Naik Ranjang

Naik Ranjang
Jomblo


__ADS_3

Di balkon salah satu kamar hotel yang ada di kota Batam, Adrian tengah berdiri menikmati angin sore. Sudah tiga hari lamanya dia berada di kota ini. Selain mempresentasikan proposal, mereka juga diajak berkeliling Batam. Mengunjungi berbagai objek wisata yang ada di kota ini. Proyek kali ini memang bukan hanya mengurus pekerjaan, tapi juga refreshing.


Mr. Chan yang membiayai perjalanan dan menanggung akomodasi adalah pria yang royal. Sejumlah uang sudah ditransfer ke rekening masing-masing. Pria itu puas akan hasil kerja Adrian dan kawan-kawan. Dan dia juga setuju untuk mendanai pengembangan wisata di Kabupaten Bandung setelah mendengar sedikit ulasan Adrian.


Besok rencananya mereka akan menyebrang ke Singapura. Mr. Chan membutuhkan bantuan mereka untuk menyelesaikan small project miliknya di sana. Adrian dan yang lain menyanggupi, asalkan bayarannya sesuai dengan kerja keras mereka.


Sambil menunggu waktu maghrib tiba, Adrian berkirim pesan dengan Dewi. Dia mengirimkan beberapa gambar tempat-tempat yang dikunjunginya.




[Jembatan Barelang]



[Bukit Tanjung Uma]



[Pantai Turi]


Pesan balasan Dewi penuh dengan keinginan ingin mengunjungi tempat tersebut. Adrian tak lepas tersenyum membaca pesan-pesan gadis itu.


From My Girl :


Aa ke Batam sama siapa aja?


To My Girl :


Sama tim. Semuanya ada empat orang termasuk aku.


From My Girl :


Pasti ada ceweknya.


To My Girl :


Sok tau.


From My Girl :


Nebak aja. Pasti ada kan? Awas loh nanti kena cilok.


Adrian tertawa membaca pesan terakhir gadis itu. Alih-alih membalas, dia memilih menghubungi langsung Dewi. Rasanya kangen juga sudah tiga hari tidak mendengar suaranya.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam. Di sini ngga ada tukang cilok,” jawab Adrian.


“Ish siapa yang minta cilok.”


“Itu tadi pesannya bilang cilok.”


“Cilok itu Cinta Lokasi. Awas aa kena cilok sama partnernya. Pasti ceweknya cantik kan? Sering pergi bareng, kerja bareng, bukan ngga mungkin kan kalo kena cilok.”


“Kamu lagi nulis novel?”


“Ngga.”


“Nah barusan apa? Itu bukan alur novel buatan kamu?”


“Ish.. itu aku lagi menggambarkan kondisi aa saat ini.”


“Kalau emang iya, kamu cemburu?”


“Mana ada!”


Suasana menjadi hening. Tak ada suara Dewi lagi dari sebrang. Adrian dapat membayangkan kalau kini wajah Dewi sudah cemberut, bibirnya maju beberapa senti dan pipinya mengembung. Timbul keisengan dalam dirinya. Dia mengganti panggilan suara ke panggilan video.


Dewi yang terkejut Adrian mengubah panggilan, buru-buru membuka lemari untuk mencari penutup kepalanya. Setelah menormalkan detak jantungnya, barulah gadis itu menjawab panggilannya. Bukan wajah Adrian yang dilihat Dewi ketika panggilan video tersambung, namun pemandangan dari balkon hotel.


“Wah bagusnya pemandangannya. Pantesan betah, ngga ingat pulang ke Bandung.”


Kamera Adrian berubah ke tampilan depan. Kini wajah tampan pria itu sudah memenuhi layar ponsel Dewi. Jantung Dewi semakin berdentum kencang melihat wajah yang sudah tiga hari ini tidak dilihatnya.


“Kemarin kamu latihan ngga?” tanya Adrian.


“Latihan dong.”


“Dimarahin lagi sama sabeum Fajar?”


“Ngga. Sekarang sabeum Fajar baik banget sama aku.”


“Syukurlah.”


“Mana, a?”


“Apa?”


“Ceweknya. Aku mau kenalan sama teman satu tim aa. Tapi yang cewek aja.”


