengah dia berpamitan pada kedua orang tuanya yang tengah menonton televisi. Mata Ida berbinar mendengar Aditya akan manggung malam ini. Dia minta Adrian mengirimkan foto atau video saat anak bungsunya tampil. Toni nampak tak peduli dengan pembicaraan anak dan istrinya. Namun Adrian tahu kalau sang ayah sebenarnya menyimak pembicaraan.
🌸🌸🌸
Motor yang Roxas tunggangi berbelok memasuki area parkir Red Kingdom. Pelataran parkir tersebut sudah hampir dipenuhi kendaraan para pengunjung. Pemuda itu terus melajukan kendaraannya ke bagian belakang café, tempat di mana para pegawai memarkir kendaraannya.
Bersama dengan Dewi, Roxas masuk ke dalam café lewat pintu belakang café. Sesampainya di dalam, Roxas langsung bergabung dengan personil The Soul, sedang Dewi bergabung bersama teman-temannya yang sudah lebih dulu tiba. Nampak Sheila melambaikan tangannya pada Dewi.
Tak jauh dari meja mereka, Aditya bersama personil The Soul tengah berbincang, mendiskusikan lagu apa saja yang akan mereka bawakan malam ini. Rencananya mereka akan membawakan 10 lagu. Lima lagu yang mereka persiapkan dan sisanya request para pengunjung.
Sandra dan Mila terus memperhatikan personil The Soul. Dalam hati mereka memuji ketampanan mereka. Mila melemparkan senyum manis ketika Rangga melihat padanya. Namun sayang, adegan tatap menatap hanya sebentar saja. Rangga langsung mengarahkan pandangannya ke tempat lain.
“Wi.. lo kenal ngga sama personil The Soul?” tanya Mila.
“Kenal.. Adit ama Roxas,” jawab Dewi santai. Padahal dia tahu kemana arah pembicaraan Mila.
“Si bule jangan disebut. Itu sisanya yang dua.”
“Yang pake kaos hitam, Rivan dia megang drum. Nah yang pake kaos merah, itu Rangga, dia pegang gitar. Kalo yang cewek…”
“Ssshhh.. ngga penting kalo yang cewek. Gue butuh info personil lanang doang,” Mila memotong pembicaraan Dewi yang hanya dibalas cibiran saja.
“Wi.. kenalin, dong..” desak Sandra.
“Iya, Wi.. kalo gue kenalin sama yang cewek. Buset cantik bingits,” celetuk Micky.
__ADS_1
“Ayo gue kenalin, tapi jangan pada norak ya.”
Dewi bangun dari duduknya, kemudian menuju para personil The Soul yang berkumpul di dekat panggung. Sontak keenam temannya langsung mengikuti langkah Dewi. Aditya langsung menyambut Dewi dan lainnya.
“Dit.. nih pada minta dikenalin sama yang lain. Tuh si Micky kayanya ngebet banget pengen kenal Rangga,” ujar Dewi sambil terkikik.
“Eh buset, lo kira gue titisan Ragil apa?”
Aditya terkekeh melihat Micky yang sewot. Dia lalu memanggil teman-temannya untuk diperkenalkan. Mila langsung memasang senyuman semanis mungkin. Dulu kecengannya Anto, memegang gitar juga saat bersama Ngadadak Band. Sekarang Rangga, ternyata memegang gitar juga. Apakah ini pertanda kalau jodohnya memang seorang gitaris? Begitulah kira-kira suara hati Mila.
“Gaeesss.. kenalin ini teman-temannya Dewi.”
Satu per satu mereka bersalaman seraya menyebutkan nama masing-masing. Micky dan Bobi menatap Fay tanpa berkedip, sedang Budi terlihat biasa saja. Baginya tetap sang Dewi Mantili wanita tercantik sejagad maya.
“Mila..” ujar Mila dengan suara dibuat selembut dan semerdu mungkin saat berkenalan dengan Rangga. Roxas yang geli melihat tingkah Mila, dengan santai mengusap wajah temannya itu dengan telapak tangannya.
“Bau Xas!!” sungut Mila.
“Hahaha… noh aslinya si Mila, Ngga.. nyablak kaya mpok Nori, hahahaha..”
Roxas terpingkal tanpa mempedulikan pelototan Mila padanya. Sheila yang berdiri di dekat Dewi terus memandangi wajah tampan Roxas yang tengah tertawa. Akhirnya dia bisa bertemu dengan pemuda idamannya lagi setelah terpisah hampir dua bulan lamanya.
“De.. kita ngobrol bentar, yuk,” ajak Aditya.
