
Dengan hati dan pikiran berkecamuk, Aditya mengajak main anaknya. Pria itu memandangi wajah Arkhan yang sedang tertawa ketika dia memainkan tangannya di depan wajah sang anak. Ada perasaan sedih, marah, merasa bersalah, semua membaur jadi satu.
Lamunannya buyar ketika pintu kamar terbuka. Dewi yang baru pulang dari pengajian segera masuk ke dalam kamar. Dia menaruh tas ke atas meja, lalu menghampiri anak dan suaminya. Aditya menepis tangan Dewi ketika wanita itu merangkul bahunya.
“Mas..”
Tanpa mengatakan apapun, Aditya keluar dari kamar. Dewi hanya terbengong saja melihat sikap suaminya yang tiba-tiba berubah, padahal baru ditinggal satu jam olehnya. Lamunan Dewi buyar begitu mendengar suara Arkhan. Wanita itu mengganti pakaiannya, kemudian bermain dengan anaknya.
Aditya duduk termenung di teras. Karena desakan berbagai perasaan dalam hatinya, dia berteriak sambil meremat erat rambutnya. Dia kecewa, marah karena sudah dibohongi oleh dua orang yang sangat disayanginya. Dirinya juga merasa bersalah karena Adrian harus terluka karenanya. Dan di satu sisi dia takut, takut kalau harus kehilangan Dewi. Terlebih sudah ada Arkhan di antara mereka.
Saking asiknya melamun, Aditya tidak menyadari kalau Ida sudah pulang. Wanita itu sampai harus mengguncang bahu Aditya untuk membangunkan anaknya itu dari lamunan.
“Dit.. ngapain kamu bengong di sini?”
Belum sempat Aditya menjawab, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Toni baru saja pulang kerja. Dia segera mendekati anak dan istrinya yang sedang berada di teras. Pria itu terkejut melihat wajah anaknya yang nampak kusut.
“Kamu kenapa?” tanya Toni.
“Ngga apa-apa, pa. Aku cuma cape.”
“Abangmu gimana?”
“Mama lihat aja sendiri.”
Aditya bangun dari duduknya, kemudian keluar dari rumah. Dia memilih berjalan-jalan mengelilingi kompleks untuk melepaskan kegundahan hatinya. Rasanya saat ini dia masih belum sanggup melihat Dewi atau Adrian.
🌸🌸🌸
Malam menjelang, Adrian yang sudah baikan, bisa bergabung bersama keluarganya di meja makan. Acara makan malam kali ini berlangsung begitu sepi, tak ada pembicaraan yang terjadi. Hanya denting sendok saja yang beradu dengan piring. Toni bingung melihat Aditya yang hanya diam saja. Bahkan mengangkat kepala pun tidak.
Usai makan malam, Adrian kembali ke kamarnya. Tubuhnya masih belum terlalu fit. Dia memilih beristirahat di kamar. Dewi juga masuk ke dalam kamar, memilih bermain dengan Arkhan yang belum juga tidur. Aditya masih mendiamkannya, tanpa dia tahu apa kesalahan yang sudah diperbuatnya.
Setelah membereskan piring kotor, Ida juga memilih ke kamar. Tubuhnya lelah berada dalam mobil dan berkeliling bersama ibu-ibu pengajian ke tempat wisata yang ada di kota Sumedang. Aditya masih berada di meja makan, dia sama sekali belum bergeming di tempatnya.
Toni beranjak dari duduknya sambil mengajak Aditya menuju ruang tengah untuk menonton televisi bersama. Aditya bangun, namun dia tidak menghampiri Toni, melainkan menuju kamar Adrian. Sang kakak terkejut melihat Aditya masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Bang, boleh aku tanya sesuatu?” ujar Aditya tanpa basa-basi. Bahkan pria itu hanya berdiri saja di dekat pintu.
“Soal apa?”