Jantung Dewi cukup dag dig dug saat mengatakan itu. Dia takut kalau-kalau apa yang dikatakannya tadi benar. Dari empat orang yang dikatakan Adrian, ada satu personil perempuan dan terjebak cinta lokasi dengan Adrian.


“Kita berempat laki-laki semua, dua udah nikah, dua belum.”


“Oh cowok semua toh,” terdengar kelegaan dari suara Dewi.


“Yang dua udah gandengan, yang dua masih jomblo. Berarti aa jomblo dong hahaha..” Dewi menyambung ucapannya.


“Bahagia banget nyebut jomblonya.”

__ADS_1


“Hahaha.. makanya aa jangan jutek-jutek jadi cowok. Kalo ngomong coba cabenya dikurangin biar ngga terlalu pedas. Nanti ngga ada cewek yang mau.”


“Kalau ngga ada yang mau, aku tinggal ke rumah kamu.”


“Ngapain?”


“Ngelamar kamu ke ibu. Kamu harus tanggung jawab soalnya udah nyumpahin aku jomblo. Jadi, kamu yang harus jadi pasangan aku.”


“Ish..”


Pipi Dewi memerah mendengar kata-kata Adrian. Jantungnya seperti ingin meloncat keluar saking senangnya. Adrian terus memandangi wajah Dewi yang merona, terlihat semakin menggemaskan saja.


“Sebentar lagi maghrib. Udah dulu, ya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Panggilan pun berakhir, wajah Dewi menghilang dari layar ponsel Adrian. Pria itu masuk ke dalam kamar. Bersiap untuk menunaikan ibadah shalat maghrib. Setelahnya nanti, dia beserta yang lain akan berjalan-jalan ke monument Welcome To Batam untuk berburu berbagai macam kuliner yang ada di sana.


🌸🌸🌸


Pukul setengah tujuh Adrian sudah berada di lobi hotel bersama dengan Ikmal. Kedua pria itu duduk di sofa yang ada di sana, menunggu dua orang lainnya yang masih di dalam kamar. Ikmal sepantar dengan Adrian dan sama-sama belum menikah. Karena belum punya pekerjaan tetap, Ikmal yang paling sering jaga gawang di kantor yang baru saja mereka dirikan.


Dari arah lift, muncul Rudi. Pria ini yang paling tua di antara yang lain. Usianya sudah 30 tahun, sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Sama seperti Adrian, Rudi juga seorang dosen. Dia mengajar di fakultas ekonomi di kampus yang sama dengan Adrian.


Lima menit berselang, Jaya datang. Usianya saat ini 28 tahun. Sama seperti Rudi, Jaya juga sudah menikah tiga tahun yang lalu. Namun sampai sekarang dia masih belum dikaruniai anak. Wajah Jaya cukup tampan, kulit sawo matang dan mata elangnya, menjadi daya tarik pria ini. Sehari-harinya, dia mengelola rumah makan sederhana bersama istrinya.


Walaupun usia Adrian lebih muda dari Rudi dan Jaya, namun seperti halnya Ikmal, kedua orang itu juga sudah menganggap Adrian sebagai tim leader. Selain otak Adrian yang paling encer di antara lainnya, jiwa kepemimpinan pria itu juga lebih menonjol. Jadi ketiganya secara aklamasi menganggap Adrian adalah tim leader mereka.


“Langsung aja, yuk. Udah laper nih,” ajak Ikmal seraya mengusap perutnya yang terasa lapar.


Keempatnya keluar dari hotel. Untuk menuju monumen Welcome To Batam, mereka tak perlu menggunakan alat transportasi. Jarak dari hotel tempat mereka menginap ke tempat yang dituju hanyalah terpaut tiga ratus meteran saja. Mereka berjalan santai sambil menikmati angin malam dan keindahan kota Batam.


Keempatnya mengambil meja yang tersisa. Kawasan wisata kuliner malam Batam sudah banyak didatangi pengunjung. Tempat ini memang selalu ramai ditangani para penikmat kuliner malam. Berbagai macam makanan tersaji di sini, dari mulai jajanan sampai makanan berat.