Tanpa menunggu jawaban Dewi, Aditya segera menarik tangan gadis itu kemudian membawanya ke meja yang kosong. Mereka duduk dengan posisi berhadapan. Sejenak Aditya menatap gadis di hadapannya seraya menarik nafas panjang.
“De.. kamu masih ingat kan, apa yang waktu itu aku bilang saat di halte?”
Dewi nampak terkejut. Apakah sekarang Aditya akan meminta jawaban darinya? Jujur saja gadis itu masih belum siap. Bukan belum siap untuk memberi jawaban, tapi belum siap melihat Aditya kecewa dengan keputusannya. Melihat Dewi hanya diam saja, Aditya melanjutkan kembali ucapannya.
“Apa yang aku bilang waktu itu, sampai sekarang ngga berubah. Tapi.. aku ngga nuntut jawaban dari kamu. Anggap aja waktu itu aku lagi curhat soal perasaanku. Aku bebasin kamu dari semua yang aku bilang saat itu, soal calon makmun dan sebagainya. Anggap aja aku ngga pernah bilang semua itu. Aku mau memulai hubungan baru dengan kamu, sebagai sahabat. Jadi.. kita mulai dari nol ya. Kenalin, aku, Adit.”
Aditya mengulurkan tangannya pada Dewi. Untuk sesaat Dewi hanya tertegun, perlahan tangannya maju menyambut uluran tangan Aditya. Senyum pemuda itu mengembang ketika tangan mereka berjabatan. Sebisa mungkin Aditya menyembunyikan rasa perih yang menjalari hatinya lewat senyuman. Dia tak ingin melihat Dewi bersedih atau merasa iba padanya.
“Kalau ada seseorang yang kamu suka, kasih tau aku, ya. Kenalin ke aku, supaya aku juga bisa bersahabat dengannya.”
Kerongkongan Dewi terasa tercekat. Gadis itu tak tahu harus mengatakan apa. Lagi dirinya melihat senyuman manis Aditya yang memperlihatkan lesung pipinya. Melihat Dewi yang hanya terdiam, tangan Aditya bergerak mengusap puncak kepala gadis itu.
“Tapi aku ngga rela kalo cowok yang kamu pilih itu, Budi,” Aditya membisikkan kata Budi.
“Mana ada!” mata Dewi langsung membulat. Aditya langsung tertawa melihat ekspresi Dewi.
“Ngga usah kaget gitu, hahaha..”
“Lagian kamu mah..”
“Hahaha.. senyum dong. Jangan manyun mulu. BTW kamu mau request lagu ngga?”
“Ehmm.. request apa ya? Nanti aja deh, mikir dulu.”
Dewi melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Sebentar lagi The Soul akan tampil di atas panggung. Tapi Adrian belum juga nampak. Dari tempatnya duduk, dia terus melihat pada pintu masuk, menunggu pujaan hatinya datang.
“Kamu pasti kenal sama yang baru datang,” ujar Aditya pelan.
“Tau.. itu mantan walasku yang sekarang jadi dosenku,” jawab Dewi ketus. Dia kesal pada Adrian.
“Itu pacarnya ya?” sambung Dewi.
“Bukan.. itu kak Lita, yang masukin aku sama Roxas kerja di hotel. Dia itu cewek kecengan Roxas.”
“Hah?? Yang bener?”
“Iya.”
“Wah seleranya si leker ngga main-main, nih.”
Aditya terkekeh mendengar ucapan Dewi. Dia sudah menyangka akan begini reaksi Dewi ketika bertemu dengan Yulita. Selera bule kere alias bule kamuflase itu memang luar biasa.
“Bang!” panggil Aditya.
Mendengar panggilan Aditya, Adrian bersama dengan Yulita segera mendekati meja tersebut. Roxas yang melihat kedatangan Yulita langsung tersenyum senang. Semangat Roxas langsung menggelora melihat kedatangan wanita incarannya. Bergegas dia menuju meja di mana kedua sahabatnya berada.
Kedatangan Roxas ke meja bersamaan dengan kedatanagn Adrian dan Yulita. Dewi tersenyum menyambut kedatangan sang pujaan hati. Setelah mendengar penjelasan Aditya, kecemburuannya hilang begitu saja.
“Eh bu Lita.. makasih loh udah mau datang,” sapa Roxas dengan senang.
“Oh kamu nge band bareng Adit?” Yulita nampak terkejut.
“Iya, bu. Kalau mau request lagu, nanti bilang aja, ya.”