“Perempuan yang dulu abang sukai. Apa abang masih menyukainya?”
“Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal itu?”
“Apa abang masih mencintainya?”
“Dit..”
Percakapan Aditya dan Adrian terhenti ketika Toni ikut masuk ke dalam kamar Adrian. Melihat gerak-gerik Aditya yang tidak seperti biasanya, Toni curiga terjadi sesuatu dengan anak bungsunya itu. Apalagi tadi dia mendengar pertanyaan yang diajukan pada Adrian.
“Bisa ikut papa sebentar? Papa mau bicara.”
Toni langsung menarik tangan Aditya keluar dari kamar anak sulungnya. Adrian masih bingung melihat tingkah Aditya. Tidak biasanya sang adik bersikap serius seperti tadi. Namun rasa penasarannya harus terpotong oleh sang ayah. Adrian memilih mengistirahatkan tubuhnya, dan berbicara dengan Aditya besok pagi.
Sementara itu, Toni membawa Aditya menuju ruang kerjanya. Pria itu mengunci ruang kerjanya. Sejenak keduanya hanya terdiam saja. Toni masih mengira-ngira apakah yang terjadi dengan anak bungsunya ini. Kesadaran Toni kembali ketika terdengar suara Aditya.
“Papa ada apa manggil aku ke sini?”
“Ada apa denganmu? Kenapa sikapmu aneh sekali.”
“Apa papa juga tahu?”
“Tahu apa?”
“Berhenti berpura-pura!!”
Teriakan kencang Aditya tentu saja mengejutkan Toni. Aditya sudah tak bisa menahan perasaannya lagi. Kedatangan Toni yang tiba-tiba menginterupsi pembicaraannya dengan Adrian, semakin membuatnya yakin kalau sang papa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Baiklah.. apa yang mau kamu tahu? Tanyakan pada papa. Papa akan menjawab semua pertanyaanmu.”
Aditya menatap ayahnya tak percaya. Ternyata benar dugaannya, Toni mengetahui perihal perasaan Adirian. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Ternyata selama ini dia hanya si bodoh yang tidak menyadari keadaan di sekitarnya.
__ADS_1
“Apa papa tahu siapa perempuan yang bang Ad suka?”
“Iya,” jawab Toni lemah.
“Siapa? Apa itu Dewi?”
Hanya anggukan saja yang bisa diberikan oleh Toni. Hal yang ditakuti akhirnya terjadi, Aditya mengetahui rahasia yang selama ini dirinya dan juga Adrian pendam rapat-rapat. Aditya berteriak kencang beberapa kali. Matanya menatap nanar pada Toni, terlihat jelas kemarahan dan kekecewaan di dalamnya.
“Kenapa pa? Kenapa?!! Apa aku begitu menyedihkan sampai harus dikasihani seperti ini? KENAPA?!!”
“Ngga seperti itu, Dit. Bukan seperti itu..”
Kerongkongan Toni serasa tercekat melihat kekecewaan sang anak. Aditya jatuh terduduk di lantai. Kepalanya menunduk dan hanya meremat rambutnya dengan kasar. Toni mendekati Aditya kemudian duduk di hadapannya. Kedua tangannya menyentuh bahu sang anak.
“Maafkan papa. Ini semua kesalahan papa. Andai papa bisa bersikap adil pada kalian. Andai papa tidak melukaimu dan membuatmu pergi dari rumah, ini semua tidak akan terjadi. Ini semua salah papa.. salah papa..”
“Apa maksud papa?”
“Ini semua karena sikap papa yang tidak adil pada kalian. Papa yang selalu menyanjung Ad, mengabaikanmu, selalu bangga pada abangmu dan sama sekali tidak peduli padamu, tanpa papa sadari menorehkan luka di hati abangmu. Ad.. menjadi terbebani dengan semua sikap papa. Dia merasa apa yang terjadi padamu, karenanya. Dia merasa sudah merebut semua perhatian dan kasih sayang papa padamu. Kamu pasti tahu bagaimana dia menyayangimu selama ini, menjagamu dan selalu berusaha membuatmu bahagia. Semua karena papa.. karena papa..”