Dua hari dua malam, mereka hanya menyantap makanan hotel, maka malam ini mereka memanfaatkan waktu untuk menyicipi makanan khas kota ini. Adrian memesang gonggong dan luti gendang. Gonggong adalah siput laut, makanan ini masuk dalam jenis seafood. Sedang luti gendang adalah roti dengan isian abon tuna.




Rudi memilih nasi lemak Batam. Rudi penggemar nasi yang dimasak dengan bumbu, seperti liwet, nasi kuning atau nasi uduk. Pria itu penasaran dengan rasa nasi lemak Batam, apakah seenak nasi lemak buatan kak Ros yang dijual di kedai uncle Muthu, diantarkan oleh Upin Ipin.



Ikmal lain lagi. Pria itu ingin mencoba makanan yang namanya tidak enak didengar oleh telinga. Mie Lendir, itu nama makanan yang ingin dicoba pria tersebut. Dia penasaran, kenapa makanan tersebut dinamakan Mie Lendir. Mie Lendir disajikan dengan kuah kental berisi rempah-rempah serta makanan pendamping lainnya.



Terakhir Jaya. Pria itu memilih sop ikan sebagai menu makan malamnya. Dia memilih sop ikan kakap untuk teman nasi. Sop ikan Batam sedikit berbeda dari sop ikan biasanya. Warna kuahnya sedikit keruh dan menggunakan tomat hijau sebagai pelengkap.




Sambil menikmati makanan, mereka sambil berbincang santai. Topik pembicaraan kali ini adalah, bonus yang mereka terima dari Mr. Chan akan digunakan untuk apa. Kabarnya karena puas dengan hasil kerja mereka, Mr. Chan akan memberikan bonus yang lumayan besar.


“Buat para jomblo, bonus buat apa?” tanya Rudi.


“Kalau aku sih sebagian ditabung buat modal nikah, sebagian lagi buat buka usaha,” jawab Ikmal.


“Samalah, aku sebagian ditabung, sebagian lagi buat beli rumah,” tutur Adrian.


“Rencananya mau beli jadi apa bangun sendiri?”


“Pengennya sih bangun sendiri. Udah lihat-lihat kavling di beberapa tempat. Nanti disesuaikan aja sama budget.”


“Manteplah.. tabungan udah ada, mobil udah punya, rencana bangun rumah sebentar lagi terealisasi. Terus calon nyonya rumahnya udah ada belum?” goda Rudi.


“Doain aja, mas.”


“Sekretarisnya Mr. Chan kayanya naksir kamu, Ad. Embat aja, cantik lagi,” seru Ikmal.


“Bukan tipe, hahaha…”


“Terus tipe kamu yang kaya gimana?” goda Rudi.


“Tipeuting.. yang bisa diajak ngamar hahaha…” timpal Ikmal sambil tergelak.


Adrian hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar kelakaran Ikmal. Jaya yang sedari tadi hanya diam, juga ikut mengulum senyumnya. Pria itu memeriksa saku celananya, mencari teman setianya yang ternyata tertinggal di kamar hotel.


“Aku nyari rokok dulu, ya,” pamit Jaya.


Jaya bangun dari duduknya, kemudian beranjak pergi dari meja yang ditempatinya. Adrian dan yang lainnya memandangi punggung Jaya yang bergerak semakin menjauh.


“Mas Jaya kenapa sih? Perasaan sejak dari Tanjung Lesung diem mulu,” seru Ikmal.


Pria itu bingung saja dengan perubahan sikap Jaya akhir-akhir ini. Biasanya Jaya senang ngobrol atau bersenda gurau seperti dirinya. Tapi kali ini, dia lebih banyak diam. Bukan hanya Ikmal, Adria pun merasakan perubahan yang sama dari diri Jaya.


“Dia lagi ada masalah,” ujar Rudi. Sontak Adrian dan Ikmal melihat pada pria itu.


“Masalah apa, mas?” tanya Ikmal kepo.


“Lagi ada masalah sama istrinya. kabarnya istrinya kabur dari rumah, udah sebulan.”


“Hah?? Serius mas? Terus rumah makannya tutup dong.”


“Iya. Sayang, padahal omsetnya lumayan. Tapi ya mau gimana lagi. Jaya kan ngga bisa ngurus sendirian. Pegawai juga belum bisa dipercaya.”