Yulita menganggukkan kepalanya. Sekilas dia melihat pada Adrian yang tengah memandangi Dewi. Wanita itu merasa ada yang berbeda dari tatapan mata teman kuliahnya itu. Perhatian Yulita kembali pada Roxas ketika pemuda itu kembali mengajaknya bicara. Wajah Roxas benar-benar berseri. Sementara itu, Sheila yang berada tak jauh dari sana melihat pujan hatinya dengan hati teriris. Ternyata Roxas sudah memiliki pujaan hati.
“Kok baru datang, bang?” tanya Aditya.
“Tadi ada kerjaan mendadak.”
“De.. waktu itu aku udah janji mau kenalin abangku. Nih dia abangku yang paling aku sayang,” Aditya melihat pada Dewi.
Tubuh Dewi terasa membeku mendengar perkataan Aditya. Dia melihat pada pemuda itu lalu melihat pada Adrian. Pantas saja dia melihat ada sedikit kemiripan dengan kedua pria itu. Aditya tersenyum melihat Dewi yang seperti terkejut. Begitu pula dengan Adrian, pasti Dewi tidak pernah menyangka kalau dirinya adalah kakak dari Aditya.
“Abang pasti udah kenal Dewi kan?” lanjut Aditya.
“Hmm…”
Aditya kembali melihat pada Dewi, kemudian mendekati Adrian. Dia berbisik pelan di telinga sang kakak.
“Itu calon makmum yang gagal, bang.”
Sontak Adrian langsung melihat pada Adiknya. Dia seperti tersambar petir ketika mendengar penuturan Aditya. Refleks Adrian menarik Aditya sedikit menjauh dari meja.
__ADS_1
“Jadi calon makmum yang kamu maksud itu Dewi?”
“Iya, bang. Abang ingat waktu aku pertama ke sekolah tempat abang ngajar? Aku pertama ketemu Dewi di sana. Terus kita ketemu lagi di angkot, ketemu lagi di studio musik. Dengan begonya aku yakin kalau itu kode yang dikasih Tuhan kalau kita jodoh. Aku emang udah suka dia dari awal ketemu, sampai akhirnya aku nekad bilang dia calon makmum di depan ibunya. Dan nyatain perasaan ke dia. Tapi ternyata, hatinya bukan untuk aku, bang. Sepertinya dia udah punya pilihan hati sendiri. Dan sekarang hubungan kita cuma sahabat. Karena aku ngga mau memaksakan kehendak.”
“Kamu baik-baik aja?”
“Bohong kalau aku bilang ngga sakit. Tapi lebih baik lepaskan dia dari pada aku buat dia galau. Aku takut kalau dia kasihan sama aku dan ngga berani nolak. Jadi aku ambil langkah lebih dulu. Apa yang aku lakuin benar kan, bang?”
Tak ada jawaban dari Adrian. Jika memang yang dikatakan Aditya benar kalau Dewi sudah memiliki tambatan hati lain, apakah itu dirinya? Jika benar, maka dirinya yang sudah menghalangi Aditya mendapatkan gadis pujaannya. Gadis yang sudah membuatnya bersemangat lagi.
“Dit..”
Lamunan Adrian buyar ketika mendengar panggilan Rivan. Pemuda itu memberi kode pada Aditya kalau sudah waktunya mereka tampil. Bersama dengan sang kakak, Aditya kembali ke meja tadi.
“Aku tampil dulu, ya. Oh iya, abang bilang mau request lagu. Apa mau dinyanyiin lagu apa?”
“Ngga jadi.”
“Loh kok ngga jadi?”
“Terserah kamu mau nyanyi lagu apa aja, asal jangan lagu Reyhan..”
“Hahaha.. abang bisa aja.”
Aditya segera menuju panggung. Tak lupa dia menyeret Roxas yang masih betah mengobrol dengan Yulita. Adrian mendudukkan diri menghadap panggung. Di samping kanannya Yulita duduk, bersiap menikmati penampilan The Soul. Sedang Dewi memilih kembali ke meja teman-temannya. Selain tak ingin membuat temannya curiga, dia juga masih terkejut dengan apa yang terjadi.
“Selamat malam semuanya. Selamat datang di Red Kingdom café!”
Gemuruh tepuk tangan terdengar menyambut ucapan Aditya. Seluruh mata pengunjung langsung tertuju ke panggung. Semua personil The Soul sudah siap di posisinya masing-masing.