Kedua tangan Toni jatuh terkulai. Pria itu mulai menangis, menyesali semua perbuatannya dulu. Aditya yang sudah mulai bisa menguasai perasaannya hanya diam tergugu mendengar semua penuturan ayahnya. Toni menghapus airmatanya, kemudian melihat pada anak bungsunya.
“Abangmu memang benar mencintai Dewi. Tapi.. sebelum dia sempat mengungkapkan perasaannya, dia tahu soal perasaanmu pada Dewi. Dia memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya, dan membiarkanmu maju mendapatkan Dewi. Itu semua dia lakukan karena rasa sayangnya padamu. Dia tidak mau melihatmu terluka dan kehilangan lagi. Dia tidak mau merebut kebahagiaanmu lagi. Itulah alasannya menutupi perasaannya selama ini. Percayalah, ini juga tidak mudah untuknya. Dia hanya ingin melihatmu bahagia.”
Kali ini giliran Aditya yang menangis. Perasaannya benar-benar perih dan terluka. Tak menyangka kebahagiaan yang dirasakannya selama ini ternyata menorehkan luka yang dalam untuk sang kakak.
“Bang Ad, mencintai Dewi?”
“Iya. Dia sangat mencintai Dewi.”
“Apa Dewi tahu?”
“Tidak. Dia bahkan rela menyakiti hati Dewi, dengan mengatakan kebohongan akan perasaannya.”
“Papa tahu dari mana?”
“Papa tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka. Dan sisanya.. Roxas yang memberitahu papa.”
“Aku harus bagaimana, pa? Apa aku harus melepaskan Dewi? Aku sangat mencintai Dewi..”
“Apa yang kamu katakan? Kamu harus terus bersama dengan Dewi. Ini yang kakakmu inginkan, melihatmu bahagia dengan keluarga kecilmu. Apalagi sekarang sudah ada Arkhan di antara kalian. Kamu harus melanjutkan hidup bersama anak dan istrimu. Jangan pernah berpikir untuk menyerahkan Dewi pada Ad. Apa kamu pikir kakakmu akan menyetujuinya? Lalu bagaimana dengan Dewi? Dia bukan barang yang bisa kamu pindah tangankan begitu saja. Lanjutkan hidupmu… seperti Ad yang terus melanjutkan hidupnya.”
“Tapi bang Ad masih mencintai Dewi. Dia akan terluka kalau melihatku terus bersama Dewi.”
“Lalu kamu mau meninggalkan Dewi? Sadalah, Dit. Bukan hanya Ad atau kamu yang terluka, tapi Dewi juga. Roxas sudah cerita bagaimana terlukanya Dewi saat Adrian mengabaikan perasaannya. Apa kamu mau mengulangi luka yang sama di tempat yang sama? Kamu sudah mengobati lukanya.”
“Tapi Dewi tidak mencintaiku, pa.”
“Kata siapa dia tidak mencintaimu? Tanya hatimu, bagaimana sikapnya selama ini? Apa dia pernah mengabaikanmu? Kalau dia tidak mencintaimu, mungkin tidak ada Arkhan di antara kalian.”
Aditya menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisnya kembali pecah. Masalah ini benar-benar membuatnya sesak. Toni memeluk anak bungsunya ini. Dia terus menguatkan Aditya, meyakinkannya untuk terus melanjutkan hidup bersama dengan Dewi dan juga Arkhan.
“Abangmu akan baik-baik saja. Berikan dia sedikit waktu lagi untuk menata perasaannya. Suatu saat, dia juga akan menemukan kebahagiaannya sendiri. Kamu harus bahagia dengan anak dan istrimu. Jangan sia-siakan pengorbanan abangmu. Dia sangat menyayangimu. Kalau kamu menyayanginya, maka kamu harus hidup bahagia seperti keinginannya."