“Emang istrinya kabur kenapa?” Ikmal semakin penasaran.

__ADS_1


“Ngga tau juga, ya. Aku dengar dari adiknya Jaya, katanya sih selingkuh.”


“Ah masa sih?”


Ada ketidakpercayaan dari nada suara Ikmal. Adrian yang hanya menyimak saja, ikutan terkejut. Beberapa kali bertemu dengan istri Jaya, menurutnya istri temannya itu adalah sosok yang alim, selain menutup aurat, wanita itu juga selalu menjaga pandangannya dari lawan jenis. Jika berbicara dengannya, Rudi atau Ikmal, istri Jaya tidak pernah menatap mata, hanya menunduk saja.


“Itu kata adiknya Jaya. Tapi aku ngga percaya juga. Setahuku, keluarga Jaya memang kurang suka sama istrinya Jaya. Biasalah masalah anak. Ibunya Jaya ribut terus soal momongan. Malah waktu itu ibunya pernah nyuruh Jaya poligami.”


“Mereka kan baru tiga tahun nikah. Umur mas Jaya juga masih 28 tahun, masih muda. Mungkin aja mereka memang belum dikasih kepercayaan saat ini. Kenapa harus buru-buru ambil keputusan poligami,” Adrian yang sedari tadi hanya diam, akhirnya membuka suaranya.


“Nah itu yang kubilang ke Jaya. Sebenarnya Jaya juga ngga setuju. Dia sempat ribut dengan ibunya. Nah dua bulan setelahnya, istri Jaya kabur dari rumah, kabarnya selingkuh.”


“Ah aku tetap ngga percaya mba Gemini selingkuh. Pasti karangan ibunya mas Jaya aja, biar mas Jaya mau disuruh poligami.”


“Bisa jadi.”


Perbincangan ketiga berakhir, ketika sosok yang dibicarakan muncul. Mengingat hari sudah semakin malam, Adrian mengajak pulang ke hotel. Besok pagi mereka akan berangkat ke Singapura lewat jalur laut.


🌸🌸🌸


Pagi harinya, Adrian sedang bersiap untuk bertolak ke Singapura. Koper kecil berisi pakaian, sudah tersimpan rapih di dekat ranjang. Di atas ranjang, tergeletak ransel berisi laptop dan barang pribadinya. Pria itu berjalan menuju balkon kamar ketika sekretaris Mr. Chan menghubunginya. Wanita keturunan Tionghoa itu mengabarkan kalau tiket Ferry sudah dititipkan ke resepsionis dan nanti seorang supir akan menjemput mereka di pelabuhan Harbour Front.


Usai menerima panggilan Vivian, tak sengaja Adrian melihat status whatsapp Dewi. ‘Bete’ hanya satu kata itu yang tertulis, tapi cukup menggelitik rasa penasarannya. Pria itu memutuskan untuk menghubungi Dewi. Setelah menunggu beberapa saat, panggilannya diterima oleh Dewi.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam.. kenapa bête?” tanya Adrian tanpa basa-basi.


“Bete aja. Ngga tau mau ngapain. Aa sendiri lagi apa?”


“Lagi siap-siap mau berangkat ke Singapura.”


“Fii amanillah ya, a.”


“Aamiin.. coba aku mau lihat wajah bête kamu gimana?”


Adrian langsung mengganti panggilan suara menjadi panggilan video. Tak butuh waktu lama, wajah Dewi langsung terlihat di layar ponselnya. Pria itu tersenyum melihat wajah gadis cantiknya yang tidak dihiasi senyuman.



Sedangkan Dewi di sana berdebar-debar melihat wajah tampan Adrian, dengan kacamata hitamnya.



“Oh ini muka betenya,” kekeh Adrian.


“Dasar nyebelin.”


“Ngga usah bête. Nanti aku beliin oleh-oleh. Kamu mau apa?”


“Apa ya? Apa aja deh, yang penting bagus dan rasanya enak kalau makanan.”


“Makanan aja yang ada dalam otakmu.”


“Budu.”


“Jangan bête-bete, mending bantuin ibu dagang dari pada diam di kamar.”


“Iya, a.”