“Malam ini, ijinkan kami menghibur semua yang ada di sini. Kami akan menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur kalian semua. Kalau ada lagu kenangan atau lagu yang ingin didengar, silahkan ajukan request. Kalau kami tahu lagunya, pasti akan kami bawakan. Asalkan bukan lagu saat kami masih belum diproduksi.”
“Hahaha…”
Gelak tawa terdengar menyambut kelakaran Aditya. Pemuda itu memang pandai mencairkan suasana. Adrian tersenyum bangga melihat adiknya di depan sana. Sementara disingkirkan dulu suasana hatinya yang sempat kacau begitu tahu Dewi adalah pujaan hati sang adik.
“Ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Maka sebelumnya, ada baiknya kita berkenalan lebih dulu. Perkenalkan gitaris kami, Rangga!”
Rangga langsung memperagakan kemampuannya memainkan gitar. Pemuda itu memainkan melodi gitar dengan sangat apik.
“Selanjutnya pada bass, Roxas!”
Roxas maju selangkah lalu memainkan bassnya. Terdengar teriakan Mila menyemangati temannya itu. Micky, Budi dan Bobi juga tak kalah kencang memberikan semangat. Mata Roxas terus tertuju pada Yulita. Sheila hanya bisa melihat dengan tatapan sendu.
“Rivan pada drum!”
Suara snare drum, berpadu dengan suara hi-hat dan tom-tom terdengar ketika Rivan mulai menabuh drumnya.
“And last but not least. Beautiful girl, Fay pada keyboard!”
Fay langsung memperagakan kemampuannya memainkan keyboard. Micky semakin bertambah kagum pada gadis tersebut.
“Nama kamu siapa ganteng?!” teriak salah satu pengunjung yang tentu saja berjenis kelamin perempuan.
“Oh iya, saya belum memperkenalkan diri. Saya, Aditya pada gitar dan vocal.”
Aditya membungkukkan dirinya tanda hormat. Kemudian dia memberi kode pada yang lainnya untuk memulai pertunjukkan. Suara drum dan keyboard mulai terdengar disusul oleh suara gitar Rangga. Aditya pun mulai memainkan gitarnya sambil berdiri di depan stand mic.
“This is ain’t song for the broken hearted.”
“Uuuuhhh…”
Terdengar teriakan dari meja yang ditempati Micky dan kawan-kawan ketika Aditya menyanyikan baris pertama lagu dari band yang popular di era 90-an.
“No silent prayer for faith-departed. And I ain't gonna be just a face in the crowd. You're gonna hear my voice when I shout it out loud.”
Suasana di café langsung semarak. Bukan hanya karena irama lagu menghentak yang dibawakan oleh The Soul, tapi tatanan lighting apik yang menyorot ke panggung turut membuat suasana semakin meriah. Pengunjung pun sangat menikmati penampilan The Soul, terlebih melihat wajah tampan Adit lengkap dengan suara merdunya.
“It's my life. It's now or never. But I ain't gonna live forever. I just want to live while I'm alive. My heart is like an open highway. Like Frankie said, "I did it my way". I just want to live while I'm alive. It's my life.”
🌸🌸🌸
Kemeriahan masih terus terasa di dalam café. Sementara itu di bagian lain, tepatnya di taman yang ada di bagian belakang café, dua orang tengah duduk bersama di kursi taman. Adrian meminta Dewi untuk menemuinya di sini. Ada hal yang ingin dibicarakan oleh pria itu. Suasana masih hening, keduanya masih terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Dewi memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.
“Katanya ada yang mau aa bicarakan? Soal apa?”
Adrian terbangun dari lamunannya ketika mendengar suara Dewi. Pria itu masih menundukkan kepalanya. Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia mengangkat kepalanya kemudian melihat pada Dewi.
“Apa kamu menyukai Adit?”
🌸🌸🌸
**Nah loh😱
Kira² Dewi bakal jawab apa?
Sebenarnya mau niat up kmrn, tapi tetiba mood ambyaarr. Udah 2 hari moodku ambyaarr gara² ada oknum tidak bertanggung jawab keliling NT pake ava yg melecehkan napenku. Sangat disayangkan pelaku terlalu pengecut buat berhadapan langsung denganku.
Buat penistaku, apa yg kamu lakukan, hanya membuktikan kalau kamu hanya manusia otak dangkal. Sudah banyak korban yg kamu nistakan tapi kamu jauh lebih rendah dibanding mereka. Sebagian readers di sini tahu siapa yg saya maksud. Yang satu GC dgnya silahkan ss ini dan lemparkan ke wajahnya🙏
__ADS_1
Maaf curcol, lagi emosi tingkat tinggi🙏**