Hanya isak tangis saja yang keluar dari mulut Aditya. Pelukan Toni semakin erat, dia juga tak bisa menahan airmatanya untuk tidak mengalir kembali. Andai waktu bisa diputar, dia akan menyayangi kedua anaknya dengan adil, hingga hal seperti ini tidak akan terjadi.
Suasana haru di antara keduanya terinterupsi oleh suara ketukan di pintu. Ida yang sempat mendengar suara gaduh dari ruang kerja suaminya, segera datang untuk melihat. Dia terkejut ternyata Toni mengunci ruang kerjanya. Tidak seperti biasanya.
TOK
TOK
TOK
“Mas..” panggil Ida.
Toni mengurai pelukannya. Dia menghapus sisa airmata di pipi. Beberapa kali pria itu menarik nafas panjang. Ditepuknya pelan pundak Aditya. Sebelum dirinya beranjak, dia berbisik pelan di telinga anaknya.
“Diamlah di sini selama yang kamu inginkan. Pikirkan apa yang papa katakan. Papa harap kamu bisa bersikap bijak dan mengambil keputusan yang tepat.”
Suara ketukan di pintu masih terdengar. Toni segera bangun kemudian membukakan pintu untuk istrinya. Dia tidak memperbolehkan Ida masuk. Pria itu langsung mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. Ida melihat curiga pada suaminya. Mata Toni nampak memerah, seperti habis menangis.
__ADS_1
“Ada apa, mas? Ada apa dengan Adit?”
“Ngga ada apa-apa.”
“Kalau ngga ada apa-apa, kenapa mata mas merah seperti habis menangis? Tadi juga aku dengar suara ribut-ribut,” Ida terus mencecar suaminya karena tak percaya dengan jawaban Toni tadi.
“Kami memang berdebat sedikit. Tapi semuanya sudah selesai. Kamu tahu kan kalau Adit itu keras kepala. Dia tadi sedikit marah karena mas menentang keputusannya.”
“Soal apa? Adit emang mau apa?”
Toni hanya bisa menarik nafas panjang. Istrinya ini tak henti memberinya cecaran pertanyaan. Tapi tak mungkin dia menceritakan apa yang terjadi tadi pada Ida. Toni tak ingin menambah runyam permasalahan jika Ida sampai tahu.
“Adit mau mengajak Dewi pindah ke Jakarta. Jelas mas tentang. Kalau mereka pindah, bagaimana dengan Arkhan dan Dewi, kalau dia sedang ada tur keluar kota,” bohong Toni. Hanya itu jawaban masuk akal yang terbersit dalam pikirannya.
“Kenapa Adit mau pindah? Anak itu ada-ada saja. Lalu Adit bagaimana?”
“Dia setuju tidak pindah setelah mas bujuk.”
“Syukurlah. Kadang anak itu selalu mengambil keputusan gegabah.”
Toni menghembuskan nafas lega, Ida mempercayai kebohongan yang dibuatnya. Jika memang sang istri harus mengetahui hubungan rumit antara Adrian, Dewi dan Aditya, biarlah itu terjadi ketika Adrian sudah menemukan tambatan hatinya yang baru. Ketika anak sulungnya itu sudah menikah dan berumah tangga.
🌸🌸🌸
Setelah berdiam cukup lama di ruang kerja Toni untuk menenangkan hati dan pikirannya, Aditya beranjak pergi. Suasana rumah sudah sangat sepi ketika pria itu keluar dari ruang kerja ayahnya. Dengan langkah pelan dia berjalan menuju kamarnya. Dengan gerakan pelan, dia membuka pintu kamar.
Pandangannya langsung tertuju pada Dewi dan Arkhan yang sudah tertidur di atas kasur. Aditya mengatur dua buah guling untuk menghalangi tepi ranjang, kemudian sedikit menggeser tubuh anaknya. Pria itu lalu membaringkan tubuhnya di belakang Dewi. Memeluk istrinya dari belakang seraya menyurukkan kepala ke tengkuk Dewi.
Dewi terbangun dari tidurnya ketika merasakan tengkuknya basah. Walau kecil, dia masih bisa mendengar isak tangis suaminya. Wanita itu berusaha membalikkan tubuhnya, namun tangan Aditya memeluknya dengan erat, seakan tak ingin sang istri melihatnya tengah menangis.
“Mas.. mas kenapa?”
Tak ada jawaban dari Aditya, justru Dewi merasakan air yang mengalir di tengkuknya semakin deras. Dia mendiamkan Aditya menangis sepuasnya, walau banyak pertanyaan yang menari-nari di kepalanya. Mulai dari sikap dingin suaminya, sampai sekarang Aditya justru menangis sambil memeluknya.
Setelah beberapa saat, tangis Aditya mulai reda, Dewi sekali lagi mencoba membalikkan tubuhnya dan berhasil. Matanya langsung menangkap wajah sang suami yang nampak sembab. Tangannya mengusap rahang Aditya dengan lembut.
“Ada apa, mas? Apa yang membuat mas sedih?”
“Maafkan aku..”
“Maaf untuk apa? Mas kenapa?”
“Maaf karenaku kamu terluka. Maaf masih belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Belum bisa membahagiakanmu.”
“Mas bilang apa? Mas sudah menjadi suami yang baik untukku dan juga papa yang baik untuk Arkhan. Aku juga bahagia,” Dewi menampilkan senyumnya.
“Apa kamu mencintaiku?"
“Tentu aja, mas. Aku mencintaimu. Mas sudah membuatku bahagia dan membuat hidupku lengkap dengan kehadiran Arkhan.”
Dewi mencium bibir Aditya sekilas, kemudian memeluk tubuh suaminya. Hatinya kembali bertanya-tanya, apa yang membuat sang suami berada dalam situasi super mellow seperti ini.
“Apa sebelum denganku, kamu pernah menyukai seseorang?”
Jujur saja, Dewi terkejut mendengar pertanyaan Aditya. Sontak wanita itu melihat pada suaminya. Untuk sejenak mereka hanya saling bertatapan, sampai akhirnya terdengar jawaban dari Dewi.
“Iya,” jawab Dewi pelan.
“Tapi.. cintaku bertepuk sebelah tangan. Dia tidak mencintaku. Tapi aku bersykur dia menolakku, aku jadi bisa menyadari siapa yang benar-benar mencintaku. Ada mas yang sangat mencintaiku dan mengobati lukaku,” lanjut Dewi seraya memegang rahang sang suami.
Kamu salah, De… bang Ad sangat mencintaimu. Mungkin cintanya padamu lebih besar dariku. Maafkan aku yang sudah menjadi penghalang untuk kalian.
Mata Aditya kembali memanas. Tangannya bergerak mengusap wajah cantik istrinya. Kemudian pria itu mendaratkan ciuman di kening Dewi lalu memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
“Aku mencintaimu. Aku janji akan membuatmu bahagia. Aku akan bekerja keras untukmu dan anak kita. Aku akan pastikan kamu akan tetap tersenyum. Terima kasih sudah memilihku. Aku mencintaimu,” airmata Aditya kembali mengalir.
“Aku juga mencintaimu, mas. Tetaplah menjadi imam hidupku, jadi panutan untuk anakmu.”
Aditya menciumi puncak kepala Dewi beberapa kali seraya mengeratkan pelukannya. Mungkin ini terkesan egois, tapi dia memutuskan melakukan apa yang dikatakan Toni padanya. Melanjutkan hidupnya bersama dengan Dewi dan Arkhan. Hidup bahagia seperti keinginan sang kakak.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Tisu mana tisu🤧