“Aku pergi dulu, ya. assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Baru saja Adrian mengakhiri panggilannya, ketika ponselnya kembali berdering. Ikmal mengajak Adrian bergegas keluar kamar, karena semua sudah siap. Pria itu segera mengakhiri panggilannya. Dengan ransel di punggungnya, dan tangan menggeret koper, Adrian keluar dari kamar.


Setelah mendapatkan tiket Ferry dari resepsionis, mereka berangkat menuju pelabuhan Batam Center, dari sana mereka akan bertolak menuju Singapura menggunakan kapal Ferry. Waktu tempur perjalanan sekitar satu jam lamanya. Adrian mengatakan pada teman-temannya, nanti supir yang diutus Mr. Chan akan menjemput di pelabuhan Harbour Front.


🌸🌸🌸


Selama dua hari di Singapura, Adrian, Rudi, Jaya dan Ikmal, dijamu dengan baik oleh asisten dan sekretaris Mr. Chan, sedang pria itu masih berada di Malaysia untuk menyelesaikan bisnisnya dan baru akan bergabung esok hari. Mereka diberi akomodasi menginap di Marina Bay, termasuk akses untuk bisa menikmati berbagai fasilitas di sana.


Setelah dua hari, Vivian mengantar mereka menuju Sentosa Island. Rencana presentasi memang dipindahkan ke sana, disesuaikan dengan jadwal Mr. Chan yang tiba-tiba berubah. Keempatnya kembali berpindah hotel karena Vivian sudah memesankan kamar di salah satu resor di sana.


Sesuai dugaan, Mr. Chan sangat puas dengan kinerja Adrian beserta dengan tim. Bayaran pekerjaan sudah ditransfer ke rekening masing-masing, plus bonus yang jumlahnya tidak sedikit. Selain itu, Mr. Chan juga mempersilahkan semuanya menikmati semua fasilitas yanga ada di resor, termasuk mengunjungi semua objek wisata yang ada di sana.


“Apa kalian ada rencana menghabiskan waktu besok?” tanya Vivian setelah menemani klien atasannya makan malam. Dia melirik pada Adrian, berharap pria itu mau menghabiskan waktu bersamanya besok.


“Pasti, miss. Masa jauh-jauh ke sini cuma di kamar aja. Mana ngga ada lawan,” kelakar Rudi.


“Miss Vian ikut jalan-jalan aja besok,” tawar Ikmal.


“Ehm.. boleh. Kalau begitu sampai bertemu besok. Silahkan beristirahat. Oh iya, Mr. Chan sudah menyiapkan kado untuk kalian di kamar. Selamat menikmati bingkisan spesial dari kami.”


Setelah menyampaikan pesan Mr. Chan, Vivian pamit pergi. Sebelumnya dia melirik ke arah Adrian yang sedari tadi hanya diam saja. Sepeninggal Vivian, keempat orang pria itu segera menuju kamarnya masing-masing.


Adrian langsung menuju kamarnya. Waktu sudah jam sembilan malam, dia ingin segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket lalu mengistirahatkan diri. Seharian ini mereka memang cukup sibuk. Pria itu menempelkan keycard ke panel yang ada di pintu. Setelah terdengar bunyi kunci terbuka, dia masuk ke dalam.


Ruangan kamar yang semula gelap menjadi terang setelah kedatangannya. Saat melangkahkan kakinya menuju tempat peraduan, pria itu terkejut melihat seorang wanita berpakaian minim tengah berbaring di atas kasur.


“Siapa kamu?”


🌸🌸🌸


**Hayoo.. Siapa itu?


Waduh aa Rian dapet godaan nih kayanya. Tahan ngga ya🤔


Terima kasih buat semua komen baik kalian di spesial bonus KPA kemarin. Ngga nyangka responnya di luar ekspektasiku. Berhubung responnya bagus, aku akan buat cerita generasi penerus KPA, kolaborasi dengan Four Seasons of Love. Mudah²an bisa terealisasi sebelum bulan ini berakhir, aamiin...


Tapi jangan lupakan NR juga ya... Kisah cinta segitiga tak beraturan ngga lama lagi akan dimulai, apakah akan jelas bentuknya atau semakin awur²an?

__ADS_1


Lalu gimana dengan Roxas yang lagi mengejar cintanya juga, apa berhasil atau gatot**?


__ADS